
Jingga tengah menyisir rambutnya yang masih setengah basah saat pintu kamar terbuka, Langit muncul setelahnya. Perempuan itu tersenyum senang, lalu beranjak dan memeluk Langit dengan erat. Seharian ini hatinya tak tenang, ia begitu merindukan Langit. Langit yang semula mengatakan hanya keluar sebentar, nyatanya sore hari pria itu baru pulang.
"Kenapa baru pulang, mas?" Tanya Jingga dengan manja. Keningnya berkerut saat Langit ternyata tak membalas dekapannya, ia mendongak, menatap Langit yang justru memalingkan wajahnya. "Mas kenapa?" Tanya Jingga.
Langit menggeleng, "Aku hanya lelah, bisa kan tidak menggangguku dulu?" ucap Langit. Meski nada bicara pria itu tak ada bentakan sedikit pun, tapi entah mengapa kalimat yang pria itu lontarkan berhasil membuat kedua mata Jingga berkaca-kaca.
"Maaf mas, aku tidak akan mengganggumu," lirih Jingga. Perlahan ia menarik kedua tangannya, lalu mundur menjauh dengan kepala tertunduk. Dan lebih menyakitkannya lagi adalah, Langit pergi begitu saja. Mungkin karena hormon kehamilan, Jingga lebih sensitive. Hanya seperti itu saja air matanya meleleh membasahi pipinya.
Jingga berusaha menenangkan dirinya, memaklumi sikap Langit padanya. Ia juga berusaha mengerti, bahwa Langit memang benar-benar merasa lelah.
Tak ingin berburuk sangka pada suaminya, ia pun memutuskan untuk membuatkan Langit secangkir kopi, mungkin saja setelah pria itu bersantai, rasa lelahnya akan hilang.
***
"Kamu sudah pulang?" Tanya Mega saat ia melihat suaminya menghampirinya di dapur. Hubungan mereka memang sedikit lebih baik meski belum melakukan hubungan suami istri selayaknya.
Alex mengangguk, ia duduk di kursi meja makan. Wajahnya tampak bimbang, entah tengah memikirkan apa. "Terima kasih," ucapnya saat Mega mengambilkannya segelas air, ia pun menenggaknya hingga tandas.
"Sama-sama," jawab Mega seraya tersenyum. Ia lalu kembali melanjutkan kegiatannya memasak untuk makan malam. Sejak pindah ke apartemen, ia memang belajar memasak. Video di salah satu aplikasi menjadi andalannya dalam belajar memasak. Meski belum selezat masakan ibu mertuanya, tapi Alex selalu menghargai hasil karyanya. Pria itu selalu memakan apapun yang ia masak.
"Aku mau mandi," ucap Alex.
Mega menoleh, "Ah, ok. Yuk ke atas," ucapnya. Selain belajar memasak, Mega juga sudah terbiasa menyiapkan semua keperluan Alex, Alex pun sudah mulai membiasakan diri dan memberi kesempatan pada Mega untuk menjadi istri yang baik.
Alex mengangguk, ia berjalan lebih dulu di ikuti Mega di belakangnya.
__ADS_1
"Oiya, mas. Aku mau minta izin belanja keperluan dapur nanti malam, apa boleh?" Tanya Mega, karena dari mereka pindah ke sana, mereka memang belum sempat memenuhi lemari es dengan berbagai makanan dan sayuran juga kebutuhan dapur yang lebih komplit.
Alex menghentikan langkahnya, sejenak ia terdiam lalu berbalik menatap Mega dengan tatapan entah, membuat Mega kembali berkata, "Kalau kamu tidak mengizinkan, aku tidak akan pergi," ucapnya.
"Bersiaplah, aku akan mengantarmu. Sekalian saja kita makan di luar. Oiya, apa kompor sudah kamu matikan?" Tanya Alex.
Mega mengangguk sumringah, "Sudah mas, sudah aku matikan. Terima kasih, mas. Aku akan bersiap setelah menyiapkan keperluan mu.."
Alex hanya mengangguk, lalu berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya.
Sampai di kamar, Alex memasuki kamar mandi sedangkan Mega menuju lemari pakaian untuk menyiapkan pakaian yang akan Alex pakai. Setelah itu ia sendiri bersiap, berganti pakaian dan memoles sedikit wajahnya dengan bedak bayi.
