Menikah Karena Skandal

Menikah Karena Skandal
Bab 66. Jebakan berhasil


__ADS_3

Alex kini masih terjebak di dalam rencananya dan juga Bram, ya pria itu tengah menikmati makan malam bersama Anya di sebuah restoran yang mewah. Namun, Alex terlihat canggung serta bingung harus melakukan apa. Sedangkan Anya tampak lebih agresif, bahkan beberapa kali wanita itu berusaha untuk menggoda Alex disana.


Setiap kali Anya hendak menyentuh tangannya, Alex langsung menghindar dan seolah tidak ingin disentuh oleh wanita itu. Alex benar-benar tidak nyaman jika hal itu sampai terjadi, karena ia sangat merasa jijik dengan wanita di depannya itu. Apalagi setelah ia tahu, bahwa Anya merupakan wanita penghibur yang suka memuaskan banyak lelaki.


"Lex, kamu kok malu-malu gitu sih sama aku? Ayolah, udah kamu gausah kayak begitu! Kita ini kan lagi menikmati malam yang indah, harusnya kamu bahagia dong sayang!" bujuk Anya.


"I-i-iya Anya, aku cuma mau fokus makan aja. Makanya aku gak suka banyak ngobrol," ucap Alex.


"Ohh, ya tapi kan tetap aja aku juga gak suka diabaikan sayang. Kamu katanya mau bikin aku bahagia dan coba buat dekat sama aku, ayolah jangan diam aja kayak gitu! Minimal kamu senyum atau apa kek," pinta Anya.


"Hm, iya Anya yang cantik dan manis!" puji Alex sambil tersenyum menuruti kemauan Anya, supaya wanita itu tidak kecewa dan pergi dari sana.


Akan tetapi, tak lama kemudian Alex malah melihat kemunculan sahabatnya yang berjalan di dekat sana sambil menatapnya serta memberi kode seolah mengajak Alex untuk ikut dengannya. Alex yang mengerti, sontak tengah memikirkan cara agar bisa meminta izin pada Anya dan pergi menemui Bram.


"Umm Anya cantik, aku mau ke toilet sebentar ya? Kamu disini dulu okay!" pamit Alex.


"Oh gitu, yah yaudah deh gapapa aku ditinggal sendirian. Tapi, kamu jangan lama-lama ya sayangku cintaku!" ucap Anya dengan manja.


"Hm, pasti sayang."


Alex beranjak dari tempat duduknya, lalu melangkah dengan cepat menuju toilet pria di dekat sana. Ya sebelumnya ia melihat Bram memasuki toilet itu juga, sehingga ia memilih menyusul kesana untuk menemuinya. Alex ingin tahu, apakah Bram berhasil mengambil ponsel Anya dan menghapus fotonya atau tidak.


Sesampainya di toilet pria, Alex langsung berdiri di hadapan Bram sembari menanyakan keberhasilan pria itu. Alex sudah tak tahan lagi harus berpura-pura menjadi lembut di depan Anya, karena sungguh hal itu sangat membuatnya merasa jijik. Rasanya Alex sudah tidak kuat, apalagi kalau sampai itu terus terjadi di hidupnya.


"Bram, gimana? Lu berhasil gak buat ambil hp nya si Anya dan hapus foto-foto gue disana?" tanya Alex dengan penasaran.


Bukannya menjawab, Bram justru senyum-senyum dan memandang wajah Alex. Sontak hal itu membuat Alex keheranan, pria itu tak mengerti apa yang lucu sampai Bram tersenyum seperti itu. Padahal, saat ini situasinya tengah genting dan Alex sangat membutuhkan ponsel Anya.


"Hahaha, lu lihat aja nih bro!" sambil terkekeh, Bram menunjukkan foto Alex yang ia ambil dari ponsel Anya sebelumnya itu.


