Menikah Karena Perjodohan( END)

Menikah Karena Perjodohan( END)
Tentang Kepercayaan


__ADS_3

Setelah sampai rumah Kenzo tidak melihat keberadaan istrinya yang tengah marah.


Sebuah suara membuat Kenzo memilih mendekati sumber suara yang berasal dari kamar utama.



Kenzo mendapati istrinya yang tengah memunggunginya dan apa yang sebenarnya sedang dilakukan istrinya.


"Ail," Perlahan Kenzo mendekati istrinya dengan Kenzie yang sudah tertidur di gendongannya.


Mencoba memanggil tapi tidak ada sahutan, akhirnya Kenzo menepuk pundak Kaila pelan.


Syok, kaget, terkejut.


Tiga kata yang membuat Kenzo memekik kaget karena Kaila melipat beberapa pakaian dari lemari. Kenzo curiga istrinya marah sampai mengemas pakaian dan akan pergi dari rumah.


"Astaghfirullah Kaila, aku tau kamu marah gara-gara aku. Tapi, kita bisa obrolin ini baik-baik kan."


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Kaila. Hal ini semakin membuat Kenzo yakin kalau istrinya akan pergi.


"Sayang, aku minta maaf soal yang di taman. Aku janji deh nggak gitu lagi."


Tidak ada sahutan.


"Sayang please maafin aku yahh, yahh. Aku salah udah ngomong gitu."


Tidak ada sahutan lagi.


"Kaila, Mamahnya Kenzie, istrinya aku. Jangan diem aja dong."


Masih tidak ada sahutan dari istrinya.


Kenzo sudah kehabisan akal untuk membujuk Kaila. Bahkan menoleh saja Kaila enggan.


Tangan Kenzo kram karena masih menggendong Kenzie. Ia berjalan ke arah box bayi untuk menidurkan Kenzie.


Diam-diam Kaila ternyata melirik ke arah Kenzo yang tengah menaruh Kenzie ke dalam box.


"Kenzie, kamu jangan bangun dulu ya. Papah mau bujuk Mamah kamu dulu. Mamah kamu lagi ngambek sama Papan terus mau minggat dari rumah." Tak lupa Kenzo mengecup kening anaknya dengan penuh sayang.


Kalimat terakhir Kenzo membuat Kaila memicingkan matanya tak percaya.


Jadi Kenzo berpikir bahwa Kaila akan pergi dari rumah karena hal sepele. Sungguh Kaila tak habis pikir dengan isi otak suaminya yang luar biasa.


"Kaila maafin aku." Kenzo berjalan mendekati Kaila yang masih diam.


Kenzo memilih duduk berhadapan dengan Kaila agar bisa melihat wajah istrinya yang sedang marah.


Di genggamnya tangan wanitanya.


"Aku udah minta maaf loh, aku sadar ucapan aku keterlaluan sampai bikin kamu sakit. Tapi jangan tinggalin rumah. Jangan pergi, kamu nggak kasihan sama Kenzie?" Ucap Kenzo dengan nada memelas.


Kaila rasanya ingin menjambak rambut pria di depannya ini yang tak lain suaminya sendiri. Apa sih sebenernya yang dipikirkan oleh suami tampannya ini.


Masih belum mendapatkan maaf tidak membuat Kenzo putus asa. Ia mencari cara apa yang bisa membujuk istrinya agar mau memaafkannya.


"Sayang~ please jangan marah ya. Aku emm aku akan lakuin apapun yang kamu mau asal kamu maafin aku. Yahhh, please jangan diem aja." Akhirnya Kaila menoleh menatap wajah Kenzo.


Helaan nafas terdengar dari Kaila. Ia menghentikan kegiatan melipat pakaiannya dan melepas genggaman tangan Kenzo.


"Aku bukannya marah soal ucapan kamu mas. Tapi soal kepercayaan." Kaila menjeda kalimatnya.


