
Kaila pun mengikuti bik inah di belakang menuju ruang tengah.
Ternyata di sana sudah ada ibunya yang menunggu kedatangannya.
"Makasih yaa bi." ucap Nyonya Wijaya.
"Iya Bu. Saya ijin kebelakang mau buat minum untuk tamu." kata bi inah pamit yang langsung di angguki oleh nyonya Wijaya.
Kaila yang sedari tadi diam karena malu dan bingung hanya bisa menampilkan senyum dan menatap ibunya.
Rumah siapakah ini? begitu besar dan megah seperti istana pikir Kaila.
"Loh nak Kaila kok masih berdiri aja sih, sini duduk nak." Pinta nyonya Wijaya.
"Eh iya tan, bu eh ehm." Kaila bingung harus menyebut apa.
"Jangan tante, mama aja yah, ya kan mba Aisyah." Hanya anggukan dan senyum yang Kaila tampilkan, karena jujur dia sedang dalam keadaan bingung dan merasa ada yang aneh.
"Anak nya cantik ya mba, mirip mba, sopan dan ramah juga." Nyonya Wijaya tersenyum ke Kaila, jujur Kaila merasa ada yang aneh.
"Makasih mba atas pujiannya, saya juga bersyukur banget bisa memiliki anak seperti Kaila, tapi saya masih belum berhasil membahagiakan Kaila. Saya malah membuat dia hidup dalam kesusahan dan kurang memberikan kebahagiaan padanya." Jelas ibu Aisyah sedih.
"Bu, Kaila ngga minta apa apa kok Bu. Kaila bahagia Bu dengan apa yang selama ini ibu berikan ke Kaila, malah Kaila bersyukur mempunyai ibu, lahir dari seorang wanita yang baik dan mulia seperti ibu sudah lebih dari cukup membuat Kaila bahagia." Tutur Kaila yang membuat ibunya menitihkan air mata.
"Iya mba, bener kata nak Kaila. Mba itu sudah berhasil membahagiakan Kaila, mba sudah hebat dalam mendidik Kaila." jelas nyonya Wijaya seraya mengusap tangan ibu Kaila untuk menenangkannya.
"Ibu sayang Kamu, semoga kamu selalu dilindungi Allah dan selalu diberi kebahagiaan nak." ucap ibu Aisyah.
"Aminnn." Dijawab oleh Kaila dan nyonya Wijaya bersama.
Sedang asik. berbincang tiba-tiba ada suara orang jatuh dan bunyi barang ter tendang yang mengalihkan atensi ketiganya.
Brukkh
Kalian tahu siapa?
Itu ulah Kenzo yang tidak sengaja menabrak meja saat turun dari tangga.
Sontak hal tersebut membuat tiga perempuan yang sedang berbincang menoleh pada sumber suara.
"Hehe, maaf ya nak Kaila, mba Aisyah, itu pasti anak saya." Ucap nyonya Wijaya seraya tersenyum karena malu atas sikap anaknya.
"Gapapa mba," Balas ibu Kaila.
"Aiahh, Emang kebiasaan. Kalau jalan gak liat yang di depan, malah yang ada nyalahin yang di depannya, padahal itu yang di depannya meja." Tutur nyonya Wijaya.
"Haha, anak mba ada ada aja yahh kelakuannya, lucu."
Kaila senang melihat ibunya tertawa, pasalnya ibunya itu jarang tertawa lepas begitu.
Kaila hanya diam menyaksikan kedua wanita di depannya, karena jujur saja ia masih sangat bingung dengan situasi yang dihadapi.
"Mah, besok mejanya di pindah aja yah. Biar gak menghalangi jalan." Teriak Kenzo dari arah belakang sofa.
"Aduh Ken, jangan teriak, mama malu ada tamu juga." Sahut nyonya Wijaya.
"Aduh mba maaf yah atas kelakuan anak saya yang kayak gitu." Bener-benar dibuat malu oleh kelakuan anaknya.
Kaila terdiam sedari tadi mencerna suara pemuda yang di bilang anak oleh nyonya Wijaya.
Suara tadi, seperti pernah mendengar suara orang tadi , dan ken? ken apakah mungkin..
