
Keisha terbelalak mendengarnya, ia semakin panik dan ketakutan karena tidak ingin dilecehkan oleh kedua pria menyeramkan itu. Keisha berhasil menggunakan idenya untuk lepas dari mereka, ya wanita itu menginjak kaki si keriting serta plontos dan berlari dengan cepat.
"Hey jangan lari!!" teriak si plontos.
Kedua lelaki itu terus mengejar Keisha, sampai akhirnya mereka berhasil mendapatkan Keisha kembali dan mendekapnya dari belakang. Keisha tak bisa berontak lagi saat ini, sebab tubuh serta mulutnya dibungkam oleh si plontos dengan sangat kuat dan tidak memberikan Keisha ruang sedikitpun.
"Diam kamu! Atau kami akan berbuat kasar sama kamu!" sentak si keriting.
Keisha menggeleng cepat, ia tentu tidak mau jika si keriting dan plontos memaksanya serta membawa ia pergi ke suatu tempat untuk dijadikan pemuas. Ia akan merasa sangat kotor jika sampai saat ini ia dilecehkan oleh kedua pria itu, karena sampai kapanpun Keisha hanya mengizinkan Alex yang bisa menyentuh tubuh indahnya itu.
Tin tin tin...
Tanpa diduga, sebuah mobil tiba-tiba muncul dari belakang mereka dan membunyikan klakson yang sangat keras. Sontak si plontos serta keriting tampak ketakutan, mereka sama-sama menoleh ke arah mobil dan melihat seorang lelaki turun dari sana dengan pakaian rapih.
Lelaki muda yang tampan itu kini melangkah menghampiri mereka, membuat Keisha merasa lega dan berharap kalau orang itu akan menolongnya kali ini dari jeratan si plontos. Benar saja, tanpa basa-basi lelaki itu langsung meminta kedua pria tersebut melepaskan Keisha saat ini.
"Lepasin dia, kalau enggak—"
"Kalau enggak apa? Lo emang bisa apa bocah ingusan?" si plontos langsung menyela.
Lelaki itu menyeringai dibuatnya, lalu mengambil sesuatu dari dalam jasnya dan menodongkan itu ke arah plontos serta keriting. Ya itu sebuah pistol yang dimilikinya, sontak kedua pria tersebut merasa kaget dan spontan melepaskan tubuh Keisha karena ketakutan dengan senjata itu.
"Gawat, ayo kita cabut dari sini! Orang itu gak bisa dianggap remeh, dia punya pistol!" ucap si keriting.
"Iya bener, yaudah yuk!"
Akhirnya mereka berdua pergi dari sana dan lari terbirit-birit, membuat si lelaki yang tadi membawa pistol terkekeh kecil dan meletakkan kembali pistolnya ke dalam jas. Ia tidak perlu repot-repot menghadapi kedua preman tersebut, karena mereka sudah lebih dulu kabur begitu melihat senjatanya.
Kini lelaki itu tampak menghampiri Keisha yang sedang menangis sesenggukan, ia begitu kasihan melihat wanita seperti Keisha yang hampir dilecehkan oleh orang-orang mesum seperti tadi. Apalagi, ia melihat jelas kalau Keisha masih memakai seragam yang artinya wanita itu adalah seorang pelajar.
Ia pun menyodorkan saputangan ke arah Keisha, meminta wanita itu untuk menyeka air matanya menggunakan saputangan tersebut. Ia ikut merasa bersedih dengan apa yang dialami Keisha saat ini, karena ia paling tidak suka saat melihat seorang wanita tersakiti seperti ini.
"Hey, udahan nangisnya ya! Orang-orang itu udah pergi kok, kamu lap air mata kamu pakai saputangan ini ya!" ucap lelaki itu.
Keisha menoleh ke arah lelaki itu dengan mata berkaca-kaca dan wajah yang sembab dipenuhi air mata, ia terlihat sesenggukan dan menelan saliva nya dengan susah payah saat melihat lelaki itu sudah berada di dekatnya. Sejujurnya Keisha juga masih ketakutan, ia tidak bisa mempercayai lelaki itu begitu saja untuk saat ini.