"Ini masalah kepercayaan. Aku merasa kamu nggak percaya sama aku. Padahal sebuah hubungan akan berjalan baik jika dilandasi rasa saling percaya. Tapi lihat? kamu nggak percaya aku, kamu ragu , kamu takut aku menangani sesuatu yang kamu tangani. Itu yang aku lihat dari diri kamu." Kata Kaila membuang nafas kasar.


Kenzo tidak bisa berkata-kata lagi. Semua yang dikatakan istrinya ada benarnya, karena Kenzo bahkan tidak pernah membiarkan istrinya untuk membantu tugas perusahaan.


"Benar kan yang aku ucapkan? Kamu belum percaya aku. Apa kamu juga nggak akan percaya kalau aku jadi sekertaris kamu mas?" Ucap Kaila dengan penekanan. Kenzo tak berani menatap mata istrinya untuk saat ini.


Handphone di saku celana Kenzo bergetar. Kenzo tebak ini adalah asistennya yang panik karena dirinya belum juga datang ke kantor.


Sedangkan Kaila menunggu jawaban yang keluar dari mulut suaminya, tapi suaminya tak kunjung membuka suara.


Kenzo berdiri dari duduknya. "Maaf Ail, kita bahas masalah ini nanti lagi." Setelah mengatakan itu Kenzo meninggalkan Kaila tak lupa juga Kenzo membawa anaknya yang masih tertidur.


Kaila hanya menatap nanar kepergian Kenzo.


"Ternyata kamu masih menutup diri dari aku mas." sendu Kaila lalu dirinya bangkit dan mengambil tas serta kunci mobil di atas meja.


Kaila meninggalkan rumah dengan menaiki mobil dan pergi ke suatu tempat.


Pukul 09.30


Sementara Kenzo sudah sampai di perusahaan dengan diantar mang Diman. Karena saat membawa Kenzie lebih baik Kenzo memakai supir daripada mengemudi sendiri.


"Pak, kenapa dek Kenzie nya dibawa ke kantor? Nanti kalau ada sesuatu sama dedek Kenzie gimana?" Tanya mang Diman agak khawatir dengan anak sang majikan.


"Sesuatu apa? Selama ada saya tidak akan saya biarkan sesuatu terjadi pada Kenzie. Bahkan hal sekecil apapun." Ucap Kenzo mengelus surai anaknya yang masih tertidur.


"Ibu bagaimana Pak? apa saya jemput Ibu terus saya antar ke sini?"


Kenzo menghela nafas mendengar pertanyaan mang Diman si supir.


"Nggak usah, nanti saya langsung pulang setelah urusan selesai. Jadi mamang tunggu saya aja ya."


"Baik Pak." Setelah itu Kenzo memasuki perusahaan dengan menggendong Kenzie yang masih lelap tertidur.


"Siang Pak." Sapa Mariska yang kebetulan sedang di lobby dan bertemu Kenzo.


"Hmm. Gimana Mar dengan kliennya?"


Mariska mendengus kesal. "Tau ah, males saya Pak ngurusin orang sombong kaya dia." Kata Mariska kesal.


"Mereka siapa? calon klien saya?" Mariska hanya mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu saya balik ke ruangan saya ya Pak," Ijinnya pada Kenzo. Sebenarnya Mariska hanya tidak mau menyaksikan perdebatan di ruangan tersebut.


Kenzo berjalan memasuki ruang dimana calon kliennya berada. Baru saja membuka pintu Kenzo sudah disuguhkan dengan drama.


Sang asisten tengah dimarahi seorang pria bertubuh gendut yang Kenzo pastikan. itu adalah calon rekan bisnisnya.


Dengan langkah pelan Kenzo berjalan mendekati keduanya, karena masih ada anak di dekapannya Kenzo memilih menyelesaikan semua masalah di kantor dengan hati-hati dan mengesampingkan emosi.


"Ada masalah apa ya?" Ucap Kenzo setelah berada tepat di hadapan Andi, sang asisten dan rekan kerjanya ralat calon rekan kerja.


