
Lana begitu bersedih dengan apa yang baru saja ia ketahui mengenai Zikri, perkataan Dio tadi amat membuat hatinya hancur berkeping-keping dan tak tahu lagi harus bagaimana. Lana sangat kecewa dengan apa yang dilakukan Zikri, tadinya ia kira kalau pria itu sudah benar-benar mencintainya. Namun, ternyata semua dugaannya itu salah karena Zikri dari awal memang hanya mengincar tubuhnya.
Ya Lana sudah menduga itu sebelumnya, karena semenjak Zikri berhasil merenggut kesuciannya pria itu langsung berubah drastis. Sikapnya yang semula romantis dan perhatian, justru mendadak berubah menjadi lebih cuek serta tidak lagi mau datang ke rumah untuk menjemputnya. Selalu saja pria itu beralasan kesiangan, padahal dulu sewaktu belum mendapat keinginannya Zikri selalu tepat waktu.
Lana pun mendatangi taman di sekolahnya, ia terduduk disana seorang diri sembari menatap sekitar. Banyak momen indah yang ia rasakan dulu bersama Zikri disana, tentunya sebelum Zikri berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan. Rasanya Lana ingin memutar balikkan waktu, agar saat ini ia masih gadis dan tidak sedang mengandung anak di luar nikah seperti sekarang.
"Kamu jahat Zikri, kamu tega banget udah lakuin ini ke aku! Aku kira cinta kamu tulus, tapi ternyata semua itu salah! Kamu gak lebih baik dari pengkhianat!" batin Lana.
Lana terus terisak disana, air matanya keluar begitu banyak karena rasa sakit yang ia alami saat ini. Lana bingung harus bagaimana caranya menjawab nanti pada anaknya jika dia sudah lahir, karena pasti setiap anak akan bertanya mengenai papanya. Akan tetapi, sekarang ini Zikri yang merupakan ayah dari bayi itu justru pergi untuk selamanya.
"Kenapa aku harus mengalami nasib seperti ini? Aku benar-benar nyesel udah terima Zikri, lalu terhasut sama godaan dia!" gumamnya dalam hati.
Tiba-tiba saja, ada seseorang yang menyodorkan selembar tisu ke arahnya dan membuatnya terkejut. Sontak Lana mendongak untuk mencari tahu siapa yang datang, ternyata itu adalah Arfan alias pria yang dulu juga sempat menyatakan cinta padanya. Lana pun tampak bingung, ia tak mengerti apa yang dilakukan Arfan disana kali ini.
"Jangan nangis! Nih tisu buat lap air mata kamu, aku paling gak bisa lihat perempuan nangis!" ucap Arfan sambil tersenyum.
Lana pun reflek menyeka air matanya dengan kedua tangan, tetapi kemudian Arfan mendekat dan memaksa untuk membersihkan air mata gadis itu mengenakan tisu miliknya. Arfan juga memegangi lengan Lana dan menatapnya lembut, membuat Lana berpaling lalu merasakan sesuatu yang aneh di dalam dirinya.
"Walau aku gak tahu kenapa kamu nangis sekarang ini, tapi aku tetap bakal ada untuk hibur kamu kok! Sesuai janji aku waktu itu, kapanpun dibutuhkan pasti aku akan bantu kamu!" ucap Arfan.
"Maksud kamu apa sih? Mending kamu pergi deh, aku lagi pengen sendirian!" ucap Lana ketus.
"Gak bisa Lana, mana mungkin aku bisa tinggalin perempuan yang aku sayangi ini disaat dia lagi bersedih kayak gini?" ucap Arfan tegas.
Lana terdiam seketika, ucapan yang dilontarkan Arfan membuatnya semakin bersedih kali ini. Ia teringat saat dulu menolak cinta pria itu dan lebih memilih Zikri yang ia duga juga mencintainya, tapi ternyata justru Zikri hanya memanfaatkannya. Kini Lana semakin menyesal, karena ia telah menelantarkan pria yang dengan tulus mencintainya.
"Kenapa kamu diam Lana? Kalau kamu butuh tempat curhat, aku siap kok buat dengerin semua keluh kesah kamu!" ucap Arfan kembali.
