
Keisha pun tampak menikmati bubur kacang ijo miliknya yang baru datang itu, ia tak perduli dengan keberadaan Anya di dekatnya yang terus melirik ke arahnya dengan tatapan tajam. Keisha juga tetap berusaha bersikap tenang seperti biasanya, meski di dalam hati ia terus merasa gelisah. Sedangkan Alex sendiri justru terlihat bingung, untuk memakan bubur itu saja Alex sampai harus berpikir lebih dulu.
Sesekali Alex melirik menatap wajah Anya yang berada tepat di hadapannya, pria itu sungguh heran mengapa Anya tak kunjung pergi dari sana. Rasanya Alex begitu risih dengan keberadaan Anya, ingin sekali ia meminta Anya untuk segera pergi karena ia betul-betul khawatir jika nantinya Anya akan bercerita mengenai kejadian yang mereka alami saat di luar negeri lalu.
Namun, sepertinya Anya tidak ada niatan untuk pergi lebih cepat saat ini. Wanita itu terus mengirit-irit bubur kacang hijau miliknya sambil tersenyum memandangi wajah Alex, ia tentu senang dengan kegelisahan yang dirasakan Alex sekarang. Ya dengan begitu, maka pasti Anya bisa membuat hubungan Alex dan Keisha rusak.
"Eh Lex, kok kamu gak dimakan-makan sih itu buburnya? Nanti keburu dingin jadi gak enak loh, udah kamu makan aja gausah ngeliatin aku terus! Aku tahu aku cantik Lex, tapi kamu gak perlu kayak gitu dong!" ucap Anya tiba-tiba.
Alex tersentak dan melongok lebar, begitu juga dengan Keisha yang dibuat kaget dengan ucapan Anya barusan. Keisha spontan menatap ke arah suaminya itu, memastikan sendiri apakah Alex sedari tadi memang memandangi wajah Anya atau itu hanya bualan Anya semata.
"Kamu bicara apa sih Anya? Sejak kapan aku ngeliatin muka kamu? Jangan kepedean deh jadi cewek!" elak Alex.
"Ah masa sih Lex? Tapi kok, tadi kamu kayak curi-curi pandang gitu ke aku? Kamu ngaku aja kali Lex, gak baik loh bohong di depan istri begitu!" ucap Keisha menggodanya.
"Anya, jaga bicara kamu! Aku gak pernah ya kayak gitu, jadi kamu jangan asal bicara!" sentak Alex.
Teriakan Alex barusan membuat seisi warung merasa kaget dan kompak menoleh ke arahnya, tentu saja Alex tampak malu dan mengalihkan pandangannya karena Alex tidak menjadi bahan perhatian disana. Keisha sendiri juga meminta Alex untuk tetap tenang, sikap pria itu tadi memang seharusnya tidak dilakukan saat ini.
"Mas, kamu kenapa kesal banget kayak gitu sih sama Anya? Aku jadi bingung deh, sebenarnya kalian itu ada hubungan apa sih selama di NY? Coba kamu jawab jujur ke aku sekarang, mas!" ucap Keisha.
"Alex, bisa kamu jawab gak tuh pertanyaan istri kamu? Apa perlu aku aja yang jawab sekarang?" Anya menyela disertai senyuman seringainya.
Tentu saja Alex tak terima jika Anya yang bercerita lebih dulu pada Keisha, ia ingin Keisha tahu sendiri darinya agar wanita itu tidak semakin emosi. Namun, ia sendiri bingung harus memulai ceritanya darimana. Ya Alex tidak ingin Keisha kesal setelah tahu semuanya, karena hal itu bisa membahayakan kondisi Keisha dan juga bayi di kandungannya.
"Jangan ikut campur dalam urusan rumah tangga aku, Anya! Kamu bukan siapa-siapa disini, kamu juga gak ada hubungan apa-apa sama kita! Jadi, kamu harus tahu batasan dan gak boleh asal bicara seperti tadi!" ucap Alex menegur Anya dengan keras.
