
Pintu ruangan yang tiba-tiba terbuka membuat Langit menoleh. Raut wajah dinginnya menatap seseorang yang masuk tanpa permisi ke dalam ruangannya. Entah dimana Alex, kenapa bisa ada seseorang yang masuk ke ruangannya seenaknya tanpa pengawasan atau konfirmasi terlebih dahulu padanya.
“Siapa Anda? Kenapa memasuki ruangan saya tanpa permisi?” Tanya Langit. Ia menatap pria tua berkaca mata itu dengan tatapan tajam, ia tak suka ada seseorang yang bersikap tak sopan padanya.
“Ternyata ruangan ini tetap sama,” celetuk pria tua itu. Ia tak mengindahkan ucapan Langit sebelumnya, membuat Langit semakin tak suka.
Langit terus menatap pria tua itu, ia tak mengatakan apapun lagi. Pria tua itu masuk mengedarkan padangannya, meneliti setiap inci ruangan seolah sangat mengenali tempat itu.
“Sejak kapan kamu memimpin perusahaan ini?” Tanya pria tua itu tanpa menatap Langit sedikit pun.
Langit tak menjawab, ia merasa pria tua itu tak bicara dengannya, menatapnya saja tidak. Membuat pria tua itu menoleh dan menatap Langit, “Aku bertanya padamu pak tua, sejak kapan kamu memimpin perusahaan ini?” uloangnya lagi.
Langit menghela nafas dalam, lalu kembali bertanya, “Siapa kamu?”
Pria tua itu tersenyum menyeringai, terlihat menakutkan tapi Langit tak gentar. Ia terus emnatap pria tua itu dengan tatapan tajam.
“Aku Handoko, ruangan ini dulu milik sahabat saya, Banyu biru,” jawab pria tua itu.
Langit tersentak mendengar nama sang papa pria itu sebut. Tapi tentu ia tak boleh percaya begitu saja, sejak peristiwa naas itu terjadi, Langit sangat sulit untuk mempercayai orang asing. Sekalipun orang asing itu mengaku saudara atau sahabat kedua orang tuanya dulu.
“Sejak kapan kamu membeli perusahaan ini?”
Pertanyaan yang membuat Langit kembali tersentak, ia kembali menatap pria tua itu, “Sejak Sebelas tahun yang lalu,” jawabnya dengan jujur. Ia masih ingat betul, usianya yang masih sangat muda harus di paksa menjadi matang untuk mengurus perusahaan peninggalan kedua orang tuanya. Beruntung pak Lim terus mendampinginya, mengarahkannya dan membentuknya menjadi pribadi yang kuat, tegas dan cerdas. Langit bahkan bisa menguasai perusahaan dalam waktu yang singkat, mencegah perusahaan itu gulung tikar atau jatuh ke tangan yang salah.
__ADS_1
Pak Lim adalah asisten Banyu Biru dulu, pria tua itu tak pernah meninggalkan Langit sejak Langit hidup sendirian. Ia selalu mendampingi Langit, melindungi Langit seperti melindungi putranya sendiri. Pak Lim bersama seseorang yang dulu adalah sopir Banyu Biru tak pernah membiatkan Langit sendirian. Mereka benar-benar menjaga Langit dan melindungi Langit dari musuh yang saat itu membunuh kedua orang tuanya. Bahkan sampai saat ini pembunuh itu masih berkeliaran dan mungkin saja tengah mencari Langit, karena Langit adalah saksi kunci peristiwa naas itu. Karena alasan itu juga lah Langit terpaksa menjadi tua, menyembunyikan jati dirinya yang sebenarnya.
“Waw, sudah cukup lama. Itu artinya, kamu membeli perusahaan ini sejak sahabatku tiada?” tanya pria tua itu lagi.
Langit kembali tersentak, ia terkejut karena ternyata Handoko juga mengetahui kematian orang tuanya.
