MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
MODUS


__ADS_3

Matahari mulai menampakan diri, cahayanya begitu indah, cerah dan menghangatkan. Kicau burung terdengar begitu merdu, bak nyanyian indah yang akan mengiringi langkah baru perempuan cantik yang kini tengah menatap dirinya di pantulan kaca. Ia seperti melihat orang lain, bukan dirinya.


Bagaimana tidak, ia yang biasanya polos tanpa make up dengan pakaian sederhana, kini menjelma menjadi perempuan yang elegant. Pagi-pagi sekali Bu Rika sudah menyambangi kamarnya dan membantunya bersiap. Menyiapkan pakaian yang akan perempuan itu pakai juga mendandaninya sedemikian rupa. Namun meski wajahnya di poles make up, make up itu sangat cocok dengannya. Hanya make up natural, tapi membuatnya pangling dan tampak berbeda.


Adalah Jingga, hari ini adalah hari yang dimana ia akan mengukir sejarah baru dalam hidupnya. Memimpin sebuah perusahaan besar yang sudah mendunia. Tentu saja ia merasa takut, gugup dan tak percaya diri. Namun suaminya berkata, “Kamu pasti bisa, jika kamu tidak mencobanya, kamu tidak akan tahu hasilnya.


Tadi malam ia sudah memberikan jawaban atas pertanyaan mendesak suaminya, mengenai siapa yang akan mendampinginya dalam memimpin perusahaan. Meski ia ingin pak Lim saja yang mendampinginya, tapi tak dapat di pungkiri, Langit juga adalah kandidat kuat yang tidak bisa ia singkirkan mengingat pria itu adalah pemimpin sebelumnya.


Jingga tersenyum tipis saat mengingat apa yang Langit lakukan ketika ia memutuskan Langit saja yang akan mendampinginya. Sepanjang ia belajar, Langit tak melunturkan senyumnya. Ia sampai menegur pria itu agar berhenti tersenyum dan menutup bibirnya rapat-rapat. “Nanti gigi kamu kering, mas..” itu yang Jingga katakan dan sontak membuat Langit menutup bibirnya rapat-rapat. Selain memperhatikan materi yang ia pelajari, ternyata Jingga juga terus memperhatikan Langit.


“Anda terlihat sangat cantik, nyonya..” ungkap bu Rika. Ia mengusap bahu Jingga dengan lembut, menatap wajah bersinar sang Nyonya dari pantulan kaca cermin.


“Bu Rika berlebihan, aku biasa saja..” sangkal Jingga. Padahal ia pun merasa dirinya berbeda.


“Tuan pasti akan sangat terkejut melihat istrinya begitu cantik,” komentar bu Rika lagi.


Kalimat yang membuat Jingga menyembunyikan senyumnya, hubungan mereka tengah tak baik, mana mungkin Langit mau memujinya seperti bu Rika memujinya. “Ya Tuhan, kenapa aku terus memikirkan mas Langit,” batin Jingga.


Menyadari perubahan di raut wajah Jingga, bu Rika pun meminta maaf. “Maafkan saya, Nyonya. Harusnya saya tidak sembarangan bicara..”


“Tidak apa-apa bu, hanya saja aku sedikit sedih. Sudahlah, aku sudah berjanji pada putraku untuk melanjutkan hidup dengan sebaik mungkin, aku tidak boleh lagi mengingat kesedihan. Kita keluar, Bu? Aku sudah lapar..” rengeknya.


Bu Rika mengangguk seraya tersenyum, ia jadi merasa bersalah sudah membuat Jingga mengingat kembali kesedihannya.

__ADS_1


Di meja makan, ternyata Langit sudah menunggunya. Pria itu mengalihkan pandangannya dari ponsel, menatap Jingga yang baru saja muncul. Bibirnya sedikit terbuka, matanya tak berkedip, ia bahkan nyaris menjatuhkan ponselnya. Jingga benar-benar berbeda. Langit terkesima melihat betapa cantiknya Jingga dengan pakaian formal namun tetap terlihat modis dan elegant. Bu Rika benar-benar pandai menyulap perempuan itu.


Jingga memakai rok hitam selutut di padukan dengan kemeja pink soft dan jas berwarna hitam yang pas sekali dengan tubuh rampingnya. Rambut perempuan itu di biarkan tergerai, hanya di tarik di bagian kedua sisi dan di ikat di tengah bagian belakang. Terlihat sederhana namun manis, sangat cocok dengan penampilan anggunnya.