"Ups, maaf dong Lex! Aku kan cuma mau bantu aja loh, barangkali kamu kesulitan jawabnya terus butuh bantuan dari aku gitu," ucap Anya.
"Gak perlu ya, malahan aku aja pengennya kamu cepat-cepat pergi dari sini supaya kamu gak bisa terus-terusan ganggu aku sama istri aku yang lagi menikmati momen berdua!" tegas Alex.
Anya tersenyum saja dibuatnya, tak ada sedikitpun rasa menyesal atau bersalah yang dirasakan wanita itu saat ini. Ya padahal Alex sudah terlihat amat kesal padanya, dan ingin Anya segera pergi dari sana agar tak mengganggunya lagi. Tapi inilah Anya, ya wanita itu memang sengaja ingin mengganggu hubungan Alex dan Keisha agar mereka bertengkar.
"Mas, udah jangan marah-marah mulu! Kamu gak mau kan jadi pusat perhatian orang-orang disini?" ucap Keisha menenangkan suaminya.
"Ma-maaf sayang, aku gak suka aja sama orang ini!" geram Alex.
Setelahnya, Keisha meminta Alex untuk meneruskan makannya dan tidak usah perduli pada ucapan Anya yang sengaja memancingnya. Alex menurut, lalu memakan bubur itu dengan lahap agar bisa cepat pergi dan terlepas dari gangguan sosok Anya.
•
•
Sementara itu, Lana yang hendak pergi ke rumah temannya justru mengalami gangguan di tengah jalan yang membuatnya merasa jengkel. Mobil yang ditumpangi olehnya itu mogok secara tiba-tiba entah karena apa, sehingga Lana kini harus menunggu sang supir membetulkan semula mobilnya agar mereka bisa melanjutkan perjalanan.
Akan tetapi, rupanya proses itu membutuhkan waktu yang cukup lama dan membuat Lana kesal sekaligus tidak sabar. Lana pun mengambil ponselnya dari dalam tas, lalu berniat memesan ojek online untuk mengantarnya. Namun, disaat yang sama sebuah motor berhenti di depannya dan mengejutkan gadis itu.
"Hey Lana!" sapaan dari si pria pemotor itu membuat Lana terkejut, dan spontan menoleh ke arahnya dengan wajah bingung.
__ADS_1
Setelah dipastikan secara langsung, betapa syoknya Lana saat menyadari yang muncul adalah sosok Zikri alias kapten tim basket di sekolahnya yang menjadi idola baginya. Tentu saja Lana langsung tersenyum lebar melihatnya, ini adalah sesuatu yang amat membahagiakan baginya dan dinanti-nantikan dalam waktu yang cukup lama.
"Zikri, kok kamu bisa ada disini sih? Lagi apa?" tanya Lana dengan senyum lebarnya.
"Ah iya nih, gue kebetulan pengen kumpul sama yang lain. Lo sendiri ngapain di tengah jalan kayak gini, mobil lu kenapa tuh?" ucap Zikri.
"Umm, ini loh mobil aku tiba-tiba mogok gak tahu kenapa. Padahal aku lagi buru-buru," ucap Lana.
"Oh lu buru-buru? Bareng gue aja kalo gitu, lu mau kemana nih sekarang?" tiba-tiba Zikri menawarkan tumpangan pada Lana, yang tentu membuat Lana merasa terkejut bukan main.
Lana terdiam seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Zikri barusan, ia melamun memandangi wajah pria itu sambil terus berpikir keras. Lana mencubit pipinya untuk memastikan bahwa ini bukanlah mimpi, ya karena tawaran dari Zikri amat sangat tidak mungkin terjadi dunia nyata. Apalagi, selama ini Lana tahu kalau Zikri tidak pernah menganggapnya.
"Hey! Lana, kenapa malah diam aja sih?" Zikri menegur gadis itu dan mencolek lengannya.
Sontak Lana terkejut dengan sentuhan tiba-tiba dari Zikri, ia reflek menoleh lalu tersenyum dan merasa malu setelah Zikri mengetahui bahwa ia melamun. Lana juga menggaruk rambutnya, sembari menunduk karena rasa malunya. Sedangkan Zikri tampak tersenyum dibuatnya, pria itu juga terus menatap ke arah Lana yang makin terlihat cantik.
