Menikah Karena Perjodohan( END)

Menikah Karena Perjodohan( END)
Wanita Selalu Benar


__ADS_3

Hening


Saat ini Kenzo tengah duduk berhadapan dengan istrinya.


Ditatap begitu membuat Kenzo risih.


"Jangan liatin aku begitu dong. Aku kan jadi malu." ujar Kenzo mencoba memecahkan keheningan.


Di saat situasi seperti ini masih sempat bercanda, nggak tau aja kalau Kaila sedang kesal.


"Aku lagi gak mood ngeladenin candaan kamu Mas." balas Kaila menatap malas Kenzo.


Kenzo berpindah duduk di samping istrinya. Di usapnya kedua tangan istrinya dengan penuh sayang.


"Kamu kenapa? apa yang udah bikin kamu gak mood? marah gara-gara aku gak nyusulin kamu pulang?" diusapnya pipi istrinya untuk menenangkan amarah yang dapat Kenzo liat dari bola mata sang istri.


"Udah tau masih nanya." cetus Kaila membuat Kenzo terkekeh mendengarnya.


"Gini nih tadi siang jadi sebenarnya.....


Flashback


Tinggal Kenzo dan pemuda itu. Serta orang-orang di sekitar.


"Aduh aduh pegel nya tangan saya." ringis Kenzo setelah melepaskan cengkeraman tangannya dari pemuda di hadapannya.


"Mari duduk dulu, kamu pasti capek kan berdiri terus. Kalau saya sih capek." ucap Kenzo diselingi kekehan yang tak ditanggapi oleh pemuda tersebut.


"Nama kamu siapa?" tanya Kenzo setelah mendudukkan pantatnya.


"Nggak usah kepo!!" sewotnya menatap tajam Kenzo.


"Saya cuma nanya aja, saya yakin kamu sebenarnya laki-laki yang baik." Kenzo menepuk bahu laki-laki yang lebih muda darinya.


"Nggak usah sok care dan sok kenal." tangan Kenzo ditangkis keras olehnya.


"Oaoaoaoaooa" melihat Papanya disakiti Kenzie kembali menangis.


"Kenzie sabar ya, Papah mau ngomong dulu sama kakak ini. Okeyy." Kenzie menurut saja dibilang begitu.


Pemuda tersebut heran dengan laki-laki di hadapannya. Terlihat masih muda tapi sudah memiliki anak.


Ingin bertanya tapi tidak enak karena sudah membentak pria di hadapannya.


"Anaknya Anda?" akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya.


Kenzo menoleh mendengar anak muda di hadapannya bersuara tidak ngegas.


"Iyalah, masa anak kucing, hahaha."


"Ini anak saya, dan yang tadi kamu bilang begitu itu istri saya." imbuh Kenzo diselingi senyum.


"Maaf kak pak em." sesalnya menunduk tak berani menatap Kenzo.


"Panggil Bapak juga nggak papakok. Kamu lebih muda dari saya." Kenzo memaklumi pemuda di hadapannya canggung dan terlihat agak gugup.


Suara adzan menghentikan Kenzo yang akan kembali berbicara.


Kenzo melihat jam tangannya.


Pukul 12.15


"Pantas saja sudah adzan, ternyata sudah jam dua belas lebih." ucap Kenzo pelan namun bisa didengar oleh pemuda di hadapannya.


"Jadi Dion boleh ceritakan mengenai hidup kamu?" mendengar itu Dion langsung menatap Kenzo.


"Sudah tidak papakok, ceritakan saja mengenai kamu yah seputar keluarga mungkin atau apa gitu."


"Sa Sa Sa saya-"


"Nggak usah gugup atau canggung gitu. Kayak saya siapa aja bikin kamu gugup dan gagap gitu." kekeh Kenzo.


Tukang bakso datang mengantarkan pesanan Kenzo. "Ini Mas pesanannya." Kenzo mengangguk lalu tukang bakso pergi.


"Ini kamu makan dulu habis itu ceritakan tentang hidup kamu."


Dion mengangguk malu-malu membuat Kenzo tersenyum pada pemuda itu.

__ADS_1


Dion mulai bercerita setelah menghabiskan dua mangkok bakso dan menenggak habis es teh di hadapannya.


