
"Ahhh.... ahhh...."
Rintihan keras terdengar dari mulut Keisha, wanita itu masih setia dan pasrah mendapat hujaman dari suaminya itu. Berkali-kali Keisha sudah keluar, tetapi hingga kini Alex masih belum mendapat kepuasan untuknya. Ya sehingga tentu saja Alex tak akan berhenti memompa tubuhnya di bawah sana, dan Keisha hanya bisa merintih terus-menerus menahan tubuhnya yang semakin terasa lemas.
"Ahh Lex, aku mohon cukup! Aku lelah banget, tubuh aku masih lemas. Kalau kamu terus giniin aku, nanti aku makin sakit loh!" pinta Keisha.
"Aaarrrgghhh sebentar lagi sayang! Kamu tahan ya!" teriak Alex sembari menjambak rambut istrinya.
Keisha pun tersentak mendapati perlakuan pria itu, ia mencengkram sprei dengan kuat menahan dirinya dari gempuran habis-habisan yang dilakukan sang suami. Alex mempercepat temponya, mengejar kepuasan yang sebentar lagi akan tersalurkan.
Dan ya, akhirnya pelepasan itu pun tiba. Alex menyemburkan benihnya ke dalam milik Keisha sangat banyak, membuat pria itu langsung lemas dan tergeletak di samping tubuh sang istri. Nafas keduanya terengah-engah, namun Alex masih dapat tersenyum memandangi wajah istrinya yang terlihat begitu kelelahan dan berkeringat itu.
"Haaahhh haaahhh, kamu nikmat banget sayang! Ini dia yang aku mau dari tadi pagi," ujar Alex.
"I-i-iya, tapi kamu kelewatan tau Lex! Aku lagi sakit masih aja digas gitu, kalau aku makin sakit nanti gimana!" protes Keisha.
"Ahaha, maaf sayang. Kan tadi aku udah tanya ke kamu, kamu udah baikan apa belum. Terus kamu jawab udah, yaudah berarti gak masalah dong kalau aku genjot kamu?" kekeh Alex.
"Ish, tapi gak gitu juga kali sayang. Kamu mah yang ada bikin aku makin lemes tau!" kesal Keisha.
"Yaudah maaf, udah kamu kan bisa istirahat tuh sekarang! Jangan marah-marah ah nanti cepat tua loh, lagian kan aku udah selesai nih mainnya! Dah puas juga si Joni berhasil tembakin benihnya ke rahim kamu," ucap Alex terkekeh kecil.
"Duh, tadi kamu keluar di dalam ya Lex? Kamu gak mikir apa kalau aku bakal hamil? Aku ini masih sekolah kelas sebelas Lex, aku belum mau hamil tau!" ucap Keisha tampak kesal.
"Gapapa, kan kamu hamil juga karena udah nikah sama aku, bukan yang hamil di luar nikah. Jadi, kamu gak perlu malu dong sayangku cintaku! Justru seharusnya kamu tuh bangga, karena kamu bakal punya anak!" ucap Alex meyakinkan istrinya.
"Huft, tapi aku belum siap sayang. Gimana kalau aku nanti dicibir sama orang-orang disini?" ujar Keisha dengan wajah cemberut.
Alex tersenyum dan berniat kembali mengecup bibir istrinya, tapi tiba-tiba saja terdengar suara pintu yang hendak dibuka dari luar dan tentu saja membuat keduanya panik. Ya terlebih kini kondisi mereka masih tak berbusana, terutama Keisha yang polos tanpa sehelai benangpun karena Alex melepas semua seragam sekolahnya.
"Hah? Gimana nih sayang? Ada yang mau masuk tuh kesini," ujar Keisha panik.
Alex berusaha menenangkan istrinya itu, ia berkata kalau semua akan baik-baik saja dan Keisha tidak perlu cemas seperti itu. Namun, Keisha tak mungkin bisa tenang jika kondisinya seperti ini. Keisha benar-benar panik, wanita itu bangkit dari posisinya berusaha meraih pakaian miliknya yang tergeletak dimana-mana itu karena ulah sang suami.