“Tidak usah terkejut, aku tahu semuanya tentang pemilik perusahaan ini sebelumnya. Aku sahabat dekatnya,” ucap Handoko lagi.
Langit berusaha keras mengingat pria tua bernama Handoko itu. Yang katanya sahabat dari sang papa. Tapi tetap saja ia tak mengingatnya, ia tak pernah melihat pria tua itu bersama papanya.
Handoko duduk di sofa meski Langit tak mempersilahkannya, pria tua itu menghela nafas panjang lalu menatap ke langit-langit ruangan. Seolah menerawang memutar kembali memorinya mengingat kebersamaannya dengan Banyu Biru dan Senja.
“Aku bukan hanya bersahabat dengan Banyu Biru, tapi juga istrinya. Kami sangat dekat sampai kami nyaris tak terpisahkan,” ucap Handoko lagi.
“Tidak ku sangka mereka begitu cepat pergi,” ucap Handoko lagi.
Langit sangat penasaran dengan pria tua itu, tapi ia tak boleh gegabah. Jika ia salah melangkah, bukan hanya dirinya saja yang nantinya dalam bahaya, tapi juga Jingga. Lagi-lagi Jingga yang menjadi pertimbangan terberatnya, ia tak mau perempuan yang sangat di cintainya itu terancam bahaya.
Kedatangan Alex membuat mereka menoleh. Pria itu tampak cemas dan segera menghampiri Langit, “Tuan, maafkan saya. Saya lengah,” ucapnya dengan pelan.
Langit mengerti, Alex pasti meminta maaf karena ia lalai menjaga ruangannya. Membiarkan orang asing masuk ke ruangan itu tanpa izin dan konfirmasi terlebih dahulu.
“Awasi dia,” bisik Langit.
__ADS_1
Alex mengangguk, ia lalu menghampiri Handoko, “Tuan..”
“Ya ya ya, aku mengerti. Aku akan keluar sekarang,” potong Handoko. Ia lalu beranjak, merapihkan jasnya dan menatap Langit sejenak, “Terima kasih, aku hanya ingin bernostalgia mengingat kedua sahabatku. Aku permisi,” ucapnya.
Langit hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia kembali mengangguk saat Alex menoleh, memberi isyarat agar asistennya itu mengawasi dan mencari tahu tentang Handoko.
***
"Apa pak Lim mengenalnya?" tanya Langit. Sepulang dari kantor, ia tak langsung ke kamar, padahal Jingga sudah sangat menunggunya. Ada hal penting yang ingin ia bahas dengan pak Lim di ruang kerjanya.
Pak Lim menatap layar laptop di hadapannya, keningnya berkerut. Mungkin tengah mencoba mengingat kembali sosok yang ada di layar tersebut.
Langit tengah memperlihatkan rekaman CCTV di ruangannya pada pak Lim. Handoko mengatakan bahwa di bersahabat dengan kedua orang tuanya. Pernyataan itu benar-benar mengganggu pikirannya, karena itu dia memutuskan untuk bertanya pada pak Lim.
Jika benar Handoko sahabat kedua orang tuanya, pak Lim yang juga merupakan salah satu orang terdekat Banyu Biru dan Senja pasti mengenal Handoko, begitu pikir Langit.
"Handoko," cetus pak Lim setelah beberapa saat terdiam untuk berpikir.
Langit semakin penasaran, "Jadi pak Lim mengenalnya?"
"Tidak terlalu, Tuan. Karena Handoko hanya beberapa kali saja bertemu dengan Tuan Banyu. Itu pun urusan kontrak kerja, Tuan. Jika Handoko mengaku bersahabat dengan tuan Banyu, saya sangsi Tuan. Tapi..." Pak Lim menghentikan ucapannya, ia tampak ragu untuk mengatakannya.
"Tapi??" Tanya Langit.
__ADS_1
"Saya pernah melihat nyonya Senja beberapa kali bertemu dengannya."