
Lana masih dihadapkan dengan pilihan yang sulit saat ini dan membuatnya bingung harus memilih siapa, apalagi kini ada dua lelaki tampan yang berdiri tepat di hadapannya dan menawarkan tumpangan untuknya pergi ke sekolah. Lana amat bingung dan tak tahu harus melakukan apa, ia ingin memilih Zikri tetapi ia juga tidak mau membuat Arfan merasa kecewa karena ditolak olehnya.
Kini gadis itu benar-benar kebingungan dan hanya bisa terdiam sembari mengusap wajahnya, ia tidak bisa memilih salah satu dari dua orang lelaki yang ada di hadapannya saat ini. Jika itu sampai terjadi, maka pasti Lana akan menyakiti hati dari salah satu lelaki yang ia tolak. Lana tak mau itu terjadi, sebab Lana sangat menghargai siapapun itu lelaki yang mau berkorban untuknya dan menjadi temannya.
"Gimana Lana, kamu udah tentuin keputusan kamu kan? Pasti kamu lebih pilih aku dong daripada si Arfan ini, ya kan?" tanya Zikri lagi.
"Eee aku belum tahu Zik, aku bingung banget mau berangkat ke sekolah sama siapa. Lagian kalian ada-ada aja deh, kenapa coba datangnya mesti barengan kayak gini?" ucap Lana.
"Loh, aku juga gak tahu nih Lana. Aku mah udah datang dari awal tadi, eh terus tiba-tiba si Arfan ini malah ngikut-ngikut kesini," ucap Zikri.
Arfan yang merasa tersindir mulai terpancing emosi dan tidak nyaman dengan perkataan Zikri barusan, jika saja tidak ada Lana disana maka pasti Arfan sudah melampiaskan emosinya kepada Zikri dengan cara menghajar pria itu. Namun, di depan Lana ia harus menjaga imagenya dan tidak boleh terlihat terlalu kasar karena khawatir Lana akan ketakutan.
"Yaudah Lana, kamu pilih aku aja sih! Katanya kamu kemarin udah dianterin sama dia, nah sekarang gantian dong kamu sama aku aja!" ucap Arfan.
"Dih mana bisa gitu? Itu curang dong namanya, biarin Lana milih sendiri dia mau dianterin sama gue atau lu! Kan lu tadi juga bilang sendiri, kita harus bersaing secara sehat!" tegur Zikri.
"Ya ini sehat kok, dengan Lana milih gue itu udah paling adil disini!" ucap Arfan membela diri.
Zikri dan Arfan masih terus berdebat disana dan tidak terima dengan ucapan mereka masing-masing, hal itu tentunya membuat Lana semakin merasa pusing dan bingung harus memilih siapa agar tidak terjadi keributan lagi disana. Gadis itu sangat bimbang saat ini, tak tahu harus memilih antara Zikri atau Arfan yang ada di hadapannya.
"Zikri, Arfan, ayolah udah dong jangan kayak gitu ah!" ucap Lana menengahi kedua pria itu.
Akhirnya Zikri serta Arfan kompak terdiam setelah Lana menegur mereka, ya keduanya kini tampak saling tertunduk dan malas untuk menatap wajah satu sama lain. Lana yang melihat itu sontak menggeleng pelan, rasanya ia seperti tengah mengurus dua orang anak kecil yang hobi bertengkar karena memperebutkan sesuatu.
"Kalian tuh kenapa malah pada ribut sih? Kalau emang kalian berdua sama-sama mau anterin aku ke sekolah, yaudah kita berangkatnya pake mobil aja gimana?" ucap Lana memberi usul.
"Hah? Maksudnya gimana?" Zikri dan Arfan kompak bertanya karena tak mengerti.
"Iya, jadi kita bertiga ini ke sekolahnya naik mobil. Gimana, adil kan?" jelas Lana.
