
Bukannya sadar pemuda tersebut malah berdiri menantang wanita dihadapannya.
"HEYY, LO SIAPA? BERANI-BERANINYA NGATAIN GUA SAMPAH. YANG ADA ELO TUH. PEREMPUAN YANG MENUTUP AURAT TAPI TERNYATA MUNAFIK!! KELIATANNYA AJA ALIM TAPI TAU-TAU NGEBOM, TAU-TAU TE-RO-RIS." makinya yang langsung membuat Kaila reflek menampar wajah pemuda dihadapannya.
PLAKKK
Kenzo langsung menoleh.
Keduanya juga tak luput dari pandangan orang-orang yang berada di sana.
"BERANINYA NAMPAR GUA!!" teriak nya pada Kaila.
Saat tangannya akan melayangkan tamparan pada Kaila, Kenzo lebih dulu mencekal tangannya.
Dengan tangan kanan mengendong Kenzie tak membuat Kenzo lemah.
Tanpa berkata sepatah kata Kaila berlalu pergi.
"Mang, ikutin istri saya." titah Kenzo pada Mang Diman yang langsung di angguki.
Mang Diman menyusul sang majikan yang masuk ke dalam mobil.
Tinggal Kenzo dan pemuda itu. Serta orang-orang di sekitar.
"Aduh aduh pegel nya tangan saya." ringis Kenzo setelah melepaskan cengkeraman tangannya dari pemuda di hadapannya.
"Mari duduk dulu, kamu pasti capek kan berdiri terus. Kalau saya sih capek." ucap Kenzo diselingi kekehan yang tak ditanggapi oleh pemuda tersebut.
"Nama kamu siapa?" tanya Kenzo setelah mendudukkan pantatnya.
"Nggak usah kepo!!" sewotnya menatap tajam Kenzo.
"Saya cuma nanya aja, saya yakin kamu sebenarnya laki-laki yang baik." Kenzo menepuk bahu laki-laki yang lebih muda darinya.
"Nggak usah sok care dan sok kenal." tangan Kenzo ditangkis keras olehnya.
"Oaoaoaoaooa" melihat Papanya disakiti Kenzie kembali menangis.
"Kenzie sabar ya, Papah mau ngomong dulu sama kakak ini. Okeyy." Kenzie menurut saja dibilang begitu.
Pemuda tersebut heran dengan laki-laki di hadapannya. Terlihat masih muda tapi sudah memiliki anak.
Ingin bertanya tapi tidak enak karena sudah membentak pria di hadapannya.
"Anaknya Anda?" akhirnya ia memberanikan diri untuk bertanya.
Kenzo menoleh mendengar anak muda di hadapannya bersuara tidak ngegas.
"Iyalah, masa anak kucing, hahaha."
"Ini anak saya, dan yang tadi kamu bilang begitu itu istri saya." imbuh Kenzo diselingi senyum.
"Maaf kak pak em." sesalnya menunduk tak berani menatap Kenzo.
"Panggil Bapak juga nggak papakok. Kamu lebih muda dari saya." Kenzo memaklumi pemuda di hadapannya canggung dan terlihat agak gugup.
Suara adzan menghentikan Kenzo yang akan kembali berbicara.
Kenzo melihat jam tangannya.
Pukul 12.15
__ADS_1
"Pantas saja sudah adzan, ternyata sudah jam dua belas lebih." ucap Kenzo pelan namun bisa didengar oleh pemuda di hadapannya.
"Jadi, nama kamu siapa?saya yakin kamu punya nama kan."
"Nama saya Dion." ucapnya yang diangguki oleh Kenzo.
"Ngobrolnya lanjut nanti lagi ya, sudah adzan saya mau sholat dhuhur dulu." Kenzo menggendong Kenzie lalu berdiri.
Pemuda di hadapannya masih duduk saja padahal adzan terdengar sangat jelas.
Kenzo memandang anak muda yang masih diam saja.
"Dunia ini hanya memiliki tiga hari, hari kemarin ia telah pergi bersama dengan semua yang menyertainya. Hari esok mungkin tak akan pernah menemuinya. Hari ini itulah yang kamu miliki. Maka beramal lah di hari ini."
"Makanya yok ikut saya sholat. Nggak tau kan besok kamu sholatin orang lain atau orang lain yang mensholati kamu." imbuh Kenzo kembali menepuk bahu anak muda itu.
Anak muda tersebut masih diam.
Kenzo yang takut ketinggalan jama'ah sholat dhuhur pun langsung menarik tangan Dion.
"Aihh, kamu lama mikirnya, ayo cepetan." seru Kenzo dengan menarik pergelangan tangan Dion.
Ingin melawan tapi takut durhaka, ingin membantahnya tapi yang diucapkan pria yang menariknya memang benar.
Di tempat lain seseorang tengah mengurung diri.
"Hadeuhh Bu, buka pintunya Bu, saya kepanasan ini. Bu buka pintunya dong Bu." Mang Dimang mencoba membujuk sang majikan karena dari tadi pintu mobil dikunci dari dalam.
