
"Alya mau pulang?" ucap Kenzo yang tak di mengerti oleh Kaila yang masih diam di depan mereka.
Semoga bocah itu tidak membuat rusuh.
Setelah kejadian kemarin malam, penetapan tanggal pernikahan Kenzo dan Kaila akan diadakan satu hari dari sekarang, karena mamanya Kenzo minta dipercepat agar bisa tenang.
Hari ini Kaila masuk kerja dan tampak tak seperti biasanya. Sebab ia masih tidak percaya bahwa dirinya akan menikah begitu cepat.
Bahkan dengan sosok yang baru dikenalnya. Malah belum kenal betul, soalnya baru bertemu dua kali dengan laki-laki bernama Kenzo yang ternyata atasan di tempat kerjanya.
Suara Derap langkah kaki yang mendekat membuyarkan pikiran Kaila.
Ceklek
Bunyi pintu dibuka, ternyata Kenzo yang masuk ruangan tempat sekertaris nya yang sekaligus calon istrinya.
Dengan memakai jas warna hitam celana warna senada dan juga rambut yang tertata rapi berhasil membuat Kaila menganga terkagum-kagum dengan penampilan laki-laki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.
"Ehmm." Deheman Kenzo membuat Kaila sadar telah memandangi atasannya.
Kaila masih menganggap Kenzo bos, sebab Kenzo belum mengatakan hal tentang masalah pernikahan dengan dirinya.
"Itu, mulutnya nanti kemasukan bola bisa kebobolan tuh," Ledek Kenzo setelah di hadapan Kaila.
"Ih apaann sih." sewot Kaila.
"Saya tau. Saya tuh memang tampan, mapan, tinggi, kaya. Aduh perfection deh. Beruntung kamu yang akan menjadi istri saya, diluaran sana banyak perempuan yang menginginkan menjadi istri saya, dan ternyata kamu yang akan menjadi istri saya." ucap Kenzo sombong.
"Hah, apa?" Tentu saja Kaila kaget dengan penuturan Kenzo.
"Ngga jadi deh, sudah panjang lebar ternyata kurang jelas." ucap Kenzo dengan menggerutu kesal.
"Ya sudah saya keruangan saya dulu." sambung Kenzo keluar dari ruangan Kaila.
Ceklek
Kenzo masuk ke ruangnya meninggalkan Kaila yang sedari tadi menahan gugupnya di depan Kenzo.
"Huft, jantungku kenapa berdetak sangat cepat sih." ucap Kaila tapi tiba-tiba ada telpon masuk.
"Hallo, iya Pak ada apa?"
"Pak, pak pak, saya bukan bapak kamu yah" ucap seseorang di sebrang, ternyata yang telfon adalah Kenzo
"Iya, Tuan Kenzo Wijaya, ada apa menelepon saya?." ucap Kaila merubah panggilan untuk Kenzo.
"Hmm, keruangan saya dalam lima menit, telat satu menit saya pindahkan kamu ke benua Afrika." Gertak Kenzo di sebrang telfon.
"Iya-iya. Jadi orang ko- Tut tut." ucapan Kaila terpotong karena Kenzo menutup sambungan telponnya.
"Huh, dasar pria angkuh arogan." Setelah menutup telfon, Kaila bergegas menuju ruangan Kenzo.
Tok tok
"Masuk." ucap Kenzo mempersilahkan Kaila untuk masuk.
"Ada apa?" ycap Kaila datar.
"Datar amat sih, saya bos loh."
"Terus kalau Anda bos, saya harus apa?"
"Saya mau ngomong."
"Ya tadi juga ngomong, aneh."
"Saya serius Kaila Aisyah Hamish."
"Iya, mau ngomong apa?"
"Besok kan hari pernikahan kita."
"Hah, kita??"
"Kaila, jangan bercanda. Saya serius."
"Iya, iya, terus?"
"Jangan terlalu formal lakh. Jangan saya-Anda , tapi aku kamu. Kamu setuju?"
"Okelah kalau begitu, aku setuju."
