
Sesampainya di kantin, Lana langsung dipersilahkan duduk oleh Zikri yang bahkan rela menarik kursi untuknya dan membersihkan alas kursi tersebut dengan tangannya secara langsung. Lana saja sampai tak percaya dengan apa yang dilakukan Zikri barusan, ia menggeleng perlahan sebelum mulai terduduk di tempat itu bersama Zikri yang tepat berada di hadapannya dan terus menatap wajahnya.
Lana benar-benar gugup saat ini, duduk berdua dengan lelaki yang diidolakan olehnya adalah suatu hal yang paling tak pernah Lana pikirkan. Lana sama sekali tak menyangka semua ini akan terjadi, karena awalnya sikap Zikri cukup cuek kepadanya. Namun, apa yang dilakukan Zikri sekarang sangat berbeda dan benar-benar berubah 180 derajat dibanding ketika Lana masih mengejar-ngejar pria itu dulu.
Kini Lana kembali teringat pada perkataan Zikri di depan kelasnya tadi, ya pria itu sebelumnya berkata kalau dia ingin mengatakan sesuatu padanya. Untuk itu Lana coba mencari tahu saat ini, serta bertanya langsung kepada Zikri mengenai apa yang hendak dibicarakan pria itu. Lana sangat penasaran dan sungguh ingin tahu, rasanya ia bisa sakit jika tidak mendengar kata-kata dari mulut Zikri sekarang.
Zikri sendiri masih menahan-nahan untuk tidak berbicara sekarang, karena pria itu ingin tahu apakah Lana perduli padanya atau tidak. Jika Lana bertanya mengenai apa yang hendak ia bicarakan tadi, maka dapat dipastikan bahwa Lana masih perduli dengan dirinya. Akan tetapi, kalau saja Lana tak membahas hal itu lagi maka Zikri pun akan sangat kecewa dan merasa sudah tidak dianggap oleh gadis itu.
"Zikri, katanya tadi kamu mau bicara. Kenapa malah bengong aja sih, hm? Kamu bicara aja kali, jangan bikin aku tambah penasaran deh!" ucap Lana yang ternyata dengan berani menanyakan hal itu.
"Wah akhirnya kamu mau tahu juga sama apa yang pengen aku bicarakan ke kamu! Aku kira kamu udah gak perduli gitu," ucap Zikri.
Zikri tampak begitu senang setelah Lana bertanya seperti itu padanya, ia kini semakin tidak sabar untuk menyampaikan apa yang ingin ia katakan. Tentu saja Lana pun merasa demikian, ya gadis itu sungguh penasaran apa kalimat yang hendak dibicarakan Zikri padanya. Terlebih, sejak tadi Zikri selalu saja berusaha mengulur waktu.
"Aku perduli lah Zikri, buktinya aku tanya ke kamu. Lagian emang kamu mau ngobrol apa sih sama aku, hm?" ucap Lana dibuat kebingungan.
"Banyak Lana, tapi ada satu yang utama. Udah lama aku mau sampaikan ini ke kamu, hanya saja aku belum punya keberanian. Dan kali ini aku rasa aku udah cukup berani untuk bicara itu," ucap Zikri.
"Yaudah, kenapa gak langsung bicara aja? Gausah berbelit-belit kali Zikri, aku penasaran banget ini gara-gara kamu!" ucap Lana meminta.
"Ya ya, maaf ya Lana!" ucap Zikri terkekeh kecil.
Lana menggeleng saja, kemudian membuka bungkus coklat yang ada di tangannya dan memakan itu secara perlahan sambil menunggu Zikri mau buka mulut. Pasalnya, Zikri belum juga berbicara saat ini dan terus saja banyak basa-basi sampai membuat Lana semakin bingung sekaligus penasaran apa yang akan dibicarakan Zikri.
"Aku itu suka sama kamu Lana, sekarang aku mau kamu jadi pacar aku!" ucap Zikri tegas.