Bukanya menjawab pertanyaan Kenzo si pria yang tadi membentak Andi malah balik menanyai Kenzo.


"Apa Anda pemilik perusahaan ini?" Tanyanya dengan nada sinis.


Kenzo mengangguk, "Iya, saya pemilik perusahaan ini. Memangnya kenapa ya?" Kenzo bertanya dengan sangat ramah.


Pria Gendut itu memandang rendah Kenzo. "Oh pantes aja kelakuan asistennya gak tau diri." Ucapnya enteng.


"Yang punya perusahaan aja ke kantor bawa anak. Tidak profesional sekali dalam bekerja. Ini tuh perusahaan, bukan taman bermain anak." Hinanya lagi melihat Kenzie dalam dekapan Kenzo dengan sinis.


Mungkin kali ini Kenzo lebih memilih proyek kerjanya gagal dengan calon kliennya daripada karyawannya dihina. Kenzo tidak menerima ini.


"Sudah menghinanya?" Kata Kenzo sedikit penekanan.


"Pokoknya saya tidak mau tau asisten Anda harus meminta maaf ke saya dengan berlutut." Ucapnya dengan angkuh.


Kenzo dan Andi saling tatap. Seakan mengerti kekhawatiran asistennya membuat Kenzo mengangguk paham bahwa Andi tidak bersalah.


"Sebenarnya masalahnya apa sampai asisten saya harus berlutut pada Anda. Kalau asisten saya memang salah saya akan memintanya untuk meminta maaf." Ucap Kenzo tenang tanpa terbawa emosi.


Pria itu berdecih setelah mendengar Kenzo berbicara. "Salahnya? Salahnya karena meminta saya untuk terus menunggu. Saya tidak suka menunggu, apalagi menunggu begitu lama hanya untuk orang-orang sampah seperti kalian." Hinanya dengan begitu lantang.


Andi ingin rasanya menonjok pria di hadapannya ini tapi urung karena Kenzo mengisyaratkan agar Andi diam.


"Saya minta maaf karena mungkin asisten saya membuat Anda tidak nyaman saat Anda di sini. Masalah menunggu itu bukan salah asisten saya, saya yang sudah membuat Anda menunggu lama. Maka dari itu saya meminta maaf karena telah membuat Anda menunggu kedatangan saya."


Bagi Kenzo ini hanya masalah sepele saja, tapi bagaimanapun dirinya juga yang membuat calon kliennya ini menunggu dan malahan Andi yang kena semprot. Walaupun bukan sepenuhnya salah Kenzo tapi ya sebagai contoh untuk karyawannya Kenzo harus bisa memberikan contoh baik.


Dugaan Kenzo salah kalau permintaan maafnya diterima dengan baik. Nyatanya tidak oleh orang ini.

__ADS_1


"Maaf?? Anda pikir hanya dengan kata maaf bisa mengembalikan waktu saya yang terbuang!" Ucapnya dengan begitu arogan.


Kenzo berusaha membela diri. "Saya sangat minta maaf kar-" Belum sempat menyelesaikan kalimatnya pria sombong itu sudah menyela.


"Percuma saya di sini. Hanya membuang waktu saya saja. Dalam waktu semenit saja saya bisa menghasilkan uang milyaran, tapi hari ini saya rugi banyak hanya karena menunggu." Makinya tak lupa dirinya menyombongkan uangnya.


Andi sudah tak terima penghinaan ini. Apalagi kalau bosnya harus diinjak-injak seperti ini.


"Maaf ya Pak, tapi bukannya Anda yang datang terlalu awal. Jadi itu salah Anda sendiri yang membuat Anda menunggu Pak Kenzo datang. Kenapa Anda menyalahkan kami." Kata Andi menatap tajam pria gendut yang beberapa jam membuatnya naik darah.


Tak terima dengan perkataan Andi pria tersebut melangkah mendekati Andi.