Sontak Alex terkejut saat melihat foto dirinya dalam kondisi polos tanpa pakaian itu ada di layar ponsel sahabatnya, ia langsung buru-buru meminta Bram untuk menghapusnya saat itu juga. Namun, Bram malah menarik ponselnya kembali dan tertawa puas seolah mengejek sahabatnya itu.


"Bro, udah lah jangan macam-macam! Buruan lu hapus tuh video, biar gue bisa aman!" pinta Alex.


"Iya Lex iya, yah elah lu takut amat sih! Gue cuma ngakak aja lihat ekspresi lu itu, tapi pasti bakal gue hapus kok. Gak mungkin lah gue save foto telanjang cowo kayak gini," kekeh Bram.


"Sialan lu! Tapi thanks ya, karena kalau bukan gara-gara lu mungkin gue gak bisa ambil tuh foto dari hp Anya!" ucap Alex.


"Sama-sama, bro."




Revan mengantarkan Keisha tepat sampai ke depan halaman rumahnya, pria itu cukup kaget setelah mengetahui bahwa tempat tinggal Keisha begitu mewah dan besar bagaikan istana. Revan awalnya mengira Keisha adalah gadis biasa, tetapi ternyata semua pikirannya itu salah dan Keisha adalah seorang wanita yang kaya raya.

__ADS_1


Keisha pun berniat turun dari mobil itu saat ini, sebab ia tidak bisa jika terlalu lama berada disana bersama seorang lelaki asing. Keisha sudah merasa tidak nyaman jika terus berduaan dengan Revan disana, pasalnya ia sekarang telah memiliki suami dan ia tidak boleh mengkhianati cinta suaminya walau kenyataan mengatakan bahwa Alex sang suami telah meninggal dalam kecelakaan pesawat.


Namun, Revan yang menyadari niat Keisha sontak bergerak cepat menahan lengan wanita itu dengan cara mencengkeramnya dari samping. Keisha tak menyangka akan hal itu, ia menoleh ke arah Revan dengan wajah terkejut dan masih bingung mengapa Revan berani melakukan itu pada wanita yang sudah bersuami seperti dirinya.


"Kamu mau kemana? Udah dianterin sampe rumah, masa langsung main pergi gitu aja sih? Gak ada basa-basi nya atau apa dulu gitu?" ujar Revan.


"Lepasin, jangan macam-macam deh Van! Aku ini udah punya suami, kamu gak bisa sentuh tangan aku kayak gini tanpa seizin dari suami aku itu! Lepasin aku!" sentak Keisha.


Revan menurut, ia melepaskan lengan Keisha sesuai permintaan wanita itu. Kemudian, dengan wajah kesal Keisha turun dari mobilnya dan berniat masuk ke dalam rumah besar mertuanya agar bisa segera meninggalkan Revan. Akan tetapi, Revan tak semudah itu menyerah. Ya Revan kini turut keluar dari mobilnya, bergerak cepat mengejar Keisha.


"Kei, tunggu dulu dong Keisha! Kamu itu kenapa kayak gini sih? Apa kamu gak pernah diajarkan cara untuk berterima kasih sama orang yang udah membantu kamu?" teriak Revan.


Keisha terdiam dan tidak melanjutkan langkahnya, wanita itu terkejut dengan ucapan yang dilontarkan Revan barusan seolah tak menyangka. Revan sendiri telah berhasil berdiri di dekat Keisha saat ini, ia tatap tajam wajah wanita itu seolah menunjukkan bahwa ia tidak terima dengan sikap Keisha yang tidak mau mengucap kata terimakasih padanya tadi.


"Gimana Kei, kamu bisa jawab gak pertanyaan aku tadi?" tanya Revan lagi.


Dengan cepat Keisha membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Revan, wanita itu juga tak kalah emosi karena kelakuan Revan yang benar-benar sulit untuk dimengerti. Pasalnya, sedari tadi Revan seolah tidak ingin berpisah darinya. Bahkan, lelaki itu terus saja mencoba untuk mendekatinya.


