Menikah Karena Perjodohan( END)

Menikah Karena Perjodohan( END)
Kamu Siapa?


__ADS_3

"SAYANG, INI KENZIE NANGIS TERUSS. AKU MAU BERANGKAT KE KANTOR LOHH." Teriak Kenzo dengan Kenzie yang tidak mau lepas darinya.


Masih pagi buta sang kepala keluarga sudah berteriak. Ini terjadi karena ulah bayi yang genap 7 bulan tak lain adalah Kenzie.


Bayi gembul itu terus menempel pada ayahnya dan tak mau lepas.


Baru saja akan diletakkan di box tangisannya sudah mengagetkan Kenzo.


Kaila yang sedang berada di kamar mandi langsung mempercepat kegiatan mandinya, takut terjadi sesuatu dengan anaknya.


"Kamu disuruh jagain Kenzie sebentar udah teriak-teriak. Gimana kalau seharian aku tinggal kalian berdua, nggak bisa dipercaya buat jagain anak. Kan bisa kamu gendong atau apa nggak usah pake teriak." Oceh Kaila yang sudah keluar dari kamar mandi hanya menggunakan bathrobe.


Kaila mendekati suami dan anaknya.


Terlihat penampilan sang suami yang sudah berantakan. Padahal sebelum Kaila mandi, Kenzo sudah rapi dengan setelan kantornya.


"Aku nggak akan teriak kalau benar-benar darurat." Kenzo lalu menyerahkan tubuh Kenzie pada Kaila.


"Alessann." Desis Kaila.


"Ini akibatnya kalau kamu lebih sering di kantor ketimbang main sama anak. Sekalinya Kenzie tau Papahnya di rumah langsung nempel deh gak mau lepas." Imbuh Kaila.


Memang benar sihh Kenzo jarang di rumah dan lebih sering kerja dan lembur. Pulang kantor pasti anaknya sudah tidur. Sekalinya ada waktu paling cuma sejam atau dua jam. Itupun kadang-kadang.


"Kan Kenzie sayang sama Papah. Makanya nempel sama aku." Kata Kenzo membela diri.


Kaila mencebik kesal mendengarnya.


Tangisan Kenzie bukannya reda tapi makin kenceng padahal sudah berada di gendongan ibunya.


"Sayang sayang, cup.....cup....cup....cup..... Mimi dulu ya mimi Kenzie haus kan pasti." Kata Kaila dengan kalimat penenang nya.


Bukannya berhenti malah Kenzie semakin menangis dan teriak.


"Kenapa sayang heum, Kenzie mau apa coba tunjuk, kasih tau Mamah kamu mau apa." Ucap Kaila dengan lembut.


Seakan mengerti dengan perkataan ibunya, Kenzie merentangkan tangannya ingin meraih Kenzo sang Papah.


"Tuhkan Kenzie pingin sama aku." Pekik Kenzo senang.


Saat hendak menggendong Kenzie tangan Kenzo bukannya mendapatkan tubuh anaknya malah mendapatkan pukulan dari istrinya.


Plakkk


"Awww aduh sakit tau. Kenapa aku malah dipukul." Ringis Kenzo memegang lengannya yang dipukul Kaila.


Sebenarnya nggak sakit, cuma dasar Kenzo aja yang lebay ke Kaila.


"Kebiasaan yaa udah dibilang jangan teriak." Kata Kaila.


"Kamu berangkat aja, biar Kenzie sama aku. Ntar juga nangisnya berhenti." Kata Kaila menyuruh Kenzo agar segera berangkat karena pagi ini Kenzo berencana akan ke rumah sakit.


Kenzo nampak berpikir. "Tapi aku nggak tega ninggalin Kenzie, nangisnya kenceng banget gitu." Kata Kenzo mengelus kepala anaknya.


Kenzie masih menangis dan mengulurkan tangannya ingin menggapai sang Papah.


Karena tak tega akhirnya Kenzo mengambil alih tubuh Kenzie. Kaila tidak melarang apalagi suara tangis Kenzie sudah berganti isakan kecil.


