
Keisha sungguh tak menyangka kalau saat ini Lana tengah hamil di luar nikah, ia pun sangat merasa sedih dan terluka mendengarnya. Ia tahu pasti Lana sedang menderita saat ini dan membutuhkan perhatian, tapi ia justru merasa cemburu pada gadis itu sebelumnya dan pergi dari rumah. Keisha pun menyesal telah melakukan itu, padahal harusnya ia ikut ada di samping Lana sekarang ini.
Sehabis mandi, Keisha sempat melakukan kembali percintaan panasnya bersama sang suami. Ya semua itu terjadi lantaran Alex tak tahan dengan keindahan tubuh Keisha, sehingga akhirnya mereka harus sama-sama mandi kembali. Setelah itu, barulah mereka ke luar dari kamar dan kini duduk berdua di sofa ruang tengah sambil menikmati cemilan yang Keisha buat sebelumnya.
"Mas, aku minta maaf ya? Gara-gara sikap gak jelas aku ini, sekarang kamu jadi harus ninggalin Lana. Aku benar-benar gak tahu kalau Lana lagi hamil, jadi aku ngiranya kamu tuh emang udah gak perduli lagi sama aku dan Kenzie," ucap Keisha merengut.
"Gak mungkin lah sayang, kamu dan Kenzie itu kan kesayangan aku loh!" ucap Alex sembari mencolek hidung istrinya.
"Iya mas, harusnya aku gak meragukan kamu lagi. Aku benar-benar nyesel deh mas, aku sadar kalau tindakan aku ini salah. Kamu mau kan maafin aku, mas?" ucap Keisha.
Alex menggeleng pelan, "Kamu gak perlu minta maaf sayang, udah ya jangan salahin diri kamu sendiri!" ucapnya lembut.
Alex spontan merangkul dan menenangkan istrinya agar tidak terus bersedih, ia tahu penyesalan yang dialami Keisha saat ini karena wanita itu telah salah mengira sebelumnya. Alex tak ingin Keisha terus menangis, meski awalnya ia juga kesal lantaran Keisha pergi dari rumahnya membawa Kenzie dan terlihat begitu emosi karena merasa dicueki.
"Terus sekarang kondisi Lana gimana, mas? Kita kembali aja ya tinggal di rumah papa kamu!" ucap Keisha menatap wajah suaminya.
"Hm, emang kamu gak masalah kalau kita balik kesana?" tanya Alex.
"Gapapa kok mas, waktu itu kan aku salah kira. Tapi, sekarang aku udah tau semuanya. Aku kasihan banget sama Lana, dia pasti drop banget karena harus hamil di usia muda!" ucap Keisha.
"Eee ya aku sih terserah kamu aja sayang, kalau emang kemauan kamu begitu ya aku ngikut aja!" ucap Alex.
Keisha meyakinkan dirinya kalau ia dan Kenzie akan kembali tinggal bersama suaminya di rumah sang mertua, karena Keisha tak tega apabila Lana ditinggal begitu saja dalam kondisi yang tengah mengandung sosok anak. Keisha tahu betul apa yang dirasakan gadis itu, sebab dulu Keisha juga mengandung di usia yang masih muda.
"Mas, kalo gitu aku mau siap-siap dulu ya? Kita langsung berangkat ke rumah papa kamu sekarang, aku gak mau Lana kenapa-napa kalau ditinggal sendiri!" ucap Keisha.
"Okay sayang, aku bantu kamu siap-siap ya!" ucap Alex tersenyum lebar.
Keisha mengangguk setuju, lalu keduanya kompak berjalan menuju kamar untuk membereskan barang miliknya dan juga Kenzie. Alex sangat senang dengan keputusan Keisha saat ini, karena wanita itu masih mau perduli pada adiknya. Padahal, tadinya Keisha tampak begitu cemburu dan tidak suka disaat Alex lebih perhatian kepada Lana.