"Kaila, kok melamun sih dari tadi? apa ada sesuatu nak." Sontak ucapan nyonya Wijaya menyadarkan Kaila yang sedang berfikir.
__ADS_1
iya, berfikir siapa sih pemilik suara itu. Ah sudahlah Kaila hari ini terlalu banyak pikiran sampai lupa hal sekecil itu.
"Eh, ngga apa apa kok mah." Ucap Kaila, iya sekarang sudah tak canggung lagi untuk memanggil dengan sebutan mama.
Tiba tiba Kenzo datang dari arah belakang dan menghampiri dua wanita sedari tadi Ken belum sadar bahwa di sana ada perempuan lain juga.
"Mah, besok meja di situ- " Ken menggantung kalimatnya karena melihat ada wanita lain.
"Loh, kamu ngapain ke sini? ngikutin saya? iya. Karena saya belum selesai berbicara makanya kamu ngikutin saya yah," kata Kenzo yang dengan cerewetnya menatap Kaila curiga dan heran kenapa bisa di rumahnya.
Hmm, kayanya nih perempuan suka sama aku deh, maklum lakh orang ganteng mah banyak yang ngejar ngejar ya,
"Heh, ngikutin Anda, jangan GR yah bapak Kenzo yang terhormat, jadi orang kepedean banget." Balas Kaila kesal.
Penuturan Kaila membuat kedua wanita paruh baya di depan mereka mengernyitkan heran.
Setahu mereka anak-anaknya belum pernah bertemu, apalagi sampai kenal seperti sekarang ini. Tapi kenapa sudah akrab.
"Loh, ternyata kalian sudah saling kenal, bagus deh." Ucap Nyonya Amalia.
"Ngga mah, Kaila ngga kenal sama dia, orang nyebelin kaya dia mana Kaila kenal, tadi ngga sengaja dia nabrak aku terus nud-"
Penjelasan Kaila berhenti saat ia melihat Kenzo menatap tajam dan memelototi dirinya.
Jangan, mati aku pasti mama bakal marah nih kalau tahu aku gak sengaja bentak nih cewek.
"Terus apa Kaila?" Tanya nyonya Amalia yang penasaran.
Terbesit sebuah ide dalam otak Kenzo agar Kaila tak mengatakan yang sebenarnya.
"Tadi itu mah, dia ngejar ngejar Kenzo gara gara aku gak kasih nomer HP soalnya dia minta nomer HP Kenzo." Sambung Kenzo menyelesaikan penjelasan Kaila.
Penuturan Kenzo membuat kepala Kaila hampir meledak, mungkin.
"Heh!! jangan membalikkan fakta dan jangan menutupi kebenaran yah tuan Kenzo yang terhormat." Ucap Kaila menekankan kalimat terakhirnya.
"Tuan, tuan, emang aku setua itu." ketus Kenzo mendengar perkataan Kaila.
"Iya, emang tua, makanya pikun sama apa yang udah dilakukan." ucap Kaila yang di balas senyuman oleh mamanya Kenzo.
"Sudah nak Kaila, jangan berantem, nanti malahan jatuh cinta." goda Nyonya Amalia.
"Gak bakalan Kaila jatuh cinta sama orang kayak dia mah." ucap Kaila menatap sinis ke Kenzo.
"Heh, dia itu mamah ku, sejak kapan mama punya bayi lagi, bayi Kawak lagi." ucap Kenzo enteng dengan menatap Kaila yang seakan siap menerkam dirinya.
Kenzo pun berlari agar tak kena pukul wanita yang menurutnya cantik luar biasa.
"Heh, dasar sombong, terlalu pede, sini kau, ku jambak rambut kepalamu itu, kalau bisa akan aku lepaskan agar botak kepala mu, biar kayak Upin." Teriak Kaila dengan mengejar Kenzo yang berlari di ruang tengah.
Mama dan ibunya hanya menyaksikan kelakuan anak-anak mereka yang Absurd.
"Blee, wanita maunya selalu menang, laki laki hanya bisa mengalah, tapi kali ini aku yang akan menang, bwlee, blee, sini kejar kalau mau membotaki, sini kalau bisa ," tantang Kenzo yang membuat Kaila geram.
