
Tempat cuci baju.
Disinilah Kenzo saat ini. Ternyata Kaila tak hanya menyuruhnya menyetrika tapi juga mencuci baju Kenzie yang terkena ompol maghrib tadi.
"Huihhh, bayi kenapa ngompol yaa?" Kenzo bermonolog dan tetap fokus menyikat celana anaknya.
Ada mesin cuci sebenarnya, tapi kata istrinya tidak perlu karena baju Kenzie kecil nanti bisa rusak.
Selesai menjemur pakaian anaknya Kenzo berlanjut menyetrika pakaian di ruang sebelah. Jadi tempat menyetrika bersebelahan langsung dengan tempat mencuci pakaian.
"Sekarang setrika baju."
Kenzo bingung bagaimana menggunakan setrika karena semasa hidupnya dia baru kali ini menyetrika.
"Ini bagaimana cara menyalakannya? apa tanya Kaila ah tidak tidak nanti malah dikira aku nggak bisa."
Kenzo berpikir bagaimana cara menyalakannya dengan mengamati tombol yang ada di setrika.
"Oh ini kali yaa." Kenzo memilih memencet tombol bertuliskan power.
Kenzo menyetrika tanpa mengecek pakaian yang disetrika apakah sudah mulus licin atau belum.
Kenzo hanya memaju mundurkan setrikaan karena mengira tombol setrika sudah menyala berarti sudah beres.
Kaila yang sedang menyiapkan alat sholat untuk sholat isya merasa heran kenapa suaminya belum kembali ke kamar. Padahal sudah mau masuk waktu sholat Isya.
Kaila lantas pergi ke ruangan dimana suami tengah menjalankan perintahnya.
Ceklek
"Mas," panggil Kaila setelah membuka pintu.
"Hem. Ada apa?" balasnya tanpa melihat sang istri dan tetap fokus menyetrika.
"Kamu lama banget, padahal cuma nyetrika baju satu doang sampe setengah jam."
Kenzo tak menjawab istrinya.
Kaila menghampiri Kenzo yang masih menyetrika.
Kenzo heran mengapa dirinya menyetrika cukup lama tapi kemeja yang di setrika masih tampak kusut dan kucel.
"ini kenapa kemeja aku masih lusuh sihh, kan udah aku setrika penuh dengan tenaga, tapi masih aja kucell." ucap Kenzo mulai kesal.
Kaila merasa ada yang aneh.
"kok bisa gitu." heran Kaila. Di ambil alihnya setrikaaan dari tangan suaminya.
Lah, pantes aja nggak mlipis bajunya. Orang setrikanya aja baru nyala doang.
"Kenapa Ail?" tanya Kenzo yang melihat ekspresi istrinya.
Kaila lantas menunjuk setrika. "Nih, kamu aja nggak ngatur suhunya gimana mau selesai nyetrika baju satu doang." Kaila lantas menekan tombol pengatur suhu benda di tangan suaminya itu.
"Pantesss aja dari tadi nggak licin malah nambah lecek." gumam Kenzo yang masih bisa didengar Kaila.
__ADS_1
"Makanya kalau nggak tau tanya, kalau nggak bisa bilang aja. Gitu aja kok susah." cibir Kaila dengan nada menjengkelkan.
Kenzo diam tak ada niatan untuk menggubris perkataan istrinya.
Akhir-akhir ini semua kalimat yang keluar dari mulut istrinya sangat menyakitkan bagi siapa saja yang mendengarnya. Bahkan dirinya saja kadang agak sedikit kesal karena kena semprot istrinya.
"'Maaf, aku nggak tau caranya nyetrika." Ucap Kenzo tanpa menatap istrinya.
"Nanti aku belajar cara nyetrika. Tenang aja aku bisa kok." imbuh Kenzo.
"Udah, biar nanti aku aja yang selesaiin. Kamu disuruh nyetrika aja nggak becus." seru Kaila tanpa sadar berhasil menyakiti Kenzo.
Brakk
Kenzo meletakkan setrikaan dengan kasar dan menatap Kaila.
"Cukup Kaila!!" bentak Kenzo.
"Kamu pikir aku pembantu kamu? aku ini suami kamu bukan pembantu yang bisa seenaknya kamu katain kasar." Kata Kenzo menatap Kaila.
Kaila terdiam mendengar Kenzo membentak dirinya.
"Ucapan kamu secara tidak sengaja bikin aku sakit hati. Bahkan orang lain aja yang dibilang nggak becus pasti sakit dengernya. Kamu tau nggak akhir-akhir ini setiap kata yang keluar dari mulut kamu selalu menyakiti perasaan orang lain, terutama aku." sambung Kenzo.
"Kamu sadar nggak!!" bentak Kenzo beralih tepat di hadapan Kaila.
Kaila yang menunduk kini menatap wajah Kenzo.
"Kamu berani teriak di depan aku?? Suami kamu. Hahhh kamu teriak Hah didepan aku," Kenzo terbawa suasana dan berteriak membalas ucapan istrinya.
"Kalau iya kenapa??? memangnya aku nggak berani hah. Kamu pikir aku lemah." sahut Kaila dengan nada cetus.
