Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 56. Salah sangka


__ADS_3

TOK TOK TOK...


"Kak, kak Keisha!!" Lana terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Keisha dari luar, berharap agar kakak iparnya di dalam sana mau membukakan pintu.


Ya sudah hampir enam jam sejak pulang dari rumah sakit, Keisha terus saja mengurung diri di dalam kamarnya karena kesedihan yang masih ia rasakan dan belum bisa dihilangkan. Ingatan mengenai sosok Alex, masih membekas di dalam hatinya. Bagi Keisha, sangat sulit untuk bisa melupakan atau bahkan mengikhlaskan kepergian suaminya itu.


Meski telah diberi anugerah melalui hadirnya sosok anak di dalam rahimnya, namun entah mengapa rasanya sulit bagi Keisha untuk berbahagia saat ini. Ia memang senang dikaruniai seorang anak, tetapi ia juga kecewa mengapa Tuhan baru memberikannya janin dikala Alex telah meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya dan tak akan mungkin kembali.


Keisha pun terus menangis di dalam kamarnya, ia benar-benar bersedih dan menumpahkan segala air matanya sembari mengingat momen-momen kebersamaan antara dirinya dengan sang suami. Ini semua seperti mimpi, ia tak menyangka akan berpisah dengan Alex secepat ini. Mereka baru saja merayakan anniversary mereka yang pertama kali, tapi tak lama setelah itu Alex justru pergi dan meninggalkan luka di dalam hatinya.


Ketukan-ketukan pintu dari arah luar pun seolah tak digubris oleh Keisha, wanita itu masih asyik melamun membayangkan Alex ada di sisinya. Ia juga terlihat mengusap perutnya yang masih rata itu, berharap jika Alex juga dapat melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan. Pastinya Keisha akan sangat bahagia, bila Alex dapat turut mengelus perutnya seperti kebanyakan para suami.


"Kak, ayo kak keluar dulu! Ini udah waktunya makan malam loh, nanti kak Keisha sakit kalau gak makan!" suara Lana kembali terdengar, membuat lamunan Keisha sedikit terganggu.


Akhirnya wanita itu mau berdiri dan beranjak dari tempat tidurnya, ia melangkah ke dekat pintu sembari terus memegangi perutnya. Perlahan ia mulai membuka pintu tersebut, menemui Lana yang berada di luar dengan wajah sendu dan sembab dipenuhi oleh air mata.


"Hah? Kak Keisha? Ya ampun kak, daritadi kakak nangis ya pasti!" Lana begitu syok melihat kondisi kakak iparnya itu sekarang ini.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Keisha, wanita itu malah menundukkan wajahnya dan tersenyum seolah tidak ada sesuatu yang terjadi padanya. Sedangkan Lana terlihat sangat panik, gadis itu benar-benar mencemaskan kondisi Keisha yang memang tampak tidak baik-baik saja.


"Kak, ini kakak lemas banget loh. Pasti karena kakak belum makan, udah yuk ikut aku aja kita ke meja makan sekarang! Kakak itu harus banyak makan, biar bayi di kandungan kakak sehat!" bujuk Lana.


"Bayi?" Keisha mengucap lirih, kemudian menatap perutnya dan kembali mengusapnya.


"Iya kak, kakak kan sekarang lagi hamil. Aku gak mau ya kalau sampai calon ponakan aku kenapa-kenapa, makanya kakak harus makan!" ucap Lana kembali berusaha membujuk wanita itu.


"Umm, aku juga gak mau bayi aku kenapa-kenapa. Tapi, aku malas banget makan kalau gak ada mas Alex. Kamu aja ya yang makan?" ucap Keisha.


Lana menggelengkan kepalanya, "Kak, ayolah kakak sadar! Bang Alex itu udah gak ada, yang ada sekarang cuma kakak dan bayi di kandungan kakak ini" ucapnya tegas.


"Ta-tapi, mas Alex itu masih ada kok. Aku yakin banget dia masih hidup, Lana!" ujar Keisha.


