
Beberapa bulan kemudian....
Waktu cepat berlalu, kini Alex telah resmi lulus dari sekolahnya dan melanjutkan pendidikan ke jenjang perkuliahan sesuai keinginannya. Alex memang ingin menjadi sarjana, sebab ia tak mau nama keluarga Grissham akan tercemar nantinya jika seorang pewaris tahta seperti dirinya bukanlah lulusan sarjana. Meski Alex sangat berat melakukan itu, karena ia harus meninggalkan Keisha sang istri tercinta demi meraih cita-citanya di luar sana.
Alex memang menerima tawaran papanya untuk melanjutkan kuliah di luar negeri, walau awalnya terjadi perseteruan diantara mereka dikarenakan Alex yang kekeuh menolak usul itu. Alex tak mau meninggalkan Keisha walau sebentar, namun pada akhirnya Alex mau menerima semua itu atas bujuk rayu dari sang istri. Ya Keisha lah yang memaksa Alex melakukan itu, karena menurutnya Alex memang harus menuruti kemauan orangtuanya.
Alex pun pergi dari rumahnya dan tak lupa menitipkan Keisha pada kedua orangtuanya, termasuk juga saudara perempuannya, Lana. Meski berat, tapi perpisahan itu akhirnya terjadi juga. Alex telah resmi meninggalkan Keisha saat ini, dan coba menjalani kehidupan barunya di luar sana. Tanpa istri yang selama ini selalu menemaninya, juga tanpa sosok ayah maupun ibunya.
Tentu ini bukan suatu yang mudah bagi Keisha, mengingat dirinya harus susah payah menjalani hidup tanpa adanya sosok suami. Terlebih ia amat menyayangi suaminya itu, dan ia tidak mungkin bisa berlama-lama hidup tanpa Alex. Namun, keyakinan terus diberikan oleh Harry maupun Mayra. Kedua mertuanya itu, mencoba meyakinkan Keisha bahwa hubungan mereka akan baik-baik saja.
Lagipula, Keisha akan dapat menyusul Alex nantinya setelah ia lulus dari sekolahnya beberapa bulan lagi. Keisha harus sabar menunggu momen itu, tidak sampai setahun dari sekarang pastinya Keisha bisa ikut tinggal di luar negeri bersama Alex alias suami tercintanya. Tapi tentu sangat berat bagi Keisha, yang harus menjalani kehidupan tanpa sang suami.
Saat ini Keisha tengah membantu Mayra menyiapkan makan siang untuk mereka sekeluarga, wanita itu mencoba lebih terbiasa hidup tanpa Alex dan tidak terus memikirkannya. Meski sangat berat baginya tentu, karena bagaimanapun Alex telah menjadi bagian dari hidupnya yang selama ini selalu menemaninya dan menjadi penenang bagi dirinya dikala sedih ataupun mengalami musibah.
"Sayang, kalau udah nanti sayurannya dimasukin ke panci semua ya!" ucap Mayra yang membuat Keisha terkejut karena sedang melamun.
"Eh, i-i-iya ma." Keisha pun tersadar dari lamunannya, lalu mulai lanjut memotong sayuran itu.
Mayra tersenyum melihatnya, ia juga menggelengkan kepalanya karena tahu Keisha saat ini masih belum bisa melupakan Alex. Wajar saja menurutnya, sebab tak mungkin Keisha akan dapat hidup normal tanpa ada sosok suami yang selama ini selalu menemaninya.
"Kamu pasti masih kepikiran Alex, ya? Sabar sayang, enam bulan itu gak lama kok!" ucap Mayra.
Keisha mengangguk perlahan, "Iya ma, aku juga lagi berusaha buat sabar. Tapi, kayaknya sulit banget buat aku lakuin itu. Mama pasti tahu lah rasanya berpisah dari suami kayak gimana," ucapnya.
"Gak masalah sayang, mama paham kok. Kamu dan Alex itu kan sama-sama saling cinta, mama juga yakin disana Alex gak akan mudah hidup tanpa kamu. Ya tapi kamu sekarang harus terbiasa sayang, walau sulit!" ucap Mayra.