Keisha juga terlihat sangat menyesal kali ini, karena pemikiran ceteknya yang menganggap Lana hanya memanfaatkan kesempatan untuk memperoleh perhatian dari Alex. Sungguh Keisha harus segera meminta maaf pada Lana nanti, jika tidak maka Keisha akan terus menyesali perbuatannya dan tak mungkin bisa hidup tenang.
"Aku gak nyangka ini juga terjadi sama kamu, Lana. Meski aku rasa sekarang kamu lebih terluka dari aku!" batin Keisha.
•
•
Waktu pulang sekolah tiba, Lana terlihat menunggu di depan sekolahnya sambil celingak-celinguk dan berharap kalau Zikri akan datang. Meski mustahil, tapi entah kenapa Lana selalu meminta pada Tuhan agar kekasihnya itu dapat kembali padanya. Tentu saja Lana tak ingin Zikri pergi selamanya, karena pasti bayi yang dikandungnya butuh sosok ayah.
Namun, tak lama kemudian justru Arfan lah yang muncul di dekat gadis itu. Ya Arfan tampak tersenyum lebar ketika melihat Lana berdiri di depan sana, lalu tanpa basa-basi Arfan bergegas mendekat sembari membawa bunga di tangannya. Arfan tahu Lana tengah bersedih, walau ia sendiri belum bisa menebak apa yang terjadi pada Lana saat ini.
"Hai Lana!" pria itu menyapanya, menyodorkan bunga di tangannya ke arah sang gadis.
__ADS_1
Sontak Lana terkejut, matanya spontan membulat menatap sosok Arfan yang kini berdiri tepat di hadapannya sambil tersenyum. Lana tak tahu harus bersyukur atau apa saat ini, karena ia senang dan juga sedih dengan kemunculan Arfan. Setiap kali bertemu Arfan, maka yang ada di dalam pikiran Lana adalah sebuah penyesalan besar.
"Kamu sendirian aja nih, nungguin jemputan ya? Aku temenin aja gimana? Biar kamu gak bosan, terus ada teman ngobrol juga," ucap Arfan dengan ramah.
"Umm, boleh kok. Terus ini bunganya buat aku?" tanya Lana.
Arfan mengangguk antusias, "Jelas dong Lana, ini buat kamu yang spesial di hatiku. Kamu terima ya, aku senang banget pasti kalau kamu mau terima ini!" jawabnya sambil tersenyum.
Tanpa ragu-ragu, Lana menerima sodoran bunga tersebut dari tangan Arfan dan menghirup aromanya yang begitu wangi. Lana tampak sangat senang dengan pemberian bunga tersebut, sehingga Arfan pun tampak tersenyum sumringah. Ya Arfan tak menyangka Lana akan menerima itu, padahal sebelumnya gadis itu selalu menolak tiap kali Arfan memberikan sesuatu untuknya.
"Makasih ya Arfan, bunganya wangi banget aku suka!" ucap Lana tak henti-hentinya menciumi aroma bunga di tangannya.
"Iya dong Lana, bunga itu kan mencerminkan kamu yang selain cantik juga wangi. Aku harap kamu bisa simpan itu di rumah kamu, tepatnya di kamar kamu biar kamu selalu ingat sama aku!" ucap Arfan.
"Ahaha, iya deh iya. Kamu itu ya Arfan, selalu aja berhasil bikin aku ketawa!" ucap Lana terkekeh.
"Syukurlah kalo gitu, emang niat aku dari awal kan mau coba hibur kamu Lana! Aku senang deh rasanya karena berhasil," ucap Arfan.
Lana cukup kaget mendengar ucapan Arfan, ia tak menyangka pria itu masih perduli padanya dan ingin menghiburnya. Sungguh Lana semakin menyesal saat ini, karena dulu ia telah menyakiti Arfan demi memilih sosok Zikri. Kini Lana tahu bahwa Arfan lah yang benar-benar tulus padanya, tidak seperti Zikri yang malah meninggalkannya begitu saja.
"Eh eh, kamu kenapa Lana? Kok malah kamu nangis kayak gitu sih? Aku ada salah ya?" tanya Arfan.
