
Matahari belum menampakkan sinarnya, tapi sepasang mata tajam milik seorang pria telah terjaga sejak beberapa menit yang lalu. Enggan beranjak dari atas ranjang, pria itu justru memilih memandangi wajah cantik istrinya yang masih terlelap.
“Ternyata aku tidak bermimpi,” gumamnya seraya terkekeh. Ia tatap paras indah istrinya dengan begitu dalam, seolah tengah mengukir setiap detail bagian wajah perempuan itu. “Kenapa mata ini begitu indah? Bahkan saat kamu membenciku, mata ini tetap terlihat indah di mataku. Lalu bibir ini, selalu saja membuat aku tergoda. Jika ada pelangi yang datang setelah hujan, maka pelangi itu akan terlihat sangat indah. Tapi bagiku, keindahan pelangi tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan keindahanmu. Kamu yang sempurna ini, sungguh baik menerimaku yang begitu banyak kekurangan. Aku bahkan merasa menjadi seorang kerdil ketika aku berdiri di sampingmu. Maaf atas kebodohan yang pernah aku lakukan, sepertinya seumur hidup aku akan terus menyesalinya, sayang..”
Dengan erat pria bernama Langit Biru itu mendekap tubuh istrinya. Membuat perempuan itu melenguh karena tidurnya terganggu. Perlahan perempuan itu membuka mata, lalu mendongak menatap suaminya yang berjarak sangat dekat dengannya. Bahkan tubuh polos mereka saling menempel satu sama lain.
“Kamu sudah bangun?” Tanyanya dengan suara serak.
Langit mengangguk, mengecup seluruh wajah istrinya dengan begitu gemas. Dan karenanya perempuan bernama Jingga itu tertawa. Aaah, rasanya tak ada pagi seindah ini. Terjaga menatap wajah cantik istrinya lalu mendapatkan tawa renyah perempuan itu.
“Sudah dari beberapa menit yang lalu,” jawab Langit.
“Kenapa tidak membangunkan ku? Jam berapa ini? Apa kita terlambat?” Tanya Jingga, ia menahan wajah suaminya yang hendak kembali memberikan serangan pada bibirnya, “Mas..” rengeknya.
“Aku tidak mau mengganggu tidurmu, ini baru jam setengah lima pagi, kita belum terlambat dan masih ada waktu untuk..” Langit menghentikan kalimatnya, ia menatap Jingga dengan tatapan nakal menggoda.
“Untuk?” Ulang Jingga berpura-pura tak tahu. Padahal dari tatapan pria itu saja Jingga sudah dapat menebak apa kelanjutan kalimatnya.
Langit tak menjawab, ia justru sedikit mengambil jarak lalu menindih istrinya. Jingga membulatkan matanya, bukan karena Langit yang tiba-tiba menindihnya, tapi karena ia merasakan sesuatu yang mengganjal di bawah sana. Padahal ia tak memancingnya untuk bangun, tapi benda itu sudah berdiri tegak.
“Kenapa sayang? Apa kamu terkejut kenapa dia sudah bangun? Bahkan dari mendengar suaramu saja dia sudah bereaksi,” ucap Langit. Karena mendengar suara serak Jingga saja juniornya itu sigap merespon.
“Mas, kita harus ke kantor bukan?” Tanya Jingga.
“Ya, tapi hari ini kita bisa pergi ke kantor sedikit siang. Kita akan melakukan meeting special dulu sayang,” ucap Langit seraya mengedipkan sebelah matanya.
Jingga menahan senyum, ia mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami. Bahkan dengan berani perempuan itu membuka kedua kakinya dengan lebar, memberikan kekuasaan penuh pada Langit agar pria itu bisa dengan leluasa mengeksekusi dirinya.
“Sudah mulai nakal,” bisik Langit dengan suara parau. Tatapan pria itu tampak sayu, berkabut gairah yang mulai naik.
__ADS_1
“Untukmu, sayang..” bisik Jingga.
Langit tak mau menunggu lagi, kepalanya sudah terasa mendidih. Ia mulai kembali menjamah tubuh istrinya. Dengan penuh kelembutan, penuh perasaan dan penuh gairah.