Kenzo berniat tak ingin menanggapi, baginya jika permasalahan kecil seperti ini jika berdebat dengan wanita yang sedang emosi lebih baik diam dan mengalah menunggu emosi lawan reda baru membicarakan secara baik-baik.
Tapi, mungkin itu pemikiran Kenzo bukan Kaila....
"Aku nyesel udah nerima perjodohan waktu itu,"
Kenzo menatap istrinya seakan memastikan bahwa yang diucapkan istrinya bohong.
Tapi Kaila tetaplah Kaila. Wanita dengan keras kepala yang tidak mau mengalah.
"Andai aja waktu itu aku nolak dan nggak nikah sama kamu, mungkin kehidupan aku beda dari yang sekarang. Dan mungkin Ibuku juga masih hidup." lanjut Kaila membuat Kenzo mengang lengannya.
"Please aku mohon jangan bilang gitu. Tarik kata-kata kamu tadi." pinta Kenzo dengan nada memelas.
Namun Kaila tak menghiraukan.
"Harusnya aku menikah dengan orang yang aku pilih sendiri, bukan dengan orang yang baru ditemui tanpa sengaja yang sebenarnya aku belum kenal." tutur Kaila tanpa melihat Kenzo.
"Mungkin aku bisa bahagia dengan seseorang pilihan aku sendiri." imbuh Kaila.
"Aku mohon jangan bilang begitu, jangan bilang menyesal telah menjadi istriku. Aku, aku, aku nggak mau anak kita terkena dampaknya." ucap Kenzo menatap istrinya yang memalingkan wajah.
Kaila tertawa miris mendengar ucapan Kenzo.
__ADS_1
"Anak kita? kamu lupa Kenzie bukan anak kamu, bukan anak aku. Jadi dia bukan anak kita."
"Ail aku mohon jangan bicara begitu. Kamu sayang kan sama Kenzie? kamu juga nganggep Kenzie anak kamu kan. Kenapa sekarang begini,"
"Entah. Mungkin waktu aku mengatakan itu aku sedang tidak sadar." mendengarnya Kenzo reflek melepas tangannya dari lengan Kaila.
"Harusnya kamu nggak usah selamtin bayi itu, biarin aja sama ibunya. Jadi kan nggak perlu repot-repot ngurus anak yang sama sekali nggak ada hubungannya dengan kamu."
Kenzo tak terima anaknya dikatakan begitu. Dia sudah menganggap Kenzie sebagai anaknya tanpa melihat asal usul Kenzie.
"Cukup Ail kamu hina aku okehh aku terima, tapi jangan salahkan kehadiran Kenzie. Dia nggak salah apapun dan nggak tau masalahnya,"
Kenzo mengambil nafas panjang sebelum kembali berucap.
"Kalau kamu selama ini nyesel dan merasa tidak bahagia hidup dengan aku, aku akan pergi." ucap Kenzo berlalu pergi meninggalkan Kaila.
Sebelum melewati pintu, Kenzo menghentikan langkahnya dan berucap.
"Oh iya. Kamu nggak usah khawatir aku akan bawa Kenzie jadi kamu nggak akan repot dan terbebani lagi." setelah mengatakan itu Kenzo meninggalkan Kaila yang masih diam.
Kaila keluar ruangan tersebut dan berniat menuju kamar untuk sholat isya. Tapi dia. berpapasan dengan Kenzo di tangga.
Kenzo sudah mengganti pakaiannya.
Keduanya berhenti sejenak tanpa mengatakan sesuatu.
Kenzo masih berharap agar istrinya mengucapkan kata maaf dan mengatakan menyesal. Tapi Kaila yang kurang peka dengan tatapan Kenzo malah pergi berbalik dari arah tujuannya.
Kenzo menatap kepergian wanita yang masih menjadi istrinya itu dengan sendu.
"Ternyata kamu belum sadar akan artinya Cinta. Lebih baik untuk saat ini aku pergi agar kamu bisa menyadari bahwa yang kamu katakan adalah salah." pungkas Kenzo berjalan masuk kamar.
Tujuannya sekarang hanya satu.
Membawa anaknya ke rumah mendiang Mamanya.
"Kenzie ikut Papah dulu yaa. Kita beri waktu buat Mamah biar menyadari kalau yang diucapkan Mamah kamu salah."
Kenzo menggendong anaknya yang tertidur tanpa terganggu apa yang dilakukan oleh ayahnya.
Kenzo berjalan menarik koper tak lupa tas gendong keperluan Kenzie. Anaknya ia taruh di stroller dan mendorongnya keluar kamar.
Sebelum benar-benar meninggalkan rumah Kenzo berbalik berharap.
Berharap Kaila akan menghentikan tapi yang diharapkan tak kunjung menampakkan diri.
Aku pergi ail, semoga kamu sadar atau kamu akan menyesal.
Setelah itu Kenzo menutup pintu.
Terdengar suara mesin mobil menyala.
Sebenarnya sedari tadi Kaila mengintip dari belakang pintu kamar tamu dan melihat kepergian suami dan bayi mungilnya.
Bayi mungilnya? mungkin sudah bukan haknya memanggil bayi itu anaknya.
__ADS_1