"Nih lihat bagaimana asisten Anda bersikap terhadap rekan kerja. Begitu tidak sopan dan sangat berani terhadap saya."


Kenzo sudah pusing. "Lalu mau Anda apa?" Kenzo hanya mengalah karena pria di hadapannya ini adalah salah satu investor yang akan bekerja sama dengannya. Jika sesuatu hal buruk terjadi sudah pasti perusahaan Kenzo yang rugi.


"Saya tidak ingin sesuatu, saya hanya ingin asisten Anda ini mencium kaki saya untuk meminta maaf. Gampang kan." Ucapnya dengan santai tanpa beban.


Rahang Andi mengeras mendengarnya.


Bagaimana bisa dirinya yang hanya meminta seseorang untuk bersabar menunggu harus mencium kaki orang. Salah apa dirinya sampai harus melakukan hal tak masuk akal.


Andi menatap Kenzo meminta pertolongan. Kenzo nampak menimbang keputusan yang akan dikeluarkan.


"Kenapa diam? Tidak mau melakukan. Kalau tidak mau saya juga tidak masalah."


Kenzo dan Andi nampak lega mendengarnya sebelum kalimat selanjutnya mengejutkan keduanya.


"Mulai hari ini saya akan menarik semua investasi dan saham saya di perusahaan ini. Saya tidak sudi bekerja dengan para sampah tidak berguna seperti kalian." Ucapnya lalu pergi begitu saja dari perusahaan Kenzo.


Andi berniat mengejar tapi Kenzo melarang.


"Nggak usah dilanjut nanti masalahnya malah semakin kemana-mana."


"Tapi Pak, tadi sangat keterlaluan dan sudah menghina Bapak."


Kenzo berusaha menampilkan senyumnya agar Andi tenang. "Nggak papakok. Anggap aja angin lewat. Hahah." Kenzo berusaha biasa saja.


Andi tidak habis pikir kenapa bosnya terima saja dihina dan dicaci padahal tidak sepenuhnya salah.


"Sudah ya, kamu tidak usah terlalu memikirkan. Saya percaya kamu nggak salah kok. Ya kadang ada pengusaha saking banyaknya uang jadi suka berlebihan." Kata Kenzo lalu menepuk bahu asisten.


Kenzo melihat jam tangannya. "Oh iya saya mau anter Kenzie ke istri saya, takutnya nanti nangis kan saya nggak bisa susuin. Hahah."


Andi masih melongo. "Saya pergi dulu ya. Mungkin saya nggak balik lagi ke kantor soalnya mau nemenin istri sama anak." Ucap Kenzo bohong.


"Iya iya Bos. Saya minta maaf karena saya perusahaan jadi kehilangan investor." Ucap Andi penuh penyesalan.


Kenzo tersenyum. "Ini bukan salah kamu. Lagian saya juga nggak tega liat kamu kalau harus menuruti perintahnya."


Andi terharu mendengarnya. "Saya pergi dulu ya, titip kantor." Setelah mengatakan itu Kenzo pergi meninggalkan perusahaan.


Andi hanya menatap Kenzo dengan tatapan kagum dan menyesal. Karena dirinya perusahaan bosnya mengalami rugi banyak.


Bohong kalau Kenzo tidak papa. Andi sangat tau investor tadi adalah investor baru yang menginvestasikan uang dalam jumlah banyak dan saham yang besar. Selain investor dan penanam saham pria yang menyuruhnya mencium kakinya itu adalah calon klien.


Bisa diartikan kalau bisa menjadi rekan akan sangat menguntungkan. Tapi lihat sekarang selain gagal kerja sama investasi dan sahamnya juga ditarik dari perusahaan bos nya.


Andi menghela nafas. "Semoga bos nggak bangkrut dan nggak PHK karyawan." Guman Andi lalu meninggalkan ruangan.


Rumah Sakit


Di rumah sakit Kaila tengah berbicara dengan dokter yang menangani Jaehyun.


