
Keisha yang kabur kini telah berhasil keluar dari rumah sakit tempatnya diperiksa tadi, wanita itu menangis histeris dan menghentikan langkahnya sejenak saat tiba di tempat parkir. Keisha tak kuasa menahan rasa sedihnya saat mengingat kejadian di dalam tadi, ia benar-benar terkejut karena ternyata Alex masih belum mempercayai kehamilannya.
Keisha tidak bisa berbuat apa-apa saat ini selain menangis dan meratapi nasibnya, ia sungguh kecewa pada sang suami yang telah meragukan kesetiaannya dan menuduh bahwa ia berselingkuh di belakangnya. Padahal, Keisha sama sekali tidak pernah melakukan hal itu dan ia selalu mengingat sosok Alex sebagai suaminya walau pria itu tidak ada di sampingnya.
Tangisan wanita itu didengar langsung oleh Alex yang sedang berusaha mencarinya, ya pria itu tampak lega ketika melihat keberadaan Keisha di depan sana. Tanpa banyak berpikir lagi, Alex segera melangkah dengan cepat menghampiri wanita itu dan berniat menghiburnya. Bagaimanapun, Alex sadar kalau apa yang dia lakukan tadi salah.
"Sayang, tolong maafin aku sayang! Aku beneran gak ada maksud untuk bikin kamu sedih kayak gini, tadi itu aku cuma mau memastikan aja. Kamu jangan salah paham dulu ya sayang!" bujuk Alex.
Perlahan pria itu hendak menyentuh bagian tubuh istrinya, tetapi dengan cekatan pula Keisha menghindar serta menepis tangan Alex dari sana. Alex pun terkejut dengan tindakan kasar sang istri, namun ia juga tidak bisa menyalahkan Keisha karena wanita itu pasti sedang sangat emosi saat ini dan tidak ingin dirinya berada disana.
"Apanya yang salah paham, mas? Jelas-jelas kamu pengen tes DNA anak kita ini, itu tandanya kamu gak percaya sama aku sebagai istri kamu! Kenapa kamu ngelakuin itu mas, kenapa? Apa aku sehina itu di mata kamu, iya?" sentak Keisha sambil terisak.
"A-aku....." Alex tergagap saat hendak menjawab pertanyaan Keisha barusan.
Keisha pun semakin pedih melihatnya, ia dapat mengetahui kalau suaminya itu memang tidak pernah mempercayainya selama ini. Rasanya Keisha amat kecewa saat ini dan hendak pergi dari kehidupan Alex tanpa perduli lagi padanya, kekecewaan yang ia rasakan sudah semakin besar dan akan sulit untuk diobati.
"Kalau kamu mengira bayi ini bukan anak kamu, yasudah gapapa mas. Kamu gak mau mengakui anak ini kan? Aku bakal turuti kemauan kamu itu, aku akan cari ayah baru buat dia mas!" sentak Keisha.
Alex terkejut mendengarnya, "A-apa maksud kamu sayang? Kenapa kamu bicara begitu?" ujarnya.
"Kamu tuduh aku selingkuh dan ada main di belakang kamu kan, mas? Okay, aku akan turuti semua itu supaya jadi kenyataan!" tegas Keisha.
Saat itu juga Alex terkejut bukan main dan tak mengerti dengan apa yang diucapkan Keisha barusan, ia pun berusaha menahan Keisha agar tidak pergi dari sana dengan cara mencekal lengannya. Biar bagaimanapun, Alex tidak mungkin bisa lepas dari Keisha yang merupakan cinta pertama dan terakhirnya itu.
"Ka-kamu jangan ngaco Keisha! Kamu gak boleh ngelakuin itu, kamu tolong maafin aku dan jangan begitu ya sayang!" ucap Alex tegas.
Keisha memutar bola matanya disertai dengusan dingin, wanita itu seolah tak percaya lagi dengan apa yang keluar dari mulut Alex karena sudah berulang kali pria itu menipunya. Sudah sering Keisha memberi maaf bagi Alex sebelumnya, tapi saat ini Keisha tidak mungkin bisa memaafkan sebuah kesalahan Alex yang amat besar.
"Udah cukup ya mas, cukup kamu mempermainkan kata maaf itu dari mulut kamu! Aku udah muak dengarnya, karena kata maaf itu seolah gak ada gunanya lagi buat kamu!" sentak Keisha.