"Uhuk uhuk uhuk..."
Lana sampai terbatuk-batuk mendengar perkataan Zikri barusan, ia seolah tak percaya kalau ternyata pria itu ingin menyatakan cinta padanya. Lana akui dirinya memang juga mencintai Zikri, tetapi ia masih tak menyangka semuanya akan secepat ini. Apalagi, Zikri tampak bersungguh-sungguh dan tidak ada tanda bercanda dibalik perkataannya tadi.
•
•
Setelah perbincangan serius di kantin tadi, kini Lana memilih kembali ke kelas untuk merenung dan memikirkan perkataan Zikri. Entah mengapa Lana merasa bingung serta ragu, ia belum tahu harus menjawab apa kepada Zikri nantinya. Pasalnya, Lana sendiri belum yakin apakah Zikri memang benar-benar mencintainya atau tidak.
Sebagai seorang wanita, Lana tentu tak mau dipermainkan oleh lelaki hanya karena ia sangat mencintai lelaki tersebut. Lana khawatir semua ini hanyalah permainan Zikri, karena ia merasa kalau Zikri terlalu cepat jatuh cinta padanya. Memang tidak ada yang tidak mungkin, tetapi perubahan sikap lelaki itu ia rasa sangat tidak wajar terjadi.
Lana pun hanya bisa berharap kalau semua ini nyata adanya, meski di dalam hati ia terus merasa was-was dan ketakutan. Ya Lana tidak mau jika Zikri hanya memanfaatkan kebaikannya, lalu pria itu malah dengan tega mencampakkannya. Seperti yang ia tahu, Zikri memang sangat mencintai Cherry dan selalu mendekatinya dulu.
Lana tidak mau hanya dijadikan sebagai pelampiasan oleh Zikri yang gagal dalam mendapat cinta Cherry, pikirannya selalu saja mengarah kesana karena setahu ia Zikri hanya menyukai Cherry dan bukan dirinya. Namun, tadi jelas-jelas pria itu berkata bahwa dia menyukai Lana dan ingin Lana menjadi kekasih hatinya untuk saat ini.
Disaat Lana tengah berjalan menyusuri lorong sekolah, tanpa diduga ia bertemu dengan Arfan yang berjalan di hadapannya. Mereka pun berpapasan tentu dan saling menghentikan langkah masing-masing, Arfan tersenyum seraya menatap wajah Lana yang begitu memikat. Sedangkan Lana hanya diam, gadis itu masih terlihat kebingungan.
"Hai Lana!" Arfan langsung menyapa gadis tersebut dan tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
Lana yang merasa namanya disebut sontak terkejut dan reflek menatap wajah Arfan di depannya, ia tak menyangka akan bertemu dengan Arfan disana dan dapat berpapasan dengannya. Namun, Lana juga membalas senyum pria itu agar tak membuatnya kecewa. Lana tahu diabaikan itu menyakitkan, itulah mengapa ia selalu baik kepada Arfan.
"Hai juga Arfan!" bahkan, Lana menyapa kembali Arfan dengan ramah disertai senyuman lebarnya yang membuat pria itu terpikat.
"Eh kamu udah makan belum? Tadinya aku mau ajakin kamu ke kantin bareng, soalnya aku baru sempat mau makan nih," tanya Arfan.
"Yah sayang banget Fan, baru aja aku selesai makan nih. Kayaknya kamu sendirian aja deh, aku gak mungkin dong makan lagi. Aku udah kenyang banget ini rasanya," ucap Lana menolak.
"Oh gitu, iya gapapa kok Lana. Omong-omong, kamu tadi makan di kantin sama siapa?" tanya Arfan lagi.
Sontak Lana terdiam dan kebingungan harus menjawab apa, pertanyaan Arfan itu sungguh membuatnya bingung saat ini. Lana benar-benar khawatir jika Arfan akan merasa sakit hati nantinya, apabila ia berkata jujur kepada laki-laki itu bahwa tadi ia di kantin bersama Zikri dan bahkan Zikri juga menyatakan cinta padanya.
