
Alex yang tengah terbawa emosi, memilih melipir sejenak di atas sebuah jembatan dan turun dari motornya untuk sekedar menenangkan diri. Ia tak mau membahayakan dirinya sendiri untuk saat ini, sebab ia harus tetap sehat agar bisa selalu menjaga dan melindungi adiknya. Alex pun terlihat berdiri di pinggir jembatan, ia menatap ke bawah yang mana kondisi sangat ramai dipenuhi oleh kendaraan.
Pikirannya terus terarah pada perkataan Rizky dan Tio di markas tadi, sungguh ia tak menyangka kalau apa yang terjadi pada adiknya adalah ulah dari Reno alias mantan temannya dulu. Alex menyesal karena tidak bisa menjaga Lana dengan benar, sehingga gadis itu harus bertemu Zikri di hidupnya. Andai saja ia bisa lebih memerhatikan Lana, mungkin ini semua tak akan terjadi pada wanita itu.
"Aaarrrgghhh..."
Teriakan keras dikeluarkan oleh Alex, ia benar-benar melupakan semua amarahnya dengan teriakan tersebut. Meski kondisi sangat ramai, namun tak membuat nyali Alex ciut untuk melakukan itu. Apalagi, hanya dengan cara seperti itulah Alex bisa meredam emosi dalam dirinya. Alex tak ingin adiknya terluka, akan tetapi ia sudah kalah satu langkah dibanding Reno saat ini.
"Kurang ajar lu Reno, dasar biadab! Kalau sampai gue ketemu sama lu lagi nanti, gue bakal abisin lu!" geram Alex.
Kondisinya benar-benar kacau, ia kembali mengeluarkan teriakan kencangnya itu sembari mengacak-acak rambutnya. Tak ada yang lebih disesalkan olehnya, selain dirinya yang tidak bisa menjaga Lana dengan baik. Alex pun juga tak tahu harus berkata apa nantinya pada kedua orangtuanya, ia khawatir jika mereka akan memarahi Lana dan bahkan menghukum gadis itu.
"Kak Alex!" tiba-tiba saja, suara lirih terdengar di telinganya dan membuat pria itu terkejut.
Sontak Alex mengalihkan pandangannya, ia menatap ke asal suara dan mencari siapa orang yang memanggilnya itu. Setelah dilihat-lihat, rupanya Cherry lah yang tadi bersuara dan kini berdiri tepat di hadapannya. Gadis itu melangkah sambil tersenyum lebar ke arahnya, lalu berhenti tepat di dekatnya dan tak berhenti memberikan senyumannya.
"Kak, ngapain disini teriak-teriak begitu? Pasti kak Alex lagi ada masalah ya?" tanya Cherry dengan nada lembut.
Alex menggeleng pelan, "Gak kok, aku cuma mau tenangin diri aja. Kamu sendiri kenapa bisa ada disini? Emangnya kamu mau kemana?" jawabnya berbohong.
"Ohh, tadi aku kebetulan lewat sini aja. Terus aku gak sengaja lihat kamu disini, makanya aku turun buat mastiin kamu baik-baik aja," ucap Cherry.
Alex tersenyum lebar mendengar jawaban dari Cherry, ia senang saat ada orang yang perduli dengannya seperti gadis itu. Tanpa ragu, Alex mendekat ke arah Cherry dan berniat merangkul gadis itu sebagai tanda terimakasih. Namun, Cherry yang terkejut malah menghindar karena tidak ingin Alex menyentuhnya sembarangan.
__ADS_1
"Eh eh, kamu mau ngapain kak? Jangan aneh-aneh deh, ingat kamu udah punya istri!" tegur Cherry.
Alex menggaruk tengkuknya, "Hehe, maaf ya Cherry? Aku emang suka kelepasan gitu sih kalau berduaan sama cewek," ucapnya sambil terkekeh.
"Hadeh, bahaya banget sih kamu! Kalau tadi kamu peluk aku terus ada yang lihat kayak waktu itu gimana, hayo?" ucap Cherry.
"Ah itu mah gak ngaruh, yang penting kan aku tetap setia sama istri aku," ucap Alex.
Cherry menggeleng perlahan mendengar ucapan yang dilontarkan Alex barusan, pria itu mengatakan jika dirinya setia, tetapi nyatanya Alex malah nyaris saja memeluk wanita lain. Jika Cherry yang menjadi istri dari pria itu, maka pasti Cherry akan merasa cemburu dan tidak terima ketika suaminya menyentuh wanita yang bukan istrinya.
•
•
Pria itu turun dari motornya, tampak ia sudah membawa sebuah parcel di tangannya yang akan ia berikan kepada Lana. Arfan berharap jika parcel buah itu bisa meredakan kesedihan di hati Lana, meski ia belum tahu pasti apa masalahnya. Perlahan Arfan pun menekan bel, ia sudah tidak sabar ingin segera menemui sosok wanita yang ia cintai itu.
Tak lama kemudian, muncul seorang wanita dari dalam sana yang keluar untuk menemuinya. Arfan tersenyum lebar kali ini, sebab wanita itu adalah Keisha alias kakak ipar Lana. Tentu saja Arfan harus bersikap ramah dan sopan di hadapan Keisha saat ini, agar jalannya lebih mulus untuk bisa jauh mendekati Lana dan mengejar cintanya.
"Eh, kamu ini teman sekolahnya Lana kan? Kalau gak salah, nama kamu Arfan ya?" ucap Keisha menebak-nebak.
Arfan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, ia merapihkan rambutnya agar terlihat lebih rapih di hadapan Keisha. Sedangkan Keisha sendiri masih terus menatap pria itu, Keisha heran mengapa sikap Arfan terlihat begitu berbeda kali ini. Keisha juga penasaran, apa sebenarnya niat Arfan datang ke rumahnya dengan membawa sebuah parcel.
"Iya betul kak, saya Arfan temannya Lana di sekolah. Saya kesini karena mau ketemu sama Lana, soalnya saya khawatir sama dia sih kak," ucap Arfan menjelaskan maksudnya.
__ADS_1
"Oh gitu, yaudah ayo saya antar kamu ketemu sama Lana di dalam!" ucap Keisha mengajaknya.
Arfan mengangguk setuju dan mengucapkan terimakasih kepada Keisha, mereka pun bergerak bersama-sama memasuki rumah itu. Arfan tampak tidak sabar untuk segera bertemu dengan Lana, lalu berbincang banyak dengannya. Apalagi, saat ini ada yang perlu ia tanyakan pada gadis itu mengenai mengapa Lana menangis di sekolah tadi.
"Lana!" saat di dalam, Keisha langsung memanggil adik iparnya itu yang tengah bersandar di sofa sambil menonton televisi.
Sontak Lana terkejut, ia menolehkan wajahnya ke arah sang kakak yang baru masuk. Matanya terbelalak lebar ketika melihat ada sosok Arfan juga di sebelah Keisha saat ini, sungguh Lana tak menyangka dan spontan bangkit dari duduknya. Lana pun terus menatap wajah Arfan, seolah bertanya-tanya apa urusan pria itu datang kesana.
"Lana, ini ada teman kamu. Dia katanya mau ketemu sama kamu, kamu ajak dia ngobrol dulu ya Lana! Aku buatin minuman buat kalian sebentar di dapur," ucap Keisha sambil tersenyum.
"I-i-iya kak..." Lana setuju saja kali ini.
Setelahnya, Keisha pun pergi dari sana membiarkan Arfan berduaan dengan Lana. Kini dengan malu-malu, Lana mengajak Arfan untuk terduduk di sofa bersamanya sembari menunggu minuman buatan Keisha nanti. Dengan senang hati Arfan menurutinya, lalu keduanya sama-sama duduk disana dan saling menatap wajah satu sama lain.
"Oh ya Lana, ini aku ada parcel buah untuk kamu! Semoga kamu suka ya!" ucap Arfan menyerahkan parcel di tangannya kepada gadis itu.
"Umm, makasih ya Arfan! Kamu pake repot-repot segala bawain ini buat aku," ucap Lana tersipu.
Arfan tersenyum lebar dan merasa senang saat Lana mau menerima pemberian darinya, meski terlihat Lana masih tampak malu-malu dan bingung harus berbicara apa lagi padanya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1