"Okay, aku paham kok sama kemauan kamu. Aku akan bilang terimakasih sekarang ke kamu, tapi kamu janji dulu kalau kamu mau pergi dari sini setelah itu!" ujar Keisha.


"Kamu bisa pegang kata-kata aku, lagian ngapain juga aku ada disini terus? Udah kamu gausah khawatir Keisha!" ucap Revan tersenyum lebar.


Perlahan wanita itu mengambil nafasnya dalam-dalam, ia berusaha menguatkan diri sebelum mengucapkan terimakasih kepada pria di hadapannya itu. Kini Keisha menatap tajam ke arah Revan, lalu mulai membuka mulutnya dan melakukan apa yang diminta pria itu.


Revan melebarkan senyumnya, rasanya ia begitu gemas melihat ekspresi Keisha saat mengatakan kalimat itu tadi. Revan sangat senang karena Keisha mau menurutinya, meski tadi mereka sempat berdebat selama beberapa detik disana. Sedangkan Keisha sendiri langsung menunduk tersipu, berusaha menyembunyikan rasa malunya saat ini.


"Keisha!" suara teriakan seorang wanita itu mengejutkan keduanya, dan ketika mereka menoleh keduanya terkejut bukan main melihat Mayra alias mama mertua Keisha berdiri disana.




Setelah merasa aman dari ancaman seorang Anya, akhirnya kini Alex bersama Bram bergerak menghampiri wanita itu di meja restoran. Mereka berdua tampak senyum-senyum seolah puas dengan keberhasilan mereka, sedangkan Anya yang melihat itu tampak heran sekaligus tak mengerti apa yang terjadi pada kedua pria tersebut.


Anya beranjak dari tempat duduknya, memandang ke arah Alex serta Bram dengan mengernyitkan dahinya. Anya terlihat bingung mengapa bisa Bram ada bersama Alex disana, padahal tadinya Anya hanya pergi berdua dengan Alex dan tidak ada sosok Bram di antara mereka berdua.


"Lex, kok kamu malah balik sambil bawa Bram? Aku kan tadi udah minta kamu buat gak ajak siapa-siapa lagi selain kita berdua, katanya kamu pengen kita cuma dinner berdua!" kesal Anya.


Alex tersenyum dibuatnya, "Anya Anya, ternyata lu bodoh dan gampang dikibulin juga ya? Lu pikir semudah itu gue mau dinner sama lu? Sorry ya, gue itu tadi cuma menjalankan rencana gue sama Bram buat jebak lu!" ucapnya terkekeh.


"Hah? Maksud kamu apa sih Lex? Kamu mau jebak aku kayak gimana?" tanya Anya keheranan.


"Asal lu tahu, disaat kita pergi kesini tadi Bram dan satu orang temannya masuk ke unit lu buat ambil hp lu. Mereka juga berhasil hapus foto-foto gue dari ponsel lu itu Anya," jawab Alex.


Deg

__ADS_1


Mata Anya terbelalak seketika, ia baru sadar kalau sedang masuk ke dalam perangkap jebakan Alex dan juga Bram saat ini. Ia pun menunduk bingung dan coba mencari cara untuk menghadapi pria itu, pasalnya sekarang ini ia sudah tidak memiliki apa-apa lagi yang bisa digunakan untuk mengancam Alex agar mau menurut padanya.


"Sorry juga ya, gue sama Bram gak punya banyak waktu buat ladenin lu terus disini! Mending lu lanjutin aja makannya sendiri, tenang aja gue udah bayarin semuanya kok!" ucap Alex terkekeh.


"Hahaha, atau lu ajak aja tuh sugar daddy lu buat temenin lu disini!" sahut Bram memberi usul.


"Sialan kalian berdua! Awas ya, aku bakal bikin perhitungan sama kamu Alex dan juga kamu Bram!" ucap Anya mengancam.


"Oh ya? Lu pikir kita takut sama ancaman omong kosong lu itu? Enggak Anya!" tantang Alex.