"Kamu kenapa? Apa saya bikin kamu takut?" tanya lelaki itu dengan wajah bingung.
Keisha hanya menggeleng dengan perlahan, ia bangkit dan menggendong kembali tasnya seolah bersiap untuk pergi. Ia seka air matanya dengan telapak tangan, tanpa memperdulikan saputangan pemberian si lelaki tersebut. Bagi Keisha, setiap lelaki tidak boleh dipercaya begitu saja.
"Maaf, tapi saya gak ada niatan buat nyakitin kamu. Saya justru gak suka kalau lihat perempuan disakiti seperti tadi, jadi kamu tenang aja ya!" ucap lelaki itu berusaha menenangkan Keisha.
Akhirnya Keisha mengurungkan niatnya begitu mendengar perkataan si lelaki, ia kembali menoleh dan menatap wajah lelaki itu dengan perlahan. Keisha merasa tidak enak padanya saat ini, karena sikapnya yang kurang ajar tadi padahal pria itu baru saja menolongnya.
Keisha pun memilih mendekati pria itu kembali, ia terlihat menundukkan kepalanya sembari menaruh barang bawaannya di bawah. Keisha tahu kalau ia tidak seharusnya bersikap cuek pada seseorang yang sudah menolongnya, tapi entah kenapa ia masih belum yakin seratus persen kalau lelaki yang ada di depannya itu benar-benar baik.
"A-aku minta maaf, aku masih trauma karena kejadian tadi!" ucap Keisha gugup.
"Hm, it's okay gapapa. Saya juga gak maksa kamu buat mau bicara sama saya, kalau memang kamu masih trauma ya gak masalah," ujar si pria.
__ADS_1
"Eee tapi makasih ya atas bantuannya tadi? Kalau gak ada kamu, mungkin aku udah—"
"Eits, jangan bicara yang aneh-aneh ya! Mending kita kenalan aja biar enak, nama aku Revan!" lelaki itu menyela dan malah mengenalkan diri di hadapan Keisha seraya mengulurkan tangannya.
"I-i-iya, aku Keisha." dengan gugup Keisha menaikkan tangannya meraih telapak tangan pria itu untuk digenggam.
"Keisha? Nama yang bagus, pantas aja wajah kamu secantik ini!" ucap Revan memujinya.
Keisha tersipu dibuatnya, wanita itu langsung menarik tangannya lepas dari genggaman si pria karena merasa sudah cukup. Lalu, Keisha pun juga berniat pamit pada Revan lantaran hari sudah semakin malam dan ia harus segera pulang. Ia yakin jika pihak keluarganya kini sedang mencarinya dan mencemaskan kondisinya.
"Umm, kalo gitu aku permisi dulu ya? Aku mau cepat-cepat pulang, pasti keluarga aku udah pada nyariin aku sekarang!" pamit Keisha.
"Oh gitu, aku antar aja gimana? Aku takut orang-orang tadi muncul lagi dan gangguin kamu, apalagi ini sudah malam dan gak seharusnya kamu jalan sendirian loh," ucap Revan menawarkan tumpangan.
Keisha sempat berpikir sejenak, namun akhirnya ia memilih menolak ajakan pria itu karena ia juga masih ragu apakah dia benar-benar baik atau hanya berpura-pura. Kini tanpa banyak bicara lagi, Keisha langsung saja berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Revan disana.
Revan tampak terus memandangi punggung Keisha yang perlahan menjauh, sejujurnya ia sangat khawatir akan terjadi sesuatu pada wanita itu jika dibiarkan pergi sendiri. Maka dari itu, Revan memutuskan untuk mengikuti kemana Keisha pergi dengan berjalan pergi.
"Saya gak boleh biarin dia pergi sendiri, disini terlalu rawan dan bahaya. Kalau sampai perempuan itu terluka, saya gak akan maafkan diri saya sendiri!" gumam Revan.
