
Keisha memberikan tatapan tajam ke arah Lana, seraya menyentuh wajah adik iparnya itu dan memintanya untuk pergi lebih dulu ke dalam mobil selagi ia menghadapi Zayn. Awalnya Lana ragu, tapi kemudian gadis itu terpaksa menuruti perintah Keisha dan pergi menuju mobilnya dengan wajah pasrah dan khawatir.
Kini Keisha kembali menatap wajah Zayn dengan serius, terlihat Zayn juga tersenyum sembari mendekat ke arahnya. Zayn mengira Keisha akan mau menerima tawarannya, karena tadi wanita itu menyuruh Lana untuk pergi dari sana. Namun dugaan Zayn salah, sebab sebenarnya Keisha hanya ingin menegur pria itu saat ini.
"Kei, kamu mau kan berangkat bareng sama aku? Ayolah Kei, cukup kali ini aja kok!" paksa Zayn sembari berusaha menyentuh tangan wanita itu.
Akan tetapi, Keisha dengan cepat menepis gerakan tangan Zayn dan tidak ingin disentuh olehnya. Keisha tetap kekeuh menolak ajakan pria itu, sehingga Zayn pun merasa kesal dan benar-benar bingung tak tahu harus bagaimana lagi. Keisha sangat sulit untuk dibujuk, padahal berbagai cara sudah dia lakukan sedari tadi.
"Sorry Zayn, gue gak bisa bareng sama lu. Mungkin lain kali atau bahkan gak sama sekali, karena hati gue ini cuma untuk mas Alex seorang. Kalau lu masih terus berharap sama gue, maaf banget gue gak bisa balas perasaan lu!" ucap Keisha kekeuh.
"Keisha tunggu!" Zayn kembali menahan pergerakan wanita itu dengan mencekal lengannya.
"Apa lagi sih Zayn? Gue harus pergi ke sekolah sekarang, gue gak mau sampai terlambat. Lu mending minggir deh, jangan halangi jalan gue atau gue teriak!" kesal Keisha.
"Kei, please! Kali ini aja aku minta kamu nurut sama aku, biar aku yang antar kamu ke sekolah ya Keisha!" bujuk Zayn.
Keisha menggeleng kuat seraya mendorong tubuh Zayn sampai tangannya terlepas dari genggaman pria itu, nyaris saja Zayn terjatuh jika dia tidak berhasil menahan keseimbangan tubuhnya. Kini Keisha pun berniat pergi menyusul Lana, tapi tiba-tiba ponselnya berdering dan membuatnya mengurungkan niatnya.
Saat Keisha melihatnya, ada nomor tak dikenal yang menghubungi nomornya itu. Karena penasaran, akhirnya Keisha mau tidak mau terpaksa mengangkat telpon itu lebih dulu untuk memastikan siapa yang meneleponnya. Ya meski Keisha sangat jarang menggubris bila ada telpon dari nomor asing, tapi entah kenapa kali ini ia memiliki firasat aneh.
📞"Halo! Dengan siapa ya?" tanya Keisha dalam telpon, ia benar-benar penasaran kali ini.
📞"Hey, halo sayang! Ini aku Alex, suami kamu. Masih ingat kan?" jawabnya dari sebrang sana.
Deg
Seketika Keisha terperangah begitu mendengar jawaban dari seseorang di dalam telpon itu, ia benar-benar tak percaya dengan apa yang saat ini terjadi. Suara itu, sangat mirip dengan suara suaminya dulu. Tapi, bukankah Alex sudah meninggal dalam kecelakaan pesawat beberapa saat lalu? Begitulah pikirnya dalam hati, saat ia mendengar suara seorang lelaki tersebut.
📞"Ma-mas Alex??" ujar Keisha dengan nada terkejut dan mata terbelalak.
Suara Keisha itu sontak membuat Zayn yang masih berdiri di dekatnya pun ikut terkejut, pria itu penasaran mengapa Keisha menyebut nama Alex di dalam telponnya saat ini. Padahal yang Zayn tahu, Alex telah lama meninggal dalam kecelakaan pesawat beberapa waktu lalu.
📞"Iya sayang, ini beneran aku. Maaf ya aku baru bisa ngabarin kamu, kemarin-kemarin hp aku rusak jadinya gak bisa telpon kamu deh. Kamu apa kabar sayang?" ucap Alex dari balik telpon.
