
CURCOL
Hal yang pertama suka aku lakuin sebelum nulis adalah baca komen dari readers kesayangan aku. Komen kalian menghibur banget ges, bikin bengek, bikin greget, bikin aku semangat juga. Oleh karena itu.... Jangan lupa tinggalin komentar kalian yah, meskipun aku gak bales satu2, tapi komentar kalian bikin aku semangat. Kadang mood lagi jelek mendadak semangat karena kalian nunggu aku up.
Pokonya aku lope lope kalian dah, lope sekebon. 😍😍❤️
HAPPY READING LUPH..
Langit sedikit terkejut saat ia baru saja keluar dari mobil mendapati pria paruh baya tengah berdiri di depan pintu rumahnya. Tangannya terkepal, rahangnya mengeras, ingat apa yang pria itu katakan padanya membuatnya kehilangan sang putra juga nyaris kehilangan Jingga.
"Kenapa dia bisa disini?" Tanya Langit pada pak Lim yang baru saja mengeluarkan barang-barang Langit dari bagasi.
Pak Lim tak menjawab, ia juga terkejut mengapa Handoko bisa ada di sana.
Berbeda dengan Langit dan pak Lim yang tampak terkejut, Jingga justru mengernyit bingung. Ia tak mengenali pria paruh baya itu.
"Siapa dia, mas?" Tanya Jingga.
Langit menoleh, ia bingung harus menjawab apa. Pasalnya, ia sudah menceritakan semuanya pada Jingga, tentang Handoko juga tentang informasi yang ia dapat dari pria itu mengenai Violet yang telah membunuh kedua orang tuanya. Bagaimana reaksi Jingga nanti saat perempuan itu tahu bahwa pria yang sudah membuat Langit berubah padanya ada di hadapannya?
"Mas, aku bertanya padamu!" Tegas Jingga saat Langit hanya diam.
"Dia, dia Handoko sayang.." jawab Langit.
Jingga tampak terkejut, sekuat tenaga perempuan itu menahan air matanya. Karena secara tak langsung, Handoko lah yang sudah membuat ia kehilangan calon putranya. Jika saja Handoko tak mengatakan apapun pada Langit, mungkin saat ini mereka masih hidup bahagia menanti kalahiran putra mereka.
Hingga tanpa sadar kedua kaki Jingga melangkah menghampiri Handoko. Di ikuti Langit juga Pak Lim.
Handoko tak menatap Jingga sedikit pun, pria paruh baya itu hanya terfokus pada Langit. "Nak, papa dengar kamu sakit?" tanyanya. Ia hendak memeluk Langit, tapi Jingga menghalanginya.
__ADS_1
"Jangan menyentuh suamiku!" Ucapnya penuh penekanan.
Bukan hanya Handoko yang terkejut mendengar ucapan Jingga, tapi juga Langit dan pak Lim. Mereka terkejut karena perempuan se-lugu Jingga bisa berubah menjadi perempuan pemberani.
"Apa hak mu melarang ku?" Sanggah Handoko, ia tak terima Jingga menghalanginya. Apalagi ia tahu bahwa Jingga adalah putri dari violet yang sudah membunuh Senja, perempuan yang ia cintai.
Handoko memang tak tinggal diam, ia menyelidiki Jingga sejak lama. Sejak ia melihat Jingga tengah bersama Hardi, sopir pribadi Senja dulu. Ia curiga Jingga adalah putri Violet yang sudah lama perempuan itu cari. Ternyata dugaannya benar, orang-orangnya memberikan informasi yang akurat mengenai hal itu. Ia sempat terkejut, dan lebih terkejut lagi saat ia tahu ternyata Jingga adalah istri dari Langit, putranya.
Karena itulah Handoko sengaja memberi tahu tentang Violet pada Langit, ia mau Langit membenci Jingga dan membuang perempuan itu sejauh mungkin.
"Karena aku istrinya! Dan ingat ini baik-baik, seseorang yang sudah berusaha memisahkan aku dan anakku, akan mendapatkan hal yang sama! Aku akan menjauhkan putramu darimu! Bukankah kamu menginginkan aku dan suamiku berpisah? Tidak akan pernah, tuan! Kamu lah yang akan berpisah dari putraku sendiri! Kamu sudah membuat putramu melenyapkan putranya sendiri, kamu juga akan merasakan hal yang sama!"
