Menikah Karena Perjodohan( END)

Menikah Karena Perjodohan( END)
Idaman


__ADS_3

Kaila tengah menunggu Kenzo di ruangan suaminya dengan sang anak yang sudah tidur nyenyak di dalam stroller.


Pukul 11.30


"Mas Kenzo lama banget sih, meeting sampai dua jam lebih gini. Nggak biasanya." Dengus Kaila mulai menyusuri sudut ruangan suaminya.


"Semuanya masih sama dari terakhir kali aku ke sini nganter makan siang buat Mas Kenzo."


Satu benda di atas meja kerja suaminya membuat mata Kaila menatap penasaran.


Senyum di bibirnya mengembang kala melihat benda tersebut.


"Ternyata kamu pasang foto aku di ruangan kamu Mas."



Sebuah bingkai foto berukuran sedang diambil Kaila, ternyata berisi foto dirinya memakai pakaian putih. Itu foto saat dirinya sedang menghadiri acara pengajian di rumah tetangga.


Disampingnya ada satu bingkai yang membuat Kaila lagi-lagi tersenyum melihatnya.



"Mas Kenzo kapan ngambil foto ini? lucu banget."


Ceklek


Kaila menoleh saat mendengar suara pintu dibuka.


"Lama banget Mas meeting nya, apa ada masalah serius?" Kaila meletakkan bingkai yang dipegangnya dan berjalan menghampiri Kenzo yang sudah duduk di sofa.


"Bukan masalah serius sih, tapi ya gitulah. Nggak usah difikirkan yaa, masalah perusahaan biar aku yang ngurus. Kamu cukup ngurus aku sama Kenzie aja."


Ini yang Kaila suka dari sifat suaminya. Pekerja keras dan tidak ingin merepotkan orang terdekatnya.


Kaila bersandar di bahu suaminya.


Kenzo membuka lengannya dan memeluk lengan istrinya meletakkan di atas dadanya, mendekap dengan hangat.


"Ihh panas tau Mas." Protes Kaila karena memang cuaca hari ini amat panas dan Kenzo tidak menyalakan AC karena memang permintaan istrinya. Kata Kaila biar Kenzie tidak kedinginan.


"Dipeluk kok nggak mau? dua hari nggak ketemu emang kamu nggak kangen aku? nggak rindu pria tampan ini." Kata Kenzo mengeratkan pelukan membuat Kaila memberontak dan mencoba lepas.


"Ya tapi panas Mas, ini kan masih di kantor. Kalau ada yang masuk kayak Andi gimana coba?" Akhirnya Kaila berhasil lepas dari kungkuhan Kenzo.


"Oh berarti kalau sampai rumah bebas ngapain aja nihhh." Goda Kenzo.


"Boleh aja kalau kuat ngimbangin kekuatan aku." Sahut Kaila membuat Kenzo memandangnya tak percaya.


"Seriusan kamu mau?" Tanya Kenzo memastikan ucapan istrinya.


"Hem" Balas Kaila memilih mengalihkan pandangannya ke arah lain.

__ADS_1


Sebenarnya Kaila juga malu mengatakan hal tersebut, tapi sudah terjadi ya sudahlah. Hanya bisa menyembunyikan wajah malunya.


Kenzo berdiri membuat Kaila heran.


"Lahh kamu mau kemana Mas? mau pergi kemana?" Heran Kaila saat melihat suaminya berdiri.


"Pulang dan buktiin kalau aku kuat dan bisa buat kamu lelah aww." Ringis Kenzo karena Kaila melempar bantal kecil ke arahnya.


"Mesum yaaa, udah bentar lagi dhuhur. Kita sholat di kantor aja setelah itu kita pulang." Tukas Kaila menghentikan pembicaraan yang membuatnya malu.


Kaila beralih pada stroller berisi anaknya.


"Aku sadar Mas nggak bisa hidup tanpa kalian berdua." Kaila tiba-tiba berkata begitu.


Kenzo kembali duduk dan mulai mendengarkan perasaan istrinya.


"Setelah kepergian kamu dan Kenzie dari rumah aku sadar kalau kalian sangat berharga. Dan semua kata-kata yang aku ucapkan salah, aku hanya membohongi perasaan aku sendiri."


"Aku tidak rela kalau Kenzie jauh dari aku, aku tidak bisa kalau Kenzie dalam bahaya."


Kenzo mendekat pada sang istri. Disentuhnya pundak istrinya yang terlihat bergetar.


"Aku tau Ail, aku tau kamu sebenarnya sayang Kenzie. Tapi karena waktu itu suasana hati kamu sedang tidak baik kamu mengatakan membenci Kenzie dan menyesal memilikinya. Tapi aku tau kamu itu ibu yang baik dan sayang pada anaknya. Aku percaya itu."


Kaila menangis dalam dekapan suaminya. Kenzo mengelus punggung istrinya dengan lembut untuk menenangkan.


"Tadi katanya panas, sekarang kok nemplok kayak perangko." Ejek Kenzo membuat Kaila menghentikan tangis dan memukul pelan dada suaminya.


"Dahlah aku mau sholat dulu, kamu mau sholat bareng atau nanti aja?" tanya Kaila pada Kenzo yang asik mengusap kepala sang anak.


