
Alex susah payah menahan dirinya untuk tetap kuat berdiri tegak di depan rumah itu, meski guyuran hujan semakin deras membasahi tubuhnya dan bahkan sendi-sendi pada bagian kakinya sudah terasa lemas karena sedari tadi ia terus berdiri. Rasa pusing di kepalanya semakin menguat, ia sudah tidak kuat lagi jika keadaan terus-menerus seperti ini, bisa saja Alex akan jatuh pingsan nantinya.
Namun, Alex tetap berusaha kuat dan terus mengusap wajahnya. Ia meyakinkan dirinya sendiri kalau ia pasti bisa kuat demi membawa Keisha dan Kenzie kembali ke rumahnya, sebelum itu dapat ia lakukan maka ia akan terus berdiri disana sampai kapanpun. Bagi Alex, saat ini yang terpenting hanyalah Kenzie dan Keisha, sebab tanpa mereka hidupnya terasa hampa dan tidak ada gunanya.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu pagar yang terbuka dari dalam. Sontak Alex mengalihkan pandangannya ke arah pintu tersebut, dilihatnya sosok Bruce keluar menggunakan payung dan berjalan menghampirinya. Senyum terukir di wajahnya, ia mengira jika Bruce akan memberi kesempatan baginya untuk masuk dan bertemu dengan istri serta anaknya itu.
"Kenapa kamu masih disini Alex? Saya sudah katakan sama kamu tadi, kamu pergi dan jangan pernah kembali kesini lagi!" tegur Bruce.
"Tidak kek, aku gak bakal pergi dari sini sebelum aku berhasil bawa Keisha dan Kenzie pulang. Cuma itu tujuan aku sekarang kek, hidup yang aku jalani ini seakan gak ada artinya tanpa mereka. Kakek ngertiin aku dong sedikit aja!" ucap Alex.
"Saya gak perduli sama hidup kamu Alex, kamu begini ya karena ulah kamu sendiri. Terus sekarang kamu berharap apa dari saya, ha? Kamu kira saya akan bela kamu gitu?" ucap Bruce.
"Bukan itu yang saya mau kek, saya cuma minta sama kakek untuk biarkan Keisha pulang sama saya! Setelah itu, saya janji tidak akan datang kesini lagi dan berurusan sama kakek! Ingat kek, Keisha itu masih jadi istri sah saya!" ucap Alex.
"Gak lama lagi Alex, kamu harus bisa sadar sama kelakuan buruk kamu! Kamu itu gak pantas untuk jadi suami Keisha!" sentak Bruce.
Alex tersentak dan dibuat terdiam kali ini, kata-kata Bruce sungguh menusuk ke dalam hatinya. Ia tak bisa melakukan protes atau membantah ucapan kakeknya itu, karena Bruce memang benar kalau selama ini ia selalu saja menyakiti hati Keisha. Mungkin ia memang tidak pantas untuk bisa menjadi suami dari Keisha.
"Iya kek, saya tahu itu kok. Tapi, seenggaknya kasih saya satu kesempatan lagi untuk bisa kembali tinggal sama istri dan anak saya walau sebentar kek!" ucap Alex memohon.
Bruce menggeleng, "Maaf Lex, itu tidak bisa saya lakukan! Ini semua atas permintaan Keisha sendiri, dia sudah gak mau kembali sama kamu. Jika kamu ingin bertemu dengan anak kamu, silahkan saja kamu datang kesini!" ucapnya pelan.
"Tapi kek, saya gak mau pisah dari Keisha. Saya cinta sama Keisha, kek!" tegas Alex.
"Semua keputusan ada di tangan Keisha, saya sebagai kakeknya hanya ingin melakukan yang terbaik untuk dia. Kamu tidak bisa menolak perceraian ini Alex," ucap Bruce.
"Gak mungkin kek, ini semua gak benar. Saya dan Keisha gak akan pernah bercerai, kakek camkan kata-kata aku ini!" ucap Alex.
"Kamu itu memang keras kepala sekali Alex, yasudah terserah kamu kalau memang masih mau disini! Saya ataupun Keisha tidak akan perduli jika kamu jatuh sakit nantinya," ucap Bruce.