"Mohon tunggu ya dok, keluarga pasien sedang dalam perjalanan ke sini." Jelas Kaila bohong.


Dokter itu terkejut mendengarnya."Loh saya kira Anda istrinya pasien yang di dalam."


Kaila tersenyum kikuk. "Bukan dok, saya cuma gantiin suami saya yang jadi wali pasien. Seharusnya suami saya yang kesini, tapi karena suami saya sibuk jadi saya yang menggantikan." Dokter itu mengangguk.


"Ohhh begitu."


Brakkkk


Keduanya yang sedang berbincang terkejut mendengar suara barang jatuh dan pecah dari dalam ruang rawat Jaehyun.


"Biar saya saja dok," Cegah Kaila saat dokter akan masuk. Dokter mengangguk dan membiarkan Kaila memeriksa sementara dirinya berlalu pergi memeriksa pasien lain.


"Butuh bantuan?" Kaila menawarkan bantuan karena pemuda itu terlihat susah menggapai gelas dan malah menjatuhkan vas.


Jaehyun menoleh pada sumber suara. Suara wanita tapi bukan keluarganya.


Melihat Jaehyun yang terlihat bingung akan kehadiran dirinya makan Kaila melangkah mendekati ranjang tempat Jaehyun terbaring.


"Tenang Mas Jae, saya cuma mau bantu nggak ada maksud lain kok."


Jaehyun mengerutkan dahinya kenapa perempuan yang tiba-tiba masuk ke ruangannya ini bisa tau namanya. Siapa sebenarnya perempuan tersebut.


Kaila yang paham isi pikiran Jaehyun mulai tersnyum ramah. "Saya tau nama mas dari suami saya yang kasih tau ke saya." Jelas Kaila.


Jaehyun tak banyak merespon, ya iyalah kan baru bangun dari koma habis melewati masa kritis. Tubuhnya lemas, tak bertenaga, energi seakan tidak ada.


Jaehyun mencoba duduk walau tubuhnya tidak ada tenaga. Kaila yang tau Jaehyun kesulitan pun membantunya.


Karena lemas Jaehyun reflek memegang bahu Kaila.Tepat saat itu juga pintu terbuka oleh seseorang.


Jaehyun dan Kaila belum menyadari kedatangan seseorang.


Orang tersebut mematung di ambang pintu melihat apa yang dilihatnya. Sungguh hatinya hancur melihat semua ini.


Laki-laki yang merupakan suaminya tengah memeluk perempuan lain dengan sangat mesra. Sekilas dari belakang memang terlihat seperti berpelukan. Padahal sebenarnya bukan memeluk.


Air matanya turun begitu saja tanpa bisa dicegah. Dia berbalik tapi dirinya tak sengaja menabrak seorang pria di depan pintu.


"Maaf." Katanya pada pria yang ditabrak dan berlalu pergi dari tempat yang menyesakkan dadanya.


Jaehyun tau betul suara siapa ini. Suara wanitanya. Suara istrinya yang amat sangat dicinta.


"Rosé." Lirih Jaehyun melihat ke arah pintu yang sudah tertutup.


Kaila ikut menoleh mengikuti arah pandang Jaehyun. Tapi tidak ada siapapun di sana.


Kaila baru sadar jika posisi dirinya dan Jaehyun membuat orang salah paham. "Maaf saya lancang." Kata Jaehyun lalu melepas tangannya dari lengan Kaila.


Beberapa detik pintu kembali di buka tapi bukan Rosé melainkan Kenzo yang menggendong Kenzie yang sudah menangis.


"Mas Kenzo. Sayang kenapa nangis heum. Sini sama Mamah." Kaila mendekati Kenzo dan mengambil alih tubuh gempal anaknya yang tengah menangis.


Merasa tau siapa yang menggendongnya membuat Kenzie berhenti menangis.