Tak hanya Zikri, bahkan Arfan pun terkejut bukan main mendengar usul yang diberikan Lana saat ini bagi mereka bertiga. Tidak mungkin tentu Zikri dan Arfan akan setuju, karena mereka sangat tidak ingin berduaan dalam satu mobil. Apalagi, niat mereka datang ke rumah itu adalah untuk bisa pergi berdua bersama Lana yang mereka incar.
•
•
Alex dan Keisha kini tiba di apartemen, ya mereka sudah selesai berbelanja dan kini hanya tinggal beristirahat disana untuk menenangkan diri. Apalagi, Alex sebelumnya sempat terbawa emosi saat bertemu dengan Revan di supermarket. Untung saja Alex masih bisa menahan diri, jika tidak pasti sudah terjadi keributan disana.
Keduanya pun terduduk di sofa secara berdampingan, tangan Keisha tak henti-hentinya menggenggam telapak tangan sang suami. Dapat dirasakan bahwa saat ini Alex masih terbawa emosi setelah pertemuan singkatnya dengan Revan di supermarket tadi, padahal Keisha sudah berulang kali mengatakan pada Alex untuk sabar.
"Mas, kamu kenapa masih emosi aja sih? Kamu pengen banget ya nonjok Revan, hm?" tanya Keisha pada suaminya.
Alex menatap ke arahnya tanpa ekspresi, ia menghela nafas sembari menggeleng perlahan dan mengelak dari tuduhan istrinya itu. Alex memang emosi, tapi ia tidak ingin memukul Revan dan menambah masalah diantara mereka. Alex tahu apa konsekuensi yang ia dapat nanti, apabila ia masih tidak bisa menahan dirinya.
"Aku mah gak gitu lah sayang, aku udah jadi orang baik sekarang. Aku bukan pengen tonjok Revan, tapi aku cuma pengen kasih tahu ke dia supaya gak melakukan tindakan bodoh itu lagi," ucap Alex.
__ADS_1
"Ya ya ya, aku percaya sama kamu mas. Aku salut kalau emang kamu maunya cuma begitu, keren kamu mas!" ucap Keisha memujinya.
"Hahaha, iya dong sayang kan aku mau berubah jadi suami yang baik buat kamu. Aku harus selalu nurut sama kamu dan enggak nyakitin kamu lagi supaya kamu gak sedih," ucap Alex tersenyum lebar.
Keisha sangat senang dengan ucapan yang dilontarkan Alex barusan, ia semakin yakin jika Alex memang benar-benar berniat berubah. Keisha pun berharap Alex bisa terus seperti ini, karena Alex yang dulu sudah terlalu banyak menyakitinya. Apalagi, seringkali juga membuat Keisha bersedih dan pergi dari rumah karena tingkah buruknya.
"Yaudah, aku mau makan nih. Kamu mau ikut gak sama aku sayang?" ucap Keisha menawarkan.
"Ya jelas lah sayang, kalau aku gak makan nanti aku kurus dong. Sekarang aja aku udah kurus begini, ditambah gak makan mah bisa-bisa aku semakin kurus nanti," ucap Alex sembari memegangi perutnya yang dianggap mengecil.
Keisha tertawa mendengarnya, "Apanya yang kurus sih mas? Ini masih gendut begini loh, makan kamu aja banyak banget tau!" ucapnya meledek.
Alex terkekeh saja sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, ia senang setiap kali bercanda dengan istrinya seperti saat ini. Rasanya tak ada yang bisa mengalahkan kebahagiaan itu, Alex amat menginginkan hal itu terus terjadi. Tak hanya Alex, Keisha pun juga merasakan hal yang sama dan tidak mau semua berakhir begitu saja.
Lalu, secara tiba-tiba Alex merangkul Keisha dan mendekapnya erat dari samping seraya mengusap lembut tubuhnya yang mulus. Alex juga mengecup puncak kepala sang istri, menandakan betapa cintanya ia kepada wanita itu. Keisha yang diperlakukan manis oleh Alex, merasa semakin tersipu dan nyaris terbang ke awang-awang.