"Gapapa kok, aku gak nyangka aja kamu mau anterin aku. Tapi, ini beneran kan kamu tawarin tumpangan ke aku? Bukan cuma bercanda?" ucap Lana.
"Hahaha, ya bener lah Lana. Ayo lu naik aja ke motor gue, gak banyak perempuan yang seberuntung lu Lana dan bisa boncengan sama gue yang ganteng ini!" ucap Zikri dengan pede.
"Iya deh iya," Lana langsung mendekat ke arah motor Zikri dan hendak menaikinya.
"Eh bentar bentar, ini kita mau kemana? Lu jawab dulu tujuan lu, biar gue gak bingung nanti mau antar lu kemana!" ucap Zikri.
"Oh iya ya, aku lupa. Aku itu pengen ke rumah Salwa, kamu tahu kan?" ucap Lana.
"Ohh, enggak." Zikri menggeleng sambil terkekeh dan membuat Lana ikut tertawa.
Zikri mengangguk sambil menyodorkan helm kepada gadis itu, "Nih, lu pake dulu helmnya biar kalo jatuh gak kenapa-napa!" ucapnya.
"Okay, thanks."
Lana pun memakai helm itu di kepalanya, lalu naik ke atas motor Zikri dengan perlahan sambil berusaha menetralkan nafasnya. Lana sungguh gugup dengan itu, apalagi ini kali pertama ia berboncengan dengan pria yang ia sukai. Zikri sendiri juga tampak bahagia, entah karena apa pria itu menginginkan hal ini terjadi.
"Pegangan Lana, biar meminimalisir lu jatuh dari motor gue!" suruh Zikri.
"Hah? I-i-iya iya.."
Lana bertambah gugup dibuatnya, perlahan-lahan ia melingkarkan tangannya di pinggang Zikri sesuai permintaan pria itu. Jantung Lana berdetak semakin kencang, rasanya Lana tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini padanya.
Setelah itu, Zikri bergegas melajukan motornya bersama Lana yang ia bonceng. Zikri juga merasa cukup gugup saat ini, meski sebelumnya ia sudah sering membonceng wanita-wanita lain seperti contohnya Cherry alias gadis yang ia sukai dan ia harapkan dapat menjadi miliknya.
•
•
Alex dan Keisha akhirnya kembali ke rumah setelah puas berolahraga walau hanya sebentar, ya mereka memang lebih lama menikmati waktu di warung bubur kacang hijau tadi. Sepasang suami-istri itu sama-sama turun dari mobil, lalu Keisha tampak menanti jawaban dari suaminya itu mengenai pertanyaan dirinya tentang siapa sosok Anya.
__ADS_1
Saat ini Alex benar-benar gugup, ia sungguh bingung harus memulai darimana ceritanya mengenai Anya yang dulu ia temui di luar negeri. Jika sampai Keisha mengetahui yang sebenarnya, bukan tidak mungkin kalau Keisha akan sangat membencinya. Meski Alex sendiri juga tak yakin bahwa ia melakukan itu pada Anya, namun bukti yang diberikan Anya berhasil membuat lelaki itu kebingungan sekarang.
"Kita udah sampai di rumah nih mas, kamu bisa mulai bicara soal Anya sekarang! Jujur aku penasaran banget loh, aku pengen tahu sebenarnya diantara kamu sama Anya ada hubungan apa sih? Kok kamu sampai ketakutan gitu tiap kali Anya muncul di depan kita?" ucap Keisha.
"Eee kita bahas itu di dalam kamar aja ya sayang? Aku gak mau ada yang dengar nanti dan malah salah paham ke kita, atau ngiranya kita lagi bertengkar kayak kemarin," pinta Alex.
"Enggak mas, aku maunya kamu cerita sekarang juga disini! Ayolah, kamu gak boleh dong menunda-nunda terus kayak gini!" paksa Keisha.