"Itu tadi siapa perempuan di depan pintu Ail?. Aku kira mau masuk tapi ternyata malah pergi." Kata Kenzo yang belum tau bahwa perempuan yang tadi menabraknya adalah Rosé istri Jaehyun.


"Itu istri saya, Rosé." Bukan Kaila yang menjawab tapi Jaehyun.


"Ouhhh.Terus kenapa malah pergi bukannya masuk. Nangis lagi tadi." Ucap Kenzo membuat Jaehyun dan Kaila merasa bersalah.


Jaehyun mencoba turun dari ranjang tapi karena kondisi tubuhnya masih belum pulih membuat Kenzo melarang.


"Jangan banyak gerak, kamu kan baru sadar belum sembuh total. Istirahat aja." Titah Kenzo membuat Jaehyun urung niat mau turun.


"Tapi Rosé, dia pasti salah paham." Lirih Jaehyun yang masih bisa didengar Kenzo.


Kenzo mendekati tempat Jaehyun. "Salah paham tentang apa?" Bingung Kenzo menatap Jaehyun dan Kaila.


"Nggak papakok. Cuma mungkin istri saya lagi sensitif." Kata Jaehyun.


Kaila yang merasa tak enak pada Jaehyun menyarankan bantuan."Apa saya cari istri mas biar saya jelasin yang sebenarnya." Kata Kaila.


Ada sesuatu yang mengganjal telinga Kenzo.


Apa tadi Kaila bilang, Mas. Kaila manggil Jaehyun pake embel-embel 'mas'. Kenzo cemburu mendengarnya apalagi istrinya begitu lembut pada pria yang baru dikenalnya.


"Nggak usah mba, biar saya aja yang bicara."

__ADS_1


"Tapi kondisi kamu masih lemah mas Jae."


"Saya sudah tidak papapkok."


"Tapi belum sembuh total, ntar malah pingsan dan drop lagi kan malah bahaya."


Ngiiiiiiing. Telinga Kenzo berdengung mendengar pembicaraan Kaila dan Jaehyun. Apa dirinya tidak terlihat sampai mereka melupakan kehadirannya.


"Sudah Ail jangan ngatur-ngatur orang. Terserah Jaehyun mau ngapain. Kamu bukan keluarganya ngapain perhatian banget sih." Ucap Kenzo memandang Jaehyun tak suka.


Kaila memandang suaminya malas. Dirinya masih marah pada Kenzo.


"Bantuin orang lain apa salahnya sihh. Sirik aja sama orang." Cetus Kaila.


Kenzo cemberut mendengarnya.


Jaehyun yang menyaksikan terkekeh karena perdebatan dua orang yang masih asing.


"Oh ya saya minta maaf." Ucap Kenzo beralih pada Jaehyun.


"Minta maaf? Memangnya ada apa?" Tanyanya bingung.


Kenzo menghela nafas. "Waktu saya nolongin kamu beberapa hari setelahnya saya mencari informasi tentang kamu. Setelah ketemu saya menghubungi keluarga kamu tapi saya meminta orang tua kamu tidak memberi tau tentang kondisi kamu ke istri kamu." Kenzo merasa bersalah karena keputusan darinya yang menyarankan orang tua Jaehyun menyembunyikan dari istri Jaehyun.


"Tapi tadi saya denger suara istri saya."


Kenzo dan Kaila saling pandang. "Bukannya kamu belum bilang ke Bu Irene dan Pak Suho ya mas?" Tanya Kaila.


Kenzo mengangguk. "Belum.Aku dari kantor langsung ke sini." Kata Kenzo.


"Apa mungkin Pak Suho dan Bu Irene sudah memberi tau ke istrinya Jaehyun." Tebak Kaila.


"Tapi mereka nggak keliatan, aku tadi cuma liat istrinya Jaehyun tapi udah pergi lagi." Pungkas Kenzo.


"Saya nggak paham dengan yang kalian bicarakan." Kaila dan Kenzo menoleh ke arah Jaehyun.