"Oke" Dibalas dengan senyuman Kenzo.
"Kaila. apa kamu mau ikut aku ke suatu tempat?" Ajak Kenzo pada Kaila.
Kaila diam sesaat untuk berpikir
"Kaila, hey Kaila" panggil Kenzo.
"Eh, maaf, mau kemana?" Tanya Kaila terkejut.
"Adadeh, This's secret and surprise ups keceplosan." Kenzo membuat Kaila bingung.
Kaila mengikuti Kenzo ke sebuah tempat, ia sendiri tidak tahu Kenzo mau membawanya kemana. Namun ia tahu betul arah mobil yang Ken kemudi menuju ke sebuah restoran.
Sesampainya di sana, Ken membukakan pintu mobil untuk Kaila dan menggiring nya untuk masuk ke dalam restoran. Kaila hanya mengekor di belakang Kenzo.
Kenzo mempersilakan Kaila untuk duduk, sedangkan dia duduk di hadapan Kaila.
__ADS_1
"Jadi, ada apa? " Tanya Kaila.
"Baru juga duduk, langsung nyrocos aja." kata Kenzo setelah berhasil mendudukkan pantatnya di kursi.
"Jadi, aku ngajak kamu kesini buat.. " Kenzo menggantungkan ucapannya membuat Kaila bingung.
Kenzo berdiri dari duduknya dan berjalan ke samping Kaila.
Kenzo malah berlutut di hadapan Kaila.
Kaila dibuat bingung dan terkejut dengan ulah laki-laki yang sudah berlutut di hadapannya ini.
"Ken, apa yang kau lakukan?" ucap Kaila karena malu atas sikap Kenzo yang menjadi perhatian seluruh pengunjung restoran.
"Kaila Aisyah Hamish. Mau kah kau menerimaku menjadi imam dan menjadi tempat sandaran mu. Menjadi laki laki yang melindungi mu, menjadi orang yang membahagiakan mu, menenangkan mu dikala kamu sedih. Mau kah kamu hidup bersama mu, di sisiku dalam suka ataupun duka. Kaila, Will you marry me?" ucap Kenzo lancar dengan mengeluarkan bunga yang sedari tadi di sembunyikan di kolom bawah meja.
Kaila kaget dan tersipu malu atas sikap Kenzo.
Menurutnya ini romantis, ditempat umum dan banyak pasang mata melihat kelakuan Kenzo,
Kaila terdiam.
"Kaila" panggil Kenzo menyadarkan Kaila.
"Eh, Ken apa maksudnya ini? kan memang kita besok mau menikah, udah berdiri Ken." ucap Kaila pada Kenzo yang masih berlutut.
"Aku tidak akan berdiri sebelum tahlu jawaban dari mulut kamu secara langsung." Kekeh Kenzo tetap berlutut.
Kaila menghela napas atas sikap teguh dan keras kepalanya Kenzo.
"Hmm, iya Ken aku bersedia menjadi wanita yang akan menemanimu dalam suka atau duka. Mau kamu kaya atau miskin. Aku mau menjadi istrimu. Aku mau menikah dengan mu Kenzo Wijaya." Jawaban Kaila membuat Kenzo tak percaya bahwa Kaila akan menerima dirinya.
"Terimakasih Kaila." Kenzo tersenyum mendengarnya.
"Iya, ya sudah berdiri gih. Tuh kotor kan bajunya." Ucap Kaila segera diangguki Kenzo.
Tanpa mereka sadari ternyata ada sepasang mata yang melihat pemandangan tersebut.
Dia berjalan mendekat tanpa Kaila dan Kenzo sadari.
"Hahaha, kakak romantis banget sihh, nggak nyangka kalau kakak bisa se romantis ini sama perempuan." ucap anak perempuan tersebut.
Suaranya masih remaja, dari wajah dan tubuhnya sih jelas bahwa ia masih remaja, mungkin kelas 3 SMP.
Suara remaja tersebut membuat Kaila dan Kenzo menengok ke sumber suara.