Sepertinya kali ini Jingga tak mau kalah, perempuan itu ikut bergerak sedikit agresif. Membuat Langit semakin bersemangat dan terus berpacu menggerakan pinggulnya. Gerakan khas yang meski tanpa di ajari pun semua orang sudah dapat melakukan gerakan alamiah itu dengan lihai.
Pagi yang indah, pagi yang bermakna, pagi yang melelahkan untuk mereka berdua. Sepertinya baik Langit maupun Jingga tak ada yang mau mengakhiri, mereka sama-sama merindukan dan menginginkan satu sama lain.
***
Pukul delapan pagi Langit dan Jingga baru keluar kamar. Mereka saling bergandengan tangan dengan mesra. Membuat iri siapa saja yang melihat. rasa lapar menuntun keduanya menuju meja makan, sarapan yang sudah terlambat, tapi tak masalah, toh mereka sudah sarapan panas lebih dulu.
“Selamat pagi, Tuan, Nyonya..” sapa pak Lim dan Bu Rika dengan kompak.
“Selamat pagi untuk kalian berdua, bagaimana pagi kalian? Apa menyenangkan seperti pagiku?” Tanya Langit. Pertanyaan terpanjang dan basa basi terbasi yang pernah Langit ucapkan.
Pak Lim dan Bu Rika sampai bingung hendak menjawab apa, mereka hanya bisa tersenyum dan saling menatap satu sama lain.
Sedangkan Bu Rika pergi ke pintu utama karena salah satu pelayan menghampirinya dan membisikkan sesuatu padanya.
"Sayang, aku suapi kamu.." ucap Langit. Jingga mengangguk, ia tersenyum saat Langit menyodorkan satu sendok makanan ke mulutnya.
Pemandangan yang sudah lama tak terjadi di rumah itu, akhirnya nyawa dan kehangatan di rumah mewah itu kembali. Suasana dingin yang tercipta beberapa bulan ini sirna, terganti dengan keharmonisan yang kembali terlihat pagi ini.
Suara gaduh dari pintu depan membuat Jingga dan Langit saling menatap, bahkan mereka berhenti mengunyah.
Dan saat terdengar suara yang tak asing di telinga Langit, pria itu beranjak meninggalkan Jingga yang kemudian juga beranjak mengikutinya.
"Ada apa ini?" Tanya Langit, ia menatap tajam dua orang yang tengah berdiri di ambang pintu dan memaksa masuk ke dalam rumah meski dua penjaga menghadangnya.
__ADS_1
"Biarkan aku masuk!" ucap salah satunya.
"Tidak!" Langit menolak tegas, ia menoleh saat Jingga datang dan berdiri di sebelahnya.
"Siapa, mas?" tanya Jingga.
"Biarkan aku masuk dan izinkan aku bertemu dengannya!" pekik orang itu lagi.
Jingga mengerutkan dahinya, ia merasa tak asing dengan orang itu. Serasa pernah melihat tapi dimana?
"Minggir brengsek! Biarkan aku masuk!" pekiknya lagi, ia meronta saat dua penjaga menahan lengannya.
"Sayang, sebaiknya kamu masuk dulu ke kamar," pinta Langit.
Jingga menoleh, menatap Langit penuh tanya, "Kenapa mas? Siapa dia?"
"Menurut lah.." ucap Langit lagi.
Melihat tatapan tajam Langit, Jingga akhirnya mengangguk. Sepertinya pria itu tengah marah, terlihat dari matanya yang memerah, kedua tangannya bahkan terkepal dengan rahang yang tampak mengeras.
"Jangan pergi, aku ingin bicara denganmu! Berhenti Jingga, biarkan aku bicara denganmu!" pekik orang itu lagi.
Jingga yang hendak menaiki anak tangga menghentikan langkahnya, ia menoleh menatap seseorang yang tengah meronta di ambang pintu. "Siapa dia?" batinnya.
Tak ingin membuat suaminya marah, tak ingin memperburuk keadaannya dan Langit yang baru saja membaik, Jingga akhirnya pergi kembali ke kamarnya.
"Jingga tunggu! Berhenti, tolong biarkan aku bicara denganmu!"
"DIAM!!" sentak Langit, pria itu menatap lawan bicaranya dengan tajam, nafasnya memburu menahan amarah. "Pergi, atau aku akan membunuhmu!" Teriak Langit.
__ADS_1
"Tidak, aku tidak akan pergi sebelum aku bicara dengannya!"
"BRENGSEK!!"