"Jadi sekarang kamu tinggal dengan siapa?" tanya Kenzo setelah mendengar cerita kehidupan pemuda di hadapannya yang amat sangat pilu.


"saya hidup sebatang kara tanpa saudara atau keluarga satupun." jelas Dion menunduk sedih.


"Dan kamu memilih bergaul dengan preman dan anak begajulan yang suka berbuat onar?" sambung Kenzo berhasil membuat Dion mengangkat kepalanya dan menatap Kenzo seakan bertanya bagaimana Kenzo bisa tau.


Kenzo tersenyum.


"Saya tau bukan berarti saya cenayang atau peramal ya. Saya hanya menebak dari apa yang kamu ceritakan." ujar Kenzo dengan santai.


"Sekali lagi saya minta maaf Pak, karena telah berbuat kasar pada istri Anda bahkan melontarkan kata-kata kasar yang mungkin melukai perasaan istri Bapak." ucap Dion penuh dengan penyesalan.


"Sudah bukan mungkin lagi malahan."


Dion menatap heran Kenzo.


"Ah itu maksud saya istri saya. Istri saya agak sensitif dan pemarah." ucap Kenzo agak berbisik mencoba menakuti anak muda di depannya.


Kenzo melihat raut wajah Dion yang nampak sedih dan menyesal.


"Hahahha, Kamu mau aja dibohongin. Nanti saya bilangin istri saya atau kamu mau minta maaf langsung ke istri saya?" tawar Kenzo yang langsung di balas gelengan oleh Dion.


"Kenapa? takut yaaa." ledek Kenzo.


"Saya belum siap bertemu langsung dengan istri Bapak setelah apa yang saya lakukan hari ini kepada istri Anda." ujar Dion dengan tulus.


Kenzo dapat melihat ketulusan dari mata Dion saat anak muda itu mengatakan menyesali perbuatannya.


"Sebenarnya kamu itu anak yang baik, cuma mungkin karena pergaulan kamu yang salah dan tidak ada yang mengontrol kehidupan kamu makanya kamu bisa dalam kondisi saat ini."


"Kamu minum atau menyentuh barang haram tidak?" lanjut Kenzo.


"Saya memang buruk tapi saya tau barang seperti itu tidak baik untuk tubuh." jawab Dion dengan tegas.


"Dan dalam agama juga dilarang karena itu haram. Kamu muslim bukan?" Dion langsung mengangguk mengiyakan pertanyaan Kenzo.


"Bagus, dan dalam diri kamu sudah ada kesadaran akan apa yang kamu perbuat."


"Saya malak dari penjual yang saya temui."


"Lahh kamu ini yaa, tau barang haram dan perbuatan jelek tapi kamu untuk mengisi perut sendiri meminta dengan cara paksa pada orang yang mencari nafkah." heran Kenzo atas penuturan Dion.


"Saya khilaf Pak," sesal Dion.


"Khilaf khilaf, kalau khilaf ya cuma sekali lah ini udah berapa kali kamu begitu?" seru Kenzo agak kesal.


"Ya namanya juga tidak ada pilihan lain pak." jawab Dion dengan santai tanpa beban.


"Kenapa nggak nyari kerja sih, tadi saya ingat waktu kamu bilang kamu pernah dapat beasiswa di bandung."


"Tapi kan saya nggak jadi ngambil beasiswa itu pak?"


"Intinya kamu termasuk anak pintar kan makanya dapet beasiswa."


"ya bisa jadi sih."


"Ya sudah begini saja, kamu datang ke perusahaan saya besok bilang aja kalau saya yang menyuruh kamu." Kenzo memberikan kartu namanya kepada Dion.


"Terus saya harus apa pak?" tanya Dion dengan polosnya.


"Nanti kalau kamu sudah di perusahaan saya kamu bisa mendapat pekerjaan sesuai kemampuan kamu, lulusan SMA pasti bisa komputer kan. Apalagi kamu sempet dapet beasiswa kuliah."


"Besok datang ke alamat yang tertera dan bilang aja kalau saya yang merekomendasikan kamu." imbuh Kenzo.


"Siap pak, terimakasih banyak." ucap Dion dengan tulus.


