
Revan terus mencoba menjelaskan pada Alex bahwa maksudnya datang kesana bukan untuk merebut Keisha dari pria itu, atau sekedar mendekati Keisha. Revan akui kalau saat itu dirinya sempat merasa kagum pada Keisha dan menyukainya, tapi setelah mengetahui bahwa Keisha telah memiliki suami maka Revan segera membuang jauh-jauh rasa suka itu dan menyesal pernah merasakannya.
Namun, bagaimanapun juga Alex tak pernah percaya pada Revan meski usaha yang terus Revan lakukan untuk membujuk Alex. Memang Alex adalah tipe orang yang sulit percaya bila sudah emosi, apalagi mengenai istrinya yang sangat ia cintai. Alex tak akan rela bila ada seorang lelaki asing yang ingin mendekati Keisha, meski lelaki itu berkata jika dirinya tidak ingin merebut Keisha darinya.
Keadaan disana makin memanas, Alex sepertinya sudah tidak bisa menahan emosi lagi pada pria di hadapannya. Ia cengkram kerah baju Revan dan bersiap memukulnya, tetapi Revan masih berusaha menenangkan Alex untuk tak melakukan itu. Bukan karena takut atau apa, Revan mencegah Alex hanya agar tidak terjadi keributan disana dan permusuhan diantara mereka harus segera disudahi.
"Lex, saya mohon sama kamu tolong tenang dulu! Kalau kamu kebawa emosi, semuanya akan jadi tidak benar. Kamu dengerin saya, kamu bisa percaya sama saya Alex!" ucap Revan membujuk pria itu.
"Ah banyak omong lu sialan!" Alex mengumpat kesal dan hendak melayangkan pukulannya.
"Kak Alex jangan!!"
Akan tetapi, sebuah teriakan seorang gadis berhasil menghentikan tindakannya itu dan membuat keduanya terkejut. Alex mengurungkan niatnya, satu tangannya itu berhenti tepat di hadapan wajah Revan sebelum sempat menyentuhnya. Alex menoleh ke asal suara, disana lah ia menemukan Lana yang sepertinya baru pulang sekolah.
"Lana, kamu masuk sana jangan ikut campur! Ini urusan orang dewasa, anak kecil gak boleh ikut-ikutan!" ucap Alex.
Lana menggeram kesal, ia tidak terima dibilang anak kecil oleh kakaknya itu. Lana pun terus mendekat ke arah sang kakak dan menarik paksa tangan Alex yang ada di depan wajah Revan tadi, lalu gadis itu menatap Alex dengan serius sampai membuat Alex kebingungan saat ini.
"Aku gak mau kakak ribut sama orang disini, udah deh ayo kakak masuk aja ke dalam terus ikut sama aku!" ucap Lana tegas.
"Lana, kamu udah berani sama aku? Kamu aja yang masuk sana, jangan ikut campur!" tegas Alex.
"Ih udah ayo masuk!" Lana memaksa Alex untuk masuk bersamanya dan meninggalkan Revan disana, gadis itu tidak mau jika Alex terus berkelahi dengan Revan meski ia tak tahu apa masalahnya.
Alex tak bisa berbuat apa-apa, sehingga ia pasrah saja saat Lana menariknya dan membawanya ke dalam rumah. Namun, tampak Alex masih mengacungkan jarinya ke arah Revan disertai pelototan tajam yang bermakna seolah semua urusan diantara mereka belum selesai dan masih akan terus berlanjut.
Revan pun memutuskan untuk pergi dari sana setelah Alex tak terlihat lagi, ia sendiri sebenarnya juga malas meladeni emosi Alex yang tidak bisa dibendung itu. Revan masuk ke dalam mobilnya, kemudian melaju pergi dengan kecepatan sedang sembari memikirkan Keisha yang tengah memiliki masalah dengan suaminya.
