
Pagi ini Kenzo sedikit kewalahan karena ulah anaknya yang banyak tingkah. Padahal dirinya harus segera ke kantor.
Setelah memandikan anaknya dengan dipenuhi drama Kenzie yang terus saja mencipratkan air ke Kenzo. Kini Kenzo dibuat gemas karena anaknya yang susah dipakaikan baju.
"Aduhh sayang, kamu jangan gerak-gerak dulu. Ini Papah jadi susah masukin tangan kamu ke baju."
Kenzo heran kenapa anaknya bukannya rewel atau menangis berpisah dari ibunya malah ini anaknya kebanyakan tingkah.
Ada aja yang bikin darah Kenzo naik.
Tapi Kenzo sabar dan telaten mengurusi anak laki-lakinya. Baginya apa saja akan Kenzo lakukan untuk anaknya yang sudah berusia 7 bulan itu.
"Kamu tuh jauh dari Mamah kamu bukannya nangis malah kebanyakan gaya. Tapi baguslah, daripada kamu nangis kan Papah juga yang bingung." ucap Kenzo dengan tangan yang mencoba memasukkan tangan anaknya ke dalam lengan baju.
Akhirnya Kenzo berhasil memakaikan pakaian pada bayi yang sedang aktif-aktifnya itu.
"Nah, udah selesai deh."
"Sekarang apa lagi? oh bedak. Bentar yah sayang Papah ambil bedak dulu di tas." Kenzo berjalan ke arah tas di pojok kamar.
Kenzo mengambil bedak bayi di dalam tas. Karena memang saat Kenzo sampai di kediaman mendiang Mamahnya ia belum sempat beres-beres. Jadi semua barang dan keperluan dirinya dan anaknya masih di dalam tas dan koper.
Saat membalikkan badan Kenzo dibuat terkekeh karena melihat kelakuan anaknya.
"Papah bener-bener kagum sama kamu. Nggak ada Mamah tetep anteng nggak nangis."
Kenzo jadi teringat istrinya.
Tapi biarlah untuk saat ini Kenzo masih kecewa dan agak sakit hati karena perkataan istrinya tempo lalu.
"Semoga aja Mamah kamu sadar ya Kenzie. Mungkin hari ini kamu nggak rewel, tapi nggak mungkin kamu nggak nangis. Pasti nangis kalau tau Mamah nggak di deket kamu."
Kenzo hanya berharap istrinya sadar akan kesalahannya dengan cepat.
Kasihan anaknya jika orangtuanya saling marahan dan berjauhan.
Cerai? tidak tidak. Kenzo tidak berpikir dengan satu hal itu yang bila terjadi akan sakan berdampak pada sang anak.
Kenzo melihat jam tangannya.
Pukul 08.25
Untung saja Kenzo sudah mandi setelah memandikan anaknya.
"Aihhh udah siang, gimana ke Kantornya ya? apa aku titipin Kenzie atau ah bawa aja."
"Aku gak mau terjadi sesuatu dengan Kenzie, lebih baik aku bawa ke kantor." setelah berpikir keras akhirnya Kenzo memutuskan untuk membawa anaknya ke kantor.
Kenzo menggendong anaknya dan memutuskan untuk menggendong ala koala.
"Nah Kenzie ikut Papah ke kantor ya, jangan rewel."
Si mungil hanya menjawab dengan kekehan kecil.
"Untung Alya ngekos. Kalau dia disini kan bisa-bisa aku yang disuruh minta maaf ke Kaila. Padahal kan aku yang korban." ucap Kenzo lega karena memang adiknya sudah tinggal di kos-kosan karena ingin mandiri.
Kenzo berangkat ke kantor dengan Kenzie di gendongan depan.
Di lain tempat seseorang tengah terdiam menatap makanan yang ada di depannya.
Sedih, tidak nafsu makan, kosong, hampa.
Itulah yang saat ini Kaila tengah rasakan. Kekosongan dalam hati dan rumahnya. Rumah suaminya.
"Aku menyesal telah mengatakan itu pada Kenzo." ucap Kaila menyesal.
Sedari tadi sarapannya hanya ia aduk-aduk karena tidak berselera makan.
"Rumah jadi sepi nggak ada Kenzie. Apa Kenzie nangis? bagaimana kalau Kenzie haus?" khawatir itulah yang Kaila rasakan mengingat anaknya.
Iya anaknya. Kaila menyesali apa yang diucapkannya. Dia ingin bertemu anaknya, suaminya juga.
Tapi, setelah apa yang ia lakukan pada Kenzo tempo lalu membuat dirinya malu dan tidak enak pada Kenzo.
