
“Mas, aku..”
“Ada apa? Apa kamu tidak mau memaafkan ku dan ikut pulang bersamaku?” Tanya Alex, ia menatap Mega penuh harap, tatapannya begitu sendu.
“Tidak, bukan seperti itu mas. Karena aku yang seharusnya minta maaf padamu, semua ini terjadi karena kebohonganku. Aku hanya malu, aku malu pada keluarga kita, jika mereka tahu yang sebenarnya, mereka pasti akan sangat kecewa padaku. Tapi di lain sisi, aku sangat ingin jujur, agar mereka tahu bahwa semua ini terjadi karena aku..”
Mega memang sudah berfikir beribu-ribu kali untuk berkata jujur pada keluarganya juga pada ibu mertuanya. Tentang kesalahannya di masa lalu dan kebohongan yang ia sembunyikan, tapi ia terlalu takut dengan tatapan kekecewaan dari orang-orang yang ia sayangi itu.
“Ibuku sudah tahu semuanya, dia tidak marah sayang. Ibu menerima mu juga anak kita. Dia bahkan memintaku untuk membawa mu pulang, tapi ayah, ibu dan nyonya Jingga..”
“Mereka belum tahu?” Tanya Mega, ia cukup terkejut bahwa ternyata ibu mertuanya memaafkannya dan mau menerimanya. Tapi keluarganya? Apa mereka juga akan melakukan hal yang sama seperti ibu mertuanya?
Alex menggeleng, “Aku sengaja tidak mengatakannya,” ucap Alex.
“Kenapa mas?”
“Karena aku tidak mau mereka menyalahkan mu, biarkan saja mereka tahu semua ini terjadi karena kesalahanku. Aku tidak mau mereka kecewa padamu.”
“Mas..” Mega kembali terisak, ia tak menyangka Alex begitu melindunginya, bahkan dari kekecewaan keluarganya.
Dengan lembut Alex menarik Mega ke dalam dekapannya, perempuan itu semakin terisak.
“Kita pulang ya sayang, aku mohon..” pinta Alex lagi.
Akhirnya Mega mengangguk, ia membalas dekapan Alex dengan erat, melepas sisa-sisa kerinduan yang perlahan sudah terobati.
Kedatangan Bu War membuat mereka melerai dekapan, Alex menghapus air mata Mega, perempuan itu tersenyum meski matanya masih berair.
“Ibu bahagia melihat kalian, meskipun ibu sedih karena akan kehilangan putri ibu, tapi tempatmu memang bukan disini nak..” Bu War menatap Mega dengan tulus, ia tersenyum meski matanya berembun, “Pulanglah bersama suamimu, keluargamu pasti sangat merindukanmu dan mencemaskan mu, nak..”
“Ibu, maafkan aku..” Mega menghampiri bu War, memeluk perempuan tua itu dengan erat, “Ibu ikut denganku saja, kita tinggal di Jakarta..”
“Tidak nak, maafkan ibu. Ibu tidak bisa meninggalkan warung peninggalan suami ibu ini. Ibu sudah berjanji pada bapakmu untuk menjaga warung ini sampai kapan pun. Sesekali datang lah kesini, dan kabari ibu jika cucu ibu sudah lahir,” ucapnya. Matanya mulai berair, ia tak dapat lagi menahan tangis. “Ibu ikut bahagia untukmu, nak..”
Mereka kembali saling mendekap, suara isak tangis dari keduanya membuat Alex ikut terharu. Memang baru dua bulan saja Mega tinggal bersama Bu War, tapi mereka sudah sangat dekat. Mungkin karena Bu War menganggap Mega sebagai putrinya sendiri, Mega pun menganggap bu War sebagai ibunya. Kebaikan bu War lah yang membantu Mega melanjutkan hidup dan akhirnya bisa menjalani hidup dengan baik tanpa sedih berkepanjangan.
“Kami janji akan datang untuk menjenguk ibu, bersama cucu ibu nanti. Dan maafkan istri saya jika selama tinggal disini merepotkan ibu, saya ucapkan terima kasih sebesar-sebarnya pada Ibu, karena ibu sudah membantu istri saya dan mengizinkannya tinggal disini..” ucap Alex dengan tulus.