"Bukan maksud aku buat menunda sayang, tapi aku cuma gak mau ada yang dengar. Kalau di kamar kita itu kan lebih privasi, cuma kita berdua yang bisa dengar," ucap Alex.
Keisha merotasi bola matanya dan menghela nafas sembari melipat kedua tangan di depan, ia berpaling ke arah lain seolah menunjukkan betapa kesalnya ia kepada pria itu. Keisha tetap kekeuh ingin Alex berbicara saat ini juga, sebab ia tidak mau menunggu lama dan akhirnya malah Alex kembali membohonginya seperti biasa.
"Pokoknya aku mau kamu cerita sekarang, titik! Kalau kamu gak mau jujur, yaudah aku pergi aja dari rumah ini!" ucap Keisha mengancam.
Alex terkejut dan terbelalak lebar, "Hah? Kamu kok gitu sih sayang? Masa tiap kali kita ada masalah, kamu selalu aja ancam mau pergi? Jangan begini lah Keisha!" ucapnya cemas.
"Yaudah, makanya kamu cerita dong sekarang! Anya itu siapa? Terus apa hubungannya sama kamu?" pinta Keisha.
"Umm itu....."
Alex menunduk dan berusaha mencari jawaban yang pas untuk Keisha saat ini, ia tak mau membuat wanita itu emosi atau syok mendengarnya nanti. Sehingga, Alex ingin memberikan jawaban yang tidak membuat Keisha emosi. Namun, Alex sendiri juga tak tahu harus berkata apa pada Keisha dan ia masih bingung untuk jujur atau tidak.
"Itu apa mas? Jawab!" sentak Keisha yang sepertinya makin kesal dengan sang suami.
"I-i-iya sayang, aku itu ketemu sama Anya di apartemen. Kami kenalan terus lama-lama dia makin berusaha buat deketin aku, sampe sekarang dia malah nyusul aku kesini," ucap Alex gugup.
"Udah gitu doang? Gak terjadi sesuatu sama kalian waktu di luar negeri sana?" tanya Keisha memastikan.
"Ahaha, ya enggak lah sayang. Emang kamu mikirnya apa sih? Kamu ngira aku selingkuh sama dia gitu? Tenang aja sayang, selera aku juga tinggi kali! Mana mungkin aku mau sama wanita penghibur seperti dia?" kekeh Alex.
"Apa??" Keisha terkejut mendengar ucapan Alex barusan, seketika ia semakin curiga dan membuat Alex reflek menutupi mulutnya.
•
•
Dari jauh, tanpa mereka sadari rupanya Anya telah mengintai keberadaan mereka dan tampak tersenyum puas karena tahu lokasi tempat tinggal Alex saat ini. Ya tentu Anya sangat senang, dengan begini ia bisa menghadirkan ancaman yang lebih nyata kepada Alex untuk mengganggu rumah tangganya dengan Keisha.
"Hahaha, bagus bagus! Aku akhirnya tahu juga tempat tinggal kamu Alex, jadi sekarang aku gak perlu repot-repot cari keberadaan kamu lagi!" gumam Anya.
Wanita itu mengambil ponsel miliknya dari dalam tas, lalu memotret halaman rumah Alex sebagai bukti kalau ia pernah datang kesana. Dengan begitu, maka Anya bisa mengancam Alex jika sewaktu-waktu dibutuhkan. Tentunya Anya sudah menyiapkan berbagai rencana untuk dapat memiliki pria idamannya itu, karena masih ada sesuatu yang ia sembunyikan dari Alex.
"Nah dapat, sekarang aku hanya perlu pantau kamu dari jauh Alex. Tunggu tanggal mainnya ya sayang, aku yakin kamu akan jadi milik aku seutuhnya!" ucap Anya sambil terus memandangi Alex dari sana.
"Ehem ehem!" tiba-tiba saja, deheman berat terdengar di telinganya dan membuat ia terkejut.
Sontak Anya langsung membalikkan tubuhnya, lalu melihat sosok pria berdiri di depannya dan menatap ke arahnya dengan tajam.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...