Keisha hanya manggut-manggut kali ini, ia kembali melanjutkan aktivitas memasaknya dan melakukan apa yang diperintahkan Mayra tadi.
Namun dikala keduanya tengah sibuk memasak, tiba-tiba saja Harry datang ke dapur itu dengan wajah panik diikuti Lana di belakangnya yang tak kalah panik. Sontak Mayra serta Keisha sama-sama menatap bingung ke arah mereka, sebab tak biasanya ayah dan anak itu sama-sama kompak dalam keadaan panik.
"Ma, gawat ma! Pesawat yang ditumpangi Alex barusan mengalami kecelakaan, kabarnya pesawat itu jatuh ke permukaan laut!" ucap Harry dengan nada panik ditambah rasa ketakutan.
Deg
Baik Mayra maupun Keisha, sama-sama terbelalak mendengar perkataan Harry barusan mengenai pesawat Alex yang terjatuh. Keduanya tentu tak percaya dengan hal itu, dan mereka juga kompak menggeleng serta membantah ucapan Harry itu.
"Enggak, itu gak mungkin. Papa jangan bercanda deh, mama gak suka ya kalau papa bercandanya kayak gitu!" ujar Mayra.
"Ini bukan candaan, ma. Buat apa papa bercanda tentang keburukan anak kita sendiri? Ini semua nyata, mama lihat aja beritanya di tv sana!" ucap Harry tegas.
"Iya ma, papa gak bohong. Aku juga lihat tadi berita jatuhnya pesawat itu," sahut Lana.
Mayra masih tetap tak percaya, begitu juga dengan Keisha yang meyakini bahwa tidak mungkin pesawat itu terjatuh. Keduanya kini sama-sama pergi ke depan untuk memastikan sendiri melalui tv, dan betapa kagetnya mereka begitu melihat kabar langsung dari televisi mengenai jatuhnya pesawat yang ditumpangi Alex.
"Ma, beneran ma itu pesawat yang tadi dinaikin sama mas Alex. Gimana ini, ma?" panik Keisha.
Mayra benar-benar tak berkutik, wanita itu bergerak mundur dengan tangan menutupi mulutnya dan isak tangis yang mulai terdengar. Hatinya serasa hancur, melihat berita mengenai putranya. Tentunya Mayra tak mau itu semua terjadi, ia yakin putranya pasti masih hidup dan bisa menyelamatkan diri.
•
__ADS_1
•
Singkat cerita, akhirnya pihak sar memutuskan untuk menghentikan pencarian setelah beberapa Minggu lebih mereka di daerah perairan tempat jatuhnya pesawat itu. Hanya sedikit bangkai pesawat maupun jenazah korban yang berhasil mereka temukan, sebab kebanyakan tubuh para korban itu hancur berkeping-keping sama seperti badan pesawat akibat ledakan yang terjadi.
Kini Keisha beserta kedua orang tua Alex pun pergi ke laut tempat dimana pesawat itu terjatuh, mereka berniat memberikan doa untuk Alex sembari menaburkan bunga di sekitaran air laut itu sebagai tanda kepedulian mereka. Keisha bahkan tak henti-hentinya menangis, ia masih belum rela jika suami yang sangat ia cintai itu pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Tak hanya Keisha, bahkan Mayra serta Harry sendiri juga sama sedihnya dengan wanita. Mereka semua sama-sama menangisi kepergian Alex yang dirasa terlalu cepat, belum sempat mereka melihat Alex lulus dan menjadi sarjana, tetapi yang maha kuasa telah lebih dulu memanggil lelaki itu untuk kembali ke pangkuannya.
"Mas, dimanapun kamu berada, kamu akan selalu ada di hati aku. Meskipun aku gak bisa lagi lihat kamu, tapi cinta ini tidak akan pernah pudar!" ucap Keisha diiringi isak tangis.