Sejak hamil, ia begitu menyukai wangi bedak bayi, karena itu ia mengesampingkan peralatan make up-nya. Lipglos berwarna pink bibir natural ia pilih untuk memperindah bibir tipisnya. Kemudian ia ikat rambut panjangnya seperti ekor kuda.
Seperti sekarang ini, ia hanya memakai celana jeans panjang di padukan dengan atasan kaos putih polos berlengan pendek. Ia juga hanya memakai sandal jepit berwarna putih.
"Apa perutmu tidak terasa sesak? Kamu memakai celana jeans," komentar Alex saat ia baru saja keluar dari kamar mandi. Tangannya sibuk menggosok rambutnya yang basah, matanya tak lepas dari sang istri.
"Tidak, pinggangnya karet mas, ini memang celana jeans untuk wanita hamil. Tidak usah cemas, anak kita aman di dalam sana," ia mengakhiri kalimat itu dengan senyuman manis, senyuman yang membuat Alex terpaku sejenak.
Pria itu berdehem untuk menetralkan raut wajahnya, tanpa berkata apapun lagi, ia mengambil pakaian yang sudah Mega siapkan untuknya lalu memakainya.
Tentu saja Mega sedikit terkejut, biasanya Alex akan memakai pakaiannya di kamar mandi, tapi kali ini pria itu memakai pakaiannya di hadapannya. Membuat Mega menunduk lalu berbalik.
Alex pun sepertinya tak sadar dengan apa yang ia lakukan, karena ia mendadak merasa gugup, akal sehatnya sedikit berkurang.
__ADS_1
***
"Mas, aku buatkan kamu kopi," ucap Jingga saat Langit baru saja keluar dari kamar mandi, ia pun sudah menyiapkan pakaian untuk pria itu.
Langit hanya mengangguk sebagai jawaban, tak ada basa basi atau ucapan terima kasih. Dan anehnya, Langit melewati pakaian yang Jingga siapkan dan Jingga simpan di atas ujung ranjang, pria itu justru pergi ke ruang ganti dan memilih pakaiannya sendiri.
Tentu hal itu menjadi tanda tanya besar untuk Jingga. Apa karena lelah Langit kurang berkonsentrasi dan tak melihat pakaiannya di ujung ranjang? "Ya, mungkin seperti itu.." batin Jingga. Perempuan itu mengelus perutnya yang masih datar, mencoba berpikir positif dan baik-baik saja.
Ia mengambil kembali secangkir kopi yang baru saja ia simpan di atas meja, ia ingin memberikannya langsung pada Langit. Dan setelah pria itu keluar dari ruang ganti, Jingga menghampirinya, "Ini kopinya, mas.." ucapnya seraya menyodorkan secangkir kopi yang tampak masih mengepulkan asap.
"Aku sedang tidak ingin meminum kopi," tolak Langit. Ia bahkan menyingkirkan kopi itu dengan cara menggeser tangan Jingga. Membuat kopi itu sedikit tumpah mengenai tangan Jingga.
"Aw.." lirih Jingga. Cairan panas itu mengenai salah satu ibu jarinya. Dan keanehan kembali terjadi, Langit sama sekali tak meminta maaf dan tak memperdulikannya. Pria itu pergi keluar kamar begitu saja.
Kali ini Jingga yakin, ada sesuatu yang membuat sikap Langit berubah, bukan karena lelah semata. Tapi apa? Seingatnya, ia tak mempunyai kesalahan apapun pada suaminya itu. Bahkan pagi tadi sebelum Langit pergi, semuanya baik-baik saja.
Jingga memutuskan untuk menghubungi Alex dan bertanya pada pria itu. Alex pasti tahu apa yang terjadi dengan suaminya.
Tapi sayang, panggilan itu tak terjawab. Alex tak mengangkat telpon darinya. Jingga menghela nafas panjang, ia masih berusaha berpikir baik-baik saja.
"Ya Tuhan, ada apa lagi ini? Aku harap semua baik-baik saja. Lindungi pernikahan kami, Tuhan.."
Sementara itu, Langit pergi ke ruang kerjanya. Ia duduk di kursi kebesarannya dengan sorot mata tajam. Menatap sebuah foto yang terdapat di atas meja.
"Brengs*k!!" ucapnya dengan penuh penekanan.
__ADS_1