MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
SEBUAH KABAR


__ADS_3

"Apa lagi yang anda lakukan pada istriku? Tolong untuk sementara ini jangan ganggu dia lagi. Anda lihat sendiri kondisinya sekarang, berikan dia waktu untuk menerima kehadiran anda. Anda pasti tahu, tidak mudah menerima seseorang yang tiba-tiba datang dan mengaku sebagai ibu kandungnya," ucap Langit. Tak ada emosi, tak ada bentakan, kalimat itu justru terdengar lirih.


Violet menunduk sedih, sedari tadi ia tak berhenti menangis. Betapa paniknya ia ketika Jingga jatuh pingsan di dalam lift, ia menekan tombol emergency di ujung dinding lift paling atas, untuk meminta pertolongan pada security setempat.


Lift khusus CEO itu memang di fasilitasi lengkap, keamanannya pun bukan keamanan kaleng-kaleng. Terdapat beberapa tombol emergency di ujung dinding lift di atas tombol angka. Ada yang terhubung pada security, terhubung pada teknisi, bahkan terhubung pada ruangan Langit secara langsung.


Semua itu memang merupakan standar keamanan untuk sang CEO.


Langit yang saat itu masih menunggu Jingga di pelataran gedung terkejut saat salah satu satpam menghampirinya dan mendapat bunyi emergency dari lift CEO.


Teringat pada Jingga, ia pun segera berlari memasuki lift karyawan karena ia melihat lift CEO masih bergerak naik ke lantai teratas.


Ternyata Jingga tak sadarkan diri di dalam lift, saat itu Violet hendak berusaha membawa Jingga keluar lift, beruntung saat pintu lift terbuka, ada OB yang tengah membersihkan lorong, ia meminta bantuan pada OB tersebut hingga tak lama Langit menghampiri mereka dan menggendong Jingga ke ruangannya.


"Maafkan aku, aku hanya merindukannya.." ucap Violet di sela isak tangisnya.


"Aku mengerti, tapi tolong jaga perasaan Jingga. Suatu saat dia pasti akan menerima anda," ucap Langit lagi.


Violet menatap Langit, air matanya semakin tumpah ruah, "Kamu tidak marah padaku?" tanyanya.


Langit mengerti dengan pertanyaan Violet, perempuan paruh baya itu pasti sudah tahu bahwa ia adalah putra dari Senja.


"Marah, sangat marah. Tapi untuk apa? Sejak bersama Jingga aku sadar, menyimpan dendam hanya akan semakin menggelapkan hidupku, aku bahkan kehilangan putraku karena perasaan buruk itu. Sekarang tidak lagi, meski pun aku sangat marah dan sulit untuk menerima kesalahanmu, tapi sepertinya ikhlas memang lebih baik. Toh kedua orang tua ku tidak akan pernah bisa kembali lagi meski pun aku membalas kematian mereka. Aku hanya akan mengotori tanganku saja. Lebih baik aku fokus untuk kebahagiaan istriku." Jelas Langit, semula ia memang sangat ingin menghukum Violet dan membuat perempuan itu merasakan penderitaan yang ia dan kedua orang tuanya rasakan, tapi kehilangan seorang putra memberikan guncangan besar dalam hidupnya, yang akhirnya memberikan pelajaran yang amat berharga untuknya.


Menghargai waktunya bersama Jingga dan tidak membuang-buang waktu lagi demi memikirkan dendam yang harus terbalas, itu lah pilihan Langit saat ini. Ia tak mau lagi menyia-nyiakan kebersamaanya dengan sang istri, memupuk dendam hanya akan merampas waktu berharga yang harusnya di lalui dengan baik dan bahagia.


Mendengar ucapan Langit, Violet semakin menangis. Sungguh ia sangat menyesal, dadanya terasa sesak, bahkan ia tak dapat berkata-kata lagi.

__ADS_1


Sampai ketika dokter perusahaan selesai memeriksa Jingga, Langit pun meninggalkan Violet dan menghampiri dokter.


"Dok, bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Langit, raut wajahnya terlihat sangat cemas. Sejak mengalami peristiwa keguguran itu, Langit selalu merasa takut kehilangan Jingga. Apalagi situasinya nyaris sama, Jingga tak sadarkan diri ketika perempuan itu mendapat tekanan. Rasanya seperti Dejavu, hanya saja kali ini bukan dirinya penyebab Jingga tak sadarkan diri, tapi Violet.