Lana menggeleng pelan, "Gausah Arfan, makasih ya atas perhatian kamu ke aku!" ucapnya lirih.
"Gak perlu terimakasih, sudah jadi tugas aku untuk melindungi kamu Lana. Ingat, aku akan selalu ada buat kamu!" ucap Arfan.
Lana terdiam seraya menatap pria itu, matanya berair menunjukkan betapa terharunya ia pada apa yang dilakukan Arfan saat ini.
•
__ADS_1
•
Alex yang sedang dalam perjalanan menuju rumah, dibuat kaget saat melihat seorang wanita tengah kesulitan di depan sana. Alex pun menghentikan mobilnya, lalu turun dan mendekati gadis itu untuk mengecek apa yang terjadi. Setelah didekati, rupanya gadis itu adalah seorang siswi SMA yang sama seperti adiknya, Lana.
Disaat Alex menegurnya, gadis itu sontak menoleh dan membuat Alex makin terkejut saat ini. Bagaimana tidak, karena ternyata gadis yang ada di hadapannya itu adalah Cherry alias sosok perempuan yang waktu itu sempat memikat hatinya. Alex pun terlihat sangat gugup, terlebih gadis itu juga menatapnya secara intens kali ini.
"Loh Cherry, ternyata kamu yang tadi aku lihat dari jauh? Kenapa sama mobil kamu, hm?" tanya Alex disertai senyum lebarnya.
Cherry hanya diam tak mau menjawabnya, ia masih kecewa setelah mengetahui kebenaran mengenai siapa sosok Alex sebenarnya. Pria itu mengaku padanya belum memiliki pacar, tapi nyatanya Alex sudah menikah dengan wanita lain. Cherry tentu saja merasa jengkel, karena sebelumnya ia sempat ingin menjadikan Alex sebagai kekasihnya.
"Kenapa kamu malah diem? Kamu masih marah sama aku ya Cherry? Pantas aja nomor aku belum dibuka bloknya," ucap Alex lagi.
"Umm, kamu ngapain sih kesini? Sana kamu pergi aja, aku gak mau dianggap pelakor lagi kayak waktu itu sampai baju aku disiram air minum! Kamu pasti ngerti kan maksud aku?" cetus Cherry.
Alex menggeleng pelan, "Kamu tenang aja Cherry, disini kan cuma ada kita berdua! Lagian aku cuma pengen bantu kamu kok," ucapnya.
"Gak perlu, aku bisa telpon montir kok nanti. Kamu mending pergi aja deh, jangan bikin aku jadi merasa bersalah!" pinta Cherry.
Namun, Alex tak mau menurutinya. Ia malah mendekat ke arah gadis itu dan merangkulnya dari samping sambil tersenyum, Cherry tak sempat mengelak karena gerakan Alex yang lebih cepat dibanding dirinya. Alex kini berhasil menyatukan tubuh mereka, lalu menarik wajah Cherry agar mau memandang ke arahnya.
"Kak, lepasin aku! Ingat kamu udah punya istri, jangan kayak gini dong! Aku gak mau dituduh jadi selingkuhan kamu, please!" rengek Cherry.
"Gak Cherry, ayo kamu ikut aku! Mobil kamu biar tinggalin disini ya, aku anterin kamu sampai ke sekolah biar gak telat! Kamu tenang aja, gak akan ada yang mergokin kita kali ini!" paksa Alex.
"Apa sih kak? Kenapa kamu maksa banget buat anterin aku? Aku kan udah bilang gak mau, lepasin aku!" tolak Cherry.
"Sssttt, diam kamu!" titah Alex.
Alex menutup mulut Cherry dengan tangannya, lalu membawa paksa tubuh gadis itu menuju mobilnya. Cherry pasrah dan tak bisa berbuat apa-apa, ia merasa seperti diculik oleh seorang pria tua yang sudah beristri. Cherry ketakutan, namun dirinya juga memilih diam karena khawatir Alex justru akan menyakitinya nanti.
Mereka pun duduk berdampingan di kursi mobil, Alex tak henti-hentinya menatap gadis itu sambil tersenyum menyeringai. Bulu kuduk Cherry berdiri saat ditatap seperti itu oleh Alex, ia langsung berpaling dan berusaha menghindari tatapannya. Cherry tak mengerti mengapa Alex begitu, padahal seharusnya Alex sadar kalau semua ini salah.