"A-aku sama teman-teman aku lah, emangnya kenapa?" jawab Lana berbohong.
"Oalah, syukur deh kalau cuma sama teman kamu! Yaudah, kamu sekarang mau kemana? Perlu aku temenin gak?" ucap Arfan menawarkan diri.
"Umm, gausah deh Arfan. Aku cuma mau ke kelas kok, kamu juga katanya pengen ke kantin kan?" ucap Lana lagi-lagi menolaknya.
"Iya juga sih," Arfan tersenyum lebar sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
•
•
Gadis itu berniat memesan taksi online melalui ponselnya agar bisa semakin menjauh, namun sayang sekali ponsel miliknya itu habis baterai sehingga tidak bisa dipakai. Shella sontak semakin panik dibuatnya, ia tak tahu harus bagaimana karena saat ini hanya ponsel itu yang bisa ia gunakan untuk kabur dari tempat itu menjauhi Zayn.
Shella pun memutuskan lanjut melangkah terlebih dahulu sambil memikirkan cara untuk bisa pergi dari sana tanpa harus menggunakan ponselnya, akan tetapi disaat ia sedang melangkah dengan cepat tanpa sengaja ia malah bertabrakan dengan seorang lelaki dari arah berlawanan. Hal itu menyebabkan Shella terjatuh ke lantai, lalu merintih pelan.
Bruuukkk
"Awhh, aduh akh!" rintih Shella seraya memegangi pinggulnya yang terbentur lantai.
Si pria yang bertabrakan dengannya itu pun merasa bersalah, ia mendekat dan coba mengecek kondisi Shella secara langsung untuk memastikan apakah Shella baik-baik saja atau tidak. Ia berjongkok sejenak tepat di hadapan Shella, menatap wajah gadis itu seraya menanyakan kondisinya yang baru saja terjatuh tadi.
"Sorry ya, saya gak lihat tadi kalau ada orang! Kamu gapapa? Kalau ada yang luka, ayo biar saya antar ke rumah sakit didekat sini!" ucap si pria.
Shella menggeleng perlahan, "Gapapa gausah, saya baik-baik aja kok. Tadi juga bukan salah kamu sepenuhnya, saya yang gak lihat-lihat waktu jalan tadi," ucapnya.
"Syukurlah, kalo gitu ayo saya bantu berdiri biar gampang!" ucap pria itu.
"Iya makasih," singkat Shella.
Pria itu pun membantu Shella berdiri dengan cara memegang tangannya, tak lupa ia juga mengambil tas milik Shella dan memberikannya pada gadis itu. Beruntung bagi Shella karena bertemu dengan sosok pria yang baik, sehingga ia dapat menerima bantuan dan bukan cacian darinya karena tadi ia menabrak pria tersebut secara tidak sengaja.
"Saya Revan, salam kenal ya mbak!" ucap pria itu yang tiba-tiba mengenalkan diri dan menyodorkan tangannya ke arah Shella.
__ADS_1
Shella terdiam sejenak memandangi wajah pria itu, sebelum kemudian ia meraih telapak tangan si pria seraya memberitahu namanya. Mereka pun berjabat tangan selama beberapa detik, entah mengapa Shella merasa nyaman saat melakukan itu. Revan memang pria yang baik dan suka membantu wanita, itulah sebabnya Shella mulai tergoda.
"Kalau aku namanya Shella, senang kenal sama kamu!" balas Shella dengan lembut.
"Oh Shella, wah nama yang bagus! Cantik juga seperti orangnya, pasti banyak nih yang naksir sama kamu!" ucap Revan memuji gadis itu.
"Ahaha, enggak lah biasa aja kok." Shella terkekeh dan melepas jabat tangan itu.
