
Setelah kepergian Shella dari rumah itu, Keisha kini merasa lebih tenang dan lega karena sumber masalahnya telah pergi. Keisha pun menghampiri suaminya, tersenyum lebar dan ikut duduk di sebelah lelaki itu. Alex menyadarinya, lalu memberi kecupan manis di pipi wanita itu sembari merangkul pundaknya dengan erat dan mengusap lembut.
Keisha tampak membenamkan wajahnya pada bahu sang suami, ia masih benar-benar teringat dengan kejadian saat Shella datang ke rumahnya tadi dan berusaha menggoda Alex dengan pesonanya. Keisha sungguh tak terima, ingin rasanya ia membalas dendam dan memberi pelajaran kepada Shella atas apa yang sudah dia lakukan tadi. Namun, tentu saja Alex menolak itu karena dia tak mau istrinya nanti terluka dan kenapa-napa.
"Lain kali kamu jangan bersikap seperti itu ya di depan Shella, sayang! Kalau dia gak terima terus ngadu ke mama aku gimana? Kan bisa repot nanti urusannya sayang," ucap Alex.
"Lex, kamu itu kenapa malah belain dia sih? Dia itu mau jadi pelakor loh di rumah tangga kita, harusnya kamu tegas dong ke dia!" ucap Keisha.
"Eee iya aku tahu sayang, aku juga gak mau beri dia ruang untuk masuk lebih jauh ke dalam rumah tangga kita. Tadi itu aku cuma gak pengen dia ngadu ke mama yang enggak-enggak," ucap Alex.
"Ya harusnya kamu lebih tegas dong, kalau dia ngadu ya kamu tinggal aduin balik lah sayang! Bilang ke mama, kalau Shella itu terang-terangan mau ngerebut kamu dari aku!" ucap Keisha tegas.
"Gak bisa sayang, aku gak mau libatin mama ke dalam urusan rumah tangga kita!" ucap Alex.
Keisha memutar bola matanya dan beranjak dari dekapan suaminya, ia merasa jengkel dengan sikap Alex yang terlalu baik pada Shella. Ia tentu tak mau, kebaikan Alex malah disalahartikan oleh Shella yang mengira jika Alex memberi harapan padanya. Keisha tahu Shella itu seperti apa, ia khawatir Alex justru akan terpincut dengan pesona si gadis nanti.
"Mau kemana kamu sayang? Suaminya kok ditinggal gitu aja sih?" tanya Alex penasaran.
"Aku mau pergi, nanti setelah pikiran kamu normal lagi baru deh aku bakal kembali ke rumah ini dan tinggal sama kamu!" jawab Keisha ketus.
Alex terkejut, ia spontan berdiri menghampiri Keisha dengan tatapan penasarannya. Tentu Alex tak mau Keisha pergi dari rumah itu, apalagi ia tak tahu kemana Keisha akan pergi kali ini. Ia pun berusaha semaksimal mungkin untuk mencegah istrinya itu, dan meminta Keisha tetap disana bersamanya.
"Jangan gitu lah sayang! Okay, aku minta maaf ya kalau kata-kata aku tadi salah dan bikin kamu bete!" ucap Alex membujuknya.
"Huft, tau ah Lex aku bete sama kamu! Aku mau ke rumah kakek, minggir!" ketus Keisha.
Alex menggeleng menolaknya, "Jangan sayang! Biar aku yang antar kamu ya? Sekalian aku mau silaturahmi juga sama kakek kamu," ucapnya.
"Gausah, aku sendiri aja. Kamu mending telpon tuh si Shella dan suruh dia temenin kamu!" ujar Keisha.
"Hah? Kamu kok gitu sih sayang? Aku gak ada perasaan apa-apa sama Shella, please deh kamu jangan bilang begitu!" ucap Alex.
"Ya kalau emang gitu, kamu nurut sama aku dong sayang!" pinta Keisha.
Alex memalingkan wajahnya, ia sungguh bingung apakah ia harus menuruti kemauan Keisha atau tidak sekarang ini. Pasalnya ia khawatir hal itu malah akan membuat mamanya bermusuhan dengan temannya, dan Alex tidak mau itu terjadi.
