
Kenzo sudah berpindah posisi menindih Kaila.
Dikecupnya pucuk kepala sang istri, Kaila menutup matanya merasakan kecupan sang suami. Saat akan membuka baju yang dikenakan Kaila terdengar bunyi handphone yang menganggu aktivitas mereka.
"Arghhhh!! " geram Kenzo marah.
"Diangkat dulu amas, siapa tahu penting. Kita bisa melakukannya kapan-kapan Mas. Angkat dulu telponnya." Kaila mengelus lengan sang suami guna memenangkan emosinya.
Huft, sejujurnya aku belum siap Mas.
Kenzo bangkit, lalu melangkah menuju nakas dan mengangkat telpon dengan malas.
"Siapa sih yang mengganggu kegiatan malam ku. Huu awas saja kalau tidak sangat penting, akan aku beri pelajaran." Kenzo melangkah ke arah jendela mengangkat telpon.
"Hallo."
"..... "
Raut wajah Kenzo terlihat terkejut saat mendengar orang di sebrang telpon berbicara.
"Sepertinya besok tidak jadi pulang ke Indonesia. Ada apalagi sebenarnya." ucap Kaila lalu melangkah mendekati suaminya.
Kenzo tersentak kaget saat ada yang menyentuh lengannya. Ternyata istrinya. Kaila menyimak pembicaraan suaminya dengan si penelepon yang memakai bahasa Inggris.
Tentu saja Kaila paham, mantan sekertaris masa tidak tahu bahasa Inggris, oh tidak mungkin. Kaila jelas saja tahu apa yang sedang suaminya bicarakan.
Setelah Panggilan berakhir, Kenzo menatap Kaila. Terdengar helaan nafas berat dari suaminya.
"Kamu udah denger kan Ail? kayaknya kita tidak jadi pulang besok."
Kaila hanya mengangguk.
"iya Mas, tidak papa."
"Terus Mas mau bagaimana?" lanjut Kaila.
"Aku harus ke tempat proyeknya untuk melihat keadaan di sana." Kenzo melangkah ke arah lemari untuk mengganti pakaiannya.
"Malam ini juga mas? , ini sudah malem banget loh. Apa tidak besok saja." ujar Kaila menghampiri Kenzo yang sedang memakai kemeja.
"Nggak bisa Ail, ini gawat."
"Ya sudah. Aku temenin."
"Tidak usah Ail. Kamu istirahat saja. Biar aku yang urus."
"Enggak! pokoknya aku ikut." kekeh Kaila yang akhirnya membuat Kenzo pasrah.
"Ya sudah kamu ganti baju dulu, aku tunggu kamu dibawah." ucap Kenzo.
"Nggak usah mas, gak ada waktu lagi. Kita harus cepat ke tempat."
"Iya , ayok."
Mereka langsung menuju mobil dan langsung masuk. Walau sudah sangat malam, tapi hal ini jauh lebih penting. Dan Kaila tidak ingin sesuatu terjadi pada suaminya, Maka dari itu dirinya harus ikut.
Beberapa menit kemudian Kenzo dan Kaila sampai di tempat tujuan. Di sana sudah ada satpam yang tadi ditelpon oleh pak Alex selaku rekan kerjanya.
Karena pak Alex masih mengurus acara pernikahan anaknya, jadi beliau menyuruh Kenzo yang mengurusi masalah ini.
Kenzo langsung menyapa security-nya tersebut dan langsung bergegas menuju tempat yang ditunjuk security-nya. Kaila mengikuti langkah Kenzo menuju gedung yang sudah menjulang tinggi.
"Dimana sih." ujar Kenzo mencari sosok yang dimaksud.
__ADS_1
Dari lantai satu tidak ditemukan, dilantai dia tidak terdapat, sampai di lantai paling atas terdengar suara yang membuat Kenzo ingin melihatnya.
Kaila terus mengikuti langkah Kenzo menuju lantai paling atas.
Tepat di lantai atas. Kenzo melihat ada seorang wanita tengah menuju ke arah jendela.
Kaila memekik kaget mengetahui niat wanita itu dengan keadaan perut yang besar, dirinya tengah hamil.
"Stop!!" teriak Kenzo mencoba menghentikan niat wanita di hadapannya.
"What are you doing?" wanita tersebut menoleh kebelakang.
"Please stop. Are you not thinking about the baby in your womb?" Kenzo mencoba maju mendekati perempuan di depannya.
"Why do I think about this baby?" Teriak nya pada pemuda yang mencoba menghentikan tujuan bunuh dirinya.
"What do you mean miss? the baby is your child why do you say that." Kenzo tak paham dengan perempuan di hadapan.
Bukankah memiliki anak adalah hal yang membahagiakan. Tapi kenapa perempuan tersebut berkata seakan tidak menginginkan bayinya sendiri.
"I hate this baby because it was present when a boy made me go somewhere." ujarnya penuh emosi.
"Sorry, what do you mean?" Kali ini Kaila mencoba berbincang.
"I don't want to endure this disgrace, I want to kill myself." sontak saja Kaila dan Kenzo yang mendengarnya terkejut bukan main.
Perempuan di hadapannya ingin bunuh diri, bahkan terlihat tidak memikirkan bayi yang tengah dikandungnya.
"Please calm down miss. Isn't it a joy to see a baby who has been born in this world for several months." Kenzo mencoba menenangkan sang perempuan yang terlihat semakin mundur.