"Iya kek, saya ngerti kok." singkat Alex.
Setelahnya, Bruce pergi meninggalkan Alex disana dan mengunci semua pintu masuk untuk mencegah tindakan nekat Alex.
•
•
"Kak Alex!" tiba-tiba saja, Alex dibuat terkejut saat suara seorang wanita terdengar di telinganya.
Begitu menoleh, Alex menemukan Cherry yang berjalan ke arahnya sembari membawa payung di tangannya. Gadis itu tampak mendekat dan berdiri tepat di sebelahnya, ia juga menyodorkan payung itu ke atas kepala Alex untuk mencegah pria itu dari terkena air hujan. Meski semua sudah terlambat, karena tubuh Alex sudah sangat basah kali ini.
__ADS_1
"Kak, kita pulang yuk! Ini udah malam banget kak, nanti kamu masuk angin loh. Lagian istri kamu juga gak mau keluar lagi kan? Buat apa coba kamu masih ada disini?" ucap Cherry membujuknya.
Alex menggeleng perlahan, "Gak Cherry, aku gak akan pergi dari sini. Aku bakal tetap ada di rumah ini sampai aku berhasil bawa Kenzie dan Keisha pulang ke rumah, karena aku sayang banget sama mereka!" ucapnya dengan kekeuh.
"Tapi kak, aku gak mau kamu sakit. Kamu juga harus mikirin kondisi kamu dong, jangan nekat kayak gini!" ucap Cherry.
"Ini semua aku lakuin untuk membuktikan ke Keisha kalau aku masih cinta sama dia, aku ini gak akan pernah bisa lupain dia, apalagi melepas dia dari genggaman aku," ucap Alex.
"Iya aku ngerti, tapi gak gini juga caranya. Kalau kamu sakit nanti gimana dong?" ucap Cherry.
"Aku gak perduli soal itu Cherry," singkat Alex.
Cherry terdiam sesaat dan mencoba berpikir keras untuk mencari cara agar Alex bisa mengikuti perkataannya, karena jika terus begini maka pasti Alex akan semakin sulit untuk ia miliki. Padahal, niat Cherry adalah memiliki Alex seutuhnya dan menjadikan pria itu sebagai kekasihnya.
"Kak!" tanpa diduga, Cherry berjinjit dan mendekat ke arah Alex sambil mengecup bibirnya.
Cup!
Alex begitu terkejut dan terus memegangi bibirnya, ia melirik wajah Cherry dengan bingung seolah tak menyangka dengan apa yang dilakukan gadis itu barusan. Pasalnya, baru kali ini Cherry mau mengecupnya lebih dulu tanpa diminta olehnya seperti sebelumnya saat di cafe.
"Aku sayang sama kamu Lex, aku gak mau kamu sakit hanya karena mikirin istri kamu yang gak perduli sama kamu lagi! Ada aku disini loh, aku akan selalu kasih perhatian ke kamu!" ucap Cherry.
"A-apa maksud kamu Cherry??" tanya Alex dengan wajah bingungnya.
"Cherry, lepasin! Badan aku basah loh ini, kamu nanti jadi ketularan juga. Aku gak mau kamu masuk angin Cherry, ayo lepasin!" pinta Alex.
"Gak akan kak, aku gak mau lepasin kamu! Kecuali kamu mau nurut dan pulang sama aku, lagian ini udah malam dan hujan makin deras tau! Ayo kita pulang ya kak Alex!" bujuk Cherry.
"Tapi Cherry, aku masih mau ada disini sampai Keisha berubah pikiran!" kekeuh Alex.
Cup!
Lagi-lagi Cherry menarik wajah Alex dan mengecup bibir pria itu untuk kedua kalinya, sehingga Alex pun tampak syok dan membulatkan matanya karena tak menyangka Cherry akan melakukan itu. Bahkan, Alex sampai terdiam memegangi bibirnya sembari menatap wajah gadis itu tanpa berkedip.
"Kalo gitu aku bakal temenin kamu disini, aku gak akan pergi sampai kamu mau berubah pikiran dan pulang sama aku," ucap Cherry.