Kalimat itu membuat Bu War semakin terisak, selama Mega tinggal disana, ia tak kesepian lagi dan merindukan putrinya di jawa bersama suaminya. Karena putrinya juga seusia Mega, mungkin karena itu ia sangat menyayangi Mega.
“Kita pulang sayang?” Tanya Alex.
__ADS_1
Mega mengangguk, “Aku membereskan barang-barang ku dulu, mas..”
“Ibu bantu ya, nak..” tawar bu War.
“Iya bu..”
***
Hari ini Langit bertekad untuk menyatakan cintanya kembali pada Jingga. Setelah beberapa kali ia pernah menyatakan cinta dan tak mendapat jawaban dari perempuan itu, kali ini ia akan mencobanya kembali. Mungkin jika kali ini Jingga tak merespon kembali, ia akan memilih untuk menjauhi Jingga untuk sementara waktu.
Dengan mengumpulkan keberanian, menguatkan mental, menenangkan jantung juga merangkai kata, tangannya terayun mengetuk pintu kamar Jingga. Karena hari masih pagi, mereka masih ada di rumah.
Tok Tok Tok
“Masuk..”
Langit semakin gugup saat suara Jingga terdengar menyahut dari dalam sana. Tapi tekadnya sudah bulat, ia harus mendapat kepastian tentang rumah tangganya ini. Apa kalian pikir tidak berat menahan rindu selama dua bulan lebih? Menahan diri untuk tak memeluk dan menyentuh istrinya sendiri lebih berat ketimbang memangku dua ton beras di pundaknya. Seperti kata Dylan, rindu itu berat. Apalagi seseorang yang kita rindukan ada di depan mata, sayangnya, selain menatap Langit tak bisa berbuat apa-apa.
“Jingga..” Panggilnya setelah ia membuka pintu.
Jingga yang tengah mengikat rambutnya berbalik, keningnya mengkerut, “Mas? Ada apa?”
“A-aku, aku hanya ingin bertanya padamu. Apakah, apakah kamu sama sekali tidak merindukanku? A-apa, tidak ada sisa cinta di hatimu untukku?”
“Aku mohon kali ini jawablah, Jingga. Sudah dua bulan lebih, apa aku memang tidak mempunyai harapan lagi? Apa rumah tangga kita akan terus seperti ini?”
“Kamu mulai lelah?” Tanya balik Jingga.
“Aku hanya mulai tidak percaya diri,” lirih Langit.
“Kalau aku mengatakan tidak, apa yang akan kamu lakukan?” Tanya Jingga lagi.
Langit tersentak mendapat pertanyaan itu, ia tak bisa menjawab. Lidahnya terasa kelu, jadi Jingga kembali menolaknya?
“Jawab mas!”
Langit menghela nafas panjang, sungguh dadanya mulai terasa sesak. Ia menatap Jingga dengan mata berembun, “Jika perpisahan yang kamu mau, baiklah. Aku akan melepaskan mu asal kamu bahagia..” ucap Langit.
Jingga terpaku, bukan jawaban itu yang ia harapkan. Seperti yang kita tahu, pertanyaan seorang wanita memang kerap menjebak. Jalan pikiran seorang perempuan juga susah di tebak, mungkin bagi sebagian pria, wanita adalah makhluk yang rumit. Apalagi Langit memang tak terlalu pandai tentang cinta dan memahami perempuan.
Belum sempat Jingga berucap, Langit berbalik hendak pergi. Membuat Jingga bergerak cepat menendang pintu kamar yang beberapa langkah lagi Langit gapai. Perempuan itu berdiri di hadapan suaminya, tatapan mereka bertemu, menyiratkan begitu banyak rangkaian kata yang tak bisa terucap oleh bibir.
__ADS_1
“Jangan halangi aku, jika kamu mau aku menjauh baiklah. Aku akan menjauh, akan aku pastikan kamu tidak akan terganggu dengan keberadaan ku lagi,” ucap Langit.