Keisha masih terdiam bingung, ia tak menyangka dirinya akan telponan dengan suaminya yang sudah meninggal. Keisha tak mengerti apa yang terjadi, apakah ini semua hanya khayalannya atau memang benar terjadi? Bagaimana mungkin orang yang sudah meninggal bisa menghubungi orang yang masih hidup?
📞"Ta-tapi mas, bukannya kamu udah..."
__ADS_1
Keisha tak sanggup meneruskan kalimatnya, air mata lebih dulu menetes menandakan kesedihan yang ia rasakan. Sedangkan di depan sana, Zayn menatap dengan heran ke arahnya seolah penasaran apa yang sedang terjadi dan siapa yang menghubungi Keisha saat ini.
📞"Udah apa sayang? Kamu itu kenapa sih, kok daritadi kayak kaget gitu pas aku telpon? Kamu gak senang ya?" tanya Alex kebingungan.
📞"Eee bukan begitu mas, aku cuma—"
"Kak Keisha!!" tiba-tiba Lana keluar dari mobil dan berteriak memanggilnya.
Sontak Keisha menghentikan ucapannya pada Alex, lalu menoleh ke arah Lana dan terlihat semakin bingung. Ini semua nyata, karena jika tidak bagaimana mungkin Lana bisa memanggilnya dan berjalan ke arahnya? Keisha pun tak tahu harus bahagia atau sedih, sebab ia juga belum yakin dengan semua ini.
📞"Eh sayang, itu suara Lana ya? Bilangin dong ke dia, aku titip kamu buat dijaga gitu! Kamu kan tahu sendiri, sekarang aku udah gak bisa jaga kamu. Makanya aku khawatir banget sama kamu," pinta Alex di telpon.
Deg
Keisha melotot seketika, perkataan Alex seolah menunjukkan bahwa lelaki itu sudah pergi untuk selamanya dan tidak bisa lagi kembali atau sekedar menjaganya. Keisha yang tadi sempat berharap Alex masih hidup, kini justru kembali bersedih mengira bahwa sekarang ini yang menelponnya adalah arwah dari Alex yang masih gentayangan.
Tanpa berpikir panjang, Keisha langsung memutus telpon tersebut karena ia merasa takut. Keisha pun berusaha menghilangkan kesedihannya dan kembali fokus menatap Lana yang sudah mendekat, Keisha tentunya tidak ingin menceritakan hal itu kepada Lana atau siapapun karena menurutnya semua itu akan sangat sulit dipercaya.
•
•
Bram yang tepat berada di depannya pun ikut merasa bingung melihat ekspresi Alex, seharusnya sahabatnya itu bahagia karena bisa menghubungi Keisha dan bukan malah bersedih begitu. Bram coba mendekat, lalu menanyakan apa yang terjadi pada Alex karena ekspresi pria itu yang mendadak berubah setelah menghubungi Keisha.
"Eh Lex, lu kenapa sih? Lu gak senang istri lu udah bisa lu hubungi? Oh, apa jangan-jangan lu masih mikirin si Anya ya? Tobat Lex, inget istri tuh di rumah!" tegur Bram.
"Apaan sih lu? Gue justru lagi mikirin Keisha ini, gue bingung deh sama dia. Kok dia kayak kaget gitu ya waktu terima telpon gue? Terus tadi dia juga bilang hal-hal yang aneh, gue kan jadi heran apa yang terjadi sama Keisha sebenarnya!" jelas Alex.
Bram mengernyitkan dahinya, "Hah gimana tuh maksudnya? Emang si Keisha bicara apa aja sama lu tadi bro?" tanyanya penasaran.
"Keisha bilang, kalau gue ini udah titik titik. Gue kan bingung ya gak ngerti," jawab Alex.
Jawaban Alex itu justru membuat Bram semakin bingung, ia melongok lebar seraya membuka mulutnya dan menatap tajam ke arah Alex penuh pertanyaan.
"Gimana gimana? Udah titik titik apaan sih maksud lu? Yang jelas dong bro, ah!" ujar Bram.
"Ya itu gue juga bingung, soalnya Keisha gak nerusin ucapannya. Dia berhenti pas bilang kalau gue udah, kan gue jadi gak tahu kelanjutannya," jelas Alex.