"Udah ya sayangnya Papah jangan nangis lagi. Papah nggak ninggalin Kenzie kok." Ucap Kenzo mengelus punggung Kenzie yang masih sesenggukan.


"Tapi nanti kamu telat ke kantor loh Ken."


"Papah sayang bukan Kenzo. Lagi ada Kenzie harus manggil Papah." Kata Kenzo mengoreksi kalimat Kaila.


"Iya iya. Kamu nanti terlambat meeting, lagian sebelum ke kantor katanya mau ke rumah sakit dulu nengok Jaehyun." Ucap Kaila mengingatkan suaminya.


"Iya sih, tapi aku kasihan liat Kenzie nangis, rasanya aku nggak tega." Kata Kenzo.


Kenzie menaruh kepalanya di ceruk leher Papahnya, tangannya memeluk erat seakan tidak mau ditinggal pergi oleh Papahnya.


"Kenzie biar sama aku, kamu berangkat aja sana." Kata Kaila.


Kenzo sebenarnya tak tega jika meninggalkan anaknya dalam keadaan yang terus menangis. Tapi, ia juga harus segera pergi ke rumah sakit mengecek kondisi Jaehyun dan meminta keluarga Jaehyun agar memberitahu pada istri Jaehyun.


"Tapi... " Kenzo berat meninggalkan anaknya.


Tangan Kaila mengambil alih tubuh anaknya dari sang suami.


Merasa dipisahkan dari Papahnya membuat bayi yang sudah mulai tenang itu kembali menangis dan memberontak dari gendongan Kaila.


Oek oek oekk

__ADS_1


"Aaaaaaaaaaaaaa," Bahkan disertai jeritan yang membuat kedua orangtuanya kaget.


"Sayang sayang, sayangnya Mamah jangan nangis. Kita main ke rumah Kak Tama ya."


Tama adalah anak tetangga rumah yang berusia 5 tahun yang biasanya bermain bersama Kenzie.


Kaila melirik mobil Kenzo menyuruh Kenzo agar segera berangkat.


Paham akan maksud istrinya Kenzo segera melangkah keluar rumah.


Baru saja akan memasuki mobilnya suara tangisan Kenzie makin kencang membuat Kenzo urung masuk mobil dan memilih berlari kembali masuk rumah.


Diambil alih tubuh gemetar anaknya dari sang istri.


"Udah ya Kenzie jangan nangis lagi, Papah nggak senang kalau denger Kenzie nangis, Papah nggak suka kalau Kenzie nangis gara-gara Papah." Ucap Kenzo mengelus punggung mungil anaknya.


Kaila membuang nafas melihatnya. Kenapa anaknya cengeng sekali hari ini, padahal setiap hari kalau Kenzo berangkat ke kantor nggak ada drama seperti pagi ini.


"Papah nggak pergi sayang jadi Kenzie harus berhenti nangis ya." Kaila ingin memprotes sebelum Kenzo menggelengkan kepalanya menyuruh istrinya diam.


Dengan ajaibnya tangisan Kenzie berhenti dan bayi 7 bulan itu menatap sang Papah.


"Nanti kamu telat ke kantornya Pah, meeting kamu gimana?" Tanya Kaila khawatir.


"Nggak masalah, aku bisa tinggalin atau batalin meeting asal Kenzie nggak nangis lagi." Jawab Kenzo santai.


Kaila tidak bertanya lagi pada Kenzo.


Kenzo menimang Kenzie agar membuat anaknya tertidur.


Bukannya mendapati anaknya tertidur malah sebuah pelukan erat. Mungkin Kenzie takut jika tertidur maka Papahnya akan pergi dari hadapannya.


"Kita bawa Kenzie jalan-jalan ya biar kalo tidur bisa aku tinggal." Bisik Kenzo pada istrinya.


Sebelum meninggalkan rumah Kaila menyuruh Kenzo melepaskan jas dan kemejanya agar tidak kotor.