Lana sampai tak berkutik dibuatnya, sulit sekali bagi Lana untuk bisa membujuk Keisha dan mengajaknya makan malam bersama. Sedari tadi Keisha terus saja menolak, lalu berkata jika Alex masih hidup dan ia yakin bahwa suaminya itu dalam keadaan baik-baik saja.




Disisi lain, Alex keluar dari kamarnya dengan niat menemui Bram di unit bawah. Namun begitu ia membuka pintu, ia malah tanpa sengaja berpapasan dengan Anya yang baru pulang ke apartemen sepertinya. Sontak saja Alex terkejut, pasalnya wanita itu terlihat menggandeng seorang lelaki di sebelahnya dengan erat.


Mata Alex sampai terbelalak lebar melihatnya, ia tak menyangka selera Anya ternyata adalah lelaki yang lebih tua darinya dan dipenuhi brewok. Ada sedikit rasa kecewa di hatinya, ketika tahu bahwa Anya sudah memiliki kekasih. Padahal sebelumnya, Alex sangat berharap untuk bisa mengenal lebih dekat sosok Anya itu dikarenakan dia sangat cantik.


"Hai Lex!" wanita itu menyapanya disertai senyuman serta kedipan mata yang genit, membuat Alex salah tingkah serta kebingungan.


"Eee i-i-iya, hai juga Nya!" Alex juga ikut menyapanya, meski ia masih benar-benar terkejut saat ini.


"Kita duluan ya, Lex?" Alex hanya bisa mengangguk perlahan saat Anya pamot padanya, pria itu bahkan tak mampu menggerakkan tubuhnya.


Setelahnya, Anya pun masuk ke dalam unitnya bersama lelaki tua tersebut. Sedangkan Alex masih tampak memperhatikan ke arah pintu itu, ia sungguh tak percaya kalau Anya yang dikiranya cantik dan polos itu ternyata malah lebih luar dari dugaannya. Alex pun menggeleng cepat, mencoba menghilangkan rasa kagumnya pada gadis itu yang kemarin sempat ia rasakan.

__ADS_1


"Lex!" tiba-tiba saja, Bram lebih dulu datang kesana dan menyapa pria itu sambil menepuk pundaknya.


Alex terkejut, kemudian menoleh ke belakang dan merasa kaget begitu melihat sahabatnya alias Bram ada disana. Padahal baru saja Alex hendak pergi ke bawah menemui Bram, namun kini Bram malah lebih dulu datang kesana. Tentu Alex tersenyum, lalu berusaha menenangkan dirinya.


"Eh lu, baru aja gue mau ke unit lu. Eh malah lu udah kesini duluan," ujar Alex.


"Iya nih, abisnya lu lama sih. Btw lu ngapain tadi ngeliatin unit Anya mulu, suka ya lu sama dia?" tanya Bram penasaran.


"Hah? Enggak bro, gue tuh tadi lihat si Anya masuk sama cowok tua gitu. Gue kaget aja lihatnya, gue kira Anya tuh cewek baik-baik!" jawab Alex.


"Ohh, ya itu sih udah biasa. Anya kan emang suka bawa cowok kesini," ucap Bram santai.


Alex mengernyitkan dahinya, "Maksud lu? Dia bawa cowok beda-beda, apa tetap si tua bangka yang gue lihat tadi?" tanyanya penasaran.


Bram menggeleng perlahan, "Bukan, cowoknya beda-beda. Emang sih pada tua semua, tapi ya mukanya beda. Dari yang gue dengar, Anya tuh kerja jadi pemuas gitu buat cowok-cowok yang mau pakai jasanya," ucapnya santai.


"Wah gila si Anya! Dia jauh-jauh kuliah disini, masa cuma mau jadi cewek pemuas? Kaget gue dengarnya, padahal gue sempat kagum sama tuh cewek!" ucap Alex.


"Hahaha, itu dia bro. Makanya waktu lu kelihatan suka sama si Anya, gue kaget banget!" kekeh Bram.