"I don't want this baby, I hate this baby, I want to die with this baby." ucapnya dengan memukul perut besarnya.
"Please calm down Miss. If you want to die please, but don't bring the baby, just let me take care of it." Kenzo terus mencoba menenangkan dan mencoba menguasai situasi.
Kaila kaget dengan apa yang dilakukan perempuan tersebut. Memukul perut besarnya bisa membuat bayi di dalam perutnya terluka.
"No I don't want him to live, I want him to die, because I hate him so much, even when he was there I really hated him." perempuan tersebut terus berteriak.
"Why do you hate babies who are your flesh and blood, miss?" Kenzo mencoba bertanya pelan-pelan, dan agar perempuan tersebut tidak nekat terjun dari lantai 30 gedung yang baru saja selesai di bangun.
"Because this baby my life was destroyed, my dreams, my life was destroyed because of this baby." perempuan tersebut sedikit mengeluarkan bulir-bulir air mata.
"OK miss, I understand what you are going through, but let this baby live, miss." kini Kaila yang bersuara.
"No! I don't want him to live, I want to die and let this baby die as well."
Perempuan itu menuju ujung jendela yang tanpa kaca, karena pembangunan tersebut belum sepenuhnya selesai.
Melihat apa yang akan dilakukan si perempuan, Kaila meminta Kenzo untuk menyelamatkan nyawanya. Karena ada mahkluk yang tidak berdosa dalam perut perempuan itu.
"Mas, lakuin sesuatu Mas." ujar Kaila panik
"Tenang sayang. Tenang. Aku akan coba bujuk perempuan ini agar tidak bunuh diri, karena bunuh diri itu dosa, dan Allah tidak menyukai hal tersebut."
Kenzo maju mendekati sang perempuan. Namun perempuan itu berteriak agar Kenzo tidak mencoba menghentikan niatnya.
Tanpa di duga air ketuban perempuan itu pecah. Kaila yang melihatnya langsung berlari dan mencoba membantunya melahirkan.
Awalnya perempuan tersebut tidak mau mengejan dan membiarkan bayinya tetap didalam perutnya agar cepat mati.
Namun, sepertinya Tuhan berkehendak lain. Tanpa perempuan itu mengejan, kepala bayi yang ada dalam perutnya nampak keluar. Kaila yang berjongkok di hadapan jalan lahir bayi langsung menarik pelan kepala bayi agar segera keluar dari perut sang perempuan di depannya.
Kenzo yang menyaksikan kejadian tersebut hanya bisa berdo'a untuk keselamatan sang bayi.
__ADS_1
Oeek.. oek.. oek
Akhirnya seluruh badan bayinya keluar dengan sempurna. Kaila langsung menangkap nya.
"Mas ada gunting tidak? buat motong tali pusarnya?" tanya Kaila dengan memegang bayi yang masih dilumuri dengan darah.
"Enggak ada Ail, sebentar aku cari ke bawah, kayaknya ada deh, bentar."
Kenzo bergegas meninggalkan tempat tersebut dan berlari ke bawah untuk mencari gunting.
Tersisa Kaila dan perempuan tersebut di lantai atas.
Tanpa di duga ternyata si perempuan menggunting tali pusarnya dengan pisau yang dibawanya.
Crrett.
Sontak saja Kaila terkejut dengan apa yang dilakukan si perempuan. Walau masih lemas, perempuan tersebut lantas berjalan menuju tepi jendela.
"Please take care of the baby." ucapnya saat di bibir jendela.
"Tidakkkkkk." teriak Kaila.
Brukkk. Duerrrr.
Kaila menutup mata dengan apa yang dilihatnya. Perempuan tersebut melompat dari gedung paling atas. Bahkan dirinya melihat langsung.
Kenzo yang masih di lantai bawah langsung menuju tempat istrinya karena mendengar suara ledakan.
"Apa yang terjadi ail?" tanyanya saat tak melihat perempuan itu .
Kaila masih belum bisa berkata, dia hanya menunjuk ke arah jendela.
Kenzo langsung melihat ke arah jendela. Terlihat sebuah mobil yang meledak dengan api yang besar.
Kenzo jelas tau bahwa perempuan itu sengaja menjatuhkan dirinya ke mobil agar menghilangkan jejak.
Ternyata perempuan itu mencoba menghilangkan jejak dengan jatuh ke atas mobilku,batin Kenzo.
Kenzo berjalan mendekati Kaila yang menggendong bayi.
"Kita jaga bayi ini sama-sama. Kita besarkan sebagai anak kita." ujar Kenzo mendekap tubuh sang istri yang menggendong sosok mungil.
"Kita berikan nama siapa pada bayi ini Mas? Bayi ini laki-laki." ujar Kaila menatap bayi di dekapan nya yang masih memerah.
"Khenzie Yusuf." ucap Kenzo membelai pipi sang bayi.
"Wijaya." imbuh Kaila.
"Ya. Nama bayinya adalah Khenzie Yusuf Wijaya." ucap Kenzo lalu mengadzani bayi tersebut.
Dan malam itu, mereka berdua telah menjadi orang tua. Walau bukan orang tua kandung. Kenzo akan menganggap bayi dari perempuan itu anak kandung nya sendiri.
Kaila berjanji akan merawat bayi tersebut seperti anak kandungnya sendiri.
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen