MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
MENGHINDAR


__ADS_3

Menunggu beberapa saat, akhirnya Langit keluar dari kamar mandi, pria itu tengah menggosok rambut basahnya dengan handuk saat Jingga menghampirinya lalu mengambil alih handuk yang Langit pegang. Jingga ajak Langit duduk di kursi meja rias, tatapan mereka sempat bertemu dari pantulan kaca cermin. Jingga tersenyum meski Langit tak membalas.


“Kamu lelah?” Tanya Jingga, tangannya bergerak lembut menggosok rambut basah Langit.


Langit mengangguk sebagai jawaban, entah mengapa ia merasa tak pantas untuk Jingga. Kenyataan bahwa dirinya adalah seorang anak yang hadir di luar pernikahan benar-benar membuat mentalnya jatuh sejatuh-jatuhnya. Semula ia bangga terlahir di tengah-tengah keluarga terhormat, harmonis dan di kagumi juga di sanjung banyak orang. Tapi ternyata ia tak berhak mendapat sanjungan, kali ini ia justru merasa malu, kerdil dan minder.


“Aku akan memijatmu, berbaringlah di ranjang,” pinta Jingga.


“Tidak perlu, sayang. Aku hanya ingin beristirahat,” jawab Langit. Kemudian pria itu beranjak dan naik ke atas ranjang, berbaring miring membelakangi Jingga yang masih terdiam memegang handuk.


“Ada apa lagi ini mas?” Batin Jingga, “Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan lagi dariku, mas?


Jingga menghela nafas dalam-dalam, ia hembuskan perlahan. Kemudian ia ke kamar mandi untuk menyimpan handuk yang tadi ia gunakan untuk menggosok rambut suaminya.


Langit tak bermaksud menyembunyikan apapun dari Jingga, karena mereka sudah berjanji untuk saling jujur dan tak menyembunyikan apapun lagi. Tapi untuk saat ini, Langit benar-benar tak siap untuk bercerita. Apalagi, ternyata Jingga lah yang lebih berhak atas semua harta yang dia miliki dari sang papa termasuk rumah yang mereka tinggali sekarang. Butuh kekuatan mental untuk menghadapi kenyataan dan menceritakan semuanya pada Jingga.

__ADS_1


Malam itu, untuk pertama kalinya Langit tidur membelakangi Jingga. Tentu saja Jingga merasa aneh, ada yang hilang dari Langit, yaitu kebiasaan pria itu tidur memeluknya dan menggenggam tangannya. Karena meski sudah di nyatakan sembuh dari rasa trauma pun, Langit selalu menggenggam tangan Jingga ketika tidur.


***


“Nyonya Jingga tidak tahu apa-apa, Tuan. Dia bahkan tidak tahu kalau Tuan Hardi bukanlah ayahnya, saya pikir Tuan tidak adil jika Tuan menghindarinya,” ucap Alex. Di saat seperti ini, Alex memang selalu jadi teman curhat Langit mengingat Langit tak mempunyai sahabat satu pun.


Langit bercerita pada Alex kalau dia ingin menghindari Jingga karena merasa tak pantas untuk perempuan itu. Meski sejujurnya ia pun tak tahu bisa menghindari Jingga atau tidak, rasanya Langit memang tidak akan sanggup. Tapi entah mengapa perasaan malu dan minder itu selalu saja datang ketika ia dekat dengan Jingga.


“Tuan, Nyonya Jingga pasti merasakan perubahan Tuan. Saya harap Tuan dan Nyonya Jingga selalu bahagia, seperti yang Tuan Hardi katakan, jadikan kisah itu sebagai kenangan di masa lalu. Jangan jadikan itu sebagai penghalang hidup Tuan di masa sekarang dan masa depan Tuan. Tuan harus bahagia,” ucap Alex dengan tulus.


Setiap pagi, ketika Jingga memasangkan dasi adalah hal yang Langit tunggu-tunggu. Karena ia bisa menggoda istrinya dan perempuan itu tak pernah melawan sampai tugasnya memasang dasi selesai. Bahkan sampai Jingga membantunya memakai jam tangan lalu memastikan semua yang Langit kenakan tampak sempurna. Tapi pagi tadi benar-benar menyedihkan, suasana terasa sangat berbeda ketika Jingga mundur satu langkah saat Langit menolak Jingga membantunya mempersiapkan diri.


Perempuan itu tampak berkaca-kaca meski bibirnya tetap mengulas senyum.


Langit mengusap wajahnya dengan gusar, “Bagaimana aku bisa menghilangkan perasaan ini, Alex? Perasaan tak pantas saat aku di dekat Jingga,” lirihnya.

__ADS_1


“Tuan, jangan merasa diri Tuan tak pantas apalagi menganggap diri tuan kotor. Setiap anak terlahir dalam keadaan suci bagaimana pun latar belakang kisah di balik hadirnya anak tersebut. Tuan adalah panutan untuk saya, Tuan orang yang hebat, Tuan orang baik dan terbaik untuk saya. Tolong jangan merendahkan diri Tuan sendiri, karena sejatinya, hanya Tuhan lah yang berhak menilai seseorang itu pantas atau tidak, suci atau tidak dan baik atau buruk.”


“Lalu, apakah aku harus menceritakan semuanya pada Jingga?” Tanya Langit lagi.


Alex mengangguk, “Saya rasa memang harus, Tuan. Jangan sampai nyonya Jingga mendengar lagi dari orang lain meski pun dari Tuan Hardi.”


“Baiklah, aku akan mencobanya.”


Alex tersenyum tulus, ia senang mendengar keputusan Langit, “Dan saya yakin Nyonya Jingga tidak akan mempermasalahkan hal itu Tuan. Nyonya orang yang tulus, dia sangat mencintai Tuan.”


“Aku akan berusaha untuk memantaskan diri demi Jingga,” ucap Langit lagi.


“Itu lebih baik ketimbang Tuan terus memikirkan pantas atau tidaknya Tuan untuk nyonya Jingga.”


Langit terkekeh, ia melempar bolpoin pada Alex. Alex sigap menangkapnya, mereka lalu tertawa tanpa suara.

__ADS_1


__ADS_2