"Ah sialan lu! Harusnya lu kemarin langsung kasih tahu ke gue, biar gue gak mikirin Anya terus tiap malam!" sentak Alex.


"Yeh lagian lu sih, udah punya bini juga mata masih jelalatan aja!" cibir Bram.


Alex terkekeh dibuatnya, kemudian kedua lelaki itu sama-sama pergi ke bawah untuk melakukan sarapan bersama dan setelah itu tentunya pergi ke tempat servis hp untuk mengecek ponsel milik Alex yang sedang dibetulkan.




Namun, Keisha tetap saja tidak mau pergi sekolah dan ingin berada di rumah membantu Mayra maupun Harry mengurus urusan rumah. Selain karena kehamilannya, Keisha juga khawatir ia akan kembali teringat pada momennya dengan Alex yang memang berawal dari pertemuan mereka di sekolah.


"Kak, kakak yakin gak mau sekolah? Padahal sebentar lagi kakak udah pengen lulus loh, sayang banget kalo kakak gak sekolah!" ucap Lana.


Keisha menatap ke arah adik iparnya itu dengan santai, ia tersenyum tipis lalu bangkit dari tempat duduknya untuk mendekati Lana yang memang kini masuk ke dalam kamarnya. Lana sebelumnya diminta oleh Mayra untuk memanggil Keisha, karena hari ini sudah waktunya Keisha pergi ke sekolah.


"Gak bisa Lana, aku takut ingatan tentang mas Alex terus terbayang nantinya. Sekolah itu kan tempat awal aku ketemu sama dia, pastinya bakal susah buat aku lupain mas Alex kalau aku pergi sekolah," ucap Keisha menjelaskan alasannya.


"Tapi kak, ini demi masa depan kakak juga loh. Masa kakak mau berhenti sekolah?" ucap Lana.


"Gapapa, aku gak perduli lagi sama masa depan aku. Harusnya kemarin aku ikut aja sama mas Alex, biar aku bisa bahagia sama dia di atas sana dan gak menderita begini!" ucap Keisha.


"Hah? Ih kak, kakak gak boleh ngomong begitu! Ingat kak, masih ada bayi kakak di dalam perut kakak itu sekarang!" ucap Lana terkejut.


Keisha menggeleng perlahan, "Mau gimana lagi Lana? Hidup aku sekarang menderita, aku gak bisa terus-terusan kayak gini! Aku rasa baiknya aku nyusul mas Alex aja," ucapnya kekeuh.


"Hus, kak Keisha jangan kayak gitu ah! Aku gak suka ya dengarnya!" tegur Lana.


Keisha memalingkan wajahnya, seolah tak perduli dengan ucapan Lana yang memintanya untuk tetap bersemangat. Bagi Keisha, separuh nyawanya ada pada Alex dan sekarang pria itu telah pergi sehingga Keisha kehilangan separuh dari hidupnya. Ia pun tidak bisa hidup dalam keadaan seperti ini, untuk itu ia memilih ingin menyusul suaminya.

__ADS_1


"Kak, aku mohon kakak lupain niat buruk kakak itu! Kalau sampai kak Alex tahu, dia juga pasti gak akan izinin kakak buat begitu!" ucap Lana.


"Justru aku melakukan ini supaya bisa bersama mas Alex lagi Lana," ucap Keisha tegas.


"Iya kak, tapi gak gitu juga caranya. Hidup kakak masih panjang, kakak gak boleh menyerah gitu aja dong!" ucap Lana.


"Terus aku harus gimana, Lana?" tanya Keisha.


Lana benar-benar bingung dibuatnya, ia coba mendekati Keisha dan merangkul kakak iparnya itu untuk membantu membuat Keisha merubah pikirannya mengenai kematian yang diinginkannya. Tentu saja Lana tak mau itu terjadi, karena Keisha tidak boleh pergi dan harus terus berjuang demi bayi yang ada di dalam kandungannya.




