
Keesokan harinya, Alex terkejut ketika terbangun dari tidurnya dan melihat Keisha tengah terduduk di depan cermin sambil merapihkan rambutnya. Alex menatap bingung karena istrinya itu sudah rapih dengan pakaian seragam sekolahnya, Alex pun bangkit dari tempat tidurnya dan lalu menghampiri Keisha disana serta langsung memeluknya dari belakang dan mengecupi leher sang istri.
Sontak Keisha terkejut bukan main karena ulah suaminya, ia tak menyangka Alex sudah bangun dan berbuat hal seperti itu padanya. Tentu saja Keisha merasa risih, apalagi Alex tidak bisa berhenti menciumi lehernya dan memeluknya erat. Hendak berontak pun percuma, karena dekapan Alex memang begitu erat dan sulit dilepaskan.
"Kamu wangi banget sayang, pagi-pagi begini kamu udah tampil cantik kayak gini! Aku jadi pengen ngelakuin itu lagi deh kayak semalam, kamu mau ya sayang!" goda Alex.
Keisha terkejut dan terbelalak dibuatnya, "Apa mas? Ki-kita gak bisa ngelakuin itu, aku kan mau sekolah. Nanti malam lagi aja ya, mas?" ucapnya.
"Yah iya ya kamu kan masih sekolah, aku sampai lupa soal itu. Yaudah, aku antar kamu ke sekolah ya sayang? Sekalian aku juga pengen nostalgia disana, secara kan udah lama aku gak ketemu sama orang-orang di sekolah itu," ucap Alex.
"Hm, iya mas terserah kamu aja. Udah ah sana kamu mending mandi dulu kalau emang mau anterin aku, kamu masih bau tuh!" ucap Keisha.
Alex langsung menjauh dan melepaskan tubuh Keisha, ia menciumi seluruh tubuhnya lalu tersenyum karena merasa jika apa yang dikatakan istrinya itu benar. Ia pun menurut dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Keisha melanjutkan aktivitasnya dengan berdandan di depan cermin.
Disaat Alex sedang mandi, tiba-tiba saja Keisha merasa mual yang amat sangat pada bagian perutnya. Ia melirik ke arah mandi yang masih tertutup, ia pun bingung harus pergi kemana untuk meredakan rasa mualnya itu. Akhirnya Keisha bangkit, lalu terpaksa mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi dan meminta Alex keluar.
Alex yang tengah asyik mandi tampak terkejut mendengarnya, ia heran mengapa Keisha tiba-tiba memanggilnya dan memintanya keluar dari dalam sana. Dengan sangat terpaksa, Alex pun menghentikan sejenak aktivitasnya karena merasa Keisha sedang memerlukan bantuan. Ia membuka pintu, menemui istrinya tanpa mengenakan apapun.
"Apa sih sayang? Kamu mau ikut mandi lagi, hm?" tanya Alex dengan menggoda.
Keisha menggeleng dan menutupi mulutnya, ia langsung masuk begitu saja ke dalam sana untuk mengeluarkan semua isi perutnya. Alex pun keheranan dibuatnya, seolah tak mengerti mengapa tiba-tiba istrinya mual-mual seperti itu. Alex tampak khawatir, ia menghampiri Keisha dengan wajah heran sembari bertanya apa yang terjadi.
"Kei, kamu kenapa sayang? Kok mual-mual begitu, apa kamu sakit?" tanya Alex cemas, karena melihat kondisi istrinya yang tampak lemas.
Keisha pun menoleh ke arah suaminya setelah merasa lebih membaik, ia tampak bingung harus menjelaskan bagaimana pada suaminya itu mengenai kondisinya. Sejujurnya Keisha sudah tidak sabar ingin mengatakan mengenai kehamilannya, tetapi Keisha telah menyiapkan rencana untuk memberitahu itu pada momen yang pas di waktu anniversary mereka berdua.
"Umm aku....."
TOK TOK TOK....
Beruntung bagi Keisha, ya karena mendadak ada ketukan pintu dari arah luar kamar yang membuat keduanya menoleh secara bersamaan. Baik Alex maupun Keisha, kini sama-sama melangkah ke luar menuju pintu untuk mencari tahu siapa yang datang dan mengganggu momen mereka saat ini.