Alex tidak mempunyai pilihan lain saat ini, ia terpaksa menurut pada gadis itu karena tak ingin apabila Cherry tetap disana bersamanya dan hal itu diketahui oleh Keisha ataupun kakeknya, bisa-bisa hubungannya akan semakin memburuk.
•
•
__ADS_1
Shella menghampiri Zayn yang sedang terduduk di sofa sambil menonton tv, ya sekarang memang mereka tinggal bersama di unit apartemen Shella dengan alasan Zayn tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada kekasihnya itu. Meski tinggal bersama, namun mereka tidak melakukan apapun dan Zayn tetap memegang prinsipnya untuk tidak mau merusak gadis yang ia cintai itu.
Shella pun meletakkan cangkir berisi kopi di atas meja dan mempersilahkan Zayn untuk meminumnya, setelah itu ia ikut duduk di sebelah sang kekasih sambil tersenyum menatapnya. Zayn yang melihat itu sontak merasa gemas, tanpa banyak berpikir Zayn langsung merangkul Shella dan mengusapnya dengan lembut.
"Duh sayang, kamu baik banget sih pake kasih aku kopi segala! Makasih ya cantik, aku jadi makin semangat deh sekarang!" ucap Zayn.
Shella tersenyum dibuatnya, "Sama-sama sayang, aku kan pacar kamu, ya aku mau melayani kamu dong sayang. Lagian di luar masih hujan deras, pasti kamu kedinginan kan. Makanya aku buatin kopi hangat ini buat kamu," ucapnya.
"Iya kamu benar, daritadi emang dingin banget. Tapi semenjak aku peluk kamu kayak gini, udah hilang tuh rasa dinginnya dan malah berubah jadi hangat," ucap Zayn.
"Hadeh, bilang aja kamu modus mau peluk-peluk aku kan sayang!" kekeh Shella.
"Hehe..."
Akhirnya mereka berdua saling berpelukan kali ini, Zayn tampak begitu nyaman berada dalam posisi ini seolah tak ingin semua berakhir. Zayn juga memberi kecupan lembut pada kening serta bibir gadisnya, tak ada penolakan dari Shella karena gadis itu sadar kalau dirinya sekarang merupakan kekasih dari Zayn dan mereka juga saling mencintai.
Ting nong ting nong...
Akan tetapi, sebuah bunyi bel terdengar dan membuat momen romantis mereka terganggu. Cepat-cepat Shella melepas pelukan itu, lalu saling bertatapan dengan Zayn dan tampak bingung. Pasalnya, Shella tak tahu siapa yang datang bertamu malam-malam disaat hujan begini.
"Siapa ya yang datang itu? Perasaan udah malam banget deh, kok masih ada yang mau bertemu kesini?" ujar Shella terheran-heran.
"Gak tahu sayang, biar aku buka aja ya?" ucap Zayn dengan lembut.
"Eh jangan sayang! Aku takut yang datang itu mama aku atau saudara aku, kalau mereka lihat kamu nanti bisa jadi bahaya loh sayang. Aku gak mau mereka salah paham," ucap Shella menolak.
"Iya juga sih, yaudah kamu aja yang buka! Aku tunggu disini sekalian jagain kamu, biar kamu gak perlu takut sayang," ucap Zayn.
"I-i-iya sayang..." lirih Shella.
Sebelum itu, Zayn menyempatkan diri melakukan ciuman singkat dengan Shella sembari menenangkan gadis itu yang sedikit ketakutan. Pasalnya, Shella merasa bingung mengapa ada orang yang bertamu ke apartemennya di malam hari seperti ini.
Ceklek
Saat Shella membuka pintu, ia dikejutkan dengan keberadaan sosok pria yang membawa sebuah buket bunga di tangannya. Shella tentu amat terkejut, apalagi setelah ia mengetahui bahwa pria itu adalah Joshua alias orang yang sempat ia cintai sebelum menjalin hubungan dengan Zayn.
"Halo Shella! Kamu apa kabar? Aku senang bisa lihat kamu lagi begini, kamu semakin cantik dan bikin aku tambah terpesona Shella!" ucap Joshua memuji gadis itu.
Shella terdiam saja karena masih tak bisa mempercayai keberadaan Joshua disana.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...