•
•
Alex yang ditarik paksa oleh adiknya itu akhirnya berhasil melepaskan diri tepat setelah ia memasuki rumah, kini malah beralih Alex lah yang mendekap tubuh Lana dan menguncinya agar tidak bisa bergerak kemana-mana. Alex terlihat begitu emosi, bahkan Lana tampak ketakutan karena pria itu sulit untuk diberitahu dan tidak bisa menahan dirinya.
Lana pun berteriak sembari berusaha berontak dari dekapan kakaknya itu, sampai kemudian Mayra yang baru muncul tampak terkejut melihat kejadian itu di depan matanya. Sontak Mayra langsung mendekati mereka dan meminta Alex melepaskan Lana yang terus teriak-teriak karena takut, Mayra juga tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Alex, kamu ini apa-apaan sih? Kenapa kamu begitu sama adik kamu sendiri? Lepasin dia, jangan aneh-aneh ya kamu!" ucap Mayra begitu kesal.
"Iya kak, dengerin tuh kata mama! Kakak lepasin aku, ini sakit tahu ih!" sentak Lana.
"Huft, iya iya dasar bawel! Makanya lu itu gausah ikut campur urusan gue, ngapain coba pake sok-sokan pisahin gue tadi!" Alex tampak kesal dan langsung mendorong tubuh Lana begitu saja.
Beruntung Mayra bisa cekatan menangkap tubuh putrinya itu, ia pun menatap kesal ke arah Alex serta menegur tindakan kasar pria itu tadi. Namun, Mayra juga tampak penasaran mengenai apa sebenarnya yang terjadi sampai Alex bisa semarah itu. Mayra coba bertanya pada putranya, karena memang terlihat jelas Alex begitu emosi.
"Lex, emang ada apa sih? Apa yang Lana lakuin ke kamu sampai kamu semarah ini?" tanya Mayra.
"Itu loh ma, aku tadi lihat kak Alex berantem sama cowok di luar sana. Aku cuma gak pengen kakak kenapa-napa, makanya aku pisahin deh mereka biar gak berantem. Eh abis itu kak Alex malah marah banget sama aku," ucap Lana menyela.
Alex kembali dibuat kesal dengan tindakan Lana yang memberikan penjelasan pada Mayra saat ini, padahal pria itu tidak ingin jika mamanya tahu mengenai keributan di luar tadi. Benar saja dugaannya, Mayra kini tampak kaget dan menatap ke arah Alex dengan bingung seolah meminta penjelasan dari pria itu.
"Alex, kamu ribut sama siapa dan soal apa? Terus tadi juga kenapa Keisha masuk sambil nangis-nangis kayak gitu? Kalian lagi bertengkar? Bukannya tadi kalian baik-baik aja ya?" heran Mayra.
Alex amat kaget mendengar ucapan mamanya, ia baru teringat pada istrinya yang memang sedang emosi karena kejadian tadi. Sontak Alex tampak panik, ia tidak mau jika Keisha berbuat sesuatu yang nekat atau pergi dari sana. Bagaimanapun, Alex tetap masih mencintai Keisha dan semua yang ia lakukan ini semata-mata karena ia tidak ingin kehilangan istrinya tercinta itu.
"Umm ma, kalo gitu aku mau ke kamar dulu ya susul Keisha? A-aku takut Keisha kenapa-napa, permisi ma!" ucap Alex yang langsung pergi begitu saja.
__ADS_1
"Hah? Eh Alex, ka-kamu...."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Mayra hanya bisa melongok diam memandangi putranya yang masuk ke dalam kamar demi menemui istrinya itu. Mayra sungguh dibuat penasaran, ia heran apa sebenarnya yang terjadi dan mengapa Keisha tadi masuk sambil menangis. Ingin rasanya ia mencari tahu, tetapi khawatir dianggap terlalu ikut campur.
"Ma, semoga kak Alex sama kak Keisha gak ada masalah besar ya!" ucap Lana lirih.
"Iya sayang, aamiin."
•
•
Ceklek
Alex masuk ke dalam kamarnya kali ini, ia melihat Keisha yang sedang merapihkan baju-bajunya dan menaruhnya ke dalam koper. Tentu saja Alex terbelalak kaget, tanpa basa-basi ia melangkah ke dekat wanita itu dan bermaksud mencegahnya. Alex tidak ingin jika Keisha pergi meninggalkannya, karena hanya Keisha lah yang bisa membuatnya hidup bahagia selama ini.