Akhirnya Alex pun terpaksa ikut beranjak dari ranjang empuk itu dan membantu Keisha memungut baju-bajunya, ya Alex terlihat santai karena memang ia hanya melepas celananya tidak dengan baju seragamnya. Meski tampak bajunya yang begitu basah, tetapi Alex tidak panik karena dirinya memang memiliki seribu satu alasan untuk bisa menjawab pertanyaan dari orang-orang nanti.
"Ih ini gara-gara kamu, mesum gak tahu tempat sih! Kan jadi aku yang panik kalo gini, mana semua pakaian aku dibuka lagi terus dibuang ke sembarang tempat!" protes Keisha terlihat begitu kesal.
Alex hanya tersenyum saja menanggapi perkataan istrinya, lalu ia membantu Keisha memakai semula seragam sekolahnya disana dan merapihkan rambut serta menyeka keringat di tubuh Keisha agar tidak ada yang curiga. Begitu juga dengan dirinya sendiri, ya Alex kembali memakai celananya dan terlihat menyisir rambutnya.
"Udah nih, sana kamu keluar terus bukain tuh pintunya! Barangkali itu guru atau ada siswa yang sakit pengen dibawa kesini," suruh Keisha.
"Siap sayang! Tapi, nanti pulang sekolah kita main lagi ya? Aku belum puas kalau cuma satu ronde," ucap Alex sembari mendekap dan mengecupi leher istrinya bertubi-tubi.
Deg
•
•
Tio kini tengah berkutat di kantin sekolah sambil celingak-celinguk ke sekitar mencari keberadaan gadis yang ia kagumi itu, ya tiada lain gadis yang ia cari itu adalah Meira alias adik kelasnya yang cantik dan mempesona. Tio pun berharap Meira juga berada disana kali ini, karena ia sudah merencanakan sesuatu untuk bisa lebih dekat dengan wanita itu dan bahkan menjalin hubungan.
Akhirnya Tio berhasil menemukannya, namun tampak Meira kini tengah duduk bersama teman-temannya di meja yang tak jauh dari tempat Tio berada. Tio mendadak ragu, sebab ia khawatir akan mengganggu Meira nantinya jika memaksa mendekat dan mengajak gadis itu ikut dengannya menikmati makanan di kantin tersebut.
__ADS_1
Disaat Tio hendak berbalik dan memilih tidak jadi menghampiri Meira, tanpa diduga ternyata Meira telah lebih dulu menyadari keberadaan pria itu disana. Ya sontak Meira langsung meneriaki nama kakak kelasnya itu dari tempat ia terduduk, bahkan Meira juga turut beranjak dari kursinya hanya untuk memanggil Tio yang sudah tidak mempunyai keberanian untuk mendekati gadis itu.
"KAK TIO!!" suara teriakan itu membuat Tio terhenyak, dia pun menghentikan langkahnya lalu menoleh ke asal suara.
Tio terkejut bukan main begitu mengetahui bahwa yang memanggilnya adalah Meira, tentu saja Tio tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini karena itu merupakan suatu hal yang mustahil. Bahkan, pria itu mencoba mencubit pipinya sendiri untuk memastikan apakah ini mimpi atau bukan. Dan ternyata ia langsung merintih kesakitan, yang berarti saat ini ia sedang tidak bermimpi.
Semua itu nyata, Meira memanggilnya dan kini berjalan ke arahnya dengan senyuman lebar menghiasi kedua pipinya. Gadis itu berhenti tepat di hadapan Tio, tak lupa dia melambaikan tangan seolah menyapa Tio dengan lembut. Sontak jantung Tio berdetak lebih cepat dari biasanya, pria itu tak menyangka ini semua akan terjadi.
"Hai kak! Kenapa gak jadi, tadi kamu mau nyamperin aku kan?" ucap Meira masih tersenyum.