"A-aku serius sayang, kali ini aku minta maaf sama kamu! Aku janji gak akan mengulangi kesalahan ini lagi, aku mohon sama kamu!" bujuk Alex.
"Terlambat mas, aku udah terlanjur kecewa sama kamu dan gak akan mungkin bisa percaya lagi dengan apa yang kamu bilang sekarang! Lebih baik kamu pergi, jangan pernah deketin aku lagi sebelum kamu menyadari semuanya!" tegas Keisha.
"Keisha, jangan begini dong sayang! Aku tahu aku salah, aku minta maaf sama kamu. Aku beneran gak ada maksud sama sekali buat nuduh kamu selingkuh, kamu salah paham Kei!" rengek Alex.
"Hah? Salah paham mas? Kalau emang kamu gak nuduh aku selingkuh, terus kenapa kamu temuin dokter Nita dan tanya-tanya soal tes DNA untuk anak kita ini, ha?" ucap Keisha kesal.
"Sa-sayang, itu tuh cuma—"
Alex terkejut ketika Keisha mengangkat telapak tangannya dan membuang muka, pria itu bahkan belum sempat menyelesaikan ucapannya lantaran sepertinya Keisha sudah sangat emosi padanya dan tak ingin mendengar apapun lagi darinya. Keisha bahkan berbalik dan bersiap pergi dari sana, hanya saja Alex masih mencengkram kuat lengannya.
"Kei, kamu mau kemana sih? Jangan pergi dulu, kamu dengerin kata-kata aku dan tolong pertimbangkan lagi semuanya ya!" bujuk Alex.
"Apa lagi sih yang mau dipertimbangkan, mas? Kamu aja udah gak percaya sama aku, jadi buat apa aku masih disini dengerin ocehan gak jelas kamu itu? Mending aku pergi dan cari cowok yang bisa ngertiin aku!" ketus Keisha.
"Loh loh, jangan gitu lah sayang! Kamu itu masih istri sah aku loh!" ucap Alex.
Seringai tipis keluar di wajah Keisha begitu mendengar ucapan suaminya, akhirnya ia berhasil melepaskan diri dari genggaman pria itu dengan cara menghentak tangannya. Kebetulan Alex memang sedang melamun dan tidak menyadari bahwa Keisha bisa lepas darinya saat ini, lalu tanpa banyak berpikir Keisha langsung saja berlari pergi meninggalkan suaminya itu.
"Keisha, tunggu! Kamu gak boleh pergi dari aku, kamu jangan sampai ngelakuin hal yang gak bener sayang! Berhenti Keisha!!" Alex berteriak keras sembari mengejar istrinya di depan sana.
Namun, usaha Alex gagal saat ini karena Keisha sudah lebih dulu masuk ke dalam taksi. Pria itu pun memukul angin karena kesal dan mengacak-acak rambutnya sendiri untuk melampiaskan segala kekecewaan di dalam dirinya, sungguh Alex menyesal karena telah terpengaruh dengan ucapan teman-temannya yang belum tentu benar itu.
"Aaarrrgghhh sialan! Ini semua gara-gara si Rizky sama Tio, mereka udah bikin rumah tangga gue dan Keisha berantakan! Harusnya gue juga gak mudah percaya gitu aja sama mereka, sekarang jadi begini kan! Ah sial!" Alex mengumpat kesal saat ini.
Pria itu bergegas menuju mobilnya untuk berusaha mengejar Keisha sebelum terlalu jauh, ia benar-benar khawatir dan tentunya belum siap jika harus kehilangan sosok Keisha dari hidupnya. Keisha adalah wanita yang sangat ia sayangi dan cintai, tidak mungkin Alex bisa hidup bahagia tanpa adanya sosok Keisha di dekatnya.
•
__ADS_1
•
Sementara itu, Keisha sudah berada di dalam taksi dan masih terus menangis terisak karena kejadian tadi saat ia memergoki suaminya. Keisha belum bisa percaya dengan semua ini, ia seolah tak percaya jika Alex bisa melakukan itu. Pria yang selama ini ia cinta dan agung-agungkan, ternyata malah tidak pernah mempercayainya sama sekali.