"Aduh, bisa pecah rumah mama nih. Kalian ngapain sih kaya anak kecil aja." ucap mama Kenzo melihat kelakuan anaknya.
"Aduh, maaf atas kelakuan anak saya" ucap Bu Aisyah tak enak.
"Gpp kok mba." balas mama Kenzo maklum.
"Hm, hm, hm jadi minggu depan tanggal pernikahan kalian." ucap mama Kenzo, sontak saja membuat kedua nya berhenti saling kejar karena kaget akan penuturan mamanya.
"Apa mah? nikah? minggu depan sama perempuan ini." tunjuk Kenzo pada Kaila.
__ADS_1
"Iya, kamu kan dengar dengan jelas kan." tekan bu Amalia pada anaknya.
"Tapi, mah.." Rengek Kenzo.
"Hahh, Apahh. " Teriak Kaila yang sontak membuat kaget orang di sekitar.
"Telat. Kaget kok di akhir, dasar perempuan aneh." ucap Kenzo yang heran dengan sikap perempuan bernama Kaila.
"Apa? nikah minggu depan, dengan dia, gak salah." Tunjuk Kaila ke Kenzo.
"Iya sayang, mau kan ngabulin permintaan mama sama ibu kamu." ucap mama Kenzo.
"Ken, tadi katanya kamu udah setuju mau nikah, ibunya Kaila juga saksi nya loh kamu ngomong mau nikah." Imbuh mama Kenzo.
"Bu, ini beneran bu? ngga nge prank Kaila kan Bu." Rengek Kaila meminta penjelasan.
"Iya sayang. Maafin ibu yah, ibu cuma pingin liat kamu ada yang jaga, ibu pingin kamu bahagia sama laki-laki yang baik." Tutur ibu Kaila.
"Mah, gimana yah, Ken udah terlanjur bilang mau, tapi masa sih sama dia, sikapnya aja aneh, beda sama ibunya yang halus, lembut, baik hati, ramah, murah senyum, solehah." Tutur Kenzo panjang lebar tak lupa jarinya menunjuk Kaila.
"Hih, ga usah bedain deh. Aku tuh ya mirip ibuku dia kan ibu ku. Ingat tidak di kantor sempat bilang apa tentang ibuku? ingat nggak!" tekan Kaila membuat Kenzo merasa malu telah mengatakan hal yang tidak baik mengenai bu Aisyah.
Sebisa mungkin Kenzo menyembunyikan rasa malunya di depan Kaila.
"Mirip apanya? beda jauh kaya kutub utara dan selatan. Nggak ada mirip-miripnya." Lirih Kenzo yang masih bisa didengar oleh Kaila.
"Apah.." Teriak Kaila yang tak terima dengan ucapan Kenzo.
"Sudah-sudah. Jadi mau kan minggu depan kalian menikah? " Tanya mama Kenzo memastikan
"Lakh aku sih mau aja, tapi masa minggu depan? aku minggu depan ada rapat mah sama klien dari Aceh karena ini proyek besar." Nego Kenzo.
"Ya udah karena kamu tadi bilang minggu depan ada rapat penting, jadi untuk pernikahannya.. "
Kaila dan Kenzo menunggu kalimat selanjutnya yang akan nyonya Amalia ucapkan.
"Dua hari lagi yah, titik tanpa spasi dan tanpa penolakan." sambung nyonya Wijaya berhasil membuat keduanya terkejut.
"Hah, dua hari." ucap Kaila dan Kenzo barengan.
"Tuh liat mba, barengan. Emang udah jodoh kayanya ini." ucap mama Kenzo yang di balas anggukan oleh ibu Kaila.
"Kok cepat banget, kan yg mau nikah aku mah," Rengek Kenzo.
"Ga ada tapi tapian, lagi pula adik mu mau pulang besok. "
"Alya mau pulang, aduh bakal ribet." ucap Kenzo yang tidak di mengerti oleh Kaila yang masih diam di depan mereka.
.
.
.
.
.
.
.
***
__ADS_1
Jangan lupa berikan dukungan kalian dengan cara klik like, komen, favorit anda rate.