"Sayang, kamu mau kemana sih? Ngapain coba baju-baju ini kamu masukin ke dalam koper, ha?" tanya Alex dengan cemas.
Keisha menoleh ke arahnya dengan mata sembab yang dipenuhi air mata kesedihan, wanita itu tak menjawab apapun dan malah kembali meneruskan aktivitasnya. Sesekali ia juga terisak karena memang hatinya masih sakit mengingat kejadian di rumah sakit tadi, rasanya ia juga belum percaya mengapa Alex tega melakukan hal itu.
Pria itu langsung bergerak cepat menahan kelakuan Keisha saat ini, ia raih tangan sang istri dan mencekalnya supaya tidak bisa kembali memasukkan baju-baju itu. Alex memaksa Keisha menatap ke arahnya, lalu meminta wanita itu berhenti melakukan apa yang seharusnya tidak dia lakukan sekarang ini.
"Kei, cukup ya! Aku gak mau kamu kayak gini terus, semua ini gak bener sayang! Kamu harus tetap tinggal di rumah ini sama aku, dan kamu gak boleh kemana-mana!" tegas Alex.
"Apa sih mas? Aku malas ya tinggal sama kamu disini, apalagi kamu terus aja tuduh aku yang enggak-enggak. Asal kamu tahu mas, hati aku sakit banget waktu dengar kamu mau coba lakuin tes DNA atas janin anak kita ini!" ucap Keisha.
"It's okay Keisha, iya aku sadar aku salah. Aku tahu semua itu gak bener dan menyakiti hati kamu, makanya aku minta maaf sekarang sama kamu. Aku mohon, maafin aku ya sayang!" rengek Alex.
"Ish, lepasin aku mas! Kamu mending jangan sentuh aku lagi deh, kan aku ini wanita kotor!" ucap Keisha.
"Sa-sayang, aku minta maaf sama kamu. Tolong jangan tinggalin aku ya sayang!" bujuk Alex.
Keisha hanya diam dan memalingkan wajahnya, tapi tiba-tiba Alex menariknya lalu mendekap erat tubuhnya sembari menangis terisak. Alex sepertinya benar-benar menyesali apa yang telah ia lakukan kepada Keisha, pria itu tidak ingin kehilangan Keisha dan meminta Keisha tetap disana bersamanya agar hidupnya bisa lebih berbahagia.
"Aku janji sama kamu, aku gak akan ungkit masalah ini lagi. Aku percaya kok kamu gak mungkin selingkuh di belakang aku, aku juga yakin kalau anak ini anak aku! Sekarang kamu urungkan niat kamu ya sayang, please!" ucap Alex merengek.
"Mas, aku—"
"Sayang, ini semua demi anak kita loh. Kalau kamu pergi, kasihan nanti anak ini gak bisa merasakan yang namanya kasih sayang seorang ayah loh!" ucap Alex menyela lebih dulu.
Keisha terdiam memikirkan itu, memang ada rasa ragu di dalam dirinya saat ia ingin pergi dari sana. Akan tetapi, rasa sakit yang ia rasakan sudah sangat besar dan membuatnya tidak tahan jika harus terus berada di rumah itu bersama suaminya. Apalagi, Alex dengan teganya meragukan bayi yang sedang ia kandung sekarang ini.
•
•
Disisi lain, Shella terkejut ketika tiba-tiba ada orang yang menekan bel pintu apartemennya dari arah luar. Karena penasaran dan ingin tahu siapa yang datang kesana, akhirnya Shella memutuskan bangkit dari tempat tidurnya lalu berjalan ke arah pintu. Gadis itu membukanya, dan betapa terkejutnya ia ketika melihat bahwa Zayn lah yang muncul saat ini.
