
Irene mengusap pipi bayi yang sedang digendong dengan sangat lembut.
Kaila memperhatikan hal tersebut. Baru pertama kali melihat perempuan yang sedang didepannya ini.
Merasa diperhatikan membuat Irene lupa memperkenalkan diri. "Eh maaf mbak saya lancang main gendong anak mba nya." Ucap Irene tak enak hati pada Kaila.
Kaila tersenyum menanggapi. "Nggak papakok. Dari tadi anak saya nggak berhenti nangis bahkan sudah saya susuin."
"Ouhh kayaknya anak mba... " Irene menggantung kalimatnya karena Kenzo menyela.
"Kaila, kenalkan ini Bu Irene dan Pak Suho, mereka orangtuanya Jaehyun." sambung Kenzo memperkenalkan mereka.
Suho dan Irene mengangguk dan tersenyum menyapa Kaila.
"Nah Bu Irene Pak Suho, ini istri saya Kaila. Kalau yang lagi digendong itu Kenzie anak saya." imbuh Kenzo.
Ohhh keluarganya Jaehyun. Masih muda keliatannya. Nggak nyangka anaknya udah segede mas Kenzo.
"Mbak Kaila kayaknya dedek Kenzie rewel karena mau tumbuh giginya, badannya juga sedikit demam." Ucap Irene membuat Kaila tersadar dari lamunan.
"Ah begitu ya Bu." Balas Kaila.
"Anak saya dulu juga begini saat mau tumbuh gigi." Kali ini Suho yang berucap.
"Anak bapak , jaehyun maksudnya pak?" Tanya Kenzo memastikan.
"Eh bukan. Anak saya yang kedua, masih umur satu tahun lebih sebulan. Anak kami ada dua dan yang pertama itu Jaehyun." Irene yang menjawabnya.
"Saya kira kalian cuma punya anak satu, Jaehyun doang. Ternyata masih ada yang kecil toh, terus sekarang di mana? kok anaknya yang satunya nggak dibawa?" Kenzo tak melihat mereka membawa anak kecil.
"Kami tinggal di rumah sama ART, takutnya akan lama di rumah sakit jadi kami tinggal aja di rumah." Kenzo dan Kaila mengangguk paham.
Atensi Kaila dan Kenzo beralih pada Kenzie yang tangisannya mulai lirih di tangan Irene.
"Lihat deh sayang, Kenzie mulai tenang sekarang." Binar Kenzo lega melihat anaknya sudah tidak menjerit-jerit.
Kaila mengusap pelipis anaknya yang masih di gendong Irene.
"Mending coba diperiksa ke dokter Mba, takutnya nanti demam lagi." Irene memberikan Kenzie pada Kaila.
Kaila menerima anaknya yang sudah lebih tenang daripada sebelumnya saat di rumah. "Makasih sudah membantu Bu. Nanti saya periksakan ke dokter." Ucap Kaila.
"Lohhh jangan nanti, sekarang aja mumpung di rumah sakit." Sahut Suho.
Kaila menoleh pada Kenzo.
"Ya sudah kalau begitu saya sama suami pamit Bu Pak, mau ke dokter dulu."
"Saya tinggal nggak papa kan?"
"Nggak papa kok Mas Kenzo. Saya sama istri saya berterimakasih karena sudah memberitahu keadaan anak kami dan membawa kami kesini." Kata Tuan Suho menjabat tangan Kenzo.
"Sesama manusia harus saling membantu, saya bisa dan kebetulan saat itu memang tidak ada siapapun selain saya dan istri saya di tempat kejadian."
"Mas urus saja urusan masnya. Sekarang kan sudah ada saya sama istri yang jagain Jaehyun." Kata Suho menyuruh Kenzo.
Sebenarnya Kenzo tak enak meninggalkan keduanya begitu saja tapi ia juga bukan siapa-siapa dari Jaehyun.
Melihat Kenzo yang belum pergi juga membuat Suho menepuk bahu Kenzo.
"Udah sana. Kasihan anaknya demam harus segera ditangani dokter."
Bukan maksud mengusir atau apa, tapi Suho juga tidak ingin merepotkan orang lain padahal anaknya yang sakit tapi orang lain yang harus repot.
Kaila mendekati Kenzo yang masih belum beranjak.
"Mas kita harus segera bawa Kenzie ke dokter." bisik nya pada Kenzo.
__ADS_1
"Sudah nak Kenzo pergi aja, kasihan anaknya sedikit demam."
Irene sebagai perempuan yang sudah memiliki anak tau persis bagaimana rewelnya bayi umur segitu yang giginya akan tumbuh.
Akhirnya Kenzo memilih mengantarkan istrinya memeriksa anaknya.
Sebelum itu Kenzo berpamitan pada Suho dan Irene.