Taburan bunga terakhir pun dilakukan oleh Keisha, dan setelahnya wanita itu kembali menangis sesenggukan di dalam pelukan sang kakek. Ia benar-benar tak menyangka ini akan terjadi, sosok lelaki yang ia cintai itu kini telah pergi dan tak akan mungkin dapat kembali.
•
•
"Huweek huweek...."
Begitu mereka kembali ke rumah, Keisha tiba-tiba merasa mual dan langsung pergi menuju kamar mandi karena tak bisa menahannya lagi. Sontak Mayra dan Harry pun tampak kebingungan dibuatnya, mereka heran mengapa tiba-tiba Keisha malah ingin muntah sehabis pergi bersama mereka.
"Itu Keisha kenapa ya, kok dia mual-mual begitu? Apa dia mabuk laut?" tanya Mayra terheran-heran.
"Gak tahu juga deh ma, mungkin aja iya sih. Tapi, reaksinya kok baru sekarang terjadi ya?" sahut Harry yang ikut keheranan.
"Apa jangan-jangan, kak Keisha hamil ya pa, ma?" Lana menyela dan ikut menebak-nebak.
Seketika Mayra dan Harry terbelalak mendengar tebakan dari Lana itu, perkataan Lana memang bisa saja terjadi lantaran reaksi yang ditunjukkan Keisha tadi adalah tanda-tanda terjadinya kehamilan. Namun, mereka juga belum tahu apakah itu benar terjadi atau tidak. Mayra pun izin pamit pada suaminya, ia lalu pergi mengejar Keisha ke toilet untuk bertanya apa yang terjadi.
Tak lama kemudian, Mayra yang tadi berniat menyusul pun telah tiba di depan kamar mandi. Ia melihat Keisha sudah keluar dengan wajah yang begitu pucat, Mayra pun tampak sangat khawatir kali ini. Ia langsung menghampiri Keisha, kemudian menyentuh pundak menantunya itu untuk memastikan bahwa kondisinya baik-baik saja.
"Keisha sayang, kamu kenapa? Wajah kamu sampai pucat begini loh, apa kamu sakit sayang?" tanya Mayra sangat penasaran.
Keisha sedikit kaget melihat keberadaan mama mertuanya disana, ia menggeleng dengan segera untuk membuat Mayra merasa tenang dan tidak mencemaskan kondisinya. Meskipun sebenarnya, Keisha memang merasakan sakit pada bagian kepala serta perutnya.
"Aku gapapa kok, ma. Tadi mungkin karena kena angin laut aja aku jadi mual-mual, tapi sekarang aku udah mendingan kok. Mama tenang aja ya!" jawab Keisha berbohong.
"Jangan bohong sayang! Kamu udah pucat banget begini loh, kita periksa aja ya ke rumah sakit? Mama khawatir kamu kenapa-kenapa!" ujar Mayra.
"Gausah ma, aku beneran deh gapapa. Aku cuma butuh istirahat aja, lagian aku ini sekarang udah baikan kok. Mama gak perlu mikirin aku, palingan nanti malam aku udah baik-baik aja!" ucap Keisha.
"Aduh sayang, kamu ini keras kepala banget sih! Udah pucat begini masih aja gak mau dibawa ke rumah sakit," ucap Mayra geleng-geleng kepala.
"Ya karena aku emang gapapa ma," singkat Keisha.
Mayra tersenyum saja dibuatnya, ia tak lagi memaksa Keisha untuk pergi ke rumah sakit. Justru kini Mayra membantu mengantar Keisha sampai ke kamarnya, meminta agar Keisha beristirahat disana supaya kondisinya membaik. Namun, Mayra juga tak melupakan pikirannya mengenai Keisha yang mungkin saja sedang hamil itu.
"Sayang, kalau memang kamu gak mau ke rumah sakit gapapa. Tapi, kamu mau ya tes pakai alat testpack sekarang?" bujuk Mayra.
Deg
__ADS_1
Keisha melotot lebar begitu mendengar ucapan Mayra barusan, wanita itu tak menyangka jika Mayra akan mengatakan itu padanya dan memintanya melakukan tes kehamilan. Apakah mungkin dirinya memang hamil saat ini?