"Aku sayang banget sama kamu Keisha, aku mau kita terus begini dan gak ada lagi masalah diantara kita! Aku bosan ribut terus sama kamu," bisik Alex tepat di telinga istrinya.
"Aku juga mas," balas Keisha lirih.
•
•
Disisi lain, Shella masih terjebak bersama Zayn di sebuah cafe yang menjadi favorit bagi pria itu untuk sekedar duduk atau menenangkan diri. Zayn sengaja membawa Shella kesana, tentunya ia mau jika Shella lebih mengenal tentang dirinya. Walau Shella agak merasa risih dan tak menyukainya, namun gadis itu hanya bisa pasrah menuruti perintah si pria.
"Zayn, aku masih bingung sama kamu. Ini kamu tahu darimana sih soal minuman favorit aku? Perasaan aku gak pernah kasih tahu info apa-apa deh kamu, kamu mata-matai aku ya?" ucap Shella curiga.
Zayn menyeringai, "Gak gitu Shella, aku ini kan suka sama kamu jadi ya wajar aja kalau aku tahu tentang kamu. Soal minuman favorit mah masih terlalu gampang, banyak kok yang udah aku tahu tentang kamu selain ini," ucapnya.
"Hah? Kamu tuh beneran udah gila ya? Kenapa sih kamu sampe ngelakuin ini?" kaget Shella.
"Ya karena aku suka sama kamu, aku mau kamu jadi pacar aku. Itu aja kok Shella, simpel kan? Makanya ayo kita jadian dong!" ucap Zayn.
"Dasar gila! Aku gak akan mau jadi pacar cowok kayak kamu, titik!" ucap Shella tegas.
"It's okay, kita tinggal tunggu waktu aja. Aku yakin kok lambat laun kamu pasti bisa terima aku nanti," ucap Zayn.
Keyakinan Zayn membuat Shella sampai memutar bola matanya, gadis itu khawatir jika Zayn memiliki rencana buruk untuk memaksa Shella mau menerima cintanya. Tentu saja Shella tak ingin semua itu terjadi, apalagi Zayn bukanlah sosok lelaki yang baik menurutnya dan juga tidak cocok untuk dijadikan seorang kekasih yang suka melindungi.
"Aku tuh heran deh sama kamu, kenapa kamu selalu aja bicara kayak gitu tiap kali aku tolak kamu? Emang kamu seyakin itu ya kalau aku bakal berubah pikiran, hm?" ucap Shella keheranan.
"Gak perlu heran Shella, aku begitu ya karena aku tahu kamu juga suka sama aku," ucap Zayn pede.
Shella geleng-geleng kepala dengan apa yang dikatakan Zayn barusan, kepedean Zayn memang patut diacungi jempol karena pria itu selalu saja yakin kalau Shella akan mau menerimanya. Padahal, Shella sama sekali tak pernah berpikir untuk menjadi kekasih dari pria seperti Zayn yang dikenal kasar dan juga pemaksa serta menakutkan.
__ADS_1
"Kamu mau makan atau enggak nih, ngemil minimal?" tanya Zayn lagi kepada gadisnya.
"Gausah, minum aja cukup kok. Lagian kamu kan udah janji kalau kita gak akan lama-lama disini, aku juga masih ada urusan lain," jawab Shella.
"Oh ya, urusan apa emangnya sayang?" Zayn terlihat penasaran dibuatnya.
"Kamu gak perlu tahu, udah deh cepetan kamu habisin itu minuman supaya aku bisa cepat juga pergi dari sini! Aku bosan tahu lama-lama disini sama kamu," ucap Shella dengan ketus.
"Ahaha, sekarang kamu boleh bosan sayang. Tapi, nanti kamu malah nyariin aku loh!" kekeh Zayn.
Shella melongok dibuatnya.