"Saya pamit ya, saya cuma bisa sampai sini aja membantu kalian. Semoga anak kalian cepat sadar." Jujur Kenzo tau kondisi pemuda bernama Jaehyun sedang drop dan bisa saja tiba-tiba kritis. Tapi karena tak ingin membuat khawatir Tuan Suho dan Irene selaku orang tua Jaehyun akhirnya Kenzo tak mengatakan apapun.
"Kami duluan ya Pak, Bu. Saya do'akan semoga kondisi anak kalian ada kemajuan." Kata Kaila memberi semangat.
"Makasih mba Kaila, mas Kenzo sudah mau membantu dan mendoakan anak kami." Balas Suho mencoba menampilkan senyuman walau pikirannya sedang tidak baik.
Kenzo dan Kaila lalu berjalan menuju dokter untuk memeriksa kondisi Kenzie.
"Mereka orang yang baik ya Pih. Semoga Allah SWT membalas kebaikan mereka karena sudah bantuin kita jagain Jaehyun."
"Amiinn, Papih juga nggak nyangka Mih. Di kota yang sebagian orang lebih mementingkan diri sendiri ternyata masih ada orang seperti mereka. Tanpa pamrih membantu Jaehyun. Padahal mereka nggak kenal sama sekali dengan Jaehyun." Suho merangkul pundak istrinya.
Mereka lalu pergi mencari mushola untuk berdo'a dan memohon pada yang Maha Kuasa agar anaknya, Jaehyun yang sedang koma bisa segera sadar. Hanya itu yang saat ini Suho dan Irene inginkan.
Sementara Kenzo dan Kaila tengah mengantri di depan ruang dokter anak. Walaupun jam sudah menunjukkan Pukul 12.00 malam tapi masih banyak pasien yang menunggu di depan ruang doker anak.
Giliran nomer antri Kenzie Kaila masuk setelah seorang suster memanggil nama Kenzie.
Kenzo juga ikut menemani Kaila masuk ke dalam ruang periksa.
"Malam Bu, silahkan dede manisnya dibaringkan disini." Kata dokter menunjuk kasur periksa.
Dokter yang sudah ibu-ibu tersebut mulai menjalankan tugasnya memeriksa Kenzie.
Kenzo menggenggam tangan Kaila yang cemas akan kondisi Kenzie.
"Gimana dok keadaan anak kami? apa ada yang serius?" Kenzo menanyakan hasilnya.
Dokter bernama Asri tersebut melepaskan stetoskop setelah memeriksa bayi 7 bulan tersebut.
Kaila menggendong Kenzie dan dikecup penuh sayang pucuk kepala sang anak.
Kenzie masih rewel tapi lirih tidak seperti saat Kaila membawanya ke rumah sakit.
Harusnya bayi gembul itu sudah tertidur jika sudah jam segini, tapi kali ini mata polosnya masih saja terbuka, mata Kenzie yang terdapat sisa air mata karena menangis.
Kenzo serta Kaila duduk di hadapan dokter Asri. "Jadi bagaimana dok?" Kenzo bertanya seraya tangannya menggenggam tangan Kaila di bawah meja.
Dokter Asri tersenyum. " Alhamdulillah anak kalian sedang mengalami tahap tumbuh gigi di umur 7 bulan. Dan biasanya hal tersebut membuat anak rewel dan menangis, kadang ada yang demam. Itu hal wajar yang biasa dialami bayi umur 6 sampai 7 bulan. Jadi kalian tidak perlu khawatir." Kaila dan Kenzo lega mendengarnya.
"Saya kasih resep ya untuk pereda demam. Nanti silahkan bisa ditebus di bagian obat. Kalau demamnya masih tinggi kalian bawa lagi dedeknya ke sini." Imbuh dokter.
Kenzo menerima secarik kertas bertuliskan resep untuk anaknya.
"Terimakasih dok. Kalau begitu kami permisi." Kata Kenzo mengajak Kaila beranjak dari duduknya.
Sebelum benar-benar keluar dokter berpesan pada Kaila. "Bu." panggilnya pada Kaila.
Merasa dipanggil Kaila berhenti." Iya dokter. Apa ada sesuatu yang tertinggal?" Kaila menunggu apa yang akan dikatakan dokter Asri.
Kenzo ikut menoleh.
"Hanya mau bilang kalau bayi mulai tumbuh giginya kadang akan mengalami rasa risih dan tidak nyaman pada gusinya. Untuk mengurangi rasa itu pada anak bisa dicoba untuk memberikan sesuatu yang bisa digigit untuk meredakan rasa tak nyaman. Sabar ya Bu kalau nanti dedeknya gigit pas menyusu." Ucap dokter Asri diselingi kekehan.
Kaila mengangguk. "Baik bu dokter akan saya ingat. Sekali lagi terimakasih Bu dokter." Setelah selesai Kaila dan Kenzo keluar ruangan.
Karena sudah sangat malam dan Kenzie juga pasien terakhir jadi saat mereka keluar dari ruang dokter anak tidak ada siapapun di tempat antrian.
"Aku tebus obat dulu ya, kamu tunggu disini atau mau langsung ke mobil aku?"
