MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
PERMINTAAN


__ADS_3

Semua orang menunggu di luar ruangan dengan cemas. Dokter tengah memeriksa keadaan Jingga, dokter bahkan terpaksa memberikan suntik penenang untuk menghentikan amukan perempuan itu. Karena luka operasinya kembali mengeluarkan darah akibat teriakan dan amukannya.


Jauh dari keluarga Jingga, Langit tampak duduk menunduk. Bahunya bergetar, menandakan pria itu masih menangis. Ia memang sudah mengira jika Jingga tak akan mudah memaafkannya dan menerima kenyataan pahit kehilangan calon anak mereka, tapi Langit tak mengira reaksi Jingga begitu dahsyat. Perempuan itu berteriak dan mengamuk, bahkan Jingga mencabut jarum infus yang menempel di tangannya. membuat darah segar mengalir dari punggung tangannya.


Untuk saat ini, tak ada yang bertanya pada Langit penyebab Jingga keguguran. Mereka bisa menebak dari amarah Jingga, Langit pasti ada hubungannya dengan peristiwa pahit yang Jingga alami.


Bahkan Alex pun tak berani mengatakan apapun pada Langit, ia hanya mendekat dan berdiri tak jauh dari sang Tuan, itu pun mendapat tatapan tajam dari istrinya.


Pintu ruangan terbuka, membuat semua orang berdiri menghampiri dokter, tak terkecuali Langit.


"Dok, bagaimana keadaan putri kami?" tanya Hardi. Yaya menangis di sebelahnya, melihat putrinya begitu menyedihkan membuatnya terluka.


"Apa bisa ada yang menjelaskan pada saya, kenapa pasien sampai mengamuk dan menangis histeris?" Dokter Irawan justru balik bertanya.


"Karena saya, dok. Karena saya dia menangis," ucap Langit dengan suara tercekat.


Dokter Irawan menghela nafas panjang, ia menatap Langit lalu berkata, "Maaf pak, untuk sekarang, sebaiknya anda jangan mendekati pasien dulu, sepertinya pasien mengalami tekanan hebat dan membuatnya hilang kendali. Saya khawatir keadaan pasien akan semakin parah."


Sekali lagi Langit di buat menyesal, keadaan Jingga semakin parah karena dirinya. Tapi apa ia sanggup jauh dari perempuan itu? Karena ketika ia mengacuhkan Jingga pun, ia tak benar-benar bisa menjauh dari Jingga.


Setiap malam Langit datang ke kamar mereka hanya untuk menatap wajah Jingga sepuasnya ketika perempuan itu terlelap, karena keesokannya, mereka akan kembali menjauh. Ia mencintai Jingga, tapi kenyataan bahwa Violet dalang di balik pembunuhan kedua orang tuanya membuatnya egois dan menjauhi Jingga. Ia bahkan memperlakukan Jingga dengan buruk, berpindah kamar dan tak pernah memperhatikan Jingga dan kehamilannya.


Bukti CCTV yang Handoko berikan padanya sudah cukup membuktikan bahwa Violet memang pembunuh kedua orang tuanya. CCTV yang selama ini tak pernah bisa ia temukan, ternyata Handoko menyimpannya.


"Jauhi Jingga!!"


Kalimat itu menyadarkan lamunan Langit, ia menoleh, menatap Mega yang menatapnya dengan penuh kebencian.


"Aku suaminya, mana mungkin aku menjauhinya," sangkal Langit. Meski ia sumber dari masalah ini, tentu ia tak akan bisa jauh dari Jingga. Bukan ia tak menyadari kesalahannya, tapi rasanya tak mungkin ia bisa jauh dari perempuan yang sangat ia cintai.


"Suami?" ulang Mega.


Alex yang melihat bibit-bibit perdebatan antara tuan dan istrinya segera melerai, ia menenangkan Mega dan mengajak perempuan itu duduk kembali.


Hardi menggelengkan kepalanya, menatap Langit dengan tatapan berbeda dari biasanya. Ia lalu mengajak Yaya memasuki ruangan Jingga.


***

__ADS_1


Satu jam kemudian..


"Ayah.."


Jingga masih memejamkan matanya, tapi suara lirihnya terdengar memanggil sang ayah. Suara yang terdengar menyedihkan, perempuan itu bahkan bergerak gelisah, air matanya mengalir meski netranya masih tertutup rapat.


"Ibu.." lirihnya lagi.


Hardi yang mendengar suara putrinya sontak beranjak dari duduknya, menghampiri ranjang lalu menggenggam tangan Jingga dengan lembut.


"Ayah disini nak.."


Hanya ada Hardi di ruangan itu, Mega dan Yaya pamit pulang di antar Alex untuk mengambil keperluan Hardi juga menyiapkan makanan untuk mereka. Meski Alex memberi usul untuk membeli pakaian dan makanan di mall terdekat, tapi Yaya memilih pulang saja.


Sedangkan Langit, pria itu di temani pak Lim menunggu di luar ruangan. Ia menuruti saran dokter untuk tak menemui Jingga dulu.


Perlahan mata tertutup itu bergerak, lalu perlahan terbuka dan mengerjap. Menyesuaikan cahaya yang masuk ke netranya yang basah.


"Ayah.." panggil Jingga dengan lirih.