Akhirnya Kenzo serta Kaila membawa Kenzie jalan-jalan di lingkungan sekitar rumah dengan Kenzo yang menggendong Kenzie.


Sebenarnya masih pagi untuk tidur lagi. Tapi, tidak papalah membuat Kenzie tertidur agar bisa ditinggal Kenzo.



Bukannya senang Kaila malah khawatir karena ulah Kenzo. "Ya ampun Papah jangan gitu ah ntar Kenzie jatuh." Kenzo tak mempedulikan ucapan istrinya.


Drttttt Drtttt


Kegiatan mereka terganggu karena suara dering handphone Kenzo.


Kenzo menyerahkan tubuh anaknya pada sang istri, namun anaknya tidak mau melepaskan Kenzo. "Sayang, Papah mau angkat telfon dulu. Kamu sama Mamah dulu ya." Bujuk Kaila pada Kenzie tapi malah mendapatkan pukulan kecil dari anaknya.


Puk


Kenzo dan Kaila kaget melihatnya.


"Kenzie kok gitu sama Mamah, nggak boleh gitu sayang, nggak boleh pukul Mamah." Kata Kenzo menasehati dengan lembut.


"Udah nggak papa, biar Kenzie sama kamu aja. Kayaknya lagi pengen dekat sama kamu." Kenzo hanya menurut dan mengangkat telfon yang terus berdering.


"Dari siapa?" Tanya Kaila penasaran.


"Andi." Jawab Kenzo.


"Halo, ada apa kamu nelfon saya pagi-pagi begini?" Tanya Kenzo to the point.


"Ya ampun bos pagi apanya? udah siang begini masih dibilang pagi." Nah yang atasan disini siapa sih beraninya Andi malah protes pada Kenzo.


Kaila hanya memperhatikan suaminya yang tengah menggendong Kenzie juga sedang menerima panggilan.


"Ada apa nelpon saya?" Kenzo memelankan suaranya karena ada Kenzie.


"Gini ya bos, bos jangan lupa ya kalau ada meeting dengan klien. Klien udah nunggu bos malah belum dateng juga."


Saking kerasnya suara Andi bahkan Kaila sampai bisa mendengar ocehan asisten suaminya itu.


Kenzo membuang nafas kasar.


"Saya kan sudah bilang kalau meeting dimulai pukul 10 sedangkan sekarang masih jam 8. Kamu tau waktu nggak sih??"


"Ya saya taulah tapi,...."


"Tapi apa?... " Tanya Kenzo.

__ADS_1


"Kalau kamu tau ngapain nelfon saya. Saya kemarin kan sudah bilang meeting dimulai pukul 10, dan sebelum ke kantor saya kan sudah bilang ke kamu kalau saya akan ke rumah sakit melihat kondisi Jaehyun dulu." Ucap Kenzo tegas.


Dasarnya Andi itu banyak omong dia terus saja mengoceh di sebrang telfon.


"Tapi kliennya udah datang dan terus nanyain kapan bos datang. Saya harus jawab apa?" Panik Andi terdengar dari suaranya.


"Kamu tinggal bilang kalau meeting dimulai pukul 10, lagian Mariska juga sudah berbicara jauh-jauh hari kalau meeting dimulai pukul 10, kenapa mereka sudah ada di kantor jam segini!! salah siapa coba?"


"Kalau mereka membatalkan kontrak gimana bos?"


"Terserah. Saya akan ke kantor sesuai rencana saya."


Belum selesai Andi menyelesaikan semua unek-uneknya panggilan sudah ditutup secara sepihak oleh Kenzo.


Kaila yang dari tadi mendengar pembicaraan suaminya dan asistennya lewat telpon mendekati sang suami.


"Ada masalah?" Tanya Kaila dengan mengelus bahu kokoh Kenzo.


Terlihat jelas wajah lelah suaminya. Walau sudah mandi tapi kantung mata Kenzo tidak bisa membohongi Kaila.


"Nggak ada kok. Cuma masalah kecil di kantor, nggak usah difikirkan." Kata Kenzo menampilkan senyumnya. Sayangnya Kaila tidak bisa dibohongi hanya dengan senyuman.