Lana menggeleng, ia berusaha menyeka air matanya dan mengatakan kalau dirinya baik-baik saja kali ini. Ia hanya terharu dengan apa yang dilakukan Arfan, karena pria itu selalu setia untuk menghiburnya. Padahal, dulu Lana sudah menyakiti hati Arfan dan menolak cintanya yang tulus itu hanya karena pesona Zikri yang lebih menarik darinya.
•
•
Shella tiba di apartemennya, saat itu juga Shella melihat sosok Zayn sudah berdiri di depan unitnya dan terlihat menunggu dirinya. Shella pun cukup terkejut dibuatnya, ia tak mengira Zayn telah lebih dulu berada disana dibanding dirinya. Lalu, tanpa menunggu lama Shella segera menghampiri pria itu dan menyapanya dengan ramah.
Zayn yang tengah asyik berdiri itu, dibuat kaget ketika Shella tiba-tiba sudah berada di dekatnya dan menyapanya sambil tersenyum. Sontak Zayn beralih menatap gadis itu, lalu tak lupa ikut melebarkan senyumnya kali ini. Zayn sangat senang karena Shella telah kembali, setidaknya ia kini bisa bicara berdua dengan wanita yang ia sayangi itu.
"Zayn, kamu ngapain udah berdiri di depan unit aku kayak gini? Kamu pasti nungguin aku ya? Sorry banget Zayn, aku gak tahu kalau kamu udah nungguin aku disini!" ucap Shella.
Zayn mendekat dan meraih satu tangan gadis itu, ia genggam lalu mengecupnya hangat sembari memberi usapan lembut disana. Jantung Shella berdegup tak karuan, tindakan Zayn memang selalu berhasil membuatnya tak berkutik. Apalagi, kini Zayn menariknya dan mengungkung tubuhnya di tembok dengan kedua tangan yang digenggam erat.
"Gapapa sayang, aku rela kok nunggu lama buat kamu," ucap Zayn lirih.
Shella tersipu ketika Zayn memanggilnya dengan sebutan sayang, apalagi tangan pria itu juga tak berhenti mengusap wajahnya. Shella tidak bisa berbuat banyak kali ini, karena kedua tangannya masih digenggam kuat oleh Zayn. Sepertinya pria itu tak mengizinkan dirinya bergerak, karena terbukti Zayn tak kunjung melepaskan tangannya.
Perlahan Zayn semakin mendekati wajahnya, ia mengendus leher gadisnya dan membuat sang empu melenguh tertahan. Tak hanya sampai disitu, pandangan Zayn juga tertuju pada bibir ranum milik Shella yang begitu indah. Namun, belum sempat Zayn mencicipi bibir itu Shella sudah lebih dulu membuka mulutnya dan berbicara padanya.
"Eee Zayn, kita masuk aja yuk ke unit aku! Gak enak lah kalau kita kayak gini disini, nanti ada yang lihat terus tegur kita!" ucap Shella memberi usul.
__ADS_1
"Hm, emangnya kamu mau ngapain ngajak aku masuk ke dalam?" tanya Zayn menggodanya.
"Ya enggak ngapa-ngapain, maksudnya kan lebih enak di dalam gitu jadi lebih leluasa terus gak ada yang ganggu juga. Kalau disini, nanti kita bisa dilihat sama orang lain," kelas Shella.
"Ohh, yaudah deh boleh. Yuk kita masuk ke unit kamu!" ucap Zayn menurut.
Shella merasa lega, setidaknya ia berhasil mencegah Zayn mencium bibirnya untuk saat ini. Meski, ia tak tahu apakah ia masih bisa menahan niat lelaki itu nantinya. Apalagi, mereka sekarang tampak memasuki unit milik Shella dan bisa saja disana Zayn akan melakukan hal yang lebih dari sekedar berciuman dengannya.
Di dalam, Shella dan Zayn kini duduk berdua pada sofa yang tersedia. Zayn masih saja menggenggam erat telapak tangan gadisnya, sembari terus menarik tubuh gadis itu agar menempel dengannya. Kembali pria itu mengendus lehernya, mengecupi setiap bagian wajah Shella tanpa ada yang terlewati sedikitpun.
