
Kenzo terbangun karena dering handphone berbunyi di pagi hari. Rasa lapar menggerogoti dirinya, tapi Kenzo tak peduli. Yang ia khawatirkan adalah keadaan anak dan istrinya yang entah seperti apa.
Kenzo melihat layar handphone yang menampilkan sebuah pesan. Pesan dengan nomer misterius yang sama.
Datanglah ke XXX sendirian. Jangan membawa atau menghubungi polisi dan jangan meminta bantuan orang lain. Kalau kau melakukannya maka nyawa anak dan istrimu taruhannya. Tidak perlu membawa uang. Kutunggu sesegera mungkin. Terlambat sedikit saja maka nyawa anak dan istri tercinta mu akan melayang.
Kenzo bergegas berganti pakaian, tidak lupa juga membawa sebuah pistol. Dering handphone kembali terdengar. Ternyata panggilan dari kantor. Kenzo mengangkat telpon dengan segera.
"Halo." suara Kenzo terdengar serak karena menangis semalaman.
"Pak ada rapat hari ini." Ujar sekertaris nya diseberang telpon.
"Batalkan semua jadwal saya." setelah mengatakan itu Kenzo langsung mematikan sambungan telponnya.
Kenzo bergegas menuju tempat yang dituliskan di pesan misterius.
Kaila di ruangan gelap itu sedang memberontak karena anaknya diambil paksa dari dekapannya.
"Oek... oekk....oekkk.... " tangis Kenzie pecah saat ditarik paksa oleh wanita yang Kaila ketahui namanya adalah Lexa.
"Aku mohon lepaskan anakku. lepaskan dia aku mohon aku mohon." suara Kaila nyaris tak terdengar.
"Memohonlah, karena percuma saja. Aku hanya mengikuti instruksi." ucap Lexa dengan memegang baby Kenzie yang terus menangis.
"Siapa? Siapa yang menyuruhmu melakukan ini padaku, siapa?" Kaila terus mengeluarkan air matanya melihat anaknya yang menangis di depan matanya tapi sebagai seorang ibu saat ini Kaila tidak bisa berbuat apapun.
"Kau tidak perlu tau." ucap Lexa sinis.
"oek... oekkk... oek... " Kenzie terus menangis, membuat Lexa kesal dan marah.
"Bayi siallan, berisik sekali. Ku bunuhh mam pus kau siallan." umpat Lexa.
"Jangan. Jangan. Aku mohon jangan. Jangan sakiti anakku." Kaila tak kuat mendengar tangisan Kenzie.
"Hahaha, aku suka kau yang memohon meninta belas kasihan." Lexa melihat sekeliling mencari ketiga anak buahnya.
"kemana mereka." Lexa tak menemukan Rijal, Paiman, dan Matteo. ngomong - ngomong mereka bertiga sudah satu jam tidak terlihat.
Ceklek, pintu dibuka oleh seseorang yang belum pernah Kaila temui.
Lexa menunduk memberi salam pada bosnya.
"Bagaimana Nyonya Kenzo? apa kau kurang puas dengan siksaan yang diberikan." ucapnya melihat keadaan Kaila yang kacau dan berantakan, penuh air mata, mata sembab, bibir pucat.
"Siapa kau!!apa maumu!!kenapa melakukan ini padaku? apa salahku?" Kaila memandang sengit pada laki-laki yang mengambil Kenzie dari tangan Lexa.
__ADS_1
"Sebelumnya kenalkan. Aku Andre teman bisnis sekaligus musuh suamimu."
"Memang kau tidak punya salah denganku, tapi suamimu itu yang berurusan denganku. Kau harus menyalahkan suamimu karena membuat mu dalam keadaan saat ini." lmbuh Andre lalu berjalan mendekati Kaila yang terkat di sebuah kursi.
"Dan sebentar lagi suamimu akan aku bunuh. Karena dia akan segera datang." bisik Andre ditelinga Kaila. Kaila yang mendengarnya menjadi takut. Takut ucapan Andre akan menjadi kenyataan.
"Jangan aku mohon. Lepaskan suami dan anakku." Kaila tidak akan membiarkan Kenzo terluka.
Kaila sudah mencintai Kenzo. Iya Kaila akhirnya menyadari perasaannya pada sang suami. Kaila tidak akan membiarkan Kenzo dan Kenzie terluka. Ia tak rela. Cukup sudah selama ini suaminya terlalu banyak menderita karenanya. Kaila tidak akan membiarkan sesuatu hal buruk terjadi lagi.
"Ouhh, kalian sungguh pasangan teromantis, sungguh aku sengat salut." ucap Andre.
"Dan anak pungutmu ini akan aku habisi saja daripada berisik." Andre bersiap mencekik leher mungil Kenzie.
"Jangan jangan jangan. Aku mohon bebaskan anakku. Dia tidak bersalah dalam hal ini. Aku dan Kenzo yang bersalah." Kaila sudah berlinang air mata.
