
Kenzo mengecup bibir ranum istrinya.
"Mas ih." Kaila memlototi Kenzo.
"Abisnya kamu menggoda banget kalau lagi ngambek, abang kan nggak kuat iman dek." kekeh Kenzo membuat Kaila bersemu.
"Kayak anak SMP aja manggilnya adek."
"Lhoh anak SD sekarang malah manggilnya mimi pipi mimi pipi an tau Ail." ujar Kenzo geli sendiri.
"Jadi kamu udah kasih kerjaan ke mereka atau gimana?" Kaila berdiri dari sofa karena anaknya tidak mau diajak duduk.
"Iyalah, kamu pikir aku orang yang tidak berterimakasih. Aku bersyukur kita bisa lepas dari Andre karena mereka." terang Kenzo ikut berdiri.
Dipeluknya Kaila dari belakang, tangan Kenzo melingkar di pinggang ramping istrinya yang tengah menidurkan anaknya.
"Mas nanti Kenzie gak nyaman loh. Kamu gini ke aku aku risih di glendotin kalian berdua." ucap Kaila mencoba melepaskan diri dari Kenzo.
Kenzo semakin erat memeluk Kaila, mencari kenyamanan di ceruk leher istrinya yang berjilbab.
"Hemm, sebentar aja yah. Pasien butuh kenyamanan untuk bisa cepat sembuh." ujar Kenzo membenamkan kepalanya di ceruk leher istrinya.
Nyaman
Tapi kenyamanan yang Kenzo rasakan tidak berselang lama, si kecil mengganggu Papanya.
"Nih Kenzie juga gak nyaman." Kaila menjauhkan diri dari Kenzo.
__ADS_1
"Aku kangen nih sama pengganggu kecil ini, anak siapa sih ini heum anak siapa kok ganteng banget sihh." Kenzo mengambil alih Kenzie dari tangan Kaila.
"Aku beres-beres barang kamu sama Kenzie yah Mas. Besok kan sudah bisa pulang." setelah mendapat anggukan dari suaminya, Kaila mulai merapikan barang anaknya yang ada di kamar rawat.
"Papah sayang Kenzie, Kenzie sayang nggak sama Papah? kalau Kenzie sayang Papah nanti Papah kasih hadiah dehh." ucap Kenzo pada Kenzie yang hanya menatapnya polos.
Kaila yang tengah memberesi barang tersenyum melihat pemandangan dua orang kesayangannya.
"Ohh iya Ail, Alya dimana?. Aku kok gak liat lagi tuh bocah."
"Alya pulang ke rumah. Tenang aja, Alya udah aku kasih tau semuanya kok."
"Syukur deh, bisa - bisa aku di cemberutin terus kalau bener - bener pisah sama kamu." Kenzo membayangkan betapa seramnya jika adiknya kesal dan marah.
Kenzo bergidik ngeri.
"Aku ikut."
Akhirnya Kenzo menggendong Kenzie mengikuti Kaila ke kamar rawatnya.
Di perusahaan besar tiga orang sedang pusing menghadapi kelakuan dua orang yang tengah terkagum dengan apa yang dilihat didepan matanya.
Rijal, Andi dan Mariska harus menahan malu karena kelakuan Matteo dan Paiman.
"Wow" pekik Matteo ketika melihat sesuatu yang baru dilihatnya.
Entah sudah berapa kali Matteo mengatakan 'wow'. Dari mulai memasuki gerbang sampai lobi perusahaan Matteo terus saja mengeluarkan kata Wowo dari mulutnya.
__ADS_1
"Kamu sekali lagi bilang wow, saya tendang kamu yaa Matteo." seru Andi pada Matteo yang sedang melihat lift.
"Kakak Andi, itu kenapa orang semua naik ke atas pake bisa begituan." pekik Matteo saat pintu lift tertutup dan orang yang didalamnya tidak terlihat.
"Pak Andi, itu nangopo podo pakai kalung yaa, kalunge podo kabeh meneh." ujar Paiman yang melihat karyawan memakai kartu Identitas yang dikalungkan pada semua karyawan yang bekerja di perusahaan Wijaya grup.
Andi menghela nafas.
"Itu namanya lift Matteo, buat membawa orang menuju lantai selanjutnya. Seperti tangga ya semacam itulah." jelas Andi memberi tahu Matteo.
"Kalo itu bukan kalung, tapi itu id card, kartu Identitas untuk semua karyawan yang bekerja di perusahaan ini. Kamu paham Paiman?" Hanya dibalas "oooooooh" saja oleh Paiman.
"Maaf yah pak, atas sikap kedua teman saya yang eheee sedikit ndeso menurut bapak." sanggah Rijal mewakili kelakuan Matteo dan Paiman.
"Hem"
"Mar, kamu urus mereka bertiga yah, saya ada urusan dengan klien bos yang datang hari ini." setelah itu Andi berlalu pergi.
Mariska mengelus dada menghadapi kelakuan Matteo dan Paiman yang selalu bertanya setiap melihat barang dan sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya.
"Eh jangan lari!! mau kemana kalian heyy. Aduh, Rijal kamu kejar gih mereka berdua." ujar Mariska yang menyuruh Rijal untuk mengejar Matteo dan Paiman yang sudah di depan.
Rijal, orang yang paling benar diantara Matteo dan Paiman pun menurut. Mengikuti arah langkah kedua temannya yang bar-bar.
"Bisa - bisa aku jantungan kalo tiap hari menghadapi kelakuan mereka berdua. Haduh bos sihh, main nyuruh bawa mereka." dengus Mariska lalu menyusul Rijal yang tengah memberi pengertian pada Matteo yang bertanya ini itu.
Matteo terus takjub akan apa yang dilihatnya. Paiman bahkan sampai membuka mulutnya karena melihat orang diam bisa berjalan. Padahal mah itu eskalator makanya orang tidak perlu berjalan saat eskalator bergerak.
__ADS_1
Definisi buat Matteo dan Paiman bukan orang kaya baru, melainkan lebih tepat orang kota baru.