"Kamu milik aku Shella, aku gak akan biarin kamu disentuh sama laki-laki lain!" bisik Zayn tepat di telinga Shella, yang berhasil membuatnya meremang tak tertahan.
•
•
Kini Lana telah berada di dalam mobil bersama Alex, kakaknya. Gadis itu tampak menunduk dan terus merengut setelah kejadian saat di sekolah tadi, ya akibat salah paham karena melihatnya menangis Alex justru sampai memarahi Arfan. Padahal, Arfan sama sekali tidak melakukan apa-apa yang membuat dirinya menangis seperti itu.
Lana pun sangat kesal pada kakaknya, ia merasa Alex terlalu berlebihan dalam menjaganya. Jika seperti ini, maka Lana khawatir Arfan akan mulai menjauh darinya dan tidak mau lagi menjadi penghibur baginya. Lana juga merasa kasihan pada pria itu, karena sebenarnya niat Arfan hanya ingin menghiburnya agar tidak terus bersedih.
Alex sontak menyesal karena telah bertindak salah sebelumnya, ia menatap wajah Lana di sampingnya dan mencoba untuk membujuk gadis itu saat ini. Satu tangannya bergerak mengusap wajah sang adik, namun segera ditepis oleh Lana. Tampaknya Lana memang masih emosi, dan belum juga bisa melupakan kejadian tersebut.
"Lana sayang, gue minta maaf ya! Gue tahu gue salah, tadi itu gue kebawa emosi aja karena lihat lu nangis Lana. Karena disitu cuma ada di Arfan, ya gue kira dia yang bikin lu nangis," ucap Alex.
"Haish, ya tapi kakak gak harus main marah-marah gitu aja kali! Kan bisa kakak tanya dulu ke aku, jangan langsung kayak tadi dong!" sentak Lana.
Alex tersentak ketika Lana membentaknya, baru kali ini ia merasakan dibentak oleh adiknya sendiri. Reflek Alex menginjak rem saat ini, ia memilih menghentikan mobilnya agar bisa lebih fokus berbicara dengan Lana. Alex pun beralih menatap wajah gadis itu, kini ia berhasil meraih satu tangan Lana dan menggenggamnya dengan erat.
"Sekali lagi gue minta maaf sama lu, tolong lu jangan marah terus dong sama gue Lana! Gue gak tahu harus gimana biar lu mau maafin gue, please ya Lana gue mohon sama lu! Gue paling gak bisa kalo didiemin sama lu," bujuk Alex.
"Umm, okay aku maafin kakak kali ini. Tapi, awas ya kalau kakak begitu lagi! Aku yang jadi gak enak tau sama Arfan, padahal dia gak salah apa-apa eh malah dimarahin sama kakak!" ucap Lana.
"I-i-iya Lana, gue janji deh sama lu! Jangan marah lagi ya cantik!" pinta Alex.
Lana merengut dan memutar bola matanya saat mendengar ucapan sang kakak, sedangkan Alex sendiri tampak tersenyum kali ini. Tanpa banyak berpikir, Alex segera mendekat dan merangkul tubuh adiknya itu dengan erat. Lana tak sempat menghindar, lagipun gerakan Alex memang cukup cepat dan membuatnya pasrah saja kali ini.
"Makasih ya Lana, sekarang gue minta lu buat senyum dong! Sayang lu punya lesung pipi tapi gak dimanfaatin," ucap Alex sambil terkekeh.
Gadis itu tak mau menuruti kemauan kakaknya, ia malah memalingkan wajah ke arah lain dan berusaha melepaskan diri dari rangkulan Alex. Namun, Alex tak membiarkan Lana terus seperti itu dan berusaha memaksanya. Sesekali Alex menggoda Lana, bahkan menggelitik bagian pinggang gadis itu sampai membuatnya terkekeh.
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...
__ADS_1