
Lana manut saja ketika dibawa menuju sebuah apartemen oleh Zikri, ia tak memikirkan hal negatif apapun dan begitu mempercayai kekasihnya. Padahal, Zikri sendiri telah memiliki rencana buruk yang akan dia lakukan saat ini pada Lana. Hanya saja, Lana memang terlanjur percaya pada Zikri dan tidak mempunyai pikiran buruk padanya karena yang ia tahu Zikri adalah orang baik-baik.
Sesampainya di depan unit pria itu, kini Lana diajak untuk masuk ke dalam dengan alasan Zikri ingin mengenalkan unit apartemen miliknya. Lagi-lagi Lana mengangguk kecil, menyetujui ajakan Zikri tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Bagi Lana, pria di hadapannya itu adalah orang baik yang tidak mungkin menjebaknya atau berniat untuk melakukan sesuatu hal yang buruk dan tidak diinginkan olehnya.
"Nah sayang, ini dia apartemen aku. Emang gak terlalu besar sih, tapi cukup lah buat aku tinggal sehari-hari. Gimana menurut kamu, bagus gak?" ucap Zikri sambil tersenyum.
Lana menatap sekitar, mengetuk dagunya seolah berpikir untuk menjawab pertanyaan dari kekasihnya itu. Menurutnya, kondisi apartemen pria itu memang cukup bagus dan menarik. Apalagi, disana juga terdapat ruangan yang luas serta berbagai fasilitas yang membuat mata Lana melongok seolah tak percaya jika bisa ada banyak fasilitas disana.
"Umm, ini sih lebih dari bagus ya Zikri. Aku aja kayaknya bakal nyaman tinggal disini," ucap Lana.
"Oh ya? Wah pas banget dong tuh, kenapa kamu gak tinggal aja disini bareng sama aku? Pasti kan asyik banget nanti, jadinya kita bisa sama-sama terus tanpa harus berpisah. Bukannya kamu sering sedih kan tiap kita pisah?" usul Zikri.
"Iya sih kamu benar sayang, tapi gak gitu juga kali. Kita kan belum nikah, mana boleh tinggal satu atap?" ucap Lana menolak.
"Hahaha, iya aku bercanda kok sayang. Ya kecuali kamu mau coba tinggal disini satu atau dua malam gitu, gak masalah lah ya?" ujar Zikri.
Lana sampai terbelalak mendengar kata-kata Zikri, ia menatap wajah pria di sebelahnya itu dan tampak terheran karena Zikri sepertinya benar-benar ingin dirinya menetap disana. Lana pun dibuat bingung, karena sebenarnya ia belum berani untuk menginap di tempat orang lain. Apalagi, orang itu adalah lawan jenis sekaligus pacar barunya.
"Kita lihat aja nanti ya sayang? Sekarang aku boleh duduk gak?" ucap Lana.
"Boleh dong, yuk duduk! Aku buatin minuman sekalian buat kamu, okay?" ucap Zikri.
Lana setuju dengan usul dari pria itu, lalu Lana pun terduduk di sofa yang tersedia dan terus menatap ke sekeliling. Sedangkan Zikri berjalan menuju dapur untuk membuatkan minuman, karena pasti Lana akan merasa haus jika terus berbicara. Sebagai kekasih yang pengertian, tentunya Zikri ingin membuat Lana semakin yakin padanya.
Setelah itu, Zikri kembali ke tempat Lana berada dengan membawa segelas minuman. Ia letakkan gelas itu di atas meja, kemudian mempersilahkan Lana untuk meminumnya. Lana langsung menurut, karena gadis itu kebetulan memang sedang haus. Tanpa berpikir panjang, Lana segera meminum minuman itu sampai tersisa setengah.
"Gimana sayang, segar gak rasanya?" tanya Zikri sambil tersenyum dan menatap wajah gadisnya dari jarak dekat.
Lana mengangguk kecil, "Segar banget, makasih ya sayang!" jawabnya lirih.
"Oh ya, kalau kamu capek mau istirahat masuk aja ke kamar aku ya! Disana udah ada AC nya juga kok, jadi kamu gak akan kepanasan. Soalnya aku lihat-lihat, kamu ini kayak kecapekan gitu abis jalan-jalan sama aku," ucap Zikri.
"Hm, dikit sih. Iya nanti aku pake kamar kamu buat istirahat ya," ucap Lana.
Zikri pun hanya tersenyum dan menggenggam telapak tangan Lana, ia usap dengan lembut sembari menggeser posisi duduknya.
