MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
KEPUTUSAN


__ADS_3

BRAK


Mega terjingkat kaget saat pintu apartemen terbuka dengan kasar. Ia yang tengah duduk di sofa setelah semalam tertidur disana segera beranjak saat Alex masuk dan berjalan sempoyongan dengan pakaian berantakan.


Raut wajahnya tampak cemas, baru kali ini ia melihat Alex dalam keadaan kacau, sepertinya pria itu mabuk berat.


"Mas, kamu mabuk?" tanyanya. Bau alkohol yang tercium menyengat dari tubuh suaminya semakin memperkuat dugaannya. Ia pun segera menggandeng tangan Alex, tak ingin jika pria itu jatuh tersungkur karena tak mampu menopang dirinya sendiri.


"Lepasin, menjauh dariku!" ucap Alex dengan suara tak jelas namun masih dapat di mengerti oleh Mega.


Bibir Mega bergetar menahan tangis. Ia tak mau perutnya kembali sakit karena ia terus menangis seperti tadi malam.


"Mas, biar aku membantumu.." ucap Mega tak menyerah.


Alex menyeringai, "Membantu apa, hah? Kamu yang membuat aku seperti ini, dan sekarang kamu mengatakan mau membantuku? Bodoh!"


"Mas.." lirih Mega, hatinya sakit karena penolakan pria itu, dan bertambah sakit saat kata-kata kasar keluar dari mulut Alex. Selama menikah, inilah kali pertama Alex berbicara kasar padanya.


"Hus, jangan mendekatiku. Sana menjauh!" Alex mengibaskan tangannya, memberi isyarat agar Mega tak mendekatinya. Ia mengusir istrinya seperti mengusir kucing.


"Aku minta maaf mas, aku mohon jangan melarang ku mendekatimu.." ucap Mega seraya terisak. Ia tak dapat lagi menahan air matanya.

__ADS_1


Alex hanya mengibaskan tangannya pertanda tak perduli. Ia kembali berjalan meski sempoyongan, beberapa kali pria itu nyaris terjatuh, namun Alex justru tertawa. Mungkin bukan karena ia hendak terjatuh yang menjadi alasan tawanya, tapi pria itu tengah menertawakan kebodohannya mencintai perempuan yang tega menyembunyikan kebohongan besar darinya terus menerus.


Alex memang cerdas, cerdas dalam bidang pekerjaan dan menaklukan klien saat ia berduet dengan Langit atau pun saat Langit memberikannya kepercayaan penuh. Tapi setiap orang mempunyai kelemahan dan kekurangan. Begitu pun dengan Alex, ia lemah pada cinta. Ia bodoh karena seorang perempuan. Tak ada yang sempurna, semua orang mempunyai takaran kesempurnaan dan kekurangannya masing-masing.


Sementara Mega, perempuan itu hanya bisa menatap suaminya dengan tatapan nanar. Ia tak bisa mendekat, meski saat ini ia sangat ingin menemani pria itu dan merawatnya.


***


"Tipes, dok? Jadi suami saya tipes?" Tanya Jingga, setelah dokter memeriksa dan memasang jarum infus kembali di punggung tangan Langit, dokter menjelaskan perihal keadaan Langit sekarang ini.


Dokter mengangguk, "Tapi jangan khawatir nyonya, kami akan memberikan perawatan terbaik untuk Tuan Langit. Semoga beliau sembuh dalam waktu dekat."


"Terima kasih, dok. Saya harap juga begitu, lakukan apapun agar suami saya bisa cepat pulih."


"Baik, dok. Sekali lagi terima kasih.." ucap Jingga dengan tulus. Ia tersenyum saat dokter Zack dan seorang perawat yang mendampingi dokter itu pamit pergi.


"Nyonya, saya akan membawakan pakaian ganti untuk anda. Permisi.." pamit pak Lim.


Jingga mengangguk, sebenarnya tak apa ia memakai pakaiannya saat ini meski ada noda darah dari tangan Langit di bagian punggung hingga perutnya. Namun sedikit tak elok di pandang.


Pandangannya kembali terfokus pada pria yang tengah menutup mata di atas ranjang, wajah pria itu semakin tampak pucat. Dengan pelan ia menyentuh dahi Langit, menyeka lembut keringat dingin yang keluar disana.

__ADS_1


Rasa bersalah menyusup ke dalam relungnya, "Maaf mas, aku hanya belum mampu berada di dekatmu. Rasa sakit itu tidak mudah hilang," lirihnya.


Beberapa menit berlalu, perlahan jari jemari Langit bergerak. Suara rintihan kecil terdengar darinya.


"Jingga.." lirihnya dengan mata masih setengah tertutup.


Jingga berdiri, ia lebih mendekat pada suaminya, "Aku disini.." jawabnya.


Perlahan kedua mata sembab pria itu terbuka, "Sayang, kamu benar-benar masih disini?" tanya Langit, suara pria itu terdengar berat.


Jingga mengangguk, "Apa kamu membutuhkan sesuatu? Aku akan memanggil dokter," Jingga hendak menekan tombol emergency, namun Langit menahannya.


"Aku hanya membutuhkanmu," ucap Langit.


Jingga terdiam, lalu duduk di kursi sebelah ranjang. Hening, beberapa saat mereka saling diam, sampai Langit memulai kembali pembicaraan meski pria itu merasa tubuhnya begitu lemas. Tapi ia tak mau membuang kesempatan untuk kembali meminta maaf pada istrinya.


"Maafkan aku, Jingga. Aku tahu kesalahanku sangat besar, tapi aku mohon, jangan hukum aku dengan perpisahan. Aku tidak akan sanggup, jika kamu mau, pukul lah aku, buat aku babak belur sampai kamu merasa puas. Tapi jangan perceraian, aku mohon.."


Langit kembali terisak, membuat kepalanya semakin terasa pusing. Akhir-akhir ini ia memang terlalu banyak menangis, bahkan dengan hanya mengingat Jingga saja ia menangis, apalagi ketika ia mengingat kesalahannya pada perempuan itu.


Jingga menghela nafas panjang, ia sudah memikirkan keputusannya. Mungkin ini saatnya ia bicara dengan Langit, menyampaikan langkah apa yang akan ia tempuh untuk kelanjutan rumah tangganya.

__ADS_1


"Mas, aku.."


Ges, Langit tipes katanya. Kasih air cacing aja biar dia tahu rasa! Iya kan ges? Udah jangan hujat dia lagi, dia sampe sakit noh 🤣🤣


__ADS_2