MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
PENJELASAN DOKTER


__ADS_3

"Bagaimana keadaan istri saya, dok?" Tanya Langit. Pria itu tampak begitu cemas, meski Jingga sudah sadarkan diri, tapi wajah pucat perempuan itu masih membuatnya khawatir.


Wika, dokter pribadi Langit. Perempuan paruh baya itu tersenyum, "Beliau tidak apa-apa, Tuan. Ini normal, wanita hamil memang kerap merasakan hal aneh yang sebelumnya di rasa wajar," jelasnya.


Langit manggut-manggut, tapi tunggu! Wanita hamil? "Dokter, apa maksudmu? Hamil?" tanyanya.


Wika mengangguk bingung, "Jadi kalian belum tahu?" tanyanya seraya menatap Langit dan Jingga yang masih tampak linglung.


Baik Jingga maupun Langit tak menyadari ucapan dokter Wika sebelumnya.


Lain hal dengan Bu Rika, pak Lim dan Alex yang tampak sumringah. mereka bahkan berTos ria, seolah misi yang mereka jalankan berhasil. Akhirnya tuan mereka bisa membuktikan kelelakiannya.


"Selamat Tuan, nyonya. Saya rasa kandungannya sudah jalan dua bulan. Apa nyonya benar-benar tidak tahu? Dan kapan terakhir anda kedatangan tamu bulanan?" tanya dokter lagi.


Jingga menggeleng, ia masih tampak bingung, kedua tangannya meraba perutnya yang masih datar. Bodohnya ia tak menyadari kehadiran calon buah hatinya yang sudah ada di dalam sana sejak dua bulan lalu. Pantas saja sejak ia dan Langit menyatu, ia tak pernah kedatangan tamu bulanan, ternyata bibir unggul dari Langit Biru sudah tumbuh dalam rahimnya. "Aku rasa memang dua bulan terakhir aku tidak datang bulan," cicitnya dengan pelan.

__ADS_1


"Sebaiknya, periksakan ke dokter obgyn untuk mengetahui lebih detailnya Tuan, nyonya. Karena saya sudah bisa merasakannya, perut bawah nyonya sudah mengeras," ucap dokter Wika lagi, ia tertawa melihat Langit dan Jingga yang masih tampak linglung.


"Mas, a-aku benar-benar hamil?" tanya Jingga dengan bibir bergetar.


Langit mengangguk beberapa kali, ia tersenyum lebar. bersamaan dengan itu air matanya menetes, ia tak menyangka Tuhan memberikannya kebahagiaan yang tiada tara. Tuhan memang maha baik, di balik semua keterpurukan yang selama ini ia alami akibat rasa trauma, ada kebahagiaan yang ia dapatkan melalui Jingga. "Kita akan memeriksanya nanti," lirihnya.


Jingga berusaha bangkit, Langit sigap membantunya. Mereka saling berpelukan dengan erat, air mata menetes deras dari mata keduanya. Membuat suasana bahagia itu menjadi haru.


"Selamat, sayang.." bisik Langit.


"Selamat juga untukmu," balas Jingga.


***


Selepas melakukan beberapa test dan pemeriksaan di dokter obgyn, Jingga di nyatakan positif mengandung, Langit sangat over protektif dalam menjaga Jingga. Begitu pun dengan yang lainnya, mereka memperlakukan Jingga seperti ratu.

__ADS_1


Tak boleh melakukan apapun, tak boleh lelah juga tak boleh merasa kesal meski terkadang yang menjadi objek kekesalan perempuan itu adalah suaminya sendiri.


Seperti saat ini, mereka tengah berdebat. Yang menjadi topik perdebatan mereka adalah banyaknya bunga mawar yang Langit berikan beberapa hari yang lalu.


Entah mengapa Jingga menjadi sangat pecicilan dan perhitungan, mungkin bawaan orok atau jiwa keibu-ibuannya sudah muncul. Menurutnya, Langit melakukan pemborosan.


"Tapi aku membelikannya untukmu," elak Langit saat Jingga memberondongnya dengan berbagai protesan.


"Kamu boros mas, uangnya jadi terbuang sia-sia karena kamu membuang semua bunganya," ucap Jingga lagi.


"Tidak, bunganya tidak terbuang sia-sia. Aku meminta mereka membagikan bunga itu secara gratis, aku juga mau menebar cinta dan kebahagiaan karena kabar kehamilan kamu," jelas Langit.


Jingga terdiam, ia tak tahu jika bunga itu ternyata tak di buang. Tapi di bagikan kepada orang lain sebagai bentuk rasa bahagia Langit atas kehamilannya. Beberapa detik kemudian ia kembali berkata, "Tetap saja kamu boros! Kaget loh aku, kenapa kamu beli bunga sebanyak itu. Di toko bunga saja, aku rasa tidak ada Bunga mawar sebanyak itu, kamu pemenang rekor mas. Langit-ku memang berbeda!"


Langit menepuk dahinya sendiri, ia yang semula tengah berbaring dan menjadikan paha sang istri sebagai bantalannya kini terbangun. Duduk tegak menatap penuh wajah istrinya yang entah mengapa justru terlihat sangat lucu saat tengah menggerutu. Helaan nafas panjang terdengar berhembus dari mulutnya, ia kemudian beranjak, "Aku akan membuatkan mu susu, tunggulah sebentar," ucapnya.

__ADS_1


Jingga mengerucutkan bibirnya, sejak tahu ia mengandung, Langit memang tak pernah meladeninya berdebat terlalu lama. Pria itu lebih banyak mengalah pada istrinya.


Teringat pesan dokter yang mengatakan bahwa ia harus menjaga Jingga dan kandungannya, menjaga mood perempuan itu, menjaga pola makannya, menjaga waktu istirahatnya, dan menjaga apapun yang berhubungan dengan istrinya. Bahkan saat Jingga buang air besar, pria itu menunggu di depan pintu kamar mandi. Dan saat Jingga memprotes, pria itu mengatakan karena menurut dokter ia harus selalu menjaga Jingga.


__ADS_2