Jingga menggeleng beberapa kali, membuat Langit mengerutkan dahinya dengan tajam. Sungguh pria itu tak mengerti dengan maksud istrinya.
“AKU MENCINTAIMU MAS! KAMU DENGAR ITU? AKU MENCINTAIMU, AKU MERINDUKANMU, AKU MEMBUTUHKANMU. PUAS? APA KAMU PIKIR AKU BAHAGIA SAAT AKU DEKAT DENGANMU TAPI AKU TIDAK BISA MEMELUKMU? AKU JUGA TERSIKSA MAS, KAMU BERHASIL. KAMU BERHASIL MENGUSIR RASA KECEWAKU PADAMU, KAMU BERHASIL MEMBUAT AKU JATUH CINTA PADAMU LAGI DAN LAGI. PUAS MAS? ITU KAN YANG MAU KAMU DENGAR? KAMU PUAS?”
Jingga terisak, ia mengusap air matanya dengan kasar. “Kamu mau pergi dariku? Kamu mau menjauh dariku? Jangan jadi pengecut! Kamu harus bertanggung jawab atas perasaanku padamu mas!”
“Jingga..”
“APA? KAMU MASIH MAU PERGI DARIKU? PERGILAH, PERGI KALAU KAMU BISA!”
Langit tersenyum, ia menarik perempuan itu ke dalam dekapannya. Tidak lupa juga ia membubuhkan begitu banyak kecupan di puncak kepala istrinya, “Aku mencintaimu, aku mencintaimu. Mana mungkin aku bisa jauh darimu, aku milikmu sayang..”
Dengan erat Jingga membalas dekapan suaminya, “Maafkan aku..” lirihnya seraya terisak. “Aku hanya butuh waktu mas, kenapa kamu menyerah?”
“Dua bulan, sayang. Dua bulan aku tersiksa, aku sangat merindukanmu..” lirih Langit.
“Aku juga merindukanmu, mas..”
Jingga menengadah, mereka saling menatap lalu tertawa tanpa suara. Meski mata mereka basah, tapi taka da yang lebih membahagiakan lagi dari ini. Dengan lembut Jingga menghapus air mata Langit, begitu pun dengan Langit, ia menghapus air mata istrinya lalu mengecup seluruh wajah perempuan itu dengan penuh perasaan.
Akhirnya, Langit bisa kembali merasakan hangatnya pelukan Jingga, akhirnya Jingga pun bisa kembali mendengar degup jantung suaminya dari jarak yang begitu dekat bahkan tanpa sekat.
***
IKLAN
Ges, kemaren banyak yang komen kenapa Alex yang babak belur? Padahal Mega yang salah. Jawabannya udah aku tulis di atas yah, jan pada marah sama aku, aku suka pundungan orangnya. Hikhikhik😭
Dan kenapa ceritanya aku percepat? Aku singkat jadi dua bulan kemudian, karena aku takut kalian bosen ges. Padahal rencananya aku mau bikin pasangan LangitJingga AlexMega itu pisahnya dua tahun, bukan dua bulan. Supay cinta mereka bulukan sekalian, hahaha. Tapi aku gak sejahat itu loh ges, maafin.😪😪
IKLAN 2
Kata Dylan rindu itu berat, kata Langit rindu itu berat saat kita merindukan seseorang yang padahal orang tersebut ada di depan mata, tapi Langit gak bisa ngapa-ngapain selain liatin doang, tapi kata othor yang lebih berat itu saat othor jualan panci tapi gak laku-laku. Sedih, galau, resah, gelisah, pokonya gado-gado ges.
SEKIAN DAN TERIMA KASIH, JANGAN BOSEN KASIH DUKUNGAN BUAT AKU GES..
SALAM LOPE LOPE DARI AKU..
BTW, besok aku kasih adegan ranjang bergoyang jangan yah? 🤔🤔
__ADS_1
Menurut kalian gimana? Soalnya aku di bawah umur, suka deg-degan kalau nulis adegan anu-anu. 🤣🤣