Akhirnya pria itu pun melangkah menyusul Keisha dengan perlahan-lahan, ia ingin memastikan bahwa Keisha baik-baik saja dan tidak terluka. Meski Revan baru pertama kali ini bertemu dengan Keisha, tapi ia merasa kasihan pada wanita itu dan tak ingin sesuatu yang terjadi pada kekasihnya di masa lalu juga terjadi pada Keisha saat ini.
•
•
"Lex, Lex ada kabar genting Lex!!" Bram langsung menghampiri Alex yang tengah melamun di dalam cafe seorang diri sembari mengaduk-aduk minumannya.
"Apaan sih Bram? Apanya yang genting coba?" tanya Alex tampak lesu.
"Ah ini gawat banget bro, gawat parah! Lo disangka mati bro sama orang-orang di indo, termasuk pihak keluarga lu!" jawab Bram dengan tegas.
"Hah??" Alex terkejut bukan main.
Bola mata Alex langsung melotot lebar begitu mendengar kabar yang diucapkan sahabatnya, ia tak menyangka jika sekarang ini dirinya dianggap sudah meninggal oleh para keluarganya. Pantas saja saat ia menghubungi Keisha beberapa waktu lalu, wanita itu terdengar sangat terkejut.
Namun, Alex masih bingung mengapa bisa kabar mengenai meninggalnya ia itu tersebar sampai ke telinga Keisha. Sedangkan saat ini saja ia masih hidup dan dalam kondisi sehat, sontak ia pun kembali bertanya pada Bram untuk bisa mendapat informasi yang lebih jelas.
"Bram, lu tahu darimana soal ini? Kenapa bisa keluarga gue taunya gue udah meninggal? Lo gak asal bicara kan?" tanya Alex penasaran.
Bram menggeleng, "Gak Lex, ini gue barusan aja cek berita kalau ada pesawat yang kecelakaan di laut. Dan di daftar korbannya itu ada nama lu bro, makanya gue yakin banget pihak keluarga lu pasti sangka lu udah koid bro!" jelasnya.
"Haish, iya gue lupa kalau mereka kan gak tahu gue pindah pesawat. Terus gimana ya ini gue jelasinnya ke mereka? Gue gak mungkin diam aja kan bro?" ucap Alex kebingungan.
"Eee kalau saran gue sih, mending lu balik dulu ke indo sekarang terus temuin mereka!" usul Bram.
Alex tersentak dengan saran yang diberikan Bram padanya itu, entah mengapa ia tidak yakin jika saran itu adalah jalan yang terbaik baginya. Ya sekarang ini Alex masih harus menjalani kuliah disana, dan jika ia kembali ke negara asalnya lebih cepat maka dapat dipastikan ia akan kelewatan pelajaran.
"Gue gak mungkin balik kesana sekarang Bram, kan gue masih kuliah. Apalagi kelas gue lagi padet banget sekarang ini," ujar Alex.
__ADS_1
"Itu sih terserah lu bro, gue kan cuma kasih saran aja. Karena cuma itu yang bisa lu lakuin untuk meyakinkan mereka kalau lu masih hidup," ucap Bram dengan santai.
Kini Alex terdiam memikirkan perkataan Bram barusan, ia tidak tahu apakah ia memang harus pulang sekarang atau menetap disana. Pasalnya, selain kuliah ia juga harus mengurus masalahnya dengan Anya agar tak semakin melebar. Alex tentu tak mau jika Anya menyebarkan foto mereka itu, karena pasti ia akan berada dalam masalah besar.
"Lex, sebenarnya lu kenapa sih? Daritadi gue lihat lu ngelamun terus disini, apa yang lagi lu pikirin coba?" tanya Bram tampak keheranan.
Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Alex, sehingga Bram pun terlihat sangat penasaran apa sebenarnya yang tengah dipikirkan oleh sahabatnya itu sampai membuat dia tidak bisa konsen mengenai topik yang mereka bicarakan.