Di sekolah, Zayn kini tampak tengah mencari-cari keberadaan Keisha di sekitar lorong karena ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan wanita itu. Ya Zayn telah tahu kabar mengenai meninggalnya Alex, dan ia tak ingin Keisha terus bersedih karena ditinggal oleh suaminya. Maka dari itu, Zayn hendak menemui Keisha lalu menghiburnya.


Namun, pria itu tidak berhasil menemukan Keisha dimanapun saat ini. Ia juga melihat jam, tampak waktu sudah menunjukkan pukul tujuh dan sebentar lagi bel akan berbunyi. Tak biasanya Keisha belum datang ke sekolah, karena wanita itu selalu datang lebih awal. Zayn pun merasa khawatir, ia takut terjadi sesuatu pada Keisha saat ini.


Tak lama kemudian, ia melihat Tasya yang sedang berjalan seorang diri sembari memegangi ponselnya. Sontak Zayn bergegas menghampiri gadis itu, karena ia tahu bahwa Tasya adalah sahabat dekat Keisha. Ia berharap Tasya bisa memberikan jawaban, mengenai kecemasan yang sedari tadi ia rasakan.


"Eh Tasya, bentar deh bentar gue mau ngomong sama lu!" pinta Zayn.


Tasya memutar bola matanya dan menghela nafas kasar begitu melihat Zayn lah yang tadi menyebut namanya, jujur saja sebenarnya gadis itu sangat malas meladeni pria seperti Zayn. Ia juga tahu Zayn sudah melakukan tindakan yang kurang ajar pada Keisha sebelumnya, yakni memaksa wanita itu untuk menikah dengannya.


"Mau ngapain lu panggil gue, Zayn?" tanya Tasya dengan nada ketus.


"Lu tahu gak dimana Keisha? Gue daritadi cari dia di sekitar sini gak ketemu-ketemu, padahal gue pengen banget bicara sama dia. Gue ada perlu sama si Keisha," jelas Zayn dengan nafas terengah-engah.


"Ohh, lu pengen ketemu sama Keisha? Sorry Zayn, gue juga gak tahu dia kemana. Belakangan ini gue udah jarang komunikasi sama dia," ucap Tasya.


"Masa sih? Gue tahu lu bohong Tasya, mending lu jujur deh dan kasih tahu ke gue dimana Keisha sekarang! Please Sya, cuma kali ini kok gue pengen bicara sama dia!" rengek Zayn.


"Hadeh Zayn, ini udah satu tahun loh. Masa lu masih belum bisa ikhlasin Keisha?" kesal Tasya.


"Emang belum, gue cinta sama dia. Gue tuh yakin dia lagi sedih banget sekarang setelah kepergian suaminya, maka dari itu gue sebagai orang yang cinta sama dia gue mau ada di samping dia buat hibur dia!" kekeuh Zayn.


"Gue heran sama lu, Zayn. Lu itu cowok model apaan sih? Keisha tuh gak cinta sama lu, tapi lu susah amat ya dikasih taunya!" kesal Tasya.


Zayn memalingkan wajahnya, lalu mengusap hidung dan dahinya karena kesal. Pria itu benar-benar bingung harus bagaimana lagi untuk bisa membujuk Tasya agar mau memberitahukan padanya mengenai keberadaan Keisha, sebab hingga kini Tasya selalu saja mengelak untuk menjawabnya.


"Tasya, ayolah jawab pertanyaan gue! Gue cuma pengen tahu Keisha ada dimana, itu doang loh!" Zayn kembali membujuk gadis itu.


Tasya menggeleng cepat, "Gak Zayn, gue gak akan kasih tahu alamat rumah Keisha ke lu! Nanti lu malah sembarangan datang ke tempat dia lagi, gue gak mau ya!" ucapnya kekeuh.


"Gue bisa kasih tahu ke lu kok, Zayn."


Keduanya dibuat terkejut dengan suara seorang wanita yang tiba-tiba muncul itu, baik Zayn maupun Tasya sama-sama menoleh ke asal suara. Betapa terkejutnya mereka, karena Shella lah yang datang dan tadi sempat berbicara seperti itu.


"Shella??" ucap Zayn dan Tasya bersamaan.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2