"Anakku, anakku ayah.." Jingga kembali menangis, meski kali ini perempuan itu sudah lebih tenang, tapi tangisannya terdengar sangat menyayat dan menyedihkan.


"Yang sabar ya nak, ayah yakin akan ada hikmah yang bisa kamu ambil dari musibah ini. Yakin sama ketentuan Tuhan nak, insya Allah kamu akan kuat. Kamu putri ayah yang kuat, ayah tidak meragukan itu."


Jingga tak dapat lagi berkata-kata, ia hanya menangis dalam dekapan sang ayah. Ia tak menyangka ia akan kehilangan calon anaknya, anak yang ia harapkan menjadi kekuatannya setelah Langit memperlakukannya dengan buruk. Ia bertahan untuk anaknya, meski Langit mengacuhkannya, setidaknya ada sang anak yang nantinya akan menjadi penguat dan pelipur untuk laranya. Tapi ternyata harapannya pun harus pergi.


"Kamu harus kuat nak.." ucap Hardi lagi.


"Aku tidak yakin ayah, aku sudah hancur. Semuanya sudah hancur.."


Hardi menggeleng beberapa kali, "Tidak ada perjuangan yang sia-sia nak. Jika sekarang kamu bersedih, di masa depan kamu akan bahagia. Tidak selamanya jalan itu berkerikil.."


Jingga semakin tenggelam dalam tangisnya, nyatanya pelangi tak kunjung datang dalam hidupnya. Entah bagaimana ia akan menata hidupnya kembali, ia sendiri ragu apakah ia akan mampu melanjutkan hidup atau tidak.


Suara pintu terbuka membuat perhatian Jingga dan Hardi teralihkan. Langit memasuki ruangan, ia yang mendengar suara tangisan Jingga tak bisa diam lagi, meski sudah berusaha untuk menahan diri agar tak menemui perempuan itu, ternyata ia tak mampu. Kakinya melangkah begitu saja membuka pintu ruangan Jingga.


Tatapan keduanya bertemu, namun Jingga segera memalingkan wajahnya.

__ADS_1


"Ayah, aku tidak mau menemuinya.." lirih Jingga seraya terisak.


"Nak, kalian memang harus bicara. Selesaikan masalah kalian, apapun itu, kami akan mendukung keputusan yang menurutmu baik untuk dirimu."


Jingga tak menjawab, ia tetap berpaling enggan menatap Langit yang kini tampak berjalan pelan menghampirinya. Hardi pun keluar, ia memberikan waktu pada Jingga dan Langit untuk bicara.


Sebesar apapun rasa kecewanya pada Langit, tapi Hardi sadar bahwa Jingga dan Langit memang harus bicara. Menyelesaikan permasalahan yang sekarang menjadi kemelut dalam rumah tangga mereka. Ia tak boleh terlalu ikut campur, dalam hal ini, Langit memang lebih berhak atas Jingga.


Posisi tertinggi bagi seorang istri adalah suaminya, Hardi menyadari itu meski posisinya sebagai ayah dari Jingga.


Langit masih tak mengatakan apapun, pria itu terus menatap Jingga dengan tatapan penuh penyesalan. Ia seolah ingin puas melihat wajah istrinya, ketakutan akan kehilangan sang istri kini menguasai dirinya. Sadar bahwa kesalahannya sangatlah besar, kecil kemungkinan Jingga akan memaafkannya.


"Puas kamu, mas?!"


Kalimat pertama yang keluar dari mulut Jingga setelah beberapa saat mereka hanya saling diam dalam keheningan.


"Sayang.."


"Kamu berhasil mas," potong Jingga. "Kamu berhasil memisahkan anak dari ibunya. Sama seperti ibu kandungku yang memisahkanmu dengan ibumu. Semuanya inpas, nyawa sudah kamu bayar dengan nyawa. Anakku sudah pergi, apalagi yang mau kamu lakukan? Apa kamu juga ingin melenyapkan ku?"


Langit menggeleng beberapa kali, menyangkal setiap kata menyakitkan yang keluar dari mulut Jingga. Air matanya mengalir begitu saja, "Anak yang kamu bicarakan juga anakku, Jingga.." lirihnya.


"Lalu?" Tanya Jingga, ia menoleh, menatap Langit dengan tatapan tajam penuh kebencian. Air mata masih menghiasi wajahnya. "Bukankah semuanya sama? Aku yang tidak tahu apa-apa harus menerima kebencian darimu karena perbuatan ibuku. Dan sekarang.." jeda, Jingga terisak dengan pilu. "Dan sekarang anakku, anakku tidak tahu apa-apa mas, kenapa kamu juga mengorbankannya?!" sentak Jingga.


Langit kembali menggeleng, sungguh, ia tak bermaksud melukai Jingga apalagi putranya. Tapi keegoisannya menutup cinta dalam hatinya.


"Maafkan aku.." lirih Langit, ia menunduk dalam, bahunya bergetar hebat.


"Semua sudah terjadi, mas. Untuk apa kamu meminta maaf, menurut kamu itu benar kan?"


Langit tak menjawab, ia tak bisa berkata-kata lagi.


"Aku hanya punya satu permintaan padamu," ucap Jingga lagi.


Langit mengangkat kepalanya, menatap Jingga dengan mata basah.


"CERAIKAN AKU!"

__ADS_1


__ADS_2