Duduk di seberang Langit, Jingga mulai menyantap sarapannya. Mereka sarapan dalam diam. Sesekali Langit mencuri-curi pandang pada Jingga, ia tak bisa berpaling dari perempuan itu, mubadzir katanya. Sayangnya, Langit hanya bisa memandang tanpa memegang. Jingga selalu menghindarinya jika ia mulai mendekat, perempuan itu benar-benar menjalankan kesepakatan mereka dengan baik.


“Makan, mas. Kamu tidak akan kenyang hanya dengan menatapku,” ucap Jingga tanpa menatap kea rah Langit, perempuan itu sibuk mengunyah sambil menunduk.


Langit mengerjap, ia lalu berdehem untuk menghilangkan kegugupannya, ia ketahuan. “Aku hanya tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk tidak memandang istriku,” sangkalnya.


Mendengar kalimat itu, Jingga berhenti mengunyah, ia mendongak menatap Langit, hanya menatap lalu kembali sibuk dengan makanan di hadapannya.


“Tuan, lima menit lagi anda dan Nyonya sudah harus berangkat,” ucap pak Lim mengingatkan. Membuat Langit berdecak tapi juga mengangguk mengiyakan.


Pak Lim hendak mengangguk, tapi Langit dengan cepat berdiri dan berkata, “Tidak bisa, pak Lim sudah aku beri tugas yang lain. Kamu akan pergi bersamaku, lagi pula, tujuan kita sama. Untuk menghemat bensin, lebih baik kita pergi bersama.”


“Menghemat bensin?” Ulang Jingga dengan kening mengkerut. Sejak kapan suaminya itu hitung-hitungan masalah bensin? Alasan Langit benar-benar konyol.


“Ma-maksud aku, menghemat waktu,” ralat Langit. Ia takut Jingga menganggapnya pelit. Mulutnya itu memang kadang-kadang minta di sentil, di saat seperti ini malah salah bicara.


“Tapi, mas..”


“Pak Lim, cepat lakukan apa yang aku perintahkan tadi,” ucap Langit memotong ucapan Jingga.

__ADS_1


“Hah?” Pak Lim mengerjap, ia tak tahu Langit memerintahkannya apa, karena Langit memang tak pernah memberi perintah apa-apa padanya. Tapi untuk menghindari huru-hara, pak Lim pun mengangguk saja. Ia lalu membungkuk memberi hormat kemudian pergi ke luar rumah. Bingung harus melakukan apa, ia memilih menyiapkan mobil untuk Langit meski nyatanya mobil sudah di siapkan oleh sopir.


Jingga menghela nafas panjang, ia yakin ini hanya akal-akalan Langit agar ia pergi bersamanya. Tak ingin membuang-buang waktu, Jingga pun akhirnya menurut. Ia pergi ke luar lebih dulu, di ikuti Langit lalu bu Rika.


“Silahkan Nyonya,” ucap pak Lim seraya membuka pintu bagian belakang.


“No, Jingga akan duduk di depan bersamaku,” ucap Langit.


Jingga kembali menghela nafas panjang, kali ini apa lagi? Begitu pikirnya.


Baik pak Lim maupun Jingga sama-sama terdiam, mereka menatap Langit yang kini tampak kikuk.


“Pak Joko hari ini aku beri izin libur, jadi aku yang akan menyetir sendiri,” ucap Langit seraya menggaruk kepala belakangnya.


Pak Joko yang namanya di sebut tentu terkejut. Apalagi Langit tak mengatakan apapun sebelumnya, ia baru tahu bahwa dirinya di beri izin libur, “Sa-saya libur tuan?”


Langit mengangguk, “Hem, mulai hari ini dan satu minggu kedepan kamu saya beri libur. Uang liburan kamu akan pak Lim transfer ke rekening kamu,” ucap Langit semaunya.


Pak Lim kembali di buat terkejut, tapi ia hanya bisa mengangguk. Mana mungkin ia berani membantah, lagi pula ia tahu, Langit tengah menjalankan modusnya untuk mendekati Jingga. Sepertinya, mulai hari ini akan banyak perintah tak terduga juga kejadian tak terduga yang akan dia alami. “Sabar jantung,” batinnya.


“Terima kasih, tuan..” ucap pak Joko dengan mata berbinar. Tentu ia senang, ia di beri izin libur plus administrasi penunjang liburannya.


Langit mengangguk, ia lalu membuka pintu depan dan meminta Jingga masuk. Dengan sedikit kesal Jingga menurut, ia semakin mengerti dengan akal-akalan suaminya.

__ADS_1


Sementara bu Rika, perempuan itu hanya bisa menahan senyum melihat tingkah tuannya. Pemandangan itu benar-benar baru terjadi di rumah itu.


__ADS_2