•
•
Keisha kini masih dalam perjalanan pulang menuju ke rumah mertuanya, ia terus saja celingak-celinguk melihat sekitar untuk memastikan bahwa tidak akan ada orang jahat yang mengintainya seperti tadi. Tentunya, Keisha sangat khawatir dan belum bisa melupakan kejadian sebelumnya saat ia hampir saja dilecehkan oleh dua orang pria asing yang ia temui.
Tak lama lagi Keisha berhasil sampai di depan jalan raya, ia pun tampak melebarkan senyumnya lalu mempercepat langkah agar bisa menemukan kendaraan untuk ia naiki menuju rumah. Namun sebelum itu, sebuah mobil lebih dulu berhenti di dekatnya dan membuat Keisha tercengang.
"Kak Keisha!!"
Ya rupanya itu adalah suara Lana, akhirnya Keisha bisa bernafas lega karena sekarang ia tidak perlu khawatir lagi akan terjadi sesuatu yang buruk. Lana telah datang menjemputnya bersama seorang supir, tanpa basa-basi lagi Lana pun mengajak Keisha untuk segera naik ke mobilnya.
Tentu saja Keisha menurut, ia langsung berniat masuk ke dalam mobil itu setelah Lana membukakan pintu. Akan tetapi, tanpa sengaja Keisha melihat keberadaan Revan yang tak jauh darinya saat ini. Ia mengernyitkan dahinya tanda heran, untuk apa pria itu masih mengawasinya dari jauh seperti itu?
Keisha pun tak mau ambil pusing, ia memilih kembali melangkah memasuki mobilnya. Kini Keisha dapat merasa tenang karena kehadiran Lana yang menjemputnya, namun sesekali ia menoleh ke belakang untuk memastikan apakah Revan masih mengawasinya atau tidak. Dan ternyata, benar memang kalau pria itu ada disana.
"Itu kan cowo yang nolongin aku tadi, kok dia ngikutin aku sampai sini ya? Apa dia mau punya niat jahat sama aku?" gumam Keisha dalam hati.
Lana yang duduk di sampingnya merasa heran dengan sikap Keisha yang lebih banyak diam dan terus memandang ke belakang, Lana pun coba mencari tahu dengan cara melihat ke belakang juga. Akan tetapi, Lana tak berhasil menemukan apapun dan dirinya malah terheran-heran.
"Kak, kak Keisha ngeliatin apaan sih? Daritadi kok kakak noleh ke belakang mulu?" tanya Lana heran.
"Eh eee enggak kok, bukan apa-apa. Makasih ya Lana, kamu udah mau jemput aku. Tadi aku panik banget karena hp aku low bat!" ucap Keisha.
"Sama-sama kak, maafin juga ya kalau aku jemputnya telat!" ucap Lana.
Mereka pun saling memandang dan tersenyum lebar, kedua tangannya juga sudah menyatu sembari berpelukan satu sama lain. Keisha tidak ingin menceritakan apa yang tadi ia alami itu, karena ia khawatir Lana akan cemas dan lalu juga bercerita kepada kedua orangtuanya.
•
Sementara itu, Revan merasa lega begitu melihat Keisha masuk ke dalam mobil mewah yang datang menjemputnya. Ia tersenyum lebar, lalu mengambil nafas panjang seraya mengusap dadanya. Kini ia tidak perlu khawatir lagi, karena wanita yang tadi ia selamatkan telah dijemput oleh pihak keluarganya.
"Syukurlah, wanita itu sekarang udah selamat. Saya gak perlu lagi deh pantau dia, semoga aja dia selalu diberikan keselamatan! Biar gimanapun, saya gak mau kejadian yang menimpa Starla terjadi ke wanita lainnya!" gumam Revan lirih.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
...~~~...
...ADA YANG SETUJU KEISHA SAMA REVAN?...
__ADS_1
...ATAU TETAP BERTAHAN SAMA ALEX?...