Pengacau. Kenapa dia udah di sana aja siih.
"Siapa Ken?" Tanya Kaila bingung.
"Hehe, ntar aku kenalin." Balas Kenzo dengan senyum tipis.
"Hallo, kakak aku pulang, kakak gak rindu aku, kakak sayang gak sih sama aku? dan - (Melihat ke arah Kaila) mau nikah gak bilang-bilang biar aku nggak dateng yah. Untung kemarin mama nelpon terus kasih tau, terus aku pulang deh." ucapnya panjang lebar.
Remaja tersebut adalah Alya, adik Kenzo yang baru pulang dari luar negeri karena sekolah di sana.
Dia pulang bukan hanya karena kakak nya mau menikah, tapi juga mau pindah sekolah.
"Kak Kaila kan? aku Alya kak. Aduh kakak cantik banget sih, udah gak sabar pengen cepat-cepat liat kakak pakai baju pengantin. Kak Kaila kita pergi makan yuk, apa ke taman bermain. Oh nanti malam kata temen aku ada pasar malam kak? kita ke sana yuk kak ntar malam." Rengek Alya sudah menggandeng tangan Kaila.
Kenzo geram melihatnya, lagi momen mengungkapkan perasaan malah gatot karena adiknya yang cerewet ini, aduh dibuat berantakan sudah rencananya hari ini oleh sang adik.
"Kak Ken, boleh yah? kakak mau ikut juga boleh kok kak? kak, kakak kok diem aja sih?." Tanya Alya pada kakaknya.
"Gimana mau ngomong. Kamu cerewet banget dari tadi ngomong terus" Gerutu Kenzo.
Kaila terkekeh melihat interaksi kakak beradik yang seperti musuh baru bertemu.
"Hish, kakak gimana? mau ikut nggak." ulang Alya.
"Harusnya kamu bukan ngajak kakak, tapi minta ijin ha yasudah lakh, nanti malam kakak ikut." kata Kenzo membuat adiknya bahagia bukan main.
"Asyikkk, makan-makan." Girang Alya.
Tanpa berkata ternyata Kenzo sudah ditinggal oleh kedua wanita di hadapannya, huftt kesalnya.
"Yakh, Alyaaa!!dasar yah main bawa pergi, ngerusak acara, ditinggal lagi." Gerutu Kenzo menyusul mereka.
Di mall
Sesampainya di mall mereka bertiga berjalan berjejer, layaknya keluarga kecil.
"Mau beli apa hmm?" tanya Kenzo pada kedua wanita itu.
"Apa yah, bingung juga." sahut Kaila melihat-lihat.
"Alya. Kamu mau beli apa sayang?." tanya Kaila pada Alya yang dari tadi terus menggandeng tangannya.
"Hmm, Alya juga bingung." kata Alya dengan melihat kanan kiri apa yang akan di beli.
"Duh, liat tuh jeng romantis banget yah, anaknya cantik juga," bisik-bisik pengunjung lain.
"Pantes lakh jeng, lha wong mama dan papa nya aja cakep sudah pasti bibitnya unggul." Desas desir ibu-ibu yang melihat Ken, Kaila dan Alya yang sedang memilih di rak makanan.
Banyak yang memuji banyak juga yang mencibir tak suka. Biasa, kalau iri ya begini. Dinyinyirin.
"Ih liat deh, masih muda kok anaknya udah besar gitu. Jangan-jangan mereka MBA. Iya nggak jeng." sindir seorang wanita yang tak jauh dari Kenzo dan Kaila.
"Uh, kayaknya sih iya deh," imbuh wanita lainnya.
__ADS_1
Tak sengaja Kenzo dan adiknya mendengar hal tersebut.
Namun beda dengan Kaila yang hanya diam saja.
Kenzo berjalan berbelok masih dengan menggandeng Alya, sedangkan Alya menggandeng Kaila.
Jadi Alya tuh posisi di tengah ya makanya orang yang melihat hanya dengan apa yang terlihat bisa saja salah paham.