•
•
Flashback
^^^Los Angeles, America.^^^
"Hai Lex!"
Seorang lelaki tampak menyapa rekannya yang baru tiba di bandara, tidak lain tidak bukan lelaki itu tengah menemui Alex yang merupakan sahabatnya dan akan sama-sama menjalani kuliah disana.
"Eh Bram, sorry banget ya gue telat nyampenya!" Alex langsung menghampiri sahabatnya dan saling berpelukan.
"Iya gapapa Lex, ya walau gue sampai hampir ketiduran tadi gara-gara nungguin lu lama banget disini. Emang lu kemana aja sih? Katanya datang jam tiga sore, lah ini baru landing malam-malam begini!" ujar pria bernama Bram itu.
"Iya itu dia yang mau gue ceritain sama lu, Bram. Tadi gue ketinggalan pesawat yang udah gue pesan, gara-gara gue sakit perut. Yaudah deh, terpaksa gue pakai pesawat yang selanjutnya. Makanya gue baru nyampe sekarang, sorry ya Bram!" jelas Alex.
"Waduh, Alex Alex! Iya deh gapapa, ayo ayo gue antar lu ke penginapan sekarang! Bokap lu kan udah sediain semuanya," ajak Beam.
"Okay."
Alex mengangguk setuju, kemudian ia pergi bersama Bram menuju mobil yang terparkir disana. Tak lupa Bram membantu membawa barang bawaan milik Alex, dan memasukkannya ke dalam bagasi mobilnya. Lalu, mereka sama-sama masuk dan duduk di kursi depan agar memudahkan keduanya saling mengobrol satu sama lain.
Tak butuh waktu lama, akhirnya kedua pria tampan itu tiba di penginapan yang sejenis apartemen sebagai tempat tinggal Alex selama berkuliah di negara itu. Alex pun turun dari mobilnya bersama Bram, dan mereka kini memasuki apartemen itu dengan santai sembari mendorong koper miliknya.
Saat sampai di unit apartemen milik Alex, keduanya tentu menghentikan langkah dan menaruh barang bawaan tepat di depan pintu. Bram mengatakan jika ini adalah unit yang dipesan oleh Harry, selaku ayah dari Alex. Kini Alex tampak tersenyum lebar, ia senang karena diberikan unit apartemen semewah itu oleh papanya.
"Nah Lex, ini nih unitnya yang dipesan bokap lu. Udah lu masuk aja ke dalam, sorry ya gue cuma bisa antar sampe sini!" ucap Bram.
"Okay gapapa, thanks ya udah jemput gue di bandara tadi dan antar gue sampe sini!" ucap Alex.
"Sama-sama Lex, kalo gitu gue cabut ya? Unit gue ada di bawah, lu chat gue aja kalo mau mampir!" ucap Bram.
"Sip!" singkat Alex.
Setelah Bram melangkah pergi dan tak terlihat lagi, Alex kini tampak menatap ke sekelilingnya dan mengagumi keindahan apartemen itu yang memang sangat mewah. Alex benar-benar merasa kagum, ia tak menyangka papanya akan memberikan unit apartemen sebagus ini.
Tapi, kemudian ia baru teringat pada satu hal mengenai ponselnya yang rusak saat di bandara tadi. Alex pun mengambilnya dari dalam koper, untuk memastikan apakah hp itu benar-benar rusak atau sudah bisa dihidupkan. Namun, nyatanya hp itu memang tidak bisa ia nyalakan lagi.
"Ah sial! Gue lupa minta bantuan Bram lagi tadi, hp kentang dasar! Gimana gue bisa kabarin Keisha coba sekarang?" kesal Alex.
"Ehem, excuse me!"
Tanpa diduga, terdengar suara seorang wanita yang menyebutnya dari arah belakang. Alex pun menoleh karena terkejut, lalu terbelalak begitu melihat sosok wanita cantik berdiri disana.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...