"Apa aku ke kantor mas Kenzo. Pasti dia kan sudah berangkat ke kantor. Dan Kenzie pasti juga dibawa." Kaila berdiri dari duduknya tapi kembali duduk lagi.
"Janganlah, ntar mas Kenzo malah ngusir aku. Lagian kesalahan aku juga memang membuat mas Kenzo sakit hati dan marah."
__ADS_1
Kaila sungguh ingin menemui mereka berdua.
"Apa jangan-jangan mas Kenzo seneng dalam situasi saat ini. Biar bisa bebas mencari wanita lain diluar sana."
"Kalau mas Kenzo dengan perempuan lain berarti aku nggak bisa ketemu Kenzie lagi."
Kaila mulai berpikir negatif tentang laki-laki yang masih menjadi suaminya.
"Nggak bisa dibiarin." Kaila berdiri dari duduknya.
"Aku harus ke kantor mas Kenzo sebelum ini semua terjadi." Kaila berlalu pergi ke kamar bersiap menemui Kenzo di Kantor.
Sementara di Kantor.
Kenzo keluar dari mobil langsung membuat heboh para karyawan terutama yang wanita.
Bagaimana tidak membuat heboh. Orang dengan jabatan tertinggi di perusahaan keluar mobil dan berjalan di lobi dengan menggendong sosok mungil di depan.
Hot Daddy
Suami able
Laki-laki idaman
Pria ideal
Bos bagaikan malaikat
Itulah yang keluar dari karyawan yang Kenzo lewati.
Kenzo mencoba tersenyum pada karyawannya sebelum memutuskan masuk lift.
"Kalian liat kalian liat. Pak Kenzo tersenyum ughhh tampan sekali." seru karyawan wanita dengan heboh.
Kenzo keluar dari lift dan tak sengaja bertemu Andi.
"Eh Bos bawa anak?" pertanyaan yang pertama keluar dari mulut sang asisten.
"Ya kamu liat sendiri kan saya bawa anak." dengus Kenzo berjalan masuk ke ruangannya.
Andi mengikuti sang atasan masuk ke ruangan Presdir.
"Nggak usah liatin saya begitu. Kamu kayak mau nerkam saya aja." balas Kenzo.
Kenzo melepas gendongan dan mengangkat Kenzie untuk di baringkan di sofa.
"Saya tuh ya kepingin aja bawa Kenzie ke Kantor. Biar dia tau kalau Papahnya kerja di sini." ucap Kenzo yang membuat Andi berdecih.
"Dih sombong. Lagian anak masih kecil mana tau begituan. Si bos mah ngada-ngada."
"Terserah kamulah kalau nggak percaya." Kenzo bermain dengan anaknya agar anaknya tidak rewel.
"Agenda saya hari ini apa? ada rapat bukan dengan klien." Kenzo bertanya tanpa mengalihkan pandangnya dari sang anak.
"Nggak taulah. Saya kan bukan sekertaris bos."
"Kamu yahh. Saya heran kenapa kamu seperti ada dendam kesumat dengan Mariska." ucap Kenzo melihat Andi.
"Enggak kok bos." dalih Andi pada Kenzo.
"Halahh ngomong aja kamu sebenarnya suka kan sama Mariska, hayo ngaku," desak Kenzo pada asistennya.
"Engg-"
"Permisi Pak Kenzo, sebentar lagi rapat segera dimulai Pak." ucap Mariska yang entah sejak kapan masuk ke ruangan Kenzo.
Andi gelagapan melihat perempuan yang tengah berdiri di samping dirinya duduk.
Jantung gue degdegan kenapa ya. Apa iya gue jatuh cinta sama perempuan ini. Dihh amit-amit deh gue jatuh cinta sama Mariska. kayak nggak ada perempuan lain aja.
"Andi awas bola mata kamu keluar dari tempatnya." ejek Kenzo pada sang asisten.
Andi mengumpat dalam hati.
Mariska sama sekali tak menghiraukan keberadaan Andi.
"Pak, jadi bagaimana rapatnya? apa bapak akan tetap rapat atau bagaimana pak?" ucap Mariska menunggu jawaban sang atasannya.
Kenzo menatap anaknya yang mulai mengantuk.
__ADS_1
Kalau aku tinggal Kenzie bisa bahaya, kalau dititipin ke Andi aku nggak yakin Andi bisa mengurusnya.
"Kamu ke ruang rapat dulu bilang kalau saya akan segera datang." titah Kenzo yang langsung di angguki oleh sekertaris nya.