Pukul 03.30 sore


"Sudah sore, lebih baik kamu pulang dan bersiap untuk hari esok." saran Kenzo yang langsung dipatuhi Dion.


"Baik Pak, sekali lagi tong sampaikan permintaan maaf saya pada istri Anda. Saya benar-benar menyesal atas apa ya g saya ucapkan." sesal Dion.


"Jaga ucapan, mulutmu bisa saja membahayakan dirimu sendiri." ucap Kenzo.


"Permisi pak, oh iya terimakasih untuk bakso dan kemurahan hatinya." setelah mengucapkan itu Dion berlalu pergi dari tempat bakso.

__ADS_1


Kenzo tersenyum melihat punggung pemuda yang ditemuinya hari ini.


"Kita pulang yuk Kenzie, udah sore pasti Mamah kamu lagi misuh-misuh."


Tidak mendapat respon dari anaknya membuat Kenzo menoleh ke gendongan yang ternyata anaknya sudah tertidur.


"Pantes aja kamu nggak rewel. Ternyata tidur pules banget." Kenzo mengulum senyum melihat wajah damai anaknya saat tertidur.


Kenzo beranjak dari duduknya dan menuju penjual bakso.


"Ini Pak saya bayar buat bakso yang tadi sama bakso yang sebelumnya." Kenzo menyerahkan 4 lembar uang merah dari dompetnya.


"Kebanyakan mas." sahut penjual baksonya.


"Nggak papa pak, anggep aja buat ganti kekacauan tadi siang."


"Makasih mas makasih makasih." Kenzo mengangguk sebagai balasan.


Setelah membayar Kenzo memutuskan untuk pulang jalan kaki. Tidak.


Banyak uang mengapa Kenzo harus susah-susah jalan kaki.


Pukul 04.15 sore


Flashback off


"Nah begitu lah kejadiannya. Kamu jangan marah ya." setelah menceritakan semuanya Kenzo was-was akan respon istrinya yang masih terdiam.


"Jadi keluarga anak itu menjadi korban kejahatan dari bom bunuh diri?" Kenzo mengangguk mengiyakan ucapan istrinya.


"Tapi dia tetep salah. Seenaknya aja menyebut diriku begitu."


"Tapi Ail, Dion menyesal sudah mengatakan itu ke kamu."


"Seharusnya dari awal jangan mengucapkan itu ke aku. Dia berbuat sesuatu tapi tidak dipikir dahulu."


Kenzo tak kehabisan akal untuk menyahuti ucapan istrinya.


"Ya mana bisa seseorang mengendalikan emosinya. Lagian dia masih muda jadi wajar masih labil."


"Kamu belain dia, yang jelas-jelas salah." sahut Kaila dengan kesal.


"Nggak belain, tapi kan Dion udah nyesel dan dia merasa bersalah. Dia juga mengucapkan maaf ke aku untuk disampaikan ke kamu."


"Kenapa nggak langsung aja minta maafnya. Kan aku yang jadi korban bukan kamu."


Huft, Kenzo selalu kehabisan kata-kata kalau berhadapan dengan istrinya.


Memang benar istilah bahwa wanita selalu benar dan selalu ingin di mengerti tapi tidak mau mengerti.


"Mungkin aja kalau ketemu kamu langsung malah di amuk kamu gimana."


Kenzo kamu dalam bahaya.


Jangan meledek wanita yang sedang marah apalagi itu Kaila.


Kaila menatap tajam Kenzo.


"Aduh dasar mulut dasar mulut nakal sembarangan ngomong." Kenzo memukul mulutnya karena sudah salah berbicara.


06.10


Menjelang maghrib.


Kaila berdiri membuat Kenzo tersenyum lega.


Tapi kalimat yang dilontarkan istrinya membuat senyum Kenzo berubah.


"Setelah sholat maghrib kamu setrika baju kamu sendiri." setelah mengatakan itu istrinya meninggalkan Kenzo yang mematung mendengar kalimat terakhir istrinya.


Menyetrika baju? sendiri?


Kenapa dirinya yang kena imbas padahal tidak salah apa-apa.


Memang istrinya itu sungguh luar biasa.


"wanita selalu benar." tukas Kenzo menyusul istrinya.

__ADS_1


__ADS_2