Andre tersenyum karena rencananya berhasil.
"Aku...aku...aku akan menuruti semua perkataan mu. aku akan memberikan yang kamu minta. Asal... asal... asal anakku kau lepaskan." Kaila sungguh tidak tega melihat Kenzie tersiksa.
"Wahhh, sungguh kau ibu yang sangat baik. Dia bukan anak kandungmu tapi kau rela memohon seperti itu. Aku salut padamu. Baiklah akan aku biarkan anakmu hidup asal kau mengikuti apa yang aku katakan." Andre lantas memberikan Kenzie pada Lexa dan memberikan dokumen ber-map biru ke hadapan Kaila.
"Tandatangani!!" perintah Andre.
Kaila membelalakkan matanya membaca surat yang disodorkan Andre.
"Apa kau tega membiarkan anakmu mati. Apa kau rela melihatnya mati." Andre terus meracuni otak Kaila agar memenuhi perkataannya.
Sejujurnya Kaila tak bisa melakukan ini pada Kenzo. Tapi nyawa anaknya lebih penting dari apapun. Sekalipun Kenzie bukan darah dagingnya, Kaila akan melakukan apapun di menyelamatkan Kenzie.
"Ba.. ba.. ba.. baikalah." Kaila akhirnya mau menandatangani dokumen tersebut.
Andre dan Lexa tersenyum puas karena rencananya akan berjalan sesuai yang mereka rencanakan.
Bagusss, Kenzo tunggu kehancuran dan kebangkrutan mu. Aku pastikan kau tidak akan memiliki apapun setelah ini.
Setelah ini selesai aku akan menjadi kaya. hahaha dan aku akan merebut Tuan Kenzo yang ditinggalkan istrinya.
Kenzo tiba ditempat yang ditujukan. Sayangnya penjagaan sangat ketat. Banyak penjaga yang menjaga tempat itu.
"Aku yakin Kaila dan Kenzie pasti di dalam sana. Tunggu papah nak. Tunggu aku Kaila. Aku pasti akan menyelamatkan kalian." Kenzo turun dari mobil dan langsung diserbu para penjaga.
"Ah siall." Kenzo terpaksa melawan mereka dengan tangan kosong. Karena senjatanya hanya untuk keadaan darurat.
"Jangan biarkan pria ini masuk. Habisi dia kalau perlu sampai tenaganya habis." ujar pria berbadan besar, sepertinya kepala penjaga.
__ADS_1
Tubuh Kenzo sebenarnya sudah lemah, tapi demi anak dan istrinya. Ia tidak peduli kondisinya.
Kenzie terus melawan para penjaga yang jumlahnya kalah banding. Dari arah belakang sebuah pukulan mengenai punggung Kenzo. Kenzo terjatuh dan langsung diseret masuk oleh mereka.
"Ma.. ma.. mas." Kaila terkejut melihat Kenzo diseret oleh anak buah Andre.
Kenzo teramat di merindukan suara ini, suara yang mampu membuatnya bahagia.
Kenzo membuka matanya. Betapa terkejutnya dia melihat wanita yang dicintainya terikat di sebuah kursi. Kaila. Istrinya, istrinya dengan mata sembab dan luka memar bekas tamparan di pipi.
"A..... a... ail." lirih Kenzo menatap istrinya.
"Mas hiks.. hikss... " Kaila tidak kuat menahan linangan air mata.
"Siapa yang melakukan semua ini ke kamu sayang." Kenzo berusaha mendekati Kaila. Tapi anak buah Andre mencekal tangan Kenzo.
Kaila rindu panggilan itu. Kaila rindu wajah tampan suaminya yang kini penuh luka tonjok. Kaila rindu suara Kenzo. Kaila rindu semuanya.
"Di.. di.. di.. dimana anak kita ail? dimana Kenzie kita?" Kenzo tidak melihat anaknya di ruangan itu.
Kaila menangis, menangis mendengar pertanyaan suaminya.
Kenzo bangkit dan melawan semua orang yang menahannya. Kenzo emosi. Sangat emosi sampai semua anak buah Andre dibuat pingsan olehnya.
Kenzo berjalan mendekat ke arah Kaila. Tepat dihadapan Kaila, Kenzo langsung memeluk perempuan yang sudah dirindukannya itu.
"Ayo kita cari Kenzie." Kenzo melepas ikatan di tangan dan kaki Kaila. Kaila menangis melihat suaminya.
Maaf mas, maaf. Aku mungkin akan menyakiti perasaan mu.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa like dan komennya.. 👍🤗
__ADS_1
Jangan cuma jadi reader's doang. author nggak akan gigit kok kalau ada yang komen. Komen terserah kalian, ungkapin isi hati kalian setelah baca ini, perasaan kalian, kesan pesan, serta masukan.
Silahkan Komen tapi jangan hujat-hujatan