Menikah Karena Perjodohan( END)

Menikah Karena Perjodohan( END)
Suho dan Irene


__ADS_3

Mereka tak kuasa menahan linangan air mata saat di depan ruang ICU. Di dalam sana ada anaknya yang tengah koma sedang bertahan hidup.


Tangisan wanita yang merupakan ibu dari laki-laki bernama Jaehyun itu terus berjatuhan, sebagai seseorang yang telah melahirkan pasti sangat terpukul ketika dokter mengatakan bahwa anaknya koma dan belum sadar.


Suho yang merupakan ayah juga merasakan yang dirasakan istrinya. Bagaimanapun ia sangat khawatir pada kondisi Jaehyun, tapi sebisa mungkin dirinya harus kuat untuk menjadi penyemangat untuk istrinya yang rapuh.


Kenzo sangat bersyukur setidaknya orang-tua Jaehyun telah diberitahu mengenai kondisi anaknya yang Kenzo tolong.


Tak ada yang tau kapan Jaehyun sadar, masih beruntung Jaehyun hanya koma dan belum sadar bukan amnesia atau geger otak. Dokter mengatakan Jaehyun hanya mengalami koma tapi tidak ada benturan di bagian kepala.


"Hiks..... Jae bangun nak, ini Mamih, bangun sayang. Kamu nggak kasihan sama Rosé. Istri kamu lagi hamil butuh kamu Jae." Isak Irene di pelukan suaminya.


Suho mengusap rambut istrinya, "Anak kita pasti akan baik-baik aja Mih. Mamih berdo'a ya agar Jaehyun.' segera sadar dari komanya." Suho menenangkan Irene yang menangis dari awal melihat Jaehyun.


Kenzo bisa merasakan apa yang dua orang ini rasakan. Mereka masih beruntung karena keluarganya masih ada peluang hidup tidak seperti Mamah dan mertuanya yang tidak selamat dari kecelakaan.


Sungguh Kenzo kehilangan dua ibu sedangkan Suho dan Irene, mereka masih bisa bersama anaknya.


Ikhlas adalah kunci Kenzo melepas kepergian Mamah dan ibu mertuanya. Hidup masih panjang, tidak seharusnya mentok pada kesedihan di masa lalu yang hanya membuat terpuruk.


Kenzo berjalan mendekati orangtuanya Jaehyun. Ada sedikit rasa canggung karena Kenzo baru mengenal keduanya.


"Maaf Pak Bu, bukannya saya mau ikut campur. Tapi alangkah baiknya kita berdo'a meminta pada Yang Maha Kuasa untuk keselamatan Jaehyun. Jika hanya menangisi itu tidak akan mengubah keadaan." Tutur Kenzo membuat Suho dan Irene saling pandang, bukan pandangan pertama yaa.


"Yang dikatakan Nak Kenzo memang benar Mih. Anak kita nggak akan bangun jika kita hanya menangis. Kita harus berdo'a dan saling menguatkan." Irene yang mendengar ucapan suaminya mulai menghapus air matanya.


Umur Suho dan istrinya lebih tua dari Kenzo, jadi Suho memanggil nak pada laki-laki yang membawanya menemui Jaehyun yang sedang berjuang.


"Aku harus kuat demi Jaehyun, demi anak kita Pih. Aku nggak mau terjadi sesuatu pada Jaehyun." Suho mengusap pipi Irene yang masih ada sisa air mata. Kenzo hanya bisa iri melihat keromantisan pasangan didepannya.


"Hemm khem, maaf ya Pak Bu, jujur loh saya salut sama kalian. Saling menguatkan dikala keadaan begini. Saya juga jadi iri." Gurau Kenzo mencoba mencairkan suasana.


Irene dan Suho nampak tersenyum.


"Ya sudah mari saya antar ke mushola rumah sakit."


"Lohh kan waktu sholat udah habis, kita mau ngapain ke mushola?" Heran Suho pada Kenzo yang mengajaknya pergi.

__ADS_1


"Ya nggak papalah, kan nggak harus setelah sholat ketika kita berdo'a. Kapan pun kita bisa berdo'a, Allah SWT selalu membuka pintunya."


Kenzo melangkah meninggalkan Suho dan Irene setelah mengatakan kalimat yang membuat Suho dan Irene takjub.


Mereka akhirnya menyusul langkah Kenzo yang sudah di depan.


"Jalannya cepat banget sihh kayak kuda liar." Seru Suho saat sudah menyamai langkah Kenzo.


"Nyadar diri aja Pak kalau sudah berumur tulang pada encok." Cibir Kenzo yang malah membuat Irene ikut menertawakan suaminya.


"Enak aja ngatain saya tua, gini-gini saya masih berjiwa muda." Suho tak mau dibilang tua.