"Kenapa diam? Kamu pasti gak mau turutin kemauan aku kan, Lex?" tanya Keisha.
"Eee sebentar sayang, aku masih pikir-pikir dulu soal itu! Kamu tolong jangan marah ya, jangan pergi juga tinggalin aku!" bujuk Alex.
"Udah ah Lex, aku mau tinggal sama kakek aja untuk sementara waktu sampai kamu sadar!" ucap Keisha.
"Ja-jangan sayang! Kamu disini aja, aku sebagai suami kamu gak akan izinin kamu buat pergi tinggalin aku!" sentak Alex.
"Aku gak perduli, aku tetap mau pergi!" kekeuh Keisha.
Alex menggelengkan kepalanya melihat reaksi wanita itu saat ini, kekerasan Keisha membuat Alex bingung harus bagaimana lagi. Keisha pun pergi begitu saja meninggalkan Alex, lalu melangkah keluar dari rumah dan berusaha mencari ojek untuk mengantarnya menuju rumah sang kakek.
Pria itu mencoba mengejar keluar, berusaha menahan Keisha untuk tidak pergi dari sana. Biar bagaimanapun, Alex tak ingin ditinggal oleh Keisha saat ini. Alex sangat mencintai wanita itu, sehingga ia tak akan mungkin bisa tinggal sendiri tanpa adanya Keisha. Kini pria itu berhasil mencekal lengan wanitanya, memohon supaya Keisha bertahan dan tidak meninggalkannya.
"Kei, aku mohon jangan tinggalin aku sayang! Aku ini cinta sama kamu, aku gak bisa hidup tanpa kamu Keisha!" bujuk Alex.
Keisha menghela nafasnya kasar, "Begini yang namanya cinta, hm? Kamu lebih belain Shella daripada aku, darimana cintanya coba kalo kayak gitu?" ucapnya kesal.
__ADS_1
"A-aku bukan mau belain Shella, sayang. Aku ini cintanya cuma sama kamu, bukan sama Shella atau wanita yang lainnya," ucap Alex tegas.
"Yaudah, buktiin dong!" pinta Keisha.
Alex benar-benar bingung saat ini, terlebih Keisha menarik tangannya dan berhasil lepas darinya. Lagi dan lagi Keisha pergi meninggalkan suaminya, membuat Alex sontak berlari mengejar Keisha dan berteriak menahannya.
"Keisha, tunggu Keisha! Biar aku aja yang antar kamu ya sayang?" teriak Alex membujuknya.
Keisha tak mau mendengar, wanita itu malah mencegat taksi yang lewat di depannya dan berniat naik kesana. Namun, Alex berhasil menggapai tangannya dan mencengkeramnya kuat sambil meminta wanita itu tetap disana. Keisha menolak, berusaha berontak sembari meminta dilepaskan oleh suaminya.
"Lepasin aku Lex, aku cuma pengen ke rumah kakek kok! Kamu gausah lebay deh, lepasin sekarang!" rengek Keisha.
"Gak, aku tahu kamu bohong dan masih marah sama aku! Ya kan sayang?" ujar Alex.
Keisha menggeleng dan mengatakan bahwa ia sudah tidak marah lagi pada suaminya itu, tapi tetap saja Alex belum percaya seratus persen dengan apa yang dikatakan wanita itu. Ya Alex yakin jika Keisha sedang marah, maka dari itu ia terus memaksa untuk mengantar Keisha ke rumah kakeknya.
Penolakan terus diberikan oleh Keisha, ia juga berontak dan berhasil melepaskan diri dari genggaman sang suami. Tanpa basa-basi lagi, Keisha langsung saja masuk ke dalam taksi yang sudah dicegatnya tadi. Keisha pun juga meminta supir taksi itu untuk segera pergi, karena ia tak mau Alex kembali menghalanginya.