•
•
Ceklek
Begitu pintu dibuka, rupanya ada Mayra yang berdiri di depan sana dan tersenyum ke arah putra serta menantunya itu. Alex pun menenangkan dirinya dengan cara menghela nafas singkat, karena tadi ia sempat hendak emosi pada orang yang mengetuk pintu kamarnya. Sedangkan Keisha justru terkekeh sembari menatap wajah suaminya, rasanya wanita itu benar-benar gemas dengan sikap Alex saat ini.
Mayra langsung mengerti saat melihat ekspresi Alex begitu menemuinya, ia tahu betul apa yang tengah terjadi di dalam sana tadi sesaat sebelum dirinya datang. Namun, Mayra memang tidak ingin Alex terus-terusan menghajar tubuh Keisha untuk saat ini. Pasalnya, Mayra tidak mau kandungan di dalam rahim Keisha akan terganggu nantinya.
"Kei, kamu udah siap kan? Yuk kita sarapan bareng-bareng di meja, terus nanti kamu langsung berangkat ke sekolah diantar supir!" ajak Mayra.
"Apaan sih ma? Keisha ini istri aku, ya dia berangkat dianterin sama aku lah. Biar aku aja yang antar Keisha ke sekolah, gausah pake supir-supir segala!" ucap Alex menyela dengan tegas.
"Iya deh iya, Keisha istri kamu dan gak boleh ada yang antar dia selain kamu. Mama ngikut aja apa keputusan kamu Alex," ucap Mayra pasrah.
Alex tampak tersenyum lebar seolah puas dengan ucapan mamanya, ia melirik ke arah Keisha dan seketika ia teringat pada kejadian tadi dimana wanita itu mual-mual dan muntah di dalam kamar mandi entah karena apa. Ya Alex pun berniat menanyakan hal itu pada mamanya, karena hingga kini Alex masih penasaran apa yang terjadi pada Keisha sehingga wanita itu terus mual-mual.
"Oh ya ma, aku mau tanya deh. Tadi itu Keisha kan mual-mual, apa jangan-jangan Keisha sakit ya ma?" ucap Alex dengan wajah penasarannya.
Sontak Keisha terkejut saat Alex kembali membahas itu, padahal tadi ia sudah lega karena kedatangan Mayra disana. Kini Keisha pun memalingkan wajahnya serta berharap Mayra tidak menceritakan apa yang ia alami itu kepada Alex, jika sampai Alex lebih dulu mengetahuinya maka pasti rencana yang dijalankan Keisha akan gagal.
Mayra sendiri tampak kebingungan, ia tatap wajah menantunya itu seolah meminta bantuan. Tadinya Mayra juga ingin mengatakan mengenai kehamilan Keisha kepada Alex, namun kemudian mata Keisha memberi kode seakan meminta Mayra untuk tutup mulut dan jangan sampai Alex tahu lebih dulu sebelum Keisha yang memberitahunya.
"Loh emang kamu mual-mual sayang? Apa mungkin karena kamu telat makan ya, sakit maag kamu kambuh sayang?" tanya Mayra berpura-pura khawatir di depan putranya.
"Umm, mungkin begitu ma. Tapi, aku juga gak tahu kenapa mendadak aku kayak gini," jawab Keisha.
__ADS_1
Akhirnya Mayra menyarankan Keisha untuk ikut sarapan bersamanya, ia tidak mau jika terus berbicara mengenai itu dan malah akan membuat Alex mengetahui rahasia bahwa Keisha tengah mengandung anaknya. Alex menyetujui usul mamanya itu, sebab pria itu juga tidak mau jika Keisha terus mengalami sakit perut.
Alex merangkul Keisha membantu wanita itu melangkah menuju meja makan, Keisha tersenyum dibuatnya lalu mengikuti saja langkah kaki Alex tanpa melakukan protes. Mereka bertiga kini sama-sama tiba di meja makan, yang mana disana sudah terdapat Lana serta Harry yang tengah menunggu kehadiran mereka.
