
"Ada apa denganmu? Apa kamu sakit?"
Pertanyaan yang Langit lontarkan saat Alex menemuinya untuk meminta maaf karena ia terlambat datang ke kantor. Alex tampak pucat.
"Apa aku terlihat sakit?" Alex justru balik bertanya. Membuat Langit berdecak dan melempar bolpoin yang tengah ia pegang. Nyaris mengenai kepalanya jika saja Alex tak sigap menangkap.
"Sejak kapan kamu berani bertanya saat aku melemparkan pertanyaan padamu?" ucap Langit dengan ketus.
Alex tak lagi menjawab, hanya menggaruk kepalanya yang sama sekali tak gatal. Ia merasa ada yang aneh dalam dirinya, tapi apa?
"Pulanglah! Sepertinya kamu memang butuh istirahat!" ucap Langit.
Alex sontak menggeleng, lebih baik ia bekerja dari pada gajinya terpangkas. "Tidak mau, saya ingin bekerja Tuan," ucap Alex.
Langit berdecak, ia beranjak dari kursi kebesarannya. Lalu menghampiri Alex dan menatap pria itu dengan intens. Ia lalu berbalik dan duduk di atas meja, "Katakan! Ada apa denganmu?"
Alex menghela nafas panjang, ia memang paling tak bisa menyembunyikan perasaannya dari Langit. Langit terlalu pintar untuk di kelabui, pria itu pintar membaca raut wajah orang lain. Kecuali pada Jingga, sejak jatuh cinta pada perempuan itu, entah mengapa terkadang Langit terlihat bodoh dan bersikap konyol.
"Masih mau bungkam? Ok, kamu tahu akibatnya kalau aku sendiri yang mencari tahu?" ancam Langit. Ancaman yang bukan hanya sekedar ancaman, Langit tak pernah main-main. Pria itu pasti mencari tahu sampai ke akarnya.
"Tidak tuan, baiklah, aku akan menceritakannya." Putus Alex pada akhirnya, ia lalu menceritakan semuanya. Tentang semua keanehan yang dia alami malam tadi, juga tentang keadaanya ketika terbangun.
Langit menggelengkan kepalanya setelah Alex menyelesaikan ceritanya. “Apa kamu merasakan sesuatu?” Tanya Langit.
Alex menggeleng beberapa kali, “Sama sekali tidak tuan. Selain rasa bingung, saya tidak merasakan apapun,” jawab Alex dengan jujur, karena memang hanya rasa bingung lah yang sampai sekarang ia rasakan.
Sang tuan tampak memijat pangkal hidungnya, ingin tertawa tapi tak tega menertawakan Alex. Melihat wajah Alex yang tampak frustasi, di tambah lagi raut wajah memelasnya membuat Langit iba sekaligus ingin tertawa.
Alex adalah suhu bagi Langit, karena berkat ajaran pria itu, akhirnya Langit bisa membobol gawang istrinya. Pria itu juga yang memberikannya beberapa koleksi film biru sebagai referensi. Meski Alex belum pernah melakukan anu-anu, tapi pria itu pintar dan mempunyai wawasan yang luas tentang hal itu. Langit juga tak tahu dari mana Alex bisa tahu banyak tentang anu-anu, padahal Alex sendiri pun belum pernah merasakannya.
Dan lihatlah pria itu sekarang, ia kebingungan dengan peristiwa yang di lewatinya tadi malam. Alex tak merasakan apapun, tapi saat bangun ikat pinggang dan resleting celananya terbuka.
“Lalu bagaimana? Di rumah itu tidak mungkin ada CCTV. Akan sulit untuk mencari tahu kejadian yang sebenarnya, sudahlah, lupakan saja Alex.” Langit hendak kembali duduk, tapi kemudian kembali terhenti saat Alex kembali bertanya.
__ADS_1
“Lalu bagaimana kalau seandainya ada sesuatu yang terjadi, tuan?” Tanya Alex.
Baru kali ini Alex terlihat panik. Karena sebesar apapun masalah yang pria itu hadapi, Alex tak pernah gentar. Sepertinya masalah utama yang akan membuat mereka bertekuk lutut akan sama, PEREMPUAN.
Langit diam sejenak, pria itu tampak berpikir lalu tertawa sumbang, “Hahahah, tidak akan terjadi apa-apa Alex. Tenanglah, semua akan baik-baik saja. Jangan terlalu berlebihan memikirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, jika pun itu terjadi, apa susahnya bertanggung jawab.”
Alex menelan ludahnya dengan susah payah, rasanya seperti menelan kulit durian yang durinya tersangkut di kerongkongannya. “Ba-bagaimana, kalau ternyata aku melakukannya dengan ibu? Astaga..” ucapnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Entah dari mana ia bisa mempunyai fikiran gila itu, jika benar ibu yang menjadi korbannya, ayah pasti tak akan tinggal diam. Sudah di pastikan ia tak akan keluar dari rumah itu dengan selamat.
“Hey!!! Berhenti memikirkan hal gila, Alex!” pekik Langit, ia kembali hendak melempar Alex, tapi urung saat yang di pegangnya ternyata ponsel miliknya.
“Tuan, tolong aku. Apa yang harus aku lakukan?”
“Kasihan sekali kamu, Alex. Kamu melepas keperjakaan kamu tapi kamu tidak merasakan nikmatnya. Hahahahah..”
Alex melemas, jika benar ia sudah melepas keperjakaannya, betapa malang nasibnya yang tak bisa menikmati rasa yang kata orang rasanya sungguh luar biasa. Ia bahkan tak tahu ia melakukannya dengan siapa. “Mega..” gumamnya. Tiba-tiba nama itu terbersit dalam benaknya, “Ya Tuhan, apa dia?”