"Hahaha...." Bram ikut menertawakan Anya saat ini, membuat gadis itu benar-benar bingung.


Setelahnya, Alex mengajak Bram untuk segera pergi dari sana dan membiarkan Anya seorang diri di restoran tersebut. Tentu saja Bram setuju dengan itu, mereka lalu berniat pergi meninggalkan Anya sambil terus tertawa-tawa penuh kepuasan. Namun, Anya memanggilnya bermaksud menahan Alex maupun Bram supaya tidak pergi dari sana.


"Lex, tunggu! Kamu jangan pergi dulu, kita harus tuntaskan makan malam kita ini!" teriak Anya memohon kepada lelaki itu.


Alex dan Bram sama-sama tidak perduli dengan teriakan wanita itu, mereka sungguh malas meladeni Anya yang terlalu menyebalkan dan memiliki banyak cara itu untuk menyakiti mereka. Alex juga khawatir jika Anya memiliki rencana lainnya, apalagi wanita itu memang sering sekali melakukan drama.


"Lo mau apa lagi, Nya? Belum puas lu udah bikin gue hampir jantungan dari kemarin gara-gara foto sialan lu itu?" tanya Alex dengan kesal.


Anya menggeleng pelan, "Enggak Lex, aku justru mau minta maaf sama kamu. Aku nyesel udah sempat mau ancam kamu kemarin, aku mohon maafin aku ya!" ucapnya memelas.


"Hah??" Alex terkejut bukan main, ia melirik wajah Bram yang juga sama bingungnya dengan ia.


Namun, Bram yakin kalau ini semua hanya permainan dari Anya. Ia tahu betul seperti apa sikap wanita itu, dan ia meminta pada Alex untuk tidak terlalu percaya dengan apa yang diucapkan Anya barusan. Memang Anya pandai sekali membuat seseorang mudah diperdaya, seperti itulah pekerjaan yang Anya jalankan selama ini.


"Lex, lu gak boleh percaya gitu aja sama nih cewek! Dia itu punya banyak tipu muslihat, jadi gue saranin lu buat hati-hati deh!" bisik Bram.


Alex mengangguk paham, ia meminta Bram untuk tenang karena ia sendiri juga tahu apa yang harus ia lakukan terhadap wanita itu. Alex bukan tipe orang yang mudah dibohongi oleh tipu daya wanita, apalagi wanita itu seperti Anya. Mungkin jika Keisha yang berakting seperti itu, maka barulah Alex akan dengan mudah terpedaya.


"Yaudah, okay gue maafin lu kok. Lu sekarang gak perlu sedih kayak gitu, gak enak dilihatnya sama orang lain! Nanti dikiranya gue apa-apain lu lagi," ucap Alex dengan santai.


"Hiks hiks, i-i-iya Alex. Aku gak akan nangis lagi kalau memang kamu yang minta, tapi aku mohon kamu jangan pergi ya!" bujuk Anya.


"Gue udah maafin lu Anya, tapi untuk tetap disini gue gak bisa. Gue harus pergi sekarang, gue gak punya banyak waktu buat ladenin lu!" tolak Alex.


"Tapi Lex, aku—"


Alex lebih dulu menyelanya, ia mengangkat telapak tangannya ke arah wanita itu seolah meminta Anya untuk berhenti bicara. Alex tak mau lagi mendengar apa-apa dari mulut Anya saat ini, sebab menurutnya semua sudah selesai dan tak ada lagi yang harus dibicarakan oleh mereka.


Disaat Alex dan Bram hendak pergi untuk yang kedua kalinya, lagi-lagi Anya menahan tangan Alex dan mencengkeramnya kuat sembari meminta Alex untuk tetap disana dengan cara memohon-mohon sambil merengek dan menangis deras. Anya sepertinya belum rela jika akan kehilangan Alex, apalagi ditinggal oleh pria itu.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2