MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
MODUS LAGI


__ADS_3

Tak ingin patah arang, tak ingin putus harapan, Alex terus mencari Mega. Beruntung Langit mengerti dengan keadaannya meski sang Tuan harus berbohong pada istrinya tentang alasan mengapa Alex menghilang begitu saja. Tentu hal itu juga di manfaatkan Langit untuk bisa berduaan saja dengan Jingga. Berkedok belajar, Langit terus mendekati Jingga. Langit benar-benar memulai semuanya dari awal, mulai pendekatan untuk mendapatkan kesempatan.


Kembali ke Alex, pria itu tengah mengemudikan mobilnya membelah jalanan kota. Pandangannya sesekali mengedar, melihat-lihat barang kali sang istri dapat ia temukan. Sayangnya sampai hari ke dua pun ia masih tak dapat menemukan Mega.


Sesekali juga ia menghentikan mobilnya saat ia melihat sosok yang mirip dengan istrinya, namun beberapa kali menemukan wanita hamil, beberapa kali juga ia salah orang. Mungkin karena ia terlalu rindu, sampai-sampai ia salah mengenali orang.


“Kamu dimana sayang?” lirihnya. Ia juga terus berusaha menghubungi ponsel Mega, sayangnya nomor perempuan itu tak dapat di hubungi. Tapi ia tak menyerah, seperti sekarang ini, ia kembali mencoba menghubungi istrinya. Barang kali nomor perempuan itu sudah aktif dan ia bisa melacak keberadaan sang istri.


Tersambung, Alex tak percaya. Jantungnya berdetak kencang, senyuman terbit dari bibirnya. Setelah beberapa kali deringan ia menunggu, akhirnya telponnya terhubung, Mega menerima panggilannya.


“Halo, sayang. Kamu dimana? Aku akan menjemputmu, sayang, bicaralah..” dengan tak sabar Alex bertanya.


“Nak, ini ibu..”


Alex mengerutkan dahinya, ia menjauhkan ponsel dari telinganya kemudian melihat layar benda itu untuk memastikan bahwa ia tak salah menghubungi nomor ponsel. Benar, yang ia hubungi memang istrinya, lalu kenapa yang terdengar justru suara ibunya?


“Halo, ibu?” Tanya Alex setelah ia kembali menempelkan ponsel ke telinganya.


“Iya nak, ini ibu..” jawab Ibu dari seberang sana.


“Kenapa ponsel istriku ada pada ibu? Apa istriku ada disana?” Dengan penuh harapan ia bertanya, semoga saja memang benar Mega berada di rumah ibunya.


“Datanglah dulu ke rumah, ibu akan menjelaskan semuanya,” ucap ibu.


“Tapi, bu. Apa istriku ada disana?”


“Tidak, datanglah dulu. Nanti kita bicara di rumah,” ucap Ibu lagi.


Alex mengangguk meski ibu tak mungkin dapat melihatnya, “Baiklah, aku ke rumah ibu sekarang..”


Pria itu kembali menyalakan mesin mobilnya setelah sambungan telponnya terputus, dengan kecepatan tinggi ia membelah jalanan, tak sabar ingin segera sampai di rumah sang ibu.

__ADS_1


Hanya sepuluh menit saja, Alex sudah sampai di rumah ibu. Ia bahkan berlari memasuki rumah, mencari sang ibu dengan tak sabar. “Bu, aku datang..” ucapnya.


“Waalaikumsalah, nak..” sindir ibu.


Alex berdiri kikuk, “Maaf, bu. Assalamualaikum..” ralatnya.


“Waalaikumsalah, duduklah..” ucap ibu, ia lalu meletakkan ponsel Mega di atas meja, “Itu ponsel istrimu,” ucap Ibu.


Alex mengambilnya, itu memang ponsel istrinya, “Kapan dia kesini bu? Dimana dia sekarang?” Tanyanya.


“Kenapa kamu bertanya pada ibu? Kamu suaminya, harusnya kamu tahu kemana istrimu pergi. Apa yang terjadi dengan kalian? Kenapa Mega memilih untuk pergi darimu?”


Dari nada suaranya, Alex tahu ibu marah padanya.


“Maafkan aku bu, aku yang salah. Mega pergi karena aku menyakitinya..” Alex lalu menceritakan semuanya, semua yang sudah ia lakukan pada Mega termasuk siapa ayah biologis anak yang Mega kandung.