Langit menghentikan tawanya, dari cerita yang ia dengar dari sang asisten. Satu-satunya orang yang kemungkinan besar menjadi tersangka adalah Mega. Tapi itu tidak lucu sama sekali, adakah seorang perempuan yang memperk*sa seorang pria?
***
Gadis itu tampak terkejut mendengar suara ibu, mungkin Mega tengah melamun, “Ah, aku tidak apa-apa bu. Aku hanya sedikit pusing, mungkin masuk angin. Kemarin malam hujan sangat deras, di mobil menggunakan AC, mungkin daya tahan tubuhku sedang lemah,” jawabnya.
Ibu manggut-manggut mengerti, ia juga membenarkan ucapan Mega. Karena ia juga tak terbiasa menaiki mobil mewah ber-AC, saat turun dari mobil tubuhnya bahkan sedikit menggigil dan perutnya terasa tak nyaman. Mungkin Mega juga sama.
“Ibu buatkan kamu teh jahe, mau?” tanya Ibu.
“Tidak usah bu, aku bisa membuatnya sendiri. Aku tidak mau merepotkan ibu, ibu istirahat saja..” tutur Mega.
“Ya ampun, ibu lupa kalau kamu juga sangat pintar membuat teh jahe. Bahkan teh jahe buatanmu lebih enak dari buatan ibu,” ucap ibu seraya tersenyum.
Mega ikut tersenyum, lalu mengangguk saat ibu pamit pergi ke kamarnya.
“Tubuhku benar-benar lemas,” gumam Mega. Ia menggelung rambut panjangnya, lalu mengambil air putih dan duduk di kursi meja makan. Matanya menatap kursi di seberangnya, kursi yang semalam Alex duduki, entah mengapa ia tampak gusar. Mega menggigit bibir bawahnya, lalu menelungkupkan wajahnya di atas meja, menjadikan kedua lengannya yang terlipat sebagai bantalan. Apa yang tengah Mega pikirkan? Tak ada yang tahu, gadis itu hanya lelah dan terus ingin tidur mengurung dirinya di dalam kamar.
__ADS_1
***
“Sayang, aku pulaaaang,” pekik Langit saat ia memasuki rumah.
Pak Lim dan bu Rika tersenyum melihatnya. Akhir-akhir ini tuan mereka berubah drastis. Lebih banyak bicara, banyak tertawa, banyak tersenyum bahkan terlihat sangat manja. Hal itu sedikit aneh dengan wajah tuanya. Atas permintaan Jingga, dan demi keamanan, Langit memang memutuskan kembali memakai wajah tuanya. Untungnya, para pelayan tak melihatnya saat ia tak memakai penyamaran, mereka tak ada yang tahu selain bu Rika dan pak Lim juga Alex tentunya.
“Aku di dapur mas,” sahut Jingga.
Langit tersenyum mendengar suara istrinya. Ia menyerahkan jasnya pada bu Rika, lalu pergi ke dapur untuk menyusul sang istri. Meninggalkan bu Rika, pak Lim dan Alex yang masih bermuram durja.
“Mas..” tegur Jingga saat Langit memeluknya dari belakang dan tak henti mengecup pipinya.
Para pelayan yang semula menemani Jingga tampak mundur alon-alon melihat kemesraan tuan dan nyonyanya yang membuat iri. Salah satu di antara mereka bahkan memekik tertahan karena terbawa perasaan.
“Sedang apa?” Tanya Langit dengan suara lembutnya.
“Aku sedang membuat pudding susu kesukaanmu, bukankah tadi malam kamu memintanya sebelum kamu tidur?” Ucap Jingga mengingatkan ucapan pria itu yang mengatakan ingin memakan pudding susu buatannya.
“Apa benar aku memintanya?” Tanya Langit, ia tampak mengingat-ingat. Karena seingatnya, ia hanya merengek meminta jatahnya saja, apa dalam rengekannya itu terselip kata pudding susu juga?
Jingga mengangguk, “Apa kamu tidak mengingatnya?”
Langit menggeleng, “Karena seingatku, aku hanya meminta susu yang ini,” ucapnya seraya memegang dada perempuan itu.
Jingga tentu terkejut, ia sontak berbalik dan menatap Langit dengan tajam, “Mas..” tegurnya lagi. Ia melirik ke arah para pelayan yang tampak menundukkan pandangan.
“Mereka akan secara otomatis menulikan pendengaran mereka sayang,” ucap Langit dengan santai. Ia lalu menoleh para Lima pelayan yang berjejer tak jauh darinya dan Jingga, “Benarkan?” Tanyanya.
Ke Lima pelayan itu kompak mengangguk, “Benar, Nyonya. Kita tidak mendengar apapun atau melihat apapun,” ucap mereka lagi. Entah siapa yang mengajari mereka, mereka begitu kompak. Bahkan ucapan mereka terdengar bersamaan dan seirama.
Langit tersenyum lebar, lalu mengibaskan sebelah tangannya sebagai isyarat agar para pelayan itu pergi meninggalkan dapur. Jingga hanya bisa menepuk dahinya sendiri melihat sikap Langit, pria itu benar-benar semaunya.
“Matikan kompornya,” titah Langit pada Jingga.
__ADS_1
Jingga mengerjap, karena puddingnya belum matang ia pun bertanya, “Kenapa?”
“Karena kamu harus menyalakan api yang lain di dalam sini,” bisik Langit, ia meraih tangan Jingga dan menyimpannya ke dadanya. Jingga dapat merasakan debaran jantung suaminya itu. “Api gairah yang selalu ingin menyala saat dekat denganmu, bahkan saat aku hanya menatapmu saja..”