Di tempat umum. Mana panas gini lagi.
Klek
"Masuk," titah Kaila dingin.
Tanpa menunggu lama Mang Diman langsung masuk ke mobil bagian depan.
"Kalau lama-lama diluar saya bisa jadi ayam panggang Bu. Mana saya hari ini nggak pakai sunscreen lagi." oceh Mang Diman.
"Diem Mang, saya lagi nggak pingin denger suara." tekan Kaila yang berhasil membuat supirnya bungkam.
"Suami saya kemana?" tanya Kaila namun yang ditanya diam menutup mulut dengan rapat.
"Mang. Ditanya kok nggak jawab. Denger saya ngomong kan." sambung Kaila mulai kesal.
"Tadi ibu suruh saya diem, ya saya diemlah Bu. Giliran saya ngomong di suruh diem. Saya diem di suruh ngomong. Jadi saya harus apa Bu?" ucap Mang Diman mendramatisir.
"Ya kalau ada orang bertanya harus dijawab Mang, gimana sihh." kesal Kaila membuang arah pandangnya.
Bukannya itu mas Kenzo. Dengan siapa? apa anak laki-laki yang di kedai bakso tadi.
"Mang kita pulang aja."
Mang Diman kaget mendengar perintah majikannya.
"Tapi Pak Kenzo belum kembali Bu, masa ditinggal."
"Saya bilang pulang ya pulang! jangan bikin saya makin emosi bisa nggak?" tekan Kaila pada ucapannya.
Mang Diman memgaguk. "Bisa Bu bisa bisa." dilajukan mobil meninggalkan tempat tersebut.
Sedangkan Kenzo baru saja selesai sholat bersama Dion, pemuda yang beberapa menit Kenzo ketahui namanya.
__ADS_1
Kenzie dititipkan bentar sama penjual Bakso.
"Kita ngobrol sambil duduk di kedai Bakso. Kamu lapar kan belum makan siang." ajak Kenzo yang hanya diangguki malu-malu oleh Dion.
Kenzo mengajak Dion duduk di kedai bakso yang sempat Kenzo singgah bersama istri dan supirnya.
Istri. Ah Kenzo melupakan wanita yang sedang kesal.
"Bentar ya saya mau ambil anak saya dulu. Kamu duduk di sini jangan kabur lohh." ucap Kenzo setelah sampai di kedai bakso.
Dion mengiyakan dan langsung mendaratkan pantatnya duduk di tempat duduk yang sempat didudukinya.
Kenzo berjalan menemui tukang Bakso.
"Makasih ya Pak sudah menjaga anak saya, rewel nggak tadi saya tinggal?" tanya Kenzo setelah menggendong Kenzie.
"Haha, enggak kok Mas. Malah dedeknya anteng banget ditinggal masnya." balad si tukang bakso dengan menoel pipi Kenzie.
Kenzo lega anaknya tidak membuat repot orang lain.
"Pak, bakso dua mangkuk ya sama es teh dua." ucap Kenzo dan berlalu pergi menemui Dion.
"Jadi Dion boleh ceritakan mengenai hidup kamu?" mendengar itu Dion langsung menatap Kenzo.
"Sudah tidak papakok, ceritakan saja mengenai kamu yah seputar keluarga mungkin atau apa gitu."
"Sa Sa Sa saya-"
"Nggak usah gugup atau canggung gitu. Kayak saya siapa aja bikin kamu gugup dan gagap gitu." kekeh Kenzo.
Tukang bakso datang mengantarkan pesanan Kenzo. "Ini Mas pesanannya." Kenzo mengangguk lalu tukang bakso pergi.
"Ini kamu makan dulu habis itu ceritakan tentang hidup kamu."
Dion mengangguk malu-malu membuat Kenzo tersenyum pada pemuda itu.
Pukul 04.15 sore
Ceklek
Kenzo memasuki rumah dengan mengendap-endap. Untung saja Kenzie sudah tertidur di gendongannya.
"Ohh masih ingat pulang, aku kirain lupa pulang ke rumah sendiri." seru seseorang menghentikan langkah Kenzo.
Lampu menyala dan sosok suara tadi sudah berdiri tepat di hadapan Kenzo.
"Hehehehe, sayang ternyata kamu. Aku kira kuntilanak lohhh." gurau Kenzo yang langsung mendapat pelototan dari Kaila.
Kaila mengambil anaknya dari gendongan suaminya.
"Mandi terus sholat ashar habis sholat kita ke ruang santai," ucap Kaila tanpa melihat Kenzo.
"Aku udah sholat."
"Ya udah mandi." setelah mengatakan itu Kaila pergi meninggalkan Kenzo di ruang tamu.
"Hadeuhh marah lagi nih nyonya Kaila Wijaya. Heran banget dikit-dikit marah marah marah. Marah marah mulu."
"Aku denger yaaa kamu ngomongin aku." teriak Kaila dari kamar.
Kenzo yang mendengar suara istrinya langsung ngibrit ke kamar mandi di kamar bawah.
__ADS_1