Keisha sungguh kecewa dengan sikap sang suami, ia usap perutnya yang masih berukuran normal itu sembari membayangkan wajah Alex saat tadi ia pergoki di ruang dokter Nita. Tak ada yang lebih menyakitkan daripada tidak dipercayai oleh seorang suami, padahal Keisha selama ini selalu menjaga statusnya sebagai istri sah dari pria itu.
Sang supir taksi yang tengah mengemudi pun sampai keheranan dibuatnya, ia penasaran mengapa Keisha bisa menangis deras seperti itu. Si supir pun bertanya pada Keisha sembari menawarkan bantuan agar Keisha tidak sedih lagi, namun dengan cepat Keisha menggeleng menolaknya dan meminta si supir fokus saja mengendarai mobilnya.
Disaat yang sama, tanpa diduga supir itu nyaris saja menabrak sebuah mobil yang muncul dari arah kanan dan hendak memasuki jalan utama. Sontak supir itu terkejut dan nafasnya terengah-engah karena kaget, begitupula dengan Keisha yang masih melamun sedari tadi dan langsung terkejut begitu sang supir menginjak remnya secara mendadak.
"Pak, gimana sih? Saya kan udah bilang tadi, bapak nyetir aja yang bener gausah perduliin saya! Sekarang jadi begini kan!" tegur Keisha.
"Maaf neng, itu tadi mobil di depan tiba-tiba belok gak lihat-lihat dulu!" ucap si supir.
Keisha pun mengalihkan pandangannya ke arah mobil yang ditunjuk si supir, matanya terbelalak saat menyadari Revan lah yang ada di luar sana dan baru turun dari mobilnya. Seketika Keisha teringat pada ucapannya tadi di rumah sakit, ya wanita itu akan melakukan apa yang Alex tuduhkan padanya dan tidak perduli lagi dengan apapun.
Keisha kini beranjak turun dari mobil taksi tersebut untuk menemui Revan disana, ia sudah terlanjur kecewa dengan Alex dan inilah saatnya ia membalas semua perlakuan Alex padanya yang selalu aja membuatnya sakit hati. Jika Alex tak ingin percaya padanya dan menganggap bayi itu, maka Keisha bisa melakukan hal yang lebih gila tentunya.
"Hai Revan!" wanita itu menyapa Revan yang juga hendak menghampiri taksi tersebut.
Revan cukup kaget saat mengetahui ada Keisha di dalam mobil itu, seketika ia semakin merasa bersalah karena tadi hampir saja terjadi tabrakan diantara kedua mobil itu. Untungnya, hal itu tidak sempat terjadi karena keduanya masih sempat menginjak rem. Namun, Revan kini terlihat meminta maaf kepada wanita di hadapannya itu.
"Hah Keisha? A-aku minta maaf ya, tadi aku agak oleng nyetirnya dan kurang fokus! Kamu gak kenapa-napa kan?" ucap Revan gugup plus khawatir.
"Ah kamu gak perlu khawatir begitu sama aku, aku baik-baik aja kok. Tapi, kamu mau gak temenin aku dulu ke suatu tempat? Aku lagi butuh seseorang yang bisa jadi pendengar nih buat aku," ucap Keisha.
"Maksud kamu gimana? Emangnya kamu lagi ada masalah apa Keisha? Soal suami kamu?" tanya Revan penasaran.
Keisha mengangguk perlahan, "Iya Van, makanya aku sekarang lagi sedih banget nih dan butuh di hibur. Kamu bisa kan temenin aku sebentar sekarang?" ucapnya.
"Oh tentu, dengan senang hati aku mau jadi pendengar untuk kamu. Yaudah, kita ke mobil aku aja!" usul Revan.
•
•
Singkat cerita, Revan membawa Keisha ke tempat makan es krim di dekat sebuah mall. Revan sengaja membawa Keisha kesana saat ini, karena sebelumnya wanita itu sempat mengatakan kalau dirinya senang sekali dengan es krim. Revan pun berusaha menghibur Keisha menggunakan es krim tersebut, walau ia belum tahu apakah rencananya akan berhasil atau tidak.
Keduanya duduk berhadapan dan menikmati es krim yang mereka pesan masing-masing, sesuai kesukaannya Keisha pun memesan es krim coklat serta strawberry yang menggiurkan. Jujur Keisha memang menyukai es krim itu, tetapi ia masih belum bisa melupakan kekejaman Alex saat di rumah sakit tadi yang membuat hatinya tersakiti.