"Saya nggak ada bilang tua lohh yaa, Anda sendiri lohh yang bilang." Sahut Kenzo diselingi kekehan.


Suho rasanya ingin menelan laki-laki bernama Kenzo ini hidup-hidup. Irene sedikit terhibur dan hal tersebut membuat Suho lega karena istrinya tidak terlalu sedih.


Langkah ketiganya terhenti mendadak karena Kenzo yang tiba-tiba berhenti. Membuat Suho dan Irene heran.


"Kenapa berhenti?" Tanya Irene.


Suho mencebik kesal.


"Masih muda udah salah jalan aja nih masnya." Gurau Suho membalas Kenzo.


"Yang penting bukan salah jalan dalam kehidupan." Sanggah Kenzo.


Irene hanya geleng-geleng melihat keduanya.


Saat hendak merubah langkah, suara tangis bayi menghentikan Suho, Kenzo, dan Irene. Karena mereka tak jauh dari lobby rumah sakit.


"Itu apa ribut-ribut ada tangis bayi juga." Irene penasaran. Suho juga penasaran, Kenzo ikut penasaran.


Ketiganya lantas menghentikan tujuan utamanya dan malah melihat punggung wanita yang tengah menggendong bayi. Wajahnya tidak terlihat karena wanita tersebut memunggungi arahnya.


Suara wanita tersebut tampak tak asing ditelinga Kenzo.


"Kayak kenal suara in-...Kaila, ya ampun Kaila." Kenzo berlari ke arah wanita yang diduga Kaila. Suho dan Irene bingung dengan apa yang terjadi. Mereka memilih melihat dari kejauhan.

__ADS_1


Kenzo mendekati punggung wanita berbaju gamis. Dan ternyata benar bahwa itu istrinya.


"Kamu ngapain di sini malem-malem gini?" Kenzo beralih menatap anaknya yang tengah menangis.


Jam 11.30 malam


Anaknya menangis di jam yang menunjukkan sudah sangat malam. Dan istrinya tampak habis menangis terlihat dari matanya yang terdapat sisa air mata.


Ini kebetulan Kaila tau Kenzo sedang di rumah sakit atau ada apa, kenapa istrinya malam-malam begini di depan lobby rumah sakit.


"Kamu nangis Ail? terus Kenzie kenapa nangis kenceng banget." Kaila belum menjawab, ia menunduk merasa tak becus menjaga Kenzie yang masih bayi.


Diusapnya lembut lengan Kaila, Kenzo menatap Kaila yang masih menunduk, "Lihat aku sayang, apa terjadi sesuatu pada Kenzie?" Kenzo mengelus pipi Kaila dan membuat Kaila menatap suaminya.


Air matanya tak bisa dibendung lagi saat menatap mata Kenzo.


"Aku takut Mas, takut terjadi sesuatu sama Kenzie. Tadi.... waktu mau.... aku tidurin di kasur Kenzie tubuhnya panas... te.. terus nangis..... aku aku nggak tau kenapa.... aku.. langsung bawa ke sini... " Tangis Kaila pecah saat Kenzo sudah mendekapnya. Bayinya masih menangis ditengah kedua orangtuanya.


"Aku... aku minta maaf Mas nggak bisa jagain Kenzie, aku nggak becus jadi ibu, maaf aku hikss...aku...nggak becus." Kaila mengeluarkan unek-unek yang dipikirkan.


Kenzo melepas pelukan dan menyentuh kedua bahu istrinya. "Ini bukan salah kamu, kamu jangan nyalahin diri kamu apalagi ngomong kalau kamu nggak becus jadi ibu."


"Kamu itu sudah menjadi ibu yang hebat untuk anak kita, kamu jangan sedih kasihan Kenzie ikut sedih liat Mamahnya nangis." Imbuh Kenzo menenangkan Kaila.


"Coba biar aku gendong Kenzie yaa." Pinta Kenzo lalu mengambil alih tubuh anaknya.


"Kenzie kenapa nangis heum, bobok ya sayang bobok ini Papah udah sama Kenzie." ditimang ke kanan dan ke kiri untuk meredam tangis anaknya.


Bukannya tenang Kenzie malah semakin menangis.


Dari kejauhan dua orang melihat hal tersebut, karena tidak tega melihat tangisan bayi akhirnya Suho dan Irene berjalan ke arah Kenzo dan Kaila yang tengah bingung menenangkan bayi.


"Bisa saya bantu." Ucap seorang wanita cantik yang mengalihkan atensi Kaila.


Kaila ingin bertanya siapa wanita ini, tapi urung ia lakukan. Dan kenapa Kenzo ada di rumah sakit. Entahlah hal itu akan Kaila tanyakan saat anaknya sudah tenang.


Wanita tersebut mengambil alih tubuh Kenzie dari gendongan Kenzo.

__ADS_1


__ADS_2