"Trimester awal memang biasanya sedikit lemah tuan, kondisi nyonya Jingga harus benar-benar di jaga. Jangan sampai janinnya terpengaruh, nyonya tidak boleh terlalu stress atau kelelahan." Jelas sang dokter, penjelasan yang belum mampu Langit cerna dengan benar.


Langit tampak linglung, "Trimester? Janin? Ma-maksud dokter?"


"Loh, apa sebenarnya Tuan dan Nyonya belum mengetahuinya?" Tanya balik dokter.


Langit menggeleng seperti orang bodoh, "Maksudnya apa dok?" Tanyanya lagi.


"Kalau begitu selamat, Tuan. Sebentar lagi LaGroup akan mempunyai pewaris, nyonya Jingga sedang mengandung.."


Langit tersenyum bahagia, tapi sudut matanya berair. Ia tak menyangka Tuhan sangat cepat mengganti rasa kehilangan beberapa bulan lalu dengan kebahagiaan yang baru.


"Tapi Tuan, ini tidak perlu. Saya juga ikut bahagia dengan kabar ini.." tolak dokter.


"Tidak, jangan menolaknya. Aku mohon terima lah, aku hanya ingin berbagi kebahagiaan.."


Atas paksaan Langit, akhirnya dokter itu pun menerima hadiah dari sang Tuan. Meski cek kosong, ia justru bingung harus menuliskan nominal di angka berapa untuk mengisi selembar kertas itu. Ia takut justru ia kalap dan tak tahu diri. "Terima kasih tuan, semoga kalian selalu bahagia. Dan untuk lebih detail lagi, saya sarankan nyonya di periksa di dokter obgyn tuan.."


"Tentu, aku juga berterima kasih padamu.."


Dokter perempuan yang usianya tak lagi muda itu pun pamit. Ia ikut bahagia dengan kabar kehamilan Jingga, lebih bahagian lagi saat melihat ketulusan di mata Langit ketika pria itu memberinya hadiah.


Langit yang hendak menghampiri Jingga di kamar pribadi yang terdapat di ruangan itu harus kembali menghentikan langkahnya saat Violet memanggilnya.

__ADS_1


"Selamat untukmu.." ucap Violet, perempuan itu masih saja terisak. Namun kali ini terselip senyum kebahagiaan dari bibirnya, ia bahagia karena kabar kehamilan putrinya.


Langit terdiam sejenak, kemudian berkata, "Selamat juga untukmu.."


Violet semakin bahagia saat Langit mengizinkannya masuk melihat Jingga, dengan catatan jika Jingga masih belum sadarkan diri.


Tapi ternyata Jingga sudah membuka matanya saat mereka masuk, Violet yang hendak kembali keluar menghentikan langkah saat suara lirih memanggilnya.


"Mama.."


Dengan jantung berdebar-debar Violet kembali berbalik, tangisnya semakin pecah saat Jingga tersenyum padanya. Ia melangkah cepat lalu memeluk Jingga. Mereka sama-sama menangis, meluapkan berbagai macam rasa yang menggelayuti hati.


"Mama minta maaf nak, maafkan mama.." lirih Violet seraya terisak.


Jingga hanya bisa mengangguk, tangis yang semakin pecah membuatnya tak mampu mengeluarkan kata. Dari semakin eratnya dekapan Jingga, Violet tahu sang putri memaafkannya.


Jingga hanya teringat ucapan Langit, 'mengikhlaskan memang sulit, tapi memupuk dendam juga tak baik. Langit yang paling terluka saja bisa memaafkan Violet, mengapa dia tidak? Apalagi Violet ibu kandungnya.


Langit yang menyaksikan adegan penuh haru itu ikut meneteskan air mata. Dua kebahagiaan besar yang ia dapatkan hari ini, kabar kehamilan Jingga dan melihat Jingga menemukan kebahagiaan yang mungkin sempat perempuan itu sangkal.


Mengikhlaskan memang sulit, tapi memupuk dendam juga tak baik. Sudah cukup aku banyak kehilangan hasil dari memupuk dendam, kali ini tidak lagi..


......LANGIT BIRU ......


Aku belajar mengikhlaskan darimu, maaf karena aku sempat merasa benar, maaf karena aku sempat merasa paling baik, nyatanya kamu memang lebih baik, terbaik dan paling baik untukku.


...JINGGA...

__ADS_1


__ADS_2