"Kamu nggak usah bohong ya. Mamah tau kok Papah lagi ada banyak masalah kantor akhir-akhir ini."


Kenzo menghembuskan nafas.


Apa tadi Kenzo tidak salah dengar. Kaila memarahinya dengan embel-embel Mamah Papah. Lucu.


"Iya maaf, aku nggak bermaksud bohongin kamu. Aku cuma berfikir biar masalah ini aku yang selesaikan." Kata Kenzo dengan lesu.


"Masalah kamu akan terasa makin berat kalau kamu pendam seorang diri." Ucap Kaila dengan tangan yang sudah beralih mengelus rahang Kenzo.


"Aku ini istri kamu, kalau kamu ada masalah atau sesuatu yang mengganggu pikiran kamu mau masalah kantor atau apa, kamu bisa cerita ke aku. Aku bisa jadi pendengar buat kamu menumpahkan segala unek-unek kamu." Tanpa sadar Kaila sudah memeluk pinggang Kenzo.


"Iya, besok-besok aku akan cerita kalau ada sesuatu." Balas Kenzo memeluk istrinya.


Gumpalan daging di tengah keduanya merasa terhimpit dan sesak.


Merasa sesak membuat makhluk di tengah-tengah mereka berteriak mengagetkan orangtuanya.


"Àaaaaaaaaa" Teriak Kenzie.


"Eh." Kaila dan Kenzo menunduk melihat anaknya.


"Cuma peluk Papah masa nggak boleh sih sayang. Mamah iri loh kamu nempel terus sama Papah." Kaila berucap dengan raut dibuat sedih. Kenzo tertawa mendengarnya.


Banyak pasang mata yang melihat keluarga kecil ini. Tak jarang dari mereka merasa iri dan bahagia dengan kebahagiaan suami-istri yang dilengkapi bayi.


Kaila semakin meledek anaknya dengan mencolek pipi tembem Kenzie.


Mungkin lagi sensitif atau apa lagi-lagi Kaila mendapat pukulan di wajahnya oleh si mungil.


Puk


Kaila diam tak percaya mendapat timpukan dari tangan mungil anaknya. "Kenzie nakal ya sekarang, Mamah sedih nih Kenzie nakal, masa pukul Mamah lagi sih." Kaila berpura-pura sedih.


Kenzo menahan tawa melihat ekspresi istrinya.


"Kenzie nggak boleh gitu ya sama Mamah, nggak baik main pukul wanita secantik Mamah kamu." Kenzo membuat Kaila blushing.


"Apa sih kamu kok malah ngajarin Kenzie nge-gombal." Kata Kaila malu-malu.


"Hahahahah," Pecah sudah tawa Kenzo yang melihat istrinya sedang malu.


Baru akan membalas suaminya tapi, suara dering handphone Kenzo memberhentikan kegiatan mereka.


Siapa lagi yang telfon, tanpa melihat nomor pemanggil Kenzo menjawab dengan marah.


"Ada apa lagi Andi?" Geram Kenzo tanpa melihat siapa yang menelponnya.


"Maaf Pak Kenzo, saya suster dari rumah sakit dimana pasien bernama Jaehyun Alexander dirawat."


Oh ternyata bukan asistennya tapi, suster rumah sakit.


"Ohh, maaf saya tadi sedang tidak fokus. Kalau boleh tau ada apa ya sus?" Tanya Kenzo penasaran.


"Saya ingin memberi tahu kalau pasien atas nama Jaehyun sudah sadar, karena hanya Anda yang bisa pihak rumah sakit hubungi dan pihak keluarga tidak ada disini jadi saya menelpon Anda untuk memberi tahu." jelas si suster.


"Ohh kalau gitu saya segera kesana. Makasih infonya sus." Tutup Kenzo mengakhiri panggilan.


Memang benar kalau Kenzo sedari awal memberikan nomer teleponnya kepada rumah sakit karena saat itu belum mengetahui keluarga Jaehyun.

__ADS_1


__ADS_2