MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
SEMESTA BIN ESTA!


__ADS_3

"Semesta Bin Estaaaaa!!" Pekik Angkasa saat gadis itu kembali mengeluarkan gas beracun di hadapannya. "Emang muka saya muka toilet, hah? Tega-teganya kentut lagi di depan saya!"


Esta sampai memejamkan mata karena suara pekikan pria itu, "Maaf pak, cuma bunyi ngik kok." Esta membela diri, menurutnya bunyi ngik itu masih sedikit sopan ketimbang bunyi Dut seperti sebelumnya.


"Tetep aja namanya kentut! Mau ngik kek, mau ngok kek, mau Dut kek mau pret kek, tetep aja bau! Jorok banget," ucap Angkasa dengan ketus, ia bahkan mengabsen macam-macam bunyi kentut gara-gara Esta.


Melihat wajah ketus Angkasa, Esta berdecak sebal. Sesaat yang lalu pria itu terlihat memprihatinkan, Esta saja sampai simpati sekaligus kagum, tapi sekarang Angkasa bertanduk dan mengeluarkan api di tiap lubang di tubuhnya. "Dari pada saya masuk rumah sakit gara-gara nahan kentut, kan lebih malu lagi pak. Gimana kalau saya viral nanti?" Ia masih mencoba membela diri.


"Kamu gak malu sama saya? Apa kamu gak takut saya viral kan? Benar-benar nih anak!"


Esta tak mampu lagi menjawab, ia menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal.


"His, saya lagi galau malai terus kamu bom!"


Angkasa masih mengomel, ia mengambil kopi dingin yang tadi Esta simpan di atas meja bundar, lalu meneguknya sekaligus. Keningnya mengernyit menahan pahit.

__ADS_1


"Pahit ya pak?"


"Tentu saja pahit, ini kopi tanpa gula Esta!"


"Kan bapak yang minta tadi, saya salah lagi pak?" lirih Esta.


Angkasa menggeleng, melihat raut sedih di wajah polos Esta, entah mengapa Angkasa jadi tak tega. Padahal ia masih kesal karena bunyi ngik dari Esta, "Kamu gak salah. Saya emang sengaja minta kopi tanpa gula, biar saya bisa ngerasain bahwa masih ada yang lebih pahit dari pahitnya hidup saya. Siapa tahu aja rasa pahit itu jadi manis nanti, sama halnya seperti bilangan negatif di tambah bilangan negatif, maka hasilnya akan positif. Pahit tambah pahit, semoga aja hasilnya jadi manis."


Alih-alih iba, Esta justru pening sendiri mendengar pribahasa yang Angkasa lontarkan. Otaknya yang masih merasa bersalah karena lagi-lagi kentut di depan Angkasa belum siap untuk kembali berpikir.


Angkasa memijat keningnya sendiri, pusing juga menghadapi Esta. "Pergilah, nanti sore ikut saya!"


"Kemana pak?"


"Jangan banyak tanya, kepala saya lagi puyeng, nanti tunggu saya di parkiran!"

__ADS_1


Esta mengangguk, "Baik pak."


Gadis itu hendak berbalik, tapi Angkasa kembali menghentikannya, "Tunggu tunggu tunggu! Satu lagi, jika di luar kantor atau di luar jam kerja, biasakan jangan panggil saya PAK, ok?"


Dengan polos Esta mengerjap, keningnya berkerut tampak berpikir, "Terus saya panggil apa pak?"


"Terserah kamu asal jangan Soang! Ngerti?"


Ingin rasanya Esta tertawa, tapi melihat kerutan di kening Angkasa membuatnya urung, "Baik pak, saya ngerti."


"Hemm, kamu boleh pergi."


Esta mengangguk lalu pergi, meninggalkan Angkasa di roof top seorang diri. Baru beberapa langkah ingin turun dari sana, langkahnya kembali terhenti, "Gimana kalau dia bunuh diri? Enggak enggak, aku harus tungguin dia. Dia kan lagi galau, kasian juga kalau si raja Soang itu sendirian."


Keputusan akhirnya, Esta duduk di dekat pintu roof top. Ia menunggu Angkasa dan mengawasi pria itu dari sana.

__ADS_1


__ADS_2