Zayn tersenyum menyapanya, melambaikan satu tangannya disertai senyuman lebar yang membuat Shella terdiam karena syok. Shella tak menyangka Zayn akan datang kesana setelah sebelumnya pria itu mengetahui nomor unitnya, ya Shella pun lebih banyak diam saat ini karena tidak tahu harus berbicara apa di hadapan Zayn yang notabene adalah pria yang sempat ia benci.
"Zayn, lu ngapain ke unit gue sih? Gak ada Keisha disini, jadi mending lu cari dia di rumahnya aja deh! Oh ya, gue yakin lu pasti belum tahu kabar soal Alex masih hidup kan?" ucap Shella.
Pria itu malah terkekeh dibuatnya, Shella yang melihatnya pun sontak terheran-heran sekaligus bingung mengapa Zayn seperti itu. Padahal, harusnya Zayn terlihat emosi dan ingin merebut kembali Keisha dari tangan Alex seperti apa yang dulu dia lakukan. Namun, sikap Zayn saat ini seolah-olah tidak perduli dengan hal itu.
"Lu kenapa malah ketawa? Gue bicara serius tahu, Alex masih hidup!" ucap Shella.
__ADS_1
"Iya saya tahu kok, saya udah dengar kabar itu. Kamu gak perlu repot-repot buat kasih tahu saya soal itu, Shella. Lagian saya udah gak ada urusan lagi sama Keisha, jadi mau Alex masih hidup atau enggak itu gak ada pengaruhnya buat saya," ucap Zayn.
"Hah kok gitu sih? Emangnya lu udah gak cinta sama Keisha? Hey ayolah Zayn, lu harus sadar dan jangan menyerah kayak gini! Masa lu mengaku kalah dari si Alex sih?" ucap Shella mencoba memprovokasinya.
Zayn menggeleng perlahan, "Enggak Sel, saya cuma pengen belajar mengikhlaskan semuanya. Itu makanya saya kemarin sempat menghilang beberapa hari, karena saya ingin mencoba menghilangkan Keisha dari pikiran saya," ucapnya.
"Ohh, berarti bukan gara-gara authornya salah sebut nama lu ya?" tanya Shella memastikan.
Pria itu menggeleng sembari menahan kekehan yang hendak keluar, untungnya ia tidak jadi tertawa dan bersikap tenang seperti sebelumnya. Kini ia melipat kedua tangannya di belakang, lalu berjalan mendekati Shella dan memberikan tatapan tajam padanya. Shella yang ditatap seperti itu sontak merasa gugup, dia belum pernah mendapatkan hal semacam itu sebelumnya.
"Zayn, gausah macam-macam deh! Mundur lu, atau gue teriak supaya security bisa datang buat usir lu!" ucap Shella cemas.
"Santai aja Shella! Saya gak ada niat untuk menyakiti kamu kok, saya cuma mau kasih solusi aja buat semua permasalahan kita. Kamu juga ditolak sama Alex kan?" ucap Zayn.
Shella terbelalak mendengarnya, "Maksud lu apa? Solusi apa coba?" tanyanya keheranan.
Zayn semakin melangkah ke dekat gadis itu dan membuat Shella memundurkan langkahnya karena khawatir Zayn akan bertindak di luar batas saat ini, tapi kemudian Zayn berhasil mencengkram lengan Shella dan mendorongnya hingga menyentuh tembok. Zayn memajukan wajahnya, lalu membisikkan sesuatu di telinga gadis itu.
"Iya solusi, kenapa kita enggak pacaran aja? Jadi, kita gak melulu sakit hati karena ditolak sama Keisha dan Alex. Kamu setuju gak?" bisik Zayn disertai seringaian tipisnya.
Deg
Betapa terkejutnya Shella ketika mendengar ucapan yang keluar dari mulut Zayn barusan, gadis itu tak menyangka jika Zayn dapat berpikir seperti itu. Ya bahkan sebelumnya, Shella saja tidak mengira kalau Zayn akan mau mengajaknya menjalin hubungan dan melupakan Keisha.