“Kamu keterlaluan, nak. Apa ibu mengajarkanmu untuk menyakiti perempuan? Kamu menyakiti istrimu, itu sama saja dengan kamu menyakiti ibu. Terlepas dari perbuatan di masa lalunya, tapi dia sudah berusaha berubah demi kamu. Harusnya kamu bisa menghargai usahanya, ibu yakin, Mega juga tidak mau membohongimu. Ibu melihat cinta yang begitu besar di matanya untuk kamu, kalau kamu tidak bisa membalas cintanya, setidaknya kamu jangan menyakitinya.”


Ibu menghela nafas dalam, “Maafkan ibu nak, harusnya ibu juga tidak menyalahkanmu. Jika ibu ada di posisimu, mungkin ibu juga akan melakukan hal yang sama. Ibu hanya minta kamu lebih bijak, jadikan ini sebagai pelajaran, jangan menyakiti istrimu lagi. Dia juga sudah menyesali perbuatannya bukan?”


Alex mengangguk mengiyakan, “Dia bahkan memohon agar aku memaafkannya..”


“Sudahlah, anggap perpisahan kalian sebagai pembelajaran agar kalian bisa lebih baik lagi dalam bersikap. Agar kalian bisa menyadari, sebesar apa cinta yang kalian miliki. Jika kalian masih berjodoh, Tuhan pasti akan membawanya kembali padamu. Tapi meski begitu, kamu juga harus tetap berusaha mencarinya. Tunjukan bahwa kamu benar-benar menyesal sudah menyakitinya, Tuhan akan memberikanmu jalan untuk menemukannya. berdoalah agar semuanya di mudahkan,” ucap Ibu. Ia mengusap rambut putranya dengan lembut saat pria itu berbaring di pangkuannya.


Alex kembali mengangguk, tanpa terasa air mata menetes dari ujung matanya, ia merindukan Mega.


“Aku tidak akan menyerah, bu. Aku akan membawa istriku pulang..”


"Ibu percaya padamu, bawa menantu ibu pulang.."


"Bu, kapan Mega mengunjungi ibu?" tanya Alex lagi, ia ingin tahu kenapa Mega bisa ke rumah ibunya. Dan bodohnya, ia tak sampai berpikir untuk mencari Mega kesana. Andai saat itu ia pulang ke rumah ibu, mungkin ia tak akan terlambat. Alex masih bisa menahan perempuan itu pergi.

__ADS_1


"Dua hari yang lalu, Sintya melihat Mega sendirian, dia menangis. Awalnya Mega tidak mau Sintya ajak kesini, tapi adikmu memaksa. Sintya tidak tega melihat mbaknya sendirian, apalagi malam sudah larut. Paginya Mega pamit pada ibu, ibu tidak tahu dia pergi kemana, Mega menolak di antar. Dan pagi tadi, saat ibu sedang membereskan kamarmu, ibu melihat ponsel itu. Mungkin Mega sengaja meninggalkannya, ponsel itu dalam keadaan mati. Maaf, ibu lancang menyalakannya," jelas ibu panjang lebar.


"Tidak usah meminta maaf Bu, jika ibu tidak menyalakan ponsel itu, mungkin aku tidak akan tahu kalau Mega sempat kesini."


Ibu mengangguk, tangannya tak berhenti mengusap rambut putranya dengan lembut. Raut wajah lelah terlihat jelas di paras tampan pria itu.


"Jangan menyerah, nak.."


***


"Siang ini kita ada pertemuan dengan PT. Agra, ini materinya. Sebaiknya kita mempelajarinya sekarang," ucap Langit.


Jingga mengangguk, ia mengambil berkas yang Langit sodorkan, lalu mulai membaca poin demi poin yang nantinya harus mereka bahas dengan PT. Agra.


"Mereka akan membuat iklan produk?" tanya Jingga.


Langit mengangguk, "Ya, dan mereka mau perusahaan kita yang menggarapnya.


"Baiklah, akan aku pelajari semuanya.."


"Aku akan mengajarimu," ucap Langit. Tanpa menunggu dan memberi kesempatan pada Jingga untuk menghindar, Langit segera mengambil kursi lalu duduk di sebelah Jingga. "Kalau ada yang tidak kamu mengerti, tanyakan saja padaku," ucapnya lagi.


"Sedikit menjauh mas," pinta Jingga.


"Hah? Oh, ok.." Langit menggeser kursinya, tapi bukan menjauh, pria itu justru semakin merapatkan kursi yang ia duduki dengan yang Jingga duduki.


"Mas.." tegur Jingga.


"Sudahlah, kita tidak boleh membuang-buang waktu. Kamu harus segera mempelajari berkas-berkas ini. Kalau aku duduk jauh darimu, aku khawatir kamu tidak akan menyerap pelajaran dengan mudah," seperti seorang guru yang tengah mengajari muridnya, Langit kembali melancarkan modusnya.


"Modus!"

__ADS_1


__ADS_2