•
__ADS_1
•
Kini pasangan kekasih itu berada di kamar, Lana terlihat cukup kagum dengan kamar pria itu karena sangat luas dan disertai banyak hiasan. Namun yang membuatnya makin kagum, disana juga terdapat beberapa foto dirinya. Lana pun spontan menatap berbagai foto yang terpajang disana, ia tak menyangka Zikri akan melakukan itu.
Zikri sendiri tersenyum saja melihatnya, ia senang karena Lana telah melihat langsung bahwa dirinya menyimpan cukup banyak foto gadis itu di kamarnya. Zikri tahu kalau Lana pasti akan gembira setelah melihat semua itu, apalagi tampak ekspresi Lana yang begitu senang dan tak henti-hentinya memancarkan senyum indahnya.
"Kamu sejak kapan koleksi foto-foto aku di kamar kamu, sayang? Kok aku bisa sampai baru tahu sekarang sih?" tanya Lana pada kekasihnya.
Zikri mendekat dan menggenggam dua tangan gadisnya, ia sedikit menarik bahu gadis itu agar menatap ke arahnya. Lana terdiam saja, tatapan matanya terus mengarah ke wajah sang kekasih yang kini tepat di depannya. Jantung Lana berdegup cukup kencang, tampaknya Lana sangat gugup ketika berada sangat dekat dengan Zikri.
"Iya sayang, maaf ya kalau aku kurang ajar! Tapi, aku udah simpan semua ini dari lama. Aku itu kagum banget sama kamu, dan aku selalu pengen kamu ada di dekat aku. Maka dari itu, aku terpaksa koleksi foto-foto kamu disini," jawab Zikri.
"Ya ampun sayang, sampe segitunya ya kamu pengen aku dekat sama kamu! Aku gak nyangka loh," ucap Lana terheran-heran.
"Begitulah, aku kalau udah suka sama seseorang pasti akan seperti ini. Aku harap kamu gak marah ya, atau kamu gak suka karena aku simpan foto-foto kamu di kamar aku?" ucap Zikri.
"Umm, suka kok. Gak ada salahnya juga kamu ngelakuin ini," ucap Lana.
"Terimakasih sayang," lirih Zikri.
Lana menganggukkan kepalanya, lalu perlahan Zikri mulai mendekati gadisnya dan menarik dagu gadis itu agar memudahkannya untuk melakukan apa yang ingin ia lakukan. Lana tak berkutik sama sekali, gadis itu membiarkan Zikri untuk melakukan apapun itu. Benar saja, Zikri kini mengusap bibirnya dan lalu memberi kecupan singkat disana.
Mata Lana terbelalak seketika, perlakuan Zikri benar-benar membuatnya terkejut bukan main. Tak berhenti sampai disitu, Zikri juga mulai berusaha membuka mulut Lana dan melakukan ciuman panas bersama gadis itu. Zikri tahu Lana belum pernah melakukan ini sebelumnya, untuk itu Zikri akan mengajarkan Lana caranya.
Setelah puas bercumbu, akhirnya Zikri mengakhiri semua itu dan melepaskan bibirnya. Ia tatap wajah gadis di hadapannya dengan tajam sembari mengusapnya lembut, sedangkan Lana masih tak menyangka dengan apa yang baru mereka lakukan. Gadis itu terus memegangi bibirnya, membayangkan kejadian bersama kekasihnya tadi.
"Lana, kamu sudah pernah berciuman sebelumnya?" tanya Zikri dengan lirih.
Lana menggeleng sebagai jawaban, ia tak mampu bersuara saat ini karena jantungnya yang berdetak lebih cepat. Suasana hati Lana tidak karuan, apa yang Zikri lakukan tadi sungguh di luar dugaan dan ia sama sekali tak menyangka. Namun, Zikri kemudian mengajaknya duduk di ranjang dan terus membelai rambutnya.
"Aku akan ajarkan banyak hal ke kamu hari ini, aku pastikan kamu bakal merasakan sesuatu yang belum pernah kamu rasakan!" bisik Zikri.
"Hm?" Lana mengernyit dan begitu penasaran.
Tanpa diduga, Zikri mendorong tubuh Lana untuk berbaring di ranjang dengan dirinya berada tepat di atas tubuh gadis itu. Lana sampai tak bisa berkedip dibuatnya, terlebih saat Zikri mencengkram dua tangannya lalu meletakkannya tepat di atas kepala. Zikri juga kembali berbisik di telinganya, membuat tubuh Lana meremang seketika.