Sontak Lana merasa kaget melihat Keisha berada dalam rangkulan Alex, ia pun bangkit dari tempat duduknya lalu menanyakan mengenai kondisi Keisha. Ya sebagai seorang adik ipar, Lana juga mencemaskan kondisi istri dari kakaknya itu dan tidak mau jika sesuatu yang buruk terjadi pada Keisha, apalagi wanita itu sedang hamil.
"Loh kak, ini kak Keisha kenapa? Kok kelihatan lemas dan pucat kayak gitu?" tanya Lana heran.
Alex terdiam saja, ia membantu Keisha duduk di kursi seperti biasa lalu ikut terduduk di sebelahnya untuk memastikan Keisha baik-baik saja. Sedangkan Mayra dan Lana juga kembali duduk disana, meski Lana terlihat masih khawatir karena Alex belum menjawab pertanyaannya tadi.
"Ma, itu kak Keisha kenapa? Dia sakit atau apa? Jawab dong pertanyaan aku, kan aku juga pengen tahu!" ucap Lana pada mamanya.
"Hm, kamu tenang ya Lana sayang! Kak Keisha gak kenapa-napa kok, dia mungkin cuma lemas aja karena belum makan. Tapi, pasti nanti begitu selesai makan dia gak bakal begitu lagi!" ucap Mayra.
"Beneran, ma? Kalau kak Keisha sampai sakit, gimana dong kondisi anak di dalam kandungannya?" celetuk Lana.
Deg
Saat itu juga seluruh orang di meja makan terkejut, termasuk Alex yang belum tahu apa-apa. Pria itu tak menyangka jika sang adik akan mengatakan hal yang di luar dugaannya, seketika Alex langsung menatap wajah Keisha dan coba memastikan kebenaran dari ucapan adiknya tadi.
"Apa maksud kamu Lana? Keisha, emangnya kamu sekarang lagi hamil?" tanya Alex penasaran.
Keisha hanya bisa terdiam dan bingung harus menjawab apa, semua rencananya bisa gagal jika ia mengatakan yang sebenarnya mengenai anak yang sedang ia kandung itu. Namun, pastinya Alex akan terus mencecarnya karena ucapan Lana tadi. Keisha menyesal, karena ia belum sempat memberitahu pada Lana mengenai rencananya.
"Eh, emangnya kak Alex belum tahu ya soal itu? Ups maaf, aku gak tahu. Berarti aku udah lancang ya main ngomong kayak gitu tadi?" ucap Lana reflek menutupi mulutnya.
"Enggak Lana, kamu gak salah. Tapi, emangnya benar kalau Keisha lagi hamil?" ujar Alex.
"Iya kak, beneran kok. Kak Keisha itu hamil waktu kakak berangkat ke luar negeri dan dikira meninggal, jadi mungkin aja yang sekarang dialami kak Keisha itu gara-gara kehamilan dia. Wajar kan?" ucap Lana menjelaskan secara rinci.
"Lana!" Mayra langsung menegur putrinya itu, meski semua sudah terlambat karena Lana telah menceritakannya pada Alex.
"Keisha, bisa kamu jelaskan itu ke aku sekarang kan? Benar kamu hamil, kalau iya kenapa kamu sembunyikan itu semua dari aku?" tanya Alex lirih.
"I-i-iya mas, itu memang benar. Aku hamil anak kamu sekarang, aku minta maaf kalau aku belum sempat cerita soal ini ke kamu. Tadinya, aku mau kasih tahu ini tepat disaat hari anniversary kita yang pertama nanti," jelas Keisha.
Alex pun menggelengkan kepalanya dan tersenyum lebar seolah sedang terbuai oleh kebahagiaan yang tak ternilai, Alex sungguh senang mendengar langsung dari istrinya bahwa sebentar lagi ia akan memiliki anak dan menjadi seorang ayah yang tentunya sangat ia nantikan sejak lama.
•
•
Singkat cerita, Alex tiba di sekolah lamanya dulu bersama Keisha yang ia antar tentunya. Alex tampak memandang ke arah istrinya berada, ia tersenyum lebar lalu menarik wajah wanita itu ke dekatnya dan memberikan kecupan hangat pada keningnya. Tak ada yang bisa mengalahkan rasa bahagianya saat ini, dan Alex seperti tidak ingin berhenti tersenyum.