•
•
Malamnya, Keisha dan Alex tengah berkumpul di meja makan bersama keluarga mereka untuk menikmati dinner yang istimewa. Keisha tampil sangat cantik malam ini, sehingga membuat Alex tak bisa berpaling dari tubuh istrinya itu dan terus saja memandanginya sambil tersenyum serta sesekali menggodanya.
Keisha yang merasa diperhatikan oleh suaminya hanya tersenyum dan berusaha menghindari tatapan mata dengan lelaki itu, karena Keisha masih sedikit merasa kecewa pada apa yang Alex perbuat sebelumnya dan wanita itu belum benar-benar memaafkan suaminya. Kekecewaan Keisha tidak mungkin bisa hilang semudah itu, apalagi Alex sudah berbuat hal yang di luar batas.
Baik Mayra maupun Harry sama-sama tidak tahu menahu mengenai masalah yang menimpa pasangan suami-istri itu, mereka sebagai orang tua juga tidak berhak ikut campur ke dalam urusan rumah tangga putra mereka itu. Bagaimana pun juga, Mayra yakin kalau Alex sudah dewasa dan pasti bisa mengatasi masalahnya sendiri.
Namun, tampaknya Mayra masih sedikit penasaran sekaligus ingin tahu mengapa Keisha bisa sampai sesedih itu tadi siang. Belum pernah Mayra melihat Keisha menangis deras seperti itu dan terlihat sangat emosi, akhirnya Mayra pun beralih menatap Keisha di depannya untuk menanyakan kondisi wanita itu saat ini.
"Keisha, kamu baik-baik aja kan sayang? Kalau kamu dan Alex lagi ada masalah, semoga cepat diselesaikan ya! Kamu itu lagi hamil, gak baik loh sedih terus kayak gitu!" ucap Mayra.
"I-i-iya ma, ini aku juga udah gak sedih lagi kok. Aku sama mas Alex baik-baik aja," ucap Keisha gugup.
Mayra bernafas lega dan tersenyum lebar mendengar jawaban dari menantunya itu, setidaknya ia bisa merasa tenang jika memang Keisha sudah tidak sedih atau emosi lagi seperti siang tadi dan sudah merasa lebih baik. Meski begitu, Mayra masih belum yakin sepenuhnya mengingat bisa saja Keisha tengah menyembunyikan kesedihannya agar Mayra atau Harry tidak mencurigainya.
"Betul itu ma, aku sama Keisha mah gak ada masalah apa-apa kok. Kami ini kan saling mencintai, jadi paling kalau ada salah paham ya gak lama kami udah saling baikan dong. Mama sama papa gak perlu khawatir lagi ya!" timpal Alex.
"Ah masa? Buktinya tadi kata mama, kak Keisha sampai nangis deras banget loh. Hayo, kak Alex udah apain kak Keisha?" ucap Lana menyela.
"Lana! Kamu gak boleh kayak gitu ya, jangan ikut campur urusan kakak kamu!" tegur Mayra.
Lana hanya bisa menunduk dan merengut, gadis itu mendengus kesal lantaran ia selalu saja dianggap sebagai anak kecil dan tidak boleh ikut campur atau angkat bicara setiap kali ada masalah. Padahal, Lana sendiri merasa bahwa ia sudah cukup umur dan pantas untuk diajak berbicara walau pun itu oleh orang yang sudah lebih dewasa darinya.
"Lex, dijaga ya istri kamu ini! Wanita seperti Keisha itu jarang loh, dia selain cantik dan baik, juga setia banget loh sama kamu. Bahkan selama kamu gak ada disini, Keisha selalu aja mikirin kamu. Malahan cuma Keisha yang yakin kalau kamu masih hidup," ucap Harry tiba-tiba.
Saat itu juga Alex terdiam membisu, dua bola matanya mengarah ke wajah Keisha yang terlihat hanya diam sambil tersenyum tipis itu. Alex benar-benar merasa bersalah kali ini, perkataan papanya barusan semakin menambah keyakinan di dalam diri Alex kalau memang Keisha tidak pernah berselingkuh di belakangnya dan ia telah melakukan sebuah kesalahan besar.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...