MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
MELEPAS RINDU


__ADS_3

Jingga tengah bersiap-siap di dalam kamarnya saat suara klakson mobil terdengar. Dengan gerakan cepat ia mengikat rambut panjangnya, lalu kembali menatap pantulan dirinya di cermin, memastikan taka da yang kurang atau taka da yang aneh dengan penampilannya.


Setelah di rasa cukup, ia segera berlari keluar dari kamar. Menuruni anak tangga dengan cepat dan tersenyum lebar saat Langit sudah terlihat di ambang pintu. Pria itu juga tampak tersenyum.


“Mas, sudah pulang?” Tanya Jingga sesaat setelah ia berdiri di hadapan Langit.


Langit mengangguk, mengusap puncak kepala Jingga dengan lembut lalu memberanikan diri mengecup kening gadis itu. Ia sudah menahan rindu sejak siang tadi, ia tak dapat menahan diri lagi.


Meski Jingga terkejut, tapi jujur ia sangat bahagia. Ia tersenyum dan memeluk Langit tanpa ragu.


Pemandangan manis yang membuat Alex berbalik badan. Begitu pun dengan pak Lim, ia membalikkan badannya, tak ingin mengganggu keromantisan pasangan itu. Para pelayan yang tanpa sengaja melihat pun segera menundukkan pandangan.


Sedangkan Langit dan Jingga, mereka lupa tempat. Mungkin karena rasa bahagia kembali bertemu padahal berpisah beberapa jam saja. Mereka lalu berjalan bergandengan tangan, menaiki anak tangga menuju ke kamar Langit.


Bagi yang baru melihat, mungkin mereka seperti kakek dan cucu, tapi cinta tak memandang usia bukan? Tak mengenal perbedaan atau mengenal kasta. Cinta membawa perbedaan menjadi warna, menyatukan hati yang bertentangan menjadi sejalan dan seiring saling melengkapi.


“Kamu tahu, dari siang tadi aku ingin cepat pulang. Tapi sayangnya ada pekerjaan yang tidak bisa aku tinggalkan,” jelas Langit.

__ADS_1


Jingga menatap pria tua di hadapannya, tangannya yang tengah membuka dasi sempat terhenti sejenak meski akhirnya ia kembali melanjutkan kegiatannya, “Kenapa ingin cepat pulang?” Tanyanya.


“Karena aku merindukanmu,” jawab Langit dengan jujur.


Mendengar pengakuan itu, entah mengapa Jingga jadi gugup. Ia menunduk malu, tangannya tersimpan di dada Langit, ia kembali menghentikan kegiatannya membuka dasi suaminya.


“Jingga..” panggil Langit dengan lembut. Tapi Jingga masih menunduk, ia tak kuasa membalas tatapan mata suaminya.


Langit tersenyum tipis melihat sikap malu-malu Jingga, ia menggerakkan dagu gadis itu dengan ibu jarinya, membuat Jingga mendongak menatap Langit. “Apa kamu tidak merindukanku?” tanyanya.


“A-aku, aku juga sama,” cicitnya dengan pelan, amat pelan tapi masih bisa Langit dengar dengan jelas.


Jingga yang sudah tahu apa yang akan terjadi, menurut pengalamannya tadi malam, ia pun memejamkan matanya. Menyambut bibir hangat Langit yang kini sudah memiringkan kepala sesuai petunjuk yang ia lihat atas arahan seseorang.


CUP


Mereka berhasil menyatukan bibir. Tak Jingga duga, kali ini Langit tak hanya diam menempelkan bibirnya, tapi pria itu memberikan pergerakan kecil yang membuat Jingga merasa aneh dengan rasa baru yang ia rasakan dan membuat darahnya berdesir hebat.

__ADS_1


Langit terus bergerak, menuntun Jingga untuk ikut bergerak dan membuka mulutnya. Kegiatan itu terus berlanjut, cukup lama sampai Jingga kewalahan dan sedikit mendorong dada Langit. Memberi isyarat pada pria itu untuk membiarkannya bernafas dulu. Karena tak tahu, ia sampai menahan nafasnya saat kegiatan itu berlangsung.


Mereka saling menatap, mata Langit bahkan terlihat begitu sayu. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk kembali menyentuh Jingga. Ada rasa ingin memiliki, ada rasa ingin menikmati, mungkin itu yang di namakan hasrat. Rasa asing yang membuat jiwa kelelakian Langit meronta.


Perlahan Langit menuntun Jingga duduk di sisi ranjang, lalu mendorong tubuh gadis itu dengan pelan. Jingga pun tak menolak, ia tampak pasrah karena sesungguhnya ia pun menginginkan Langit.


"Jingga.." panggil Langit saat gadis itu sudah berbaring di atas ranjang, dan ia pun ikut berbaring menindih istrinya. Menjadikan kedua sikutnya sebagai tumpuan agar ia tak menyakiti Jingga dan membuat gadis itu merasa berat karena menumpu tubuhnya.


"A-aku, aku menginginkanmu. Bolehkan?" Tanyanya.


Jingga terpaku, Langit yang biasanya tegas dan dingin, kini tengah meminta sesuatu padanya. Seperti bukan Langit saat pertama kali bertemu dengannya dulu.


Gadis itu menelan ludahnya dengan susah payah. Rasanya campur aduk, antara bingung, gugup, takut dan mau bercampur menjadi satu.


"Jingga.." Panggil Langit lagi saat gadis itu hanya diam saja. Ia butuh jawaban, dan jika Jingga menolak, ia tak akan memaksa.


Tapi lagi-lagi gayung bersambut. Jingga memberikan lampu hijau dengan anggukan kepalanya.

__ADS_1


Apa kali ini mereka akan berhasil?


__ADS_2