Keduanya saling memandang satu sama lain, seolah tidak ada hal lain yang lebih menarik dibanding wajah pasangan masing-masing. Alex sangat mencintai Keisha, begitupun sebaliknya. Mereka sama-sama tidak ingin kehilangan diri satu sama lain, karena tak akan mudah tentunya menjalani sisa hidup tanpa keberadaan sang kekasih.
"Kei, kita udah sampai nih. Aku ikut turun ya bareng sama kamu?" pinta Alex.
"Buat apa mas? Kamu mau tebar pesona ya sama cewek-cewek angkatan baru di sekolah kita ini, hm?" tanya Keisha penuh curiga.
"Ahaha, ya gak mungkin lah. Ngapain juga aku kayak gitu? Aku cuma pengen lihat-lihat aja, kan udah lama juga aku gak datang kesini. Lagian aku khawatir kalau kamu jalan sendirian, kamu kan lagi hamil sayang!" jelas Alex.
"Iya deh iya, kamu boleh kok ikut sama aku. Tapi, matanya dijaga loh ya jangan jelalatan kemana-mana!" ucap Keisha mengingatkan.
"Siap bu bos!" ucap Alex patuh.
Setelahnya, mereka berdua pun turun dari mobil dan melangkah menuju area sekolah dengan tangan saling bergandeng satu sama lain seolah tak bisa dilepaskan. Alex betul-betul menjaga tubuh istrinya saat ini, mengingat Keisha tengah mengandung calon bayi penerusnya yang pasti akan membuat Alex sangat bahagia nantinya.
"Ternyata benar ya, gak sekolah beberapa waktu aja udah bikin kangen. Suasananya sekarang juga udah kerasa beda," ucap Alex menatap sekeliling.
__ADS_1
Keisha mengangguk setuju, dan kemudian langkah mereka terhenti saat tiba-tiba Tasya muncul lalu berdiri tepat di hadapan mereka dan menyapa Keisha dengan senyuman lebar. Tasya amat syok ketika menyadari Keisha tengah bersama Alex, padahal sebelumnya Tasya mengira bahwa Alex telah tiada karena meninggal dalam kecelakaan.
"Loh Alex, lu ini beneran? Eh, ini beneran lu? Gue gak salah lihat kan?" kaget Tasya, bahkan gadis itu sampai mengucek matanya berulang kali untuk memastikan jika ia tidak salah melihat.
Alex tersenyum dibuatnya, "Enggak lah, gue tuh emang masih hidup Tasya. Kalian aja yang salah kira kemarin-kemarin," jawabnya.
"Ta-tapi, kok bisa sih? Bukannya lu kena kecelakaan pesawat ya?" tanya Tasya dengan gugup.
Alex menggeleng dan mempersilahkan Keisha untuk menceritakan semuanya pada Tasya, ya karena sekarang Alex sedang merasa malas untuk kembali mengulang ceritanya. Sudah berulang kali ia bercerita pada anggota keluarganya, dan sekarang Alex tidak mau jika harus bercerita juga kepada Tasya yang tampak penasaran itu.
"Iya Tasya, nanti biar gue yang jelasin ke lu deh. Sekarang kita masuk aja yuk, gue pengen duduk di kantin deh!" ucap Keisha.
"Oh okay, lu ceritain disana ya!" pinta Tasya.
Keisha manggut-manggut saja kali ini, ia pun pergi bersama sohibnya itu menuju kantin setelah berpamitan pada suaminya dan meninggalkan sang suami disana begitu saja. Setelah Keisha pergi, tampak Alex masih mengitari seisi sekolah dan memandang sekitar. Jujur, Alex rindu dengan kenangannya di masa sekolah dulu.
•
•
Sementara itu, Shella cepat-cepat menemui Joshua kembali dengan nafas memburu dan langkah yang tergesa. Setelah mencari kesana-kemari, akhirnya Shella berhasil menemukan Joshua yang tengah berdiri seorang diri di kolam renang sekolah. Sepertinya pria itu memang masih bersedih, karena cintanya yang terus saja ditolak oleh Keisha.