Mariska pamit keluar ruangan dan menuju ruang rapat untuk memberitahukan.
"Sombong imit, orang segede ini masa nggak keliatan. Huuu katarak." seru Andi setelah kepergian Mariska.
"Halahh ngomong aja pingin diperhatiin kan. Kamu suka kan sama Mariska?" Kenzo terkekeh pelan melihat ekspresi wajah Andi yang panik tercyduk.
Sebelum Andi menjawab Kenzo sudah berlalu pergi dengan menggendong Kenzie.
"Main tinggal aja, dasar bos nggak tau diri. Untung bos." Andi menyusul Kenzo keluar.
Di ruang rapat semua orang menatap Kenzo dengan tatapan berbeda-beda.
Ada yang menatap aneh, heran dan bertanya-tanya mengapa orang dengan jabatan tertinggi di perusahaan menghadiri rapat dengan menggendong anak kecil.
"Maaf maaf saya datang terlambat. Silahkan dimulai rapatnya." sebelum Kenzo duduk ada seseorang yang bersuara.
"Apa pantas menghadiri rapat dengan membawa anak kecil. Bukankah hal tersebut akan menggangu jalannya rapat?" ucap orang tersebut dengan sedikit meremehkan Kenzo.
Kenzo menatap orang tersebut lantas menyuruh Mariska mendekat.
Mariska membisikkan sesuatu pada Kenzo.
Ohhh, cuma utusan dari perusahaan klien.
"Kalau Anda tidak nyaman dengan apa yang saya lakukan silahkan keluar dari ruangan ini. Pintu keluarnya sama dengan pintu masuknya." ucap Kenzo tersenyum pada orang tersebut.
"Lagian perusahaan ini kan milik saya. Anak saya juga nggak rewel, jadi rapat nggak akan keganggu." imbuh Kenzo lalu duduk di kursinya.
"Benar kan apa yang saya katakan?" semuanya bungkam tak berani melawan Kenzo.
30 menit rapat selesai dengan lancar tanpa gangguan tangisan Kenzie.
Kenzo heran anaknya tidak menangis atau merengek. Tapi syukurlah jadi Kenzo tak perlu khawatir.
"Mau pulang Bos?" Andi yang memang akan ke loby berpapasan dengan bosnya yang akan pulang.
"Pulanglah, ngapain lagi di kantor?. Urusan saya kan udah beres." setelah mengatakan itu Kenzo berjalan menuju parkiran dengan menggendong Kenzie yang sudah tertidur.
Tepat saat mobil Kenzo sudah meninggalkan area perusahaan, Kaila datang.
"Andi," seru Kaila saat melihat Andi sang asisten suaminya.
Merasa ada yang memanggil namanya Andi menoleh melihat siapa yang memanggilnya.
Lah kenapa Bu Kaila kesini? kan suaminya baru aja pulang.
"Eh Ibu Kaila. Ada apa Bu datang kemari?" Andi menghampiri istri bosnya.
"Suami saya masih di Kantor atau sedang pergi?" tanya Kaila yang membuat Andi bingung.
Lah, apa Bu Kaila tidak melihat mobil si bos.
"Ndi, Andi. Kamu denger saya ngomong kan?"
Andi langsung membuyarkan pikirannya. "Ah maaf Bu tapi Pak Kenzo baru saja pergi."
"Pergi kemana?"
"Pulang." jawaban Andi membuat harapan Kaila musnah.
"Oo oh sudah pulang yah. Em apa tadi suami saya bawa Kenzie?" Kaila agak khawatir kalau anaknya sampai dititipkan pada orang lain.
"Tadi Pak Kenzo bawa dedek Kenzie. Bahkan dedek Kenzie ikut rapat."
Kaila lega mendengarnya. Setidaknya rada khawatir dan takutnya sedikit berkurang.
"Heran saya Bu, kenapa anak ibu nggak rewel ya. Yang paling aneh lagi nggak biasanya Pak Kenzo berangkat ngantor bawa anak."
"Terimakasih Andi. Saya pulang duluan ya." potong Kaila berlalu pergi dari perusahaan suaminya.
"Lah belum selesai ngomong udah ditinggal aja. Suami istri sama aja. Sama-sama ngeselin." dengus Andi.
"Tapi aneh ya, kenapa istrinya Bos ke sini dan nggak tau Pak Kenzo pulang."
__ADS_1
"Apa mereka berantem? hahahhaha kayaknya sih iya, maka dari itu si bos bawa anaknya soalnya lagi berantem sama istrinya." Andi berlalu ke ruangan dengan menertawai kehidupan sang bos.