"Jadi gimana Keisha, apa sekarang rasa panas di kepala kamu sudah mulai mendingin setelah memakan es krim itu?" tanya Revan.
"Ya udah mendingan sih Van, tapi tetap aja aku belum bisa lupain semua masalah aku. Sampai sekarang, aku masih kepikiran sama semua itu dan bikin hati aku makin sakit," jawab Keisha.
"Ohh, emangnya kamu ada masalah apa sih? Cerita aja sama aku sekarang!" ucap Revan.
Keisha mengambil nafas dalam-dalam sebelum mulai bercerita kepada pria itu, karena bagaimanapun ia harus memiliki perasaan ekstra saat hendak menceritakan permasalahan di dalam rumah tangganya kepada Revan. Meski awalnya Keisha ragu, namun pada akhirnya Keisha terpaksa melakukan itu karena tak memiliki pilihan lain.
"Aku dituduh selingkuh sama suami aku, dan dia juga curiga kalau bayi yang aku kandung ini bukan anak dia, tapi hasil dari hubungan gelap aku sama laki-laki lain. Aku kecewa Van, padahal aku gak pernah selingkuh loh selama ini!" jelas Keisha.
"Hah apa? Kok bisa sih suami kamu nuduh yang enggak-enggak kayak gitu?" heran Revan.
Keisha hanya bisa menggeleng menanggapi ucapan Revan barusan, ia sendiri pun tak tahu apa yang jadi penyebab Alex begitu curiga padanya dan selalu mengira ia selingkuh di belakangnya. Padahal, rasa cintanya pada pria itu sangat besar dan ia tidak mungkin mengkhianati Alex apalagi sampai hamil bersama pria lain.
"Kamu yang sabar ya Keisha, mungkin suami kamu itu cuma takut kehilangan kamu! Dia gak ada niat buat tuduh kamu selingkuh, dia takut aja kalau kamu tinggalin dia!" ucap Revan lirih.
"Hm, tapi masalahnya tindakan dia itu udah di luar batas Van. Masa dia tanyain ke dokter soal kemungkinan tes DNA anak aku ini!" ucap Keisha.
"Loh untuk apa?" tanya Revan kebingungan.
__ADS_1
"Ya apa lagi kalau bukan buat mastiin anak ini anak dia apa bukan, dia kan masih ngira kalau aku selingkuh di belakang dia sampai hamil," jawab Keisha dengan rasa kesal.
"Wah ya kalau gitu sih emang pantas kamu marah, Keisha! Aku juga kalo jadi kamu mungkin akan melakukan hal yang sama, suami kamu itu emang udah kelewatan sih. Bisa-bisanya dia gak percaya sama istrinya sendiri," ucap Revan ikut kesal.
"Itu dia Van, makanya aku sekarang mau minta bantuan dari kamu. Kamu mau kan bantu aku?" ucap Keisha disertai tatapan nanarnya.
Revan mengernyitkan dahinya, "Bantuan apa?" tanyanya penasaran.
"Umm, tolong carikan cara supaya aku bisa menggugurkan bayi di kandungan aku ini! Aku gak mau dia lahir ke dunia, tapi cuma untuk dijadikan bahan olok-olok suami aku!" jawab Keisha.
Deg
Mata Revan membulat sempurna mendengar permintaan Keisha barusan, pria itu seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan Keisha. Mana mungkin Revan bisa melakukan hal gila itu, selain salah perbuatan itu juga sangat berdosa. Nyawa bayi di dalam kandungan Keisha tidak boleh dihilangkan, karena bayi itu tidak lah bersalah.
Alex yang juga berada disana mengawasi mereka tampak terkejut saat mendengar obrolan Keisha dan Revan itu, memang jaraknya tak terlalu jauh dari mereka sehingga Alex dapat mendengar semuanya. Alex pun sangat syok sekaligus kecewa, ia tahu penyebab Keisha ingin menggugurkan kandungan itu adalah karena kesalahannya tadi.
"Enggak, Keisha gak boleh gugurin kandungan itu! Gue harus cegah itu!" batin Alex.