Kembali Alex berusaha mencegah istrinya, tetapi usahanya gagal lantaran taksi yang ditumpangi Keisha sudah lebih dulu melaju pergi dari sana meninggalkan Alex sendirian. Kini Alex pun tampak kebingungan, ia menggeram kesal sembari mengacak-acak rambutnya sendiri.
•
•
Shella pulang ke rumahnya dengan wajah cemberut, ia menemui mamanya dan menaruh tempat makan yang tadi ia bawa itu di atas meja karena memang isinya sudah tidak ada. Kini Shella juga terduduk di sebelah mamanya, melipat kedua tangan di depan dan menunjukkan wajah kesalnya.
Lala alias mama tercintanya itu pun merasa heran, sebab tak biasanya Shella pulang dengan keadaan seperti itu. Lala menyingkirkan sejenak ponsel di tangannya, kemudian mendekati putrinya yang sedang jengkel itu dan bertanya ada apa. Ya padahal tadi sewaktu pergi, Shella terlihat begitu antusias dan bahagia sekali ingin menemui Alex.
"Kamu kenapa Shella? Kok cemberut kayak gini sih, hm? Alex gak ada di rumah ya?" tanya Lala.
"Ada apa sayang? Cerita dong ke mama kalau kamu ada masalah, biar mama bisa tahu harus bilang apa ke kamu!" ujar Lala.
"Iya ma, tadi itu aku diperlakukan tidak baik tahu sama istrinya Alex," ucap Shella.
Lala terkejut dan mengernyitkan dahinya, "Maksud kamu Keisha? Kok bisa dia kayak gitu ke kamu, memangnya kamu diapain aja sama dia?" ucapnya penasaran.
"Dia nyebelin banget ma, seakan-akan dia gak suka sama kedatangan aku disana," jawab Shella.
"Emangnya kamu ngapain aja disana sih, kok bisa Keisha sampai gak suka kayak gitu? Kamu bikin salah ya?" tanya Lala.
"Hah? Mama kok jadi nyalahin aku? Mama pikir aku ini biang masalah gitu?" kesal Shella.
Dengan cepat Lala menggeleng dan mengelak dari ucapan putrinya itu, karena memang bukan itu yang dimaksud oleh Lala tadi.
"Bu-bukan sayang, mama kan cuma—"
"Ah tahu ah, aku bete sama mama! Aku kesini kan niatnya mau curhat soal keburukan Keisha, tapi mama malah ikut-ikutan nyalahin aku kayak Alex!" sela Shella yang langsung memotong ucapan mamanya karena kesal.
"Eh eh sayang, tunggu dulu dong jangan emosi begitu!" bujuk Lala.
Bukannya menurut, Shella justru beranjak dari tempat duduknya dan berniat pergi meninggalkan mamanya karena kesal. Lala pun berusaha menahannya, tetapi gagal karena Shella sudah lebih dulu pergi menaiki tangga dan masuk ke kamarnya dengan ekspresi kesal.
Lala kini tampak bingung, ia mengusap keningnya sendiri memikirkan apa yang dikatakan Shella tadi. Ia tak mengerti mengapa Shella jadi seperti itu, dan ia juga penasaran apa sebenarnya yang terjadi di rumah Alex tadi saat Shella datang kesana. Apakah benar Keisha sudah memperlakukan Shella dengan tidak baik?
__ADS_1
TOK TOK TOK...
Disaat yang sama, tiba-tiba pintu rumahnya diketuk dari luar oleh seseorang. Sontak Lala terkejut dan spontan menoleh ke arah pintu, karena penasaran akhirnya Lala berjalan keluar menemui orang yang datang kesana. Lala membuka pintu, lalu tampak syok ketika melihat Alex berdiri disana.
"Selamat siang tante! Mohon maaf kalau saya mengganggu waktu istirahat tante!" ucap Alex menyapa dengan sopan pada sahabat dari mamanya itu.
"Ah iya Alex, ini kenapa ya kamu datang ke rumah tante kayak gini? Gak biasanya loh kamu kesini sendirian, masuk dulu yuk!" ajak Lala.