__ADS_1
"Ohh, yah elah ribet amat sih lu! Kan bisa lu telpon lagi sekarang, biar gak kepo!" saran Bram.
Alex menggeleng pelan, "Gak Bram, tadi gue denger ada suara Lana juga disana. Kayaknya mereka lagi mau berangkat sekolah deh, gue gak mau ganggu lah takut mereka telat!" ucapnya.
"Eh iya ya, disana pasti masih pagi ya? Kalo gitu mending lu minum deh tuh!" ucap Bram.
Alex mengangguk setuju dan menghabiskan minumannya, lalu ia kembali berpikir keras apa kiranya yang hendak dibicarakan Keisha tadi. Alex benar-benar tak mengerti mengapa Keisha terdengar seperti tidak percaya saat ia menelponnya, ia merasa seperti ada sesuatu yang terjadi dan belum ia ketahui sampai sekarang.
Namun, pikirannya malah kembali mengarah pada malam kejadian saat dirinya mabuk. Ia masih belum mendapat jawaban pasti dari Anya mengenai hal itu, ia juga bingung bagaimana bisa Anya mengantarnya pulang sampai ke apartemen tanpa bantuan orang lain. Padahal, jelas-jelas Anya adalah seorang wanita dan dia juga ikut minum malam itu.
Alex benar-benar pusing memikirkan hal itu, ia tentu tak mau jika sampai terjadi sesuatu diantara dirinya dan juga Anya. Apalagi ia tahu Anya adalah seorang wanita liar yang doyan memuaskan lelaki, ia khawatir Anya sengaja memanfaatkan dirinya untuk memerasnya di kemudian hari.
"Eh bro, kenapa lagi sih lu? Baru juga tenang sebentar, eh udah ngelamun lagi aja!" tegur Bram.
Alex terkejut, nyaris saja gelas di tangannya terjatuh karena teguran serta sentuhan mendadak pada pundaknya dari sahabatnya itu. Alex pun meletakkan gelasnya, lalu tak lupa memesan minuman kembali kepada waiters disana. Barulah Alex beralih menatap sahabatnya, karena ia juga ingin membahas hal itu pada Bram.
"Bram, beneran semalam lu gak tahu apa-apa soal gue dan Anya? Lu gak ada lihat gitu waktu Anya bawa gue kemana?" tanya Alex dengan serius.
Bram menggeleng sambil terkekeh, "Ya ampun bro, masih aja lu bahas soal itu! Gue udah bilang, gue keasyikan main sama cewek gue semalam. Jadinya ya gue lupa sama lu," jawabnya santai.
"Hadeh, gitu mulu lu mah! Kena penyakit menular aja baru tau lu!" kesal Alex.
"Eh eh, buset parah banget lu ngomongnya! Jangan gitu lah sama sohib sendiri bro, gue kan begitu juga karena gue belum ada pacar!" ucap Bram.
"Iya iya, terus apa yang lu tahu tentang kejadian malam itu?" tanya Alex lagi.
"Umm, gak ada sih. Yang gue tahu tuh, gue gak sengaja mergokin Anya baru keluar dari unit lu dalam kondisi setengah mabuk. Pakaiannya juga agak berantakan lah," jawab Bram.
"Hah? Terus terus??"
Bram pun tertawa sejenak sebelum kembali melanjutkan ceritanya, ia merasa lucu melihat ekspresi Alex saat ini yang terlihat begitu tidak sabar untuk mendengarkan cerita darinya. Ya wajar saja menurutnya, karena memang Alex sangat tidak ingin jika dirinya disentuh atau diperlakukan buruk oleh Anya tanpa dia sadari.
"Ya gue tanya dah tuh ke dia abis ngapain, eh katanya cuma nganterin lu pulang karena dia gak sengaja lihat lu pingsan di bar," jelas Bram.
"Wah kacau! Dia pasti bohong, gak mungkin kalau cuma kayak gitu!" sentak Alex.
Alex benar-benar kesal saat ini dan ingin segera melampiaskan emosinya pada Anya serta meminta wanita itu memberikan penjelasan dengan benar, namun Bram segera menahannya dan menahan Alex untuk tidak terbawa emosi karena itu hanya akan membuat Alex celaka sendiri.
__ADS_1
...~Bersambung~...
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...