Mendengar kalimat itu, Langit semakin terkejut. Tapi ia tak mempunyai niat sedikit pun untuk melarang Jingga atau menyangkal setiap kata yang Jingga lontarkan.
Dan hal itu juga lah salah satu alasan Jingga membatalkan gugatan perceraiannya. Karena ia tak akan membiarkan Handoko menang. Jingga memang perempuan lugu, tapi ia tak bodoh. Ia dapat menebak alur cerita yang di inginkan ayah kandung suaminya itu.
"Aku akan merubah skenario yang sudah kamu susun, tuan!" ucap Jingga sebelum akhirnya ia membawa Langit memasuki rumah. Meninggalkan Handoko yang mengeram kesal mengepalkan tangannya.
"Lepaskan aku! Wanita sialan! Lihat apa yang akan aku lakukan nanti!!" Teriak Handoko.
Sementara itu..
Sampai di kamar, Jingga membaringkan Langit dengan pelan. Malam sudah sangat larut, Langit membutuhkan istirahat yang cukup agar pemulihan pria itu berjalan cepat. Meski sebenarnya, Langit ingin terus sakit agar Jingga terus di dekatnya dan melupakan kesepakatan yang sudah mereka buat.
"Tidurlah.." ucapnya dengan raut wajah dingin. Tak ada senyuman di wajah perempuan itu.
"Kamu mau kemana?" Tanya Langit saat Jingga hendak beranjak.
"Aku harus membereskan pakaianku, aku akan tinggal di kamar yang lain mulai malam ini," jelas Jingga.
__ADS_1
"Secepat itu?"
Jingga mengangguk, ia lalu berbalik memasuki ruang ganti untuk membereskan semua barang-barangnya.
Tak ada yang perempuan itu jelaskan mengenai ucapannya pada Handoko tadi. Langit pun tak bertanya, ia tak mau semakin membuat Jingga menjauh darinya.
Di ruang ganti, Jingga tak kuasa lagi menahan air matanya. Dadanya sesak, berpura-pura kuat ternyata sangat menyiksa. Ia pukul-pukul pelan dadanya, berharap agar rasa sesak itu sedikit minggat dari hatinya, tapi ternyata tidak. Rasa sesak itu justru kian terasa.
"Aku kuat, aku harus kuat.." lirihnya seraya terisak.
Jingga berjanji untuk tak menjadi wanita lemah lagi, ia harus melawan siapapun yang berniat merusak keluarganya.
***
Mega terperanjat saat ia mendengar suara pintu tertutup. Ia mengucek matanya, mengernyit saat bahunya terasa pegal. Tertidur di atas sofa membuat tubuhnya pegal-pegal.
Pandangannya terhenti pada satu objek, Alex. Tapi pria itu masih bersikap acuh, bahkan kembali pergi meski Mega terus menatapnya.
"Mas.." panggil Mega.
Alex menghentikan langkahnya, namun pria itu tak menoleh.
"Apa wanita murahan itu sudah pergi?" tanya Mega.
"Dia tidak lebih murahan darimu!" jawab Alex.
Kalimat yang membuat hati Mega sakit, ia tak bisa mengatakan apapun lagi selain menangis. "Kemana suamiku yang dulu, Tuhan? Apa aku begitu melukainya? Sampai dia menganggapku lebih murahan dari wanita malam," batin Mega seraya terisak.
Sementara Alex, pria itu pergi begitu saja. Meninggalkan Mega yang terduduk lemas di atas sofa.
__ADS_1
Alex juga tak mau seperti ini, tapi entah mengapa apa yang ia lakukan bertentangan dengan hatinya. Kebohongan Mega sangat berpengaruh untuknya, merubahnya menjadi sosok pria yang tak lagi memperdulikan perasan istrinya.
"Kuat, nak. Papa hanya sedang kecewa pada kita, yang sebenarnya papa sangat menyayangi kita," lirih Mega saat ia merasakan tendangan kecil di perutnya. Ia mengusap lembut perut buncitnya, terus bicara agar bayinya tenang.