"Apa orang tua kamu belum datang?" Tanya Kenzo.


Jaehyun menggeleng. "Saya baru aja sadar dan nggak tau apapun. Saya juga belum melihat orang tua saya."


Kenzo bingung. "Soalnya pihak rumah sakit taunya nomer kamu mas. Jadi ya kamu yang di kasih kabar." Kata Kaila menjelaskan.


Kenzo ber oh mendengarnya.


Suara pintu terbuka mengalihkan pandangan ketiganya.


"Jae, eh ada mba Kaila sama mas Kenzo. Dedek Kenzie juga ada." Irene masuk diikuti Suho dibelakangnya.


Kaila dan Kenzo tersenyum membalas sapaan Bu Irene.


"Mih, Rosé nggak ikut? Tapi tadi aku denger suaranya kok nggak ada sekarang." Tanya Jaehyun.


Irene kaget mendengarnya. "Bukannya udah ketemu kamu. Soalnya Mamih sama Papih tadi nganterin Joe dulu ke tempat Haechan, jadi Rosé naik taxi duluan katanya udah kangen kamu. Mamih kira udah di sini loh."


Suho mengangguk membenarkan ucapan sang istri.


"Jangan-jangan,,, " Kenzo tidak menyelesaikan kalimatnya.


"Apa?" Tanya semuanya karena penasaran dengan apa yang akan Kenzo katakan.


Baru saja akan lanjut berbicara tapi handphone Kenzo berbunyi. "Saya permisi." Kata Kenzo lalu meninggalkan ruang rawat Jaehyun.


Kaila penasaran kenapa suaminya harus pergi padahal hanya menerima panggilan. Apa penting sampai Kenzo tidak ingin orang lain tau termasuk dirinya.


Merasa tak enak akhirnya Kaila juga menyusul Kenzo. "Karena mas Jaehyun sudah ada keluarganya, kalau begitu saya mau pulang." Pamit Kaila tak enak karena Bu Irene padahal baru datang.


"Padahal saya pingin ngobrol banyak loh sama mbak Kaila, tapi ya sudahlah. Makasih loh mbak sudah belain ke sini nengok anak saya." Kata Bu Irene berterimakasih pada Kaila.


Kaila tersenyum sebagai balasan.


Suho yang dari tadi hanya diam sekarang mengeluarkan suaranya. "Saya sama istri saya hari ini mau ngurus kepulangan Jaehyun biar bisa kami rawat di rumah. Takutnya kalau di sini ngerepotin Anda sama suami." Ucap Suho tak enak.


"Em ya saya sama suami saya nggak repot kok, kan nolong orang itu juga hal wajar. Tapi kalau itu menurut kalian yang terbaik nggak papa. Mungkin kalau Jaehyun dirawat di rumah bisa cepat sembuh." Balas Kaila.


"Kalau begitu saya permisi anak saya udah ngantuk. Sampaikan salam saya ke menantu Ibu dan maaf." Setelah mengatakan itu Kaila meninggalkan ruangan.


Hening sesaat setelah Kaila menutup pintu.


"Maaf untuk apa ya? kayaknya harusnya kita yang minta maaf karena udah ngerepotin. Maaf apa ya Pih?"


"Papih juga nggak tau Mih maksudnya apa."


Jaehyun diam karena merasa bersalah pada istrinya.


Sementara Kaila mencari keberadaan Kenzo sampai dirinya melihat punggung yang sangat ia kenal sedang bertelepon dengan seseorang.


"Nelpon siapa sih sampai aku nggak boleh denger?" Kata Kaila setelah menghampiri Kenzo.


Kenzo terkejut karena istrinya tiba-tiba datang. "Ehh kamu Ail, aku kira siapa?" Kenzo langsung mematikan telponnya dan memasukkan handphone ke saku jas dengan cepat.


"Aku nanya loh Mas. Kamu nelpon siapa sampai aku nggak boleh tau?" Ulang Kaila.