•
•
Disisi lain, Lana yang masih berada di sekolahnya tampak tengah memandangi para pria yang tengah bermain basket di lapangan sana. Sejak lama gadis itu memang mengagumi sosok kapten tim basket tersebut yang menurutnya sangat tampan dan gagah perkasa, entah mengapa Lana selalu tidak bisa berhenti memandanginya dari jauh seperti ini.
Terlihat juga Lana sudah membawakan sebotol air mineral yang nantinya akan ia berikan kepada pria tersebut, meski ia belum tahu apakah si pria mau menerimanya atau tidak. Lana pun bersorak ketika pria itu berhasil memasukkan bola ke dalam ring, teriakannya menggema di seluruh lapangan itu hingga membuat beberapa orang menoleh.
Lana tidak pernah merasa bosan atau lelah untuk menonton aksi pria tersebut disana, meski kadang ia sampai terlambat pulang ke rumahnya. Ya rasa kagum itu sudah lebih dari sekedar kagum, mungkin Lana telah menyukai pria itu dan berharap bisa menjadi kekasihnya. Hanya saja, Lana tahu kalau semua itu mustahil dapat ia lakukan.
Setelah permainan selesai, Lana cekatan mendekat ke arah pria idamannya sambil membawakan botol mineral untuknya. Gadis itu menyapa si pria disertai senyuman manisnya, kedua lesung pipi milik Lana memang menjadi senjata andalan baginya untuk memikat para kaum pria yang ia sukai dan berharap pria itu mau memberi perhatian padanya.
"Hai Zikri! Kamu pasti haus kan abis main basket tadi, nih aku bawain minum loh buat kamu! Ada handuk juga yang aku siapin," ucap Lana.
Kehadiran Lana di dekatnya membuat pria bernama Zikri itu terkejut, begitu juga dengan teman-teman basketnya yang ada disana karena lagi-lagi Lana terus saja menemuinya. Ini bukan kali pertama bagi Lana, sebab belakangan ini gadis itu memang terus datang dan memberikan air mineral serta handuk untuk Zikri.
"Thanks, tapi besok-besok lu gak perlu bawain ini lagi ya buat gue!" ucap Zikri dingin.
"Hm, kenapa gitu? Kan lumayan loh kamu bisa dapa minum gratis dari aku, lagian aku juga gak masalah kok kalau harus kasihin ini terus ke kamu," ucap Lana tampak tersenyum lebar.
"Lo emang gak masalah, tapi gue yang masalah kalo lu begini terus. Udah ya, mending lu kasih aja ke orang lain besok-besok!" ucap Zikri.
"Ta-tapi, aku kan—"
Ucapan Lana terhenti lantaran Zikri berbalik dan pergi meninggalkannya begitu saja sambil membawa botol serta handuk darinya, Lana cukup kecewa dan wajahnya pun tampak cemberut karena ditinggal lagi oleh pria itu. Namun, Lana senang karena Zikri masih mau menerima pemberian darinya walau pria itu tetap saja bersikap dingin.
"Eh Lana!" tanpa diduga, salah seorang teman Zikri yang juga merupakan anggota tim basket sekolah mendekat ke arahnya dan menegurnya.
"I-i-iya, kenapa?" Lana terlihat gugup saat pria itu mendekatinya sambil tersenyum.
"Gue heran sama lu, kenapa sih lu deketin Zikri mulu? Lu itu cantik loh Lana, harusnya cowok yang kejar-kejar lu!" ucap pria itu.
Lana menggeleng perlahan, "Aku biasa aja kok, kalau aku cantik gak mungkin Zikri tinggalin aku tadi. Lagian aku tuh cuma kagum sama dia, aku gak ada perasaan suka atau cinta kok," ucapnya.
"Ah masa? Dari tindakan yang lu lakuin ke dia, gue yakin lu pasti suka sama dia! Udah deh Lan, lu gak bisa tutupin semua itu dari kita!" ucap si pria.
"Iya tuh, kelihatan banget kok kalo lu suka sama Zikri!" sahut temannya yang lain.
Lana pun terdiam sembari menundukkan wajahnya, ia sendiri bingung apakah rasa kagumnya pada Zikri telah berubah menjadi cinta atau tidak. Kalaupun memang iya, Lana juga tidak yakin jika ia bisa memiliki Zikri nantinya. Dirinya dan Zikri itu bagaikan langit dan bumi, sangat jauh dan tidak mungkin bisa bersatu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...