__ADS_1
"Aku ikut kamu aja deh Mas, nanti biar sekalian pulang. Aku kan gak tau di mana mobil kamu di parkir." Karena Kenzie sudah tertidur Kaila tidak menggunakan panggil Papah pada Kenzo.
Mungkin karena sudah sangat lelah menangis makanya Kenzie tertidur di dekapan hangat ibunya.
"Ya udah, ayo biar aku nggak bolak-balik juga." Kenzo merangkul pinggang Kaila mesra.
Awalnya sempat menolak karena Kaila malu dilihatin pengunjung rumah sakit yang masih berlalu lalang, tapi Kenzo memaksa.
Setelah menebus obat anaknya, Kenzo mengajak Kaila menuju administrasi untuk membayar biaya. Tapi belum juga sampai di bagian administrasi, mereka dibuat terkejut karena melihat Suho dan Irene mendorong ranjang Jaehyun dengan Irene yang terus menangis.
Tampaknya terjadi sesuatu saat dirinya menemani istrinya memeriksa anaknya.
Kaila juga melihat bahwa perempuan yang pernah membantu menenangkan anaknya tampak menangis.
Kenzo dan Kaila melihat Jaehyun yang dimasukkan ke ruang operasi.
"Ail. kita ke sana dulu ya. Nggak papakan kalau pulangnya sebentar lagi?"
Kaila mengangguk.
Mereka berdua mendatangi Suho dan Irene yang berpelukan dalam tangisnya.
"Maaf Pak Suho kalau boleh saya tau apa terjadi sesuatu dengan Jaehyun?" Tanya Kenzo dengan sangat hati-hati.
"Tadi kami selesai dari mushola ada suster mengatakan kalau Jaehyun tiba-tiba kritis dan jantungnya lemah. Dokter bilang kalau Jaehyun harus dioperasi."
Sungguh kasihan sekali, mereka sangat berharap kondisi Jaehyun membaik bukannya memburuk. Tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi. Semua hanya ingin Jaehyun segera sadar dan tidak kritis.
Irene terus menangisi Jaehyun. Ia akan merasa bersalah pada menantunya jika Jaehyun semakin lama di rumah sakit. Apalagi menantunya belum ia beritahukan mengenai kondisi Jaehyun yang sebenarnya.
30 Menit kemudian
Dokter keluar dari ruang operasi.
Irene dan Suho langsung menayangkan keadaan Jaehyun. " Ba... ba.. bagaimana keadaan anak saya dokter?" Bahkan suara Irene hampir tak terdengar karena kelamaan menangis.
Dokter menghembuskan nafasnya.
"Kondisi pasien mengalami penurunan. Beruntung segera kita tangani."
"Kapan anak saya sadar dokter. Kenapa anak saya bisa sampai koma?" Kali ini Suho yang bertanya. Walau dia hanya seorang ayah tapi ia sangat menyayangi anak-anaknya.
"Saya tidak tau penyebabnya. Karena dari hasil pemeriksaan , kecelakaan pasien tidak berakibat serius dan tidak ada benturan pada kepala ataupun bagian tubuh lainnya. Tapi sampai sekarang pasien belum sadar juga itu diluar batas kemampuan saya. Saya hanya melakukan apa yang perlu saya lakukan. Sisanya kita serahkan pada Yang Di atas."
Irene menangis mendengarnya. Siapa saja yang melihatnya pasti merada sedih.
"Apa boleh saya menemui anak saya dokter?"
"Nanti setelah pasien sudah dipindahkan ke ruang rawat kalian bisa menjenguknya. Kalau begitu saya permisi." Dokter pergi lalu ruang operasi dibuka.
Terlihat Jaehyun yang terbaring lemah menutup mata diatas ranjang.
Karena sudah dioperasi Jaehyun bisa dipindahkan ke ruang rawat.
Kaila menguap karena sudah sangat mengantuk. Kenzo yang melihat hal tersebut meminta pamit pada Suho dan Irene.
"Maaf Pak Bu, istri dan anak saya sedang sakit, kami pulang duluan ya."
"Nggak papa, saya sama istri saya sudah sangat berterimakasih karena kalian berulangkali membantu kami." Ucap Suho dengan tulus.
"Saya do'akan semoga Jaehyun segera sadar." Ucapan Kenzo diamini oleh Suho dan Irene.
"Kalau begitu saya dama istri pamit pulang duluan, maaf nggak bisa ikut nemenin." Imbuh Kenzo tak enak hati pada Suho.
"Jangan begitu, kalian sudah sangat membantu kami di sini."
Setelah pamit Kenzo membawa Kaila pulang karena mereka terlalu lelah hari ini. Kasihan Kenzie kalau harus bermalam di rumah sakit.
__ADS_1
Kenzo berdo'a agar anak Tuan Suho bisa segera sadar.
Kaila berdo'a agar anak Ibu Irene bisa cepat pulih