"Bareng aja sekalian, nanti jam 2 aku ada ketemu klien soalnya." Kaila mengangguk mendengarnya.


"Terus Kenzie gimana?" tanya Kaila.


"Titipan dulu sama Andi, kayaknya dia lagi free deh." saran Kenzo membuat Kaila berpikir.


"Emang asisten kamu itu bisa jagain Kenzie? kalau terjadi sesuatu gimana?" sahut Kaila.


"Benar juga ya apa yang kamu bilang, bisa-bisa Kenzie celaka kalau sama Andi."


"Gimana kalau sama Mariska aja? dia kan perempuan pasti taulah cara jagain anak." usul Kaila.


Kenzo mengangguk.


"Ya udah ayo cari Mariska dulu sebelum sholat dzuhur." ucap Kaila berjalan duluan lalu disusul Kenzo yang mendorong stroller anaknya.


Nasib jadi babu istri ya gini.


"Tungguin Ail!" seru Kenzo menyusul istrinya yang sudah didepan pintu.


Mereka mencari-cari orang yang akan dititip anak. Tapi sudah keliling kantor orang yang dicari belum juga kelihatan batang hidungnya.

__ADS_1


"Mana sihh Mariska. Kita udah muterin kantor nggak ketemu juga."


Kaila menatap malas suaminya. Bagaimana tidak kesal, dari tadi Kenzo hanya mendorong stroller anaknya saja tapi masih sempat mengeluh. Harusnya kan Kaila yang mengeluh.


"Kamu enak tinggal dorong stroller lah aku pegel nanya mulu dimana Mariska tapi nggak ketemu juga." kata Kaila dengan kesal.


"Hehe, ya kalau aku yang nanya entar kamu kira aku godain karyawan." ucap Kenzo berhasil membuat Kaila naik darah.


"Awas aja ya berani main mata didepan aku. Kamu aku tendang dari rumah." ancam Kaila, bukannya takut Kenzo malah menahan tawanya.


"Gimana mau ngusir kan itu rumah masih atas nama aku, hahaha."


Benar juga yang dikatakan Kenzo, tapi bodo amat Kaila kesal.


"Eh ibu pak Kenzo mau kemana bu pak?" ucap seseorang.


"Nah, ini dia nih yang dari tadi bikin kita pusing nyariin tau-taunya nongol tiba-tiba." tunjuk Kenzo pada Mariska sang sekertaris.


"Nyari saya? memangnya kenapa bapak dan ibu nyari saya?" Mariska memang benar tidak tau kenapa keduanya mencarinya.


Belum sempat Kenzo menjawab, suara Andi yang memanggil Mariska menghentikan pembicaraan.


"Woyy Marimar kembaliin Dompet Gue Mar!!!." Teriak Andi dari arah pintu lift.


Dia berjalan menuju Mariska yang tengah menatapnya kesal.


Kenzo dan Kaila dibuat bingung oleh Andi yang ngos-ngosan seperti baru berlari.


"Kamu kenapa berkeringat gitu? habis ngejar maling?" Tanya Kaila saat Andi sudah di hadapan semuanya.


Andi mengatur nafas sebelum berbicara. Sungguh dirinya kehabisan oksigen karena mengejar Mariska yang mengambil dompetnya saat dirinya tengah makan di kantin perusahaan.


"Saya huft huft saya begini karena Mariska Bu, masa dompet saya dijambret." adu Andi menatap sengit pada Mariska.


"Enak aja jambret, saya tuh cuma kesal aja bu sama Andi. Masa saya lagi jalan dia dengan sengaja menyandung saya pakai kaki."


Kalau sudah begini pasti keduanya ribut, Kenzo ada ide. Dia saling pandang dengan Kaila. Ternyata Kaila juga berpikir sama dengan dirinya.


"Udah nggak usah saling tuduh, mending kalian jagain anak saya bentar." Ucap Kenzo membuat Andi dan Mariska menolak mentah-mentah.


"Saya sama dia. Oahh kalau sama dia, mending sama orang lain aja." Tunjuk Mariska pada Andi.


"Gue juga ogah sama lu, dasar tepos." Balas Andi tak mau kalah.


"Sudah nggak usah pada ribut, lagian itung-itung kalian belajar ngurus anak." Ucap Kaila lalu menarik Kenzo meninggalkan keduanya dan Kenzie.


"Suami istri nggak ada akhlak. Siapa yang punya anak siapa yang repot." Dengus Andi.


"Udah nggak usah ribut, nih urusin dedek Kenzie."


"Kan elu yang calon ibu, ya harusnya lo lah yang ngurus." Sewot Andi tak terima.

__ADS_1


"Ya emangnya yang ngurusin anak itu harus perempuan? Enggak. Laki-laki tuh juga harus bisa jagain anak." Ucap Mariska lantas mendorong stroller baby Kenzie dan membawanya pergi meninggalkan Andi yang masih mencerna perkataan Mariska.


"Berarti tipe pria idaman Mariska adalah yang sayang sama anak kecil. Okehh gue bakal tunjukkin kalau gue pria idaman." Andi menyusul Mariska yang sudah jalan duluan di depan.


__ADS_2