•
__ADS_1
•
Sementara itu, Alex tengah berkumpul bersama istri dan anaknya saat ini. Mereka tampak begitu bahagia seolah tidak ada beban yang mereka rasakan, baik Alex maupun Keisha sama-sama merasa senang dan berharap ini akan terus terjadi. Keisha sudah tak ingin bertengkar dengan suaminya, untuk itu Keisha percaya kalau Alex pasti dapat berubah.
Alex akui kalau dirinya memang belum bisa merubah kelakuan buruknya, setiap kali bertemu wanita cantik Alex selalu saja tergoda dan tidak bisa menahan dirinya. Seperti kejadian saat di mall, Alex yang tak sengaja bertemu dengan Cherry justru merasa terpesona pada kecantikan gadis itu dan ingin sekali dapat bertemu dengannya kembali.
"Mas, apa kamu gak ada kerjaan hari ini? Tumben banget kamu masih di rumah, biasanya udah pergi gak tahu kemana. Apa kamu udah mulai bosan cari kerja?" tanya Keisha dengan wajah bingung.
Alex yang tengah menggendong Kenzie dibuat kaget saat istrinya bertanya seperti itu, entah mengapa Alex merasa jika Keisha tidak menyukai keberadaan dirinya disana dan justru ingin ia pergi ke luar seperti biasanya. Padahal, hari ini Alex sengaja tidak pergi kemana-mana untuk bisa menikmati waktu bersama keluarga kecilnya itu.
"Kamu kok nanyanya begitu sih sayang? Apa kamu gak suka aku ada di rumah, hm?" ujar Alex.
"Bukan mas, kamu ini sensitif banget sih! Aku itu heran aja, biasanya kan kamu selalu pergi tuh. Tapi, kenapa sekarang enggak?" ucap Keisha.
"Ya terserah aku dong, mau aku pergi atau enggak itu urusan aku. Kalau kamu gak suka aku ada disini, okay nanti abis ini aku pergi kok. Aku cuma pengen main sama Kenzie sebentar," ucap Alex kesal.
"Mas, aku gak ada maksud nyinggung kamu loh. Jangan marah ya!" bujuk Keisha.
Alex tak lagi perduli dengan ucapan istrinya, ia fokus bermain bersama putranya disana dan menganggap Keisha tidak ada. Tentu saja Keisha merasa sangat bersalah, karena ucapannya tadi Alex kini kembali marah padanya. Keisha juga bingung mengapa Alex menjadi lebih sensitif, sehingga kata-katanya tadi dianggap salah di mata pria itu.
"Mas, aku minta maaf ya! Aku sadar aku salah, harusnya aku gak bilang begitu tadi. Maafin aku ya mas!" ucap Keisha.
Alex hanya melirik sekilas ke arah istrinya, kemudian kembali fokus pada putranya. Alex sebenarnya tak ingin seperti itu, tetapi tampaknya Alex terlanjur kesal dan mengira Keisha tidak menyukai kehadirannya disana saat ini. Sedangkan Keisha sendiri tampak semakin bingung, wanita itu tak tahu harus bagaimana cara untuk membujuk suaminya.
Drrrtt drrrtt
Tiba-tiba saja, ponsel Alex berdering dan membuat pria itu menghentikan sejenak aktivitasnya. Ia mengambil ponselnya dari atas meja, lalu melihat nama Cherry terpampang disana. Seketika senyum terbit di pipinya, ia serahkan Kenzie kepada Keisha dan beranjak dari sofa yang ia duduki untuk segera mengangkat telpon tersebut.
"Keisha, kamu jagain Kenzie dulu ya! Aku mau angkat telpon penting nih sebentar," ucap Alex.
"Dari siapa sih, mas? Kenapa gak diangkat disini aja biar gampang? Kenapa kamu harus pergi menjauh coba?" tanya Keisha penasaran.
"Ini dari kolega bisnis aku, kalau aku angkat disini nanti berisik ada Kenzie," jawab Alex berbohong.
Keisha percaya saja dengan ucapan suaminya, ia pun beralih menggendong Kenzie dan tak menaruh curiga sama sekali pada sang suami. Alex pun bergegas pergi menjauh dari sana, sebab Alex tak ingin Keisha mengetahui kalau sebenarnya yang menghubunginya saat ini adalah Cherry.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...