Tanpa berpikir panjang, Shella langsung mendekat ke arah Joshua dan menegurnya. Hal itu membuat Joshua agak terkejut lalu menatap wajah Shella dengan bingung, tadinya Joshua ingin langsung memarahi Shella dan memberi pukulan pada gadis itu, tetapi Shella lebih dulu menahannya dan mengatakan kalau dia memiliki berita penting.
"Sabar dulu Jos, jangan marah gitu! Gue punya informasi penting yang harus lu ketahui, ini gawat banget tau!" ucap Shella ngos-ngosan.
"Apaan sih? Udah lu kasih tahu aja sekarang, gausah bertele-tele kayak gitu!" ketus Joshua.
"Huft, iya ini gue mau kasih tahu kok. Tadi tuh gue gak sengaja lihat Keisha yang baru datang ke sekolah, terus gue malah ngeliat juga kalau dia diantar sama Alex kesini!" ucap Shella.
Deg
Sontak Joshua terkejut bukan main mendengar penjelasan Shella, pria itu tak percaya dan malah menarik rambut Shella ke arahnya. Ia jambak kasar rambut gadis itu sampai sang empu merintih, Shella tidak bisa melawan dan hanya mampu merengek meminta dilepaskan karena Joshua benar-benar kejam serta tidak memberi ruang untuknya.
"Lo jangan coba-coba bohongin gue! Alex udah mati, gak mungkin dia bisa antar Keisha ke sekolah!" sentak Joshua cukup emosi.
"Akkhhss sa-sakit Jos! Tolong, gue mohon lepasin! Gue gak bercanda, serius gue lihat pake mata kepala gue sendiri kalau Alex masih hidup! Lo percaya dong sama gue, Joshua!" mohon Shella.
"Apa buktinya, hm?" tanya Joshua.
"Gu-gue emang gak punya bukti, tadi gue keburu panik terus cari lu. Jadi, gue belum sempat foto dia deh," jawab Shella gugup.
"Tuh kan, paling juga lu cuma berusaha nipu gue. Jangan harap gue bakal percaya!" tegas Joshua.
"Enggak Jos, lu bisa lihat sendiri ke depan kalau lu gak percaya! Gue anterin lu deh, tapi sekarang lepasin gue dulu!" ucap Shella.
Setelah berpikir keras selama beberapa detik, Joshua akhirnya setuju dengan usul gadis itu. Ia pun melepaskan rambut Shella, mendorong sedikit tubuh Shella sampai nyaris terjatuh sebelum mengajak gadis itu untuk pergi. Joshua cengkram lengan Shella dengan kuat, lalu membawa Shella pergi dari sana untuk memastikan apakah perkataan Shella tadi benar atau hanya sekedar tipuan.
Shella terus merasa kesakitan karena tangannya yang dicengkeram kuat oleh pria itu, bahkan ia sampai tidak bisa berbuat banyak saat ini selain pasrah. Joshua sungguh kejam padanya, padahal selama ini Shella selalu berusaha bersikap baik pada lelaki itu dan berniat menolongnya untuk bisa mendapatkan Keisha.
Mereka kini berjalan mengelilingi sekolah, berusaha menemukan dimana keberadaan Alex yang dikatakan masih hidup itu. Joshua semakin emosi dibuatnya, lantaran saat ini ia masih juga belum bisa menemukan sosok Alex. Sedangkan Shella juga ikut panik, karena jika sampai mereka tak bisa bertemu Alex maka Joshua pasti akan sulit percaya padanya.
"Mana? Katanya ada si Alex, ini kita udah ke depan tapi dia gak ada tuh. Lu pasti bener kan cuma bohongin gue, awas ya gue bakal hukum lu Shella!" ucap Joshua mengancam.
Shella terbelalak lebar, mulutnya menganga dan jantungnya berdebar-debar karena ancaman Joshua tadi. Ia berusaha mencari cara untuk bisa bertemu dengan Alex kembali, lalu tanpa sengaja matanya menangkap sosok pria yang menabrak seorang wanita di depan sana. Dan ya, Shella kenal betul kalau pria itu merupakan Alex.
"Nah Jos, itu Alex disana!" ucap Shella menunjuk ke arah pria tersebut berada.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...