Keduanya saling bertatapan selama beberapa detik, Revan tampak tidak bisa mengalihkan pandangan dari wajah cantik Shella yang memang selalu memikat siapapun yang melihatnya. Meski baru pertama kali melihatnya, namun Revan sudah merasa jatuh cinta dan ingin terus bersama gadis itu serta tidak ingin kehilangannya walau sebentar.
•
•
Alex yang sedang berada di parkiran apartemen tak sengaja bertemu dengan Anya saat ini, ya sepertinya Anya memang masih terus berusaha untuk coba mendekati Alex dan merebut hati pria itu dari Keisha yang merupakan istrinya. Anya adalah orang yang tak kenal menyerah, ia akan selalu berusaha demi bisa mewujudkan keinginannya.
Tentunya Alex merasa jengkel dengan kehadiran Anya di apartemennya, pria itu benar-benar tidak suka jika Anya ingin mendekatinya kembali. Padahal, jelas-jelas semua kebusukan Anya sudah terbongkar akibat dari rekaman suara sebelumnya. Anya memang belum sadar akan hal itu, sehingga Anya masih berani mendatangi Alex disana.
"Hai Alex sayang! Kamu kangen ya pasti sama aku? Maaf banget, aku kemarin gak sempat datengin kamu karena aku sibuk harus perawatan tubuh! Aku kan gak mau jadi gendut kayak istri kamu itu, nanti kamu ilfeel lagi sama aku," ucap Anya dengan genit.
Alex geleng-geleng saja sembari memutar bola matanya, apa yang dikatakan Anya memang seolah sengaja ingin memancing emosinya karena wanita itu terus saja menjelekkan Keisha. Namun, Alex tidak akan mudah terpancing dan masih bisa menunjukkan pada Anya kalau saat ini ia adalah pria yang berbeda dengan yang sebelumnya.
"Oh ya, kamu mau kemana sih sayang? Aku baru datang eh kamu udah pengen pergi aja, mending kita masuk dulu yuk ke dalam!" goda Anya.
"Stop Anya! Please, tolong jangan ganggu aku! Kalau kamu mau, kamu bisa ganggu orang lain yang masih single! Kamu itu cantik kok Anya, aku yakin ada laki-laki yang mau sama kamu!" tegas Alex.
"Eh eh, kamu kok bilangnya begitu sih sayang? Aku ini cuma mau sama kamu, gak ada laki-laki lain yang menarik buat aku loh!" ucap Anya merengut.
Alex sampai harus menghela nafasnya untuk meredakan kekesalan di dalam dirinya, rasanya pria itu benar-benar tak habis pikir dengan sikap Anya yang selalu saja nekat untuk menggodanya. Berulang kali sudah Alex mengusir wanita itu dari hidupnya, tetapi dengan keberaniannya itu Anya terus saja mendatanginya disana.
"Aku ini perempuan yang jago segalanya loh, aku bisa lakuin apapun yang kamu mau sayang. Aku juga lebih segalanya dari si Keisha itu," ucap Anya.
"Hadeh, aku gak ngerti apa yang kamu bicarakan Anya! Kamu itu ngomong apa aja aku gak paham, jadi mending kamu pergi deh dan ngobrol aja sana sama orang lain!" sentak Alex.
"Jangan kasar-kasar gitu ah, ingat loh kamu gak boleh kasar sama perempuan!" pinta Anya.
"Anya, gimana aku gak kasar coba kalau kamu aja terus begini? Tingkah kamu itu benar-benar kayak pelakor tahu gak!" geram Alex.
"Emang iya, itu kan yang aku mau loh Lex. Aku mau rebut kamu dari Keisha!" ucap Anya tegas.
Alex lagi-lagi harus dibuat terkejut dan terbelalak lebar ketika mendengar pengakuan Anya, ia heran bagaimana bisa Anya secara terang-terangan mengaku ingin menjadi pelakor di hubungannya. Anya sungguh berbeda dibanding perempuan lainnya, wanita itu terlalu berani dan benar-benar sulit untuk bisa menyingkirkan dia nantinya.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1