
"Mas, aku.."
Langit menatap Jingga tak berkedip meski matanya perih dan basah karena genangan air mata. Ia bahkan menahan nafas saat menunggu kalimat lanjutan yang akan Jingga katakan.
"Aku sudah memutuskannya, kita tidak akan bercerai. Tapi dengan satu syarat," ucap Jingga.
Langit tersenyum meski matanya berair. Betapa bahagia hatinya saat ternyata Jingga membatalkan perceraian mereka. "Apapun syaratnya, akan aku lakukan sayang.." ucapnya.
"Syarat yang pertama, aku mau kita tinggal di kamar terpisah meski aku akan kembali tinggal di rumah mu.."
"Apa?" potong Langit, permintaan itu tentu memberatkannya. Mana sanggup ia berpisah kamar dengan Jingga, tapi jika ia menolak syarat itu, Jingga pasti akan berubah pikiran. Mungkin Langit harus ikhlas, berpisah kamar tak apa ketimbang harus kembali berpisah rumah.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu tidak setuju dengan syarat ku? Itu baru poin pertama mas, aku belum mengatakan poin-poin yang lain."
Jingga berubah menjadi si ratu tega. Meski posisi Langit tak berdaya karena sakit, perempuan itu justru bersikap tegas dan dingin.
Tapi Langit bisa terima, Jingga seperti itu menunjukan betapa dalam luka dan kecewa yang perempuan itu rasakan karena kesalahannya. "Aku hanya terkejut, aku terima sayang.." ucapnya dengan lemah.
"Syarat kedua, tidak ada lagi kontak fisik. Status kita memang suami istri, tapi itu hanya status. Aku mau kita menjaga jarak meski kita tinggal di rumah yang sama. Aku mohon kamu mengerti mas, jujur, ketika aku melihatmu, rasa sakit itu selalu muncul. Ingatan kejadian buruk itu membuat aku membencimu. Aku kehilangan anakku, itu bukan hal mudah untuk bisa aku lupakan, bukan hal yang mudah aku relakan mas."
"Dan point' terakhir, jangan memanggilku dengan sebutan seperti itu lagi. Kata sayang itu hanya menambah rasa sakit untukku mas. Anggap saja kita orang asing, dan anggap semua ini cara untuk kita memperbaiki diri mas. Baik aku atau kamu, kita butuh waktu untuk memperbaiki hati."
Langit mengangguk, air matanya terus mengalir. "Terima kasih untuk kesempatan yang kamu berikan untukku. Aku menerima semua syarat itu, tapi apa aku boleh menjadi tidak tahu diri? Aku ingin meminta satu hal padamu, bolehkah?"
__ADS_1
Jingga terdiam sesaat, bukan ia tak sakit mengatakan semua kalimat itu, hatinya juga sama sakitnya. Tapi lebih sakit lagi ketika ia melihat Langit dan yang teringat adalah anaknya yang telah tiada. "Katakan.."
"Sebelum tiga poin itu kita lakukan, bisakah kamu menjadi istriku yang dulu? Merawat ku sampai aku membaik. Aku anggap waktu sedikit ini adalah saat-saat terakhir untuk kita menjadi pasangan suami istri yang sesungguhnya. Bisakah?"
Jingga menatap Langit dalam diam, begitu pun dengan Langit. Pria itu terus menatap istrinya dengan tatapan penuh harap.
"Baiklah, akan aku lakukan."
Kalimat yang membuat Langit tersenyum, setidaknya ia masih bisa merasakan cinta dari perempuan itu. Ia akan menyimpan detik demi detik kejadian yang akan ia lalui bersama Jingga di saat-saat terakhir ini. Ia simpan di memori terdalamnya, agar saat ia merindukan Jingga nanti, ada kenangan terakhir yang bisa ia jadikan obat untuk rasa rindunya.
"Terima kasih, sayang. Aku masih boleh kan memanggilmu sayang?"
__ADS_1
Jingga mengangguk, mungkin Jingga pun akan melakukan hal yang sama. Menyimpan semua kejadian demi kejadian beberapa hari ini sebagai kenangan.