"Eee gu-gue emang mau temuin lu tadi, tapi gak jadi karena gue lihat lu lagi asyik sama teman-teman lu. Gak mungkin lah kalau gue samperin lu sekarang, nanti yang ada gue ganggu lagi," ucap Tio.
"Gapapa kok kak, aku bisa ikut sama kamu sekarang kalau kamu mau. Yuk kita cari tempat duduk yang masih kosong!" ucap Meira.
"Lu serius nih Mei?" tanya Tio tak percaya.
Meira manggut-manggut sebagai jawaban, gadis itu juga mengatakan kembali kalau dirinya memang ingin ikut dengan Tio dan makan berdua bersamanya. Tentu saja Tio terkejut, ia tak percaya jika Meira dapat mengatakan itu kepadanya saat ini dan berhasil membuatnya jantungnya berdebar kencang.
"Gue gak lagi mimpi kan ya? Masa iya lu tiba-tiba mau ikut sama gue kayak gini? Jangan main-main deh Mei, udah jujur aja sama gue!" ucap Tio.
Meira mengernyitkan dahinya, "Main-main gimana sih kak? Aku beneran loh ini, kamu mau ajak aku makan bareng kan? Kalau emang aku salah kira, ya maaf berarti aku yang kege'eran," ucapnya sambil garuk-garuk kepala.
"Eh enggak kok, lu bener Meira. Gue emang pengen ajak lu makan bareng, itu alasan gue mau deketin lu tadi. Tapi, gue masih gak percaya aja kalau lu mau ikut sama gue," ucap Tio.
"Kenapa gitu kak? Beneran kok aku mau ikut, kan lumayan bisa dapat traktiran gratis," ucap Meira.
"Ohh, jadi karena itu lu mau?" tanya Tio.
Meira terkekeh dibuatnya, ekspresi Tio saat menanyakan itu sungguh lucu dan berhasil membuatnya tergelak. Tio sendiri menatap heran ke arah Meira saat ini, pria itu tak mengerti mengapa Meira justru menertawakannya disaat ia sedang berbicara serius.
Tentu saja Tio terkejut, tubuhnya sampai tak bisa digerakkan dan ia terus saja menatap ke arah tangannya yang digenggam oleh Meira. Namun, ia sangat senang dan tak mempercayai jika ini benar-benar terjadi. Digenggam oleh Meira adalah suatu hal yang sangat ia dambakan, dan ia tentu akan sangat bahagia dengan ini semua.
•
•
Dikala Tio tengah bahagia karena Meira sudah mulai menunjukkan ketertarikannya kepada pria itu, sangat berbeda dengan Tasya yang masih saja bersikap acuh tak acuh kepada Rizky saat ini. Ya mereka berdua juga tengah menikmati makan siang bersama di kantin, namun sedari tadi Rizky hanya mendapat diam dari wanita itu yang sepertinya terlihat begitu murung saat bersamanya.
Berbagai cara telah Rizky lakukan untuk bisa membuat Tasya bicara padanya, tetapi semua itu sia-sia karena Tasya masih saja terdiam. Bahkan, gadis itu juga tak mengucap sepatah katapun sejak mereka datang ke kantin dan menikmati makanan yang dipesan. Rizky pun sampai hampir menyerah, ia menepuk jidatnya sendiri sembari mengumpat di dalam hati karena begitu sulitnya melakukan pendekatan dengan Tasya.
"Sya, ini beneran apa lu gak mau bicara sama gue? Daritadi gue nungguin lu loh, ayolah masa satu atau dua kata aja lu gak pengen ucapin sih!" ujar Rizky.
Ucapan Rizky barusan berhasil membuat Tasya mendongak dan menatap ke arahnya, kini gadis itu juga mengeluarkan senyuman manisnya sembari terus mengunyah makanannya. Hanya saja, Tasya masih tetap tidak mau berbicara dan malah kembali menunduk untuk melanjutkan aktivitasnya.