•
•
Jam istirahat telah tiba, Lana yang baru keluar dari kelasnya dibuat kaget ketika Zikri sudah berdiri di depannya saat ini sambil membawa sebatang coklat di tangannya. Sontak Lana merasa terkejut dan tampak tak percaya, karena sebelumnya ia tak membuat janji atau apalah itu dengan Zikri untuk pergi ke kantin bersama-sama di waktu istirahat.
Namun, kini secara dadakan Zikri malah datang ke depan kelasnya dan tersenyum lebar tanpa berkata apapun. Lana yang bingung hanya bisa menggeleng perlahan seraya mendekati pria tersebut, jujur Lana tak tahu harus bersikap bagaimana saat ini. Gadis itu amat ketakutan, terlebih di sekitarnya terdapat cukup banyak wanita yang juga mengidolai Zikri.
"Zikri, ngapain kamu berdiri di depan kelas aku kayak gini? Apa kamu pengen bikin aku dibenci sama banyak orang?" tanya Lana dengan bingung.
Zikri tersenyum dan melangkah ke dekat Lana secara perlahan, ia raih satu tangan gadis itu dan meletakkan batang coklat di telapak tangannya. Lana pun turut membalas senyuman pria itu, ditatapnya coklat tersebut sembari mengernyitkan dahi karena penasaran mengapa Zikri harus memberikan coklat kepadanya.
"Ini coklat buat kamu Lana, coklatnya manis kok semanis kamu. Semoga kamu suka ya, soalnya ini bukan coklat sembarangan loh! Aku belinya juga butuh persiapan yang panjang," ucap Zikri.
"Hahaha, ada-ada aja kamu. Tapi, makasih banyak ya coklatnya!" ucap Lana agak terkekeh.
"Sama-sama, dimakan langsung aja yuk di kantin! Sekalian ada yang mau aku omongin sama kamu," ucap Zikri mengajak gadis itu pergi.
"Hah? Kamu mau ngomong apa emangnya sama aku? Penting ya?" tanya Lana tampak penasaran.
Zikri hanya diam sambil menahan diri untuk tidak tersenyum, hal itu membuat Lana semakin penasaran dan ingin tahu apa yang hendak dibicarakan Zikri padanya saat ini. Akan tetapi, Zikri sepertinya tidak mau memberitahu sekarang dan hanya ingin Lana ikut bersamanya ke kantin lalu berbicara disana.
"Kita ke kantin aja dulu, abis itu disana baru deh aku kasih tahu ke kamu apa yang mau aku bicarakan sama kamu!" ucap Zikri.
"Umm, aku jadi penasaran deh. Yaudah, ayo kita ke kantin sekarang!" ucap Lana setuju.
"Tentu Lana, kita jalan santai aja gausah buru-buru. Kalo bisa sih sambil pegang tangan aku," ucap Zikri agak malu-malu.
Lana sampai tersipu mendengar ucapan Zikri, dengan gugup ia menggandeng tangan lelaki itu sesuai permintaannya. Zikri pun tampak senang dengan apa yang dilakukan Lana saat ini, karena gadis itu mau menurutinya. Keduanya terlihat amat gugup, terutama Lana yang masih tak percaya akan dapat bergandengan tangan dengan Zikri.
Ya sampai saat ini Lana masih tetap mengidolai sosok Zikri, meski pria itu sudah lebih dekat dengannya dan menganggap dirinya sahabat. Lana akui Zikri adalah pria yang baik dan juga tampan, bahkan sangat pandai. Selain itu, Zikri adalah ketus tim basket yang membuat banyak wanita tergila-gila padanya karena semua keterampilan pria itu.
Kini Lana menjadi wanita yang sangat beruntung di sekolahnya, sebab ia dapat berduaan dengan Zikri dan bahkan menggandeng tangannya. Tak sembarang orang bisa merasakan itu, sehingga Lana pun sangat senang dibuatnya. Apalagi, Zikri secara terang-terangan juga datang ke rumahnya dan mau menjemputnya tadi pagi.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...