"Tidak usah tante, saya cuma sebentar kok. Saya kesini karena saya mau minta tolong sama tante, tolong tan beritahu anak tante itu untuk tidak mendekati dan menggoda saya lagi!" ucap Alex.
Deg
"Apa??" Lala tersentak bukan main mendengar ucapan Alex barusan.
•
•
Ting nong ting nong...
Baru saja Tasya hendak melahap mie yang ia buat itu, tiba-tiba bel dari arah luar berbunyi dan membuat Tasya harus mengurungkan niatnya itu. Tasya pun terpaksa meletakkan sejenak mangkuk mienya di atas meja, lalu berdiri dan melangkah menuju pintu untuk memastikan siapa yang datang. Meski saat ini ia sudah merasa sangat lapar, dan ingin segera melahap mie buatannya itu.
Begitu ia membuka pintu, betapa terkejutnya ia saat tiba-tiba seseorang di luar sana langsung bergerak memeluknya dengan erat sambil menangis sesenggukan. Tasya benar-benar kaget, karena saat dipastikan rupanya orang yang datang itu ialah Keisha alias sahabatnya. Namun, ia heran mengapa Keisha datang dalam kondisi sedih seperti itu dan menangis deras di dalam pelukannya.
"Kei, bentar Kei tahan dulu tahan! Lu ini kenapa tiba-tiba datang terus peluk gue?" Tasya spontan melepas pelukannya dan menangkup wajah sahabatnya itu sambil memberikan tatapan heran.
Keisha tampak terisak dan air mata terus membasahi kedua pipinya, membuat Tasya makin heran lalu berusaha menyeka air mata itu. Biar bagaimanapun, Tasya tidak tega saat melihat sahabatnya itu menangis seperti itu.
"Hiks hiks, gue sedih banget Sya. Kenapa ya di dunia ini masih ada yang namanya pelakor?" ujar Keisha.
"Hah apa? Ini lu ngomongin pelakor, emangnya siapa coba pelakor itu? Hubungan lu sama Alex baik-baik aja kan, kalian berdua gak kenapa-napa kan?" kaget Tasya.
"Justru itu Sya, rumah tangga gue sama Alex lagi dalam bahaya. Kita diincar sama orang yang mau hancurin rumah tangga kita," ucap Keisha.
"Kei, tenang dulu! Lu cerita di dalam aja ya, sekalian gue buatin minum buat lu biar lu bisa tenang dan gak terlalu panik kayak gini! Udah yuk kita masuk ke dalam!" bujuk Tasya.
Keisha manggut-manggut setuju, lalu keduanya pun sama-sama masuk ke dalam dan duduk di sofa yang tersedia. Tasya tampak mengambilkan minum untuk sahabatnya itu, dan menyuruh Keisha meminum sejenak agar tidak terlalu memikirkan masalah yang sedang menimpanya.
"Gimana, lu udah baikan belum?" tanya Tasya sembari menatap wajah sahabatnya.
Keisha kembali menganggukkan kepalanya, meletakkan gelas minuman itu di atas meja dan menatap wajah Tasya sambil tersenyum tipis. Keisha juga terlihat lebih tenang dibanding sebelumnya, meskipun ia masih saja memikirkan mengenai masalahnya tadi.
"Bagus deh, terus lu sebenarnya ada masalah apa sama Alex? Kok lu sampai datang kesini terus nangis-nangis begitu, hm?" tanya Tasya kembali.
"Gu-gue kesal banget sama kelakuan si murid baru di sekolah kita itu, bete gue!" jawab Keisha dengan ketus sembari mengambil paksa mangkuk mie dari tangan Tasya dan memakannya.
"Eh eh Kei, i-itu kan..."
"Dia itu udah kayak pelakor yang nyebelin, padahal dia masih sekolah loh! Bisa-bisanya dia terang-terangan godain Alex di depan gue, emang dasar ular!" ucap Keisha sambil terus melahap mie tersebut dengan wajah kesal.
Tasya hanya bisa menepuk jidatnya, ia tidak mau membuat sahabatnya bersedih kembali jikalau ia mengambil mangkuk mie tersebut darinya.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...