"Sya, please Sya dengerin gue! Gue suka sama lu, gue mau lu jadi pacar gue mulai sekarang! Gue janji bakal lakuin apapun yang lu mau, asalkan lu jangan kayak gini terus sama gue!" bujuk Rizky.
"What? Serius lu ngomong begitu? Lu mau ngelakuin apapun buat gue, hm?" tanya Tasya.
Ya akhirnya Tasya terpancing untuk bicara, tentu saja Rizky senang mendengar itu dan dia langsung saja meraih satu tangan gadis itu untuk digenggam. Betapa bahagianya Rizky saat ini, tangannya bahkan menggenggam erat telapak tangan Tasya seolah tak mau melepasnya. Tasya sendiri tidak menolak, gadis itu terdiam menatap wajah Rizky dengan bingung.
"Nah gitu dong Sya, gue senang banget akhirnya bisa dengar lu ngomong kayak gini! Iya Sya, gue janji bakal ngelakuin apapun yang lu mau kok! Ya asalkan lu mau jadi pacar gue mulai sekarang," ucap Rizky tampak antusias.
"Kalau itu gue butuh waktu sih, soalnya gue masih trauma sama yang namanya pacaran. Lo mau kan tunggu gue sampai gue siap?" ucap Tasya.
__ADS_1
"Oh tentu Sya, gue bakal tunggu kok sampai lu siap. Tapi, jangan kelamaan ya! Soalnya gue juga butuh kepastian dari lu, karena gue takut kalau lu cuma PHP-in gue," ucap Rizky.
Tasya mengangguk kecil disertai senyuman tipisnya, "Iya Rizky, udah ah gue mau makan!" ucapnya ketus.
Rizky terkekeh geli melihat ekspresi menggemaskan Tasya saat ini, apalagi saat gadis itu kembali melahap makanannya di atas meja. Rizky pun merasa sangat bahagia, ia kini tak perlu takut lagi jika Tasya mendiamkannya. Ya walaupun Rizky masih belum yakin, apakah Tasya akan menerima cintanya atau justru malah menolaknya dan mencampakkannya begitu saja.
Sementara Tasya sendiri juga tampak memikirkan hal itu, ia pun tak tahu harus mengatakan apa pada Rizky nantinya sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan pria itu padanya. Sungguh Tasya akui jikalau dirinya memang tak memiliki rasa apapun kepada Rizky, tetapi entah kenapa Tasya juga seolah gugup setiap kali berada di dekatnya.
"Makan yang lahap ya, Sya! Kalau lu masih pengen lagi, silahkan aja nambah sesuka hati lu! Gue bakal bayar semuanya buat lu," ucap Rizky.
"Hm, lu kira gue cewek rakus apa?" ketus Tasya.
"Hahaha, kali aja kan?" kekeh Rizky.
Tasya merengut saja dibuatnya, sedangkan Rizky tampak terus tertawa seolah meledek gadis itu.
•
•
Begitu waktu pulang sekolah tiba, Keisha dibantu oleh Alex keluar dari UKS dan berniat pulang ke tempat tinggal mereka meskipun sedari tadi juga Keisha hanya berdiam diri di UKS tanpa mengikuti pelajaran apapun. Tampak Keisha masih lemas saat ini karena sakit yang dideritanya, terlebih diwaktu istirahat tadi tubuhnya justru dihujam oleh Alex secara paksa sampai ia semakin melemah.
Alex pun terus memapah tubuh istrinya itu dan membawanya keluar dari lingkungan sekolah menuju tempat parkir, tentunya pria itu juga telah menyiapkan semua barang-barang milik Keisha seperti tas dan yang lainnya sebelum mereka akan pulang kali ini. Namun, langkah mereka tiba-tiba terhenti saat di hadapan mereka muncul sosok Zayn yang terlihat menghalangi langkah keduanya.
"Eh Keisha, katanya kamu sakit dan masuk UKS ya? Aku minta maaf banget ya Kei, aku gak sempat jenguk kamu tadi karena ada urusan. Tapi, kamu gak kenapa-napa kan?" ucap Zayn cemas.