•
•
__ADS_1
Singkat cerita, Alex tiba di depan sekolah untuk mengantarkan Cherry. Alex sungguh terkejut, karena rupanya Cherry ini satu sekolah dengan adiknya. Alex pun menatap serius ke arah gadis itu, seolah senang sekaligus tak menyangka dengan semua itu. Namun, sikap Cherry tetap saja jutek padanya dan ingin segera pergi dari hadapan lelaki itu.
Belum sempat Cherry bergerak, Alex sudah lebih dulu mencekal lengannya dan menahan pergerakan gadis itu. Alex tak ingin Cherry pergi darinya saat ini, karena pria itu masih ingin mengajukan banyak pertanyaan kepadanya. Apalagi, Alex baru tahu kalau Cherry bersekolah di tempat yang sama dengan adiknya, yakni Lana.
"Cherry, jadi ini sekolah kamu? Waw gak nyangka banget aku, mungkin ini takdir kali ya supaya kita bisa lebih dekat lagi?" ucap Alex tersenyum lebar.
Cherry mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu apa sih?" tanyanya penuh keheranan.
Alex hanya tersenyum sembari menggerakkan tangannya untuk membelai rambut gadis itu, entah kenapa Cherry tak menolak kali ini dan malah terpejam seolah menikmati sentuhan Alex. Tentu saja Alex semakin berani, bahkan pria itu mendekat ke arahnya dan menurunkan belaiannya sampai pada wajah Cherry saat ini.
"Adik aku juga sekolah disini loh, jadi mungkin setiap hari kita bisa ketemu. Aku senang banget dengan ini, karena jujur aku kangen loh sama kamu Cherry!" ucap Alex yang mulai mengendus tubuh gadis itu.
"Mmhhh, ka-kamu jangan ngaco ya kak! Ingat kamu udah punya istri!" sentak Cherry.
"Aku gak perduli, aku suka sama tubuh kamu Cherry! Wangi kamu selalu bikin aku puas, sampai sekarang aku juga belum bisa lupain ini," ucap Alex.
"Kak, udah ah cukup!" Cherry reflek mendorong tubuh Alex menjauh darinya.
Sontak Alex melepaskan diri dari tubuh Cherry, ia tersenyum lebar seraya menatap intens wajah gadis itu. Ingin rasanya Cherry segera pergi dari sana, tetapi Alex tampak belum bisa membiarkan Cherry pergi begitu saja. Cherry pun tak tahu harus berbuat apa lagi saat ini, terlebih tindakan Alex sungguh membuat dirinya geram dan bingung.
"Kamu mau kemana sih Cherry? Bentar dulu dong, kita bicara dulu disini ya!" bujuk Alex.
Cherry menggeleng, "Gak kak, aku gak mau. Aku takut terlambat nanti, apalagi sekarang udah mau bel bunyi. Kamu lepasin aku dong, ingat istri kamu di rumah!" ucapnya ketakutan.
"Sssttt, jangan bahas orang lain disaat kita sedang berdua Cherry! Aku tahu kamu juga suka sama aku, ya kan?" ucap Alex dengan percaya diri.
Cherry terdiam dan memalingkan wajahnya, ia bingung harus mengatakan apa pada Alex saat ini. Jujur sebelumnya ia memang sempat menyukai pria itu, namun untuk sekarang semua perasaan itu sudah ia hilangkan dari dalam dirinya. Apalagi, semenjak Cherry mengetahui bahwa Alex bukan merupakan pria single dan sudah beristri.
"Aku gak pernah suka sama kamu, jadi jangan kepedean ya! Sekarang kamu lepasin aku, atau aku teriak sekencang-kencangnya!" ancam Cherry.
"Silahkan, kamu teriak aja sebisa kamu! Aku gak larang kok, tapi gak akan ada yang dengar kamu karena disini kedap suara Cherry! Lebih baik kamu nurut aja sama aku, okay!" tegas Alex.
Cherry tak mampu menjawab apapun lagi saat ini, dirinya benar-benar ketakutan dengan apa yang dilakukan Alex padanya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...