" Lho Ken mau kemana sih?" lirih Kaila heran.
"Hehe, kakak pasti akan bertindak, ah aku bantuin aja ahh." Entah apa yang dipikirkan Alya melihat gerak-gerik kakaknya.
"Maaf yah sebelumnya. Saya bukannya mau menggurui, tapi jangan menilai seseorang dari apa yang dilihat tanpa tahu yang sebenarnya. Bisa jadi fitnah, dan fitnah itu apa sayang?" Kenzo sengaja bertanya pada Kaila yang masih diam.
"Eh, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan." reflek Kaila.
Wanita-wanita yang dihadapan Kenzo hanya diam dengan gertakan Kenzo.
Tampan sih, tapi ucapannya pedas.
Tiba tiba...
"Mom, dad pergi dari sini ajalah. Mau beli Mainan." sontak Kenzo dan Kaila membelalakkan matanya.
Bagaimana tidak, Alya tiba-tiba saja berbohong bahwa mereka itu orang tuanya.
Kenzo yang mengerti sifat adiknya pun mengikuti saja.
"Oh, okey sayangnya papah, ayok sayang beli mainan buat anak kita." Ucap Kenzo.
Haduh, apa lagi ini Ya Allah
"Mom" Rengek Allya dengan puppy eyes nya.
Terpaksa Kaila ikut dalam rencana kakak beradik itu, untuk membuat para wanita di hadapannya diam.
Mereka bertiga pergi meninggalkan orang orang yang membicarakannya.
Setelah mereka berkeliling Mall, Alya tak sengaja melihat toko boneka, terbesit sebuah ide jahil.
"Mom Dad, Alya mau boneka itu." Pinta Alya masih dengan mom dad nya.
"Alya sayang, kan udah aman jadi tidak usah panggil mom dad lagi yah." Bujuk Kaila pada calon adik iparnya.
Jujur Kaila sangat risih akan panggilan pura-pura dari adik calon suaminya.
"Yah. Kakak nih yah, ini malah yang aman kak, iya nggak kak Ken." mencoba mencari sekutu.
"Terserah."Jawab Kenzo singkat.
"Ok, ayok ke sana!" seru Alya dengan menarik tangan kakaknya dan calon kakak iparnya.
Sesampainya di tempat itu, Ken Mengernyitkan dahinya, pasalnya itu toko boneka.
"Al, ngapain kesini?" tanya Kenzo bingung.
"Beli boneka lah kak. Kan tadi aku udah bilang mau boneka." Jawab Alya kesal.
"Selamat datang bapak, ibu, adek." Sapa penjaga pintu masuk toko.
Bapak?setua itu kah aku, jelas jelas aku ini tampan, huft rabun nih orang.
"Bapak, ibu dan adik silahkan masuk." Lanjut penjaga pintu.
"Selamat siang bapak, ibu, dan adik, mau beli boneka buat anaknya pak?" Tanya pemilik toko saat melihat Kenzo menggandeng tangan Alya.
"Eh" Kaila terkejut pasalnya semua mengira mereka itu keluarga.
"Pak aku mau beli boneka teddy bear yang besar warna pink." Bukan Kenzo atau Kaila yang berkata, namun siapa lagi kalau biang onar hari ini.
"Oh, ada dek, mari ke sana yuk. Saya akan tunjukan."
Kaila hanya bisa mengikuti kemauan calon adik iparnya.
"Adikmu sangat ribet yah, cerewet juga, tapi aku senang bersamanya." Ucap Kaila pada Kenzo yang ada disampingnya.
Alya jangan tanya dimana. Dia sudah jelas ngibrit mengikuti arahan pemilik toko.
"Hem, adik yang ribet menyusahkan sekali, maaf kan adik ku itu yah." Kata Kenzo menatap Kaila dan di balas anggukan oleh Kaila.
"Ya sudah Ken, tuh Adikmu sudah ada di sana tuh." Tunjuk Kaila pada calon adik ipar nya.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungan kalian dengan cara klik like, komen, favorit anda rate.