Keisha terdiam saat itu juga, ia melirik ke arah suaminya dengan rasa cemas yang menghantuinya saat ini. Ya tentu Keisha takut jika Alex akan terpancing emosinya setelah mendengar ucapan Zayn barusan, apalagi Alex memang dikenal sebagai sosok yang pencemburu dan mudah sekali emosi tiap ada lelaki yang mendekati wanitanya.
"Heh! Apa urusannya sama lu kalo Keisha sakit coba? Lu gausah sok perhatian sama cewek gue, mending lu pergi sana dan jangan caper lagi sama dia! Kalau lu mau selamat, sebaiknya lu jauhi Keisha sekarang juga!" tegur Alex.
"Lex, lu kenapa sih? Salah ya kalau gue cemas sama perempuan yang gue cintai? Gue tahu Keisha cewek lu, tapi tetap aja gue masih cinta sama dia!" ucap Zayn tegas.
"Sialan lu!" Alex mengumpat kesal dan berniat mendekati Zayn dengan amarahnya.
Namun, dengan cepat Keisha berhasil menahan suaminya agar tidak terpancing emosi karena itu hanya akan membuat suasana makin kacau. Keisha juga meminta Alex untuk sabar, sebab ia tak mau Alex dipanggil kembali oleh pihak sekolah seperti waktu itu dan bisa saja kali ini hukuman untuk Alex akan lebih besar dibanding sebelumnya.
Alex menuruti perkataan istrinya itu tanpa membantah sedikitpun, walau saat ini ia tampak sangat emosi dan terus menatap tajam ke arah Zayn disertai dua tangan yang terkepal hebat. Jika saja tidak ada Keisha disana, mungkin Alex sudah meninju habis wajah Zayn sampai membuat pria itu masuk rumah sakit atau bahkan kuburan.
"Untung lu sekarang karena ada Keisha disini, kalau enggak udah pasti gue bakal abisin lu dan kirim lu ke UGD!" ancam Alex.
"Gue gak pernah takut sama ancaman lu, Lex. Bahkan, gue juga gak takut sama lu biarpun lu itu jagoan di sekolah ini. Gue bisa aja lawan lu, tapi gue gak mau lakuin itu!" ucap Zayn.
"Cih, terserah lu aja Zayn! Intinya lu udah kalah dalam perebutan Keisha, karena terbukti sekarang Keisha udah sah jadi milik gue!" tegas Alex.
"Belum tentu Lex, kalian kan masih pacaran. Gue bisa aja rebut Keisha dari lu nanti, bahkan walau kalian udah nikah sekalipun gue akan tetap hadir di kehidupan kalian berdua untuk memperjuangkan cinta gue ke Keisha!" ucap Zayn.
Deg
Alex benar-benar terkejut mendengar perkataan yang dilontarkan Zayn barusan, ia tak menyangka Zayn akan berani mengatakan itu di hadapannya saat ini. Emosinya kembali meluap-luap dan tak bisa dibendung lagi, rasanya ia ingin segera menghabisi Zayn dengan tangannya sendiri dan membuat pria itu menyesal telah mengatakan hal itu tadi.
"Asal lu tahu ya Zayn, gue sebenarnya sama Keisha udah menikah. Kita berdua sudah bukan pacaran lagi, dan kita juga sudah sah menjadi pasangan suami-istri itu!" ucap Alex mengungkap semuanya.
Zayn kali ini yang dibuat terkejut oleh perkataan Alex, pria itu bahkan sampai membelalakkan matanya seolah tak percaya jika Alex dan Keisha telah resmi menjadi pasangan suami-istri yang saling mencintai. Bukan hanya Zayn, bahkan Keisha sendiri tak percaya jika suaminya akan membongkar semua itu di depan Zayn hanya karena kekesalan yang tengah melandanya kali ini. Keisha khawatir ini akan menjadi boomerang untuk mereka, karena sebelumnya Alex meminta padanya agar merahasiakan mengenai pernikahan mereka.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...