"Bukan siapa-siapa kok. Eh gimana Jaehyun?" Kenzo mengalihkan pembicaraan agar Kaila tidak tau masalahnya.


"Udah baikan. Lagian udah ada keluarganya sekarang. Kita sampai sini aja nolongin nya, soalnya pak Suho bilang mau bawa Jaehyun pulang."


"Ouhh gitu, baguslah kalau keluarganya sudah ada."


"Ihh kok jadi ngomong Jaehyun sih. Kamu jangan coba ngalihin pembicaraan yaa." Kata Kaila kesal.


"Enggak kok. Itu emang bukan siapa-siapa, nggak penting." Kata Kenzo.


"Kenapa kalau nggak penting kamu sampai pergi buat jawab." Balas Kaila.


Kenzo hanya diam bingung harus bagaimana menjelaskan semuanya pada Kaila bahwa perusahaannya sedang ada masalah.


"Kamu masih belum percaya aku mas?" Tanya Kaila dengan menatap tajam Kenzo yang diam.


"Aku istri kamu bukan sihh mas!!" Kaila berucap keras hingga menjadi perhatian pengunjung rumah sakit.


"Jangan keras-keras Ail, malu dilihat banyak orang."


"Malu? Kamu malu punya istri kaya aku. Aku istri kamu lohh mas." Kaila menaikkan nada bicaranya, untung Kenzie sudah terlelap di gendongan Kaila.


Kenzo menghela nafas. Istrinya selalu menyimpulkan sesuatu tanpa tau kebenarannya.


"Nggak gitu Ail. Kamu istri aku dan selama akan menjadi istri aku."


Kaila memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Terus kenapa setiap ada sesuatu kamu nggak pernah cerita ke aku. Tadi pagi aja kamu ngomong gitu kan ke aku." Kata Kaila mengingatkan Kenzo kejadian di taman.


"Soal itu aku minta maaf Ail. Aku nggak bermaksud ngomong begitu." Kata Kenzo.


"Kamu banyak alesan mas, pasti banyak yang kamu sembunyiin dari aku kan?" Tebak Kaila membuat Kenzo mendongak menatapnya.


"Nggak Ail, aku cuma nggak mau kamu memikirkan masalahku. Biar aku yang pikirin." Ucap Kenzo lirih karena kepalanya terasa berputar, tapi sebisa mungkin Kenzo terlihat baik-baik saja dihadapan Kaila.


"Nggak usah sok kuat deh mas!. Kalau kamu pikul beban kamu sendirian terus kamu akan lelah sendirian. Gunanya suami istri kan saling melengkapi, membantu bahu membahu dalam keadaan apapun." Cerca Kaila.


Kenzo sudah tidak kuat menahan, kepalanya sakit, pikirannya kacau. Badannya lemas dan memang akhir-akhir ini kurang tidur.


"Udah ya Ail. Masalah ini nggak usah dipermasalahkan, ini cuma hal sepele aja." Kata Kenzo menahan sakitnya.


Kaila tidak tau kalau Kenzo sedang kurang enak badan.


"Nggak dipermasalahkan bagaimana? Soal kepercayaan kamu bilang hal sepele." Kata Kaila tak terima.


Kenzo tidak berniat menjawab, sungguh dirinya benar-benar pusing.


"Kepercayaan adalah dasar dari sebuah hubungan. Tapi kalau kamu nggak percaya gini ke aku hubungan kita kedepannya gimana?" Kaila menurunkan suaranya karena Kenzie sempat bergerak di gendongan.


"Udah ya Ail, aku ada urusan penting. Kamu sama mang Diman aja biar aku yang bawa mobil kamu." Kenzo mengambil kunci yang ada di tas Kaila lalu pergi.

__ADS_1


Kaila kesal melihatnya. "Kenapa sih mas tinggal cerita ke aku aja apa susahnya sih." Ucap Kaila lalu mencari mobil suaminya.


__ADS_2