MENIKAHI KAKEK TUA

MENIKAHI KAKEK TUA
SEPENGGAL KISAH


__ADS_3

PRANG


Suara benda terjatuh membuat Jingga terkejut. Ia beranjak dari ranjang menuju kamar mandi, Langit berada di dalam sejak beberapa menit yang lalu. Ia pun mengetuk pintunya dengan cemas, “Mas, kamu tidak apa-apa?” tanya Jingga seraya terus mengetuk pintu.


Tak ada jawaban dari sang suami membuat Jingga semakin cemas, “Mas, jangan membuatku cemas, apa terjadi sesuatu? Tolong jawab aku mas..”


“Aku baik-baik saja,” sahut Langit dengan suara sedikit berat.


Jingga berbafas lega, akhirnya pria itu menyahut. Tapi benda apa yang terjatuh tadi? Ia memutuskan untuk duduk di sofa, menunggu suaminya keluar dan bertanya secara langsung. Sejak pulang bekerja, Langit tak banyak bicara, bahkan hanya tersenyum tipis saja saat ia menggodanya.


Jika biasanya Langit akan merespon apabila Jingga menggodanya dengan mengecut bibir pria itu, kali ini Langit hanya tersenyum tipis saja. Jingga anggap itu hanya sebuah kebetulan saja karena mungkin Langit tengah sangat lelah. Sampai pria itu memasuki kamar mandi pun tak ada percakapan di antara mereka.


Di dalam kamar mandi..


Langit mengusap wajahnya dengan gusar, percakapannya dengan sang mertua terus terngiang di telinganya. Membuat kepalanya terasa ingin meledak menahan rasa bimbang yang terus menekan perasannya.


FLASHBACK


“Ayah, apa ayah mengetahui sesuatu tentang Handoko?” Tanya Langit lagi saat Hardi hanya diam saja.


“Nak, ayah rasa kamu tidak usah mencari tahu tentang Handoko lagi,” ucap Hardi. Tampak kecemasan di raut wajahnya, tentu saja hal itu semakin membuat Langit penasaran. Dan ya, Langit tak akan menyerah begitu saja.


“Beri aku alasan yang kuat kenapa ayah memintaku untuk berhenti mencari tahu tentang Handoko?”


Hardi terdiam, bingung harus mengatakan alasan apa.


“Tolong jangan sembunyikan apapun lagi dariku ayah, ayah tahu aku sangat lelah. Berperang dengan rasa trauma di masa lalu, bersembunyi dengan identitas palsu untuk melindungi diri dan mencari tahu tentang kematian kedua orang tuaku, semua itu membuat aku gila ayah. Dan sekarang, apa ayah akan menghalangiku mencari tahu kebenaran yang selama ini aku cari dengan susah payah?” Langit menatap Hardi dengan tatapan sendu, tatapan yang juga membuat Hardi sakit.

__ADS_1


Alex pun merasakan kesakitan yang sama, meski Tuannya itu terkadang menyebalkan, tapi baginya Langit adalah segalanya setelah sang ibu dan adik-adiknya.


“Aku mohon ayah..” pinta Langit lagi.


Hardi menghela nafas gusar, ia lalu berkata, “Tapi nak, apa yang akan ayah katakan ini mungkin akan menyakitimu,” ucap Hardi.


“Dari dulu aku memang sudah menjadi orang yang pesakitan ayah. Mentalku sakit, batinku sakit, aku hidup dalam tubuh yang rapuh tapi berpura-pura kuat. Tak apa jika aku sakit lagi, mungkin aku masih kuat untuk sekali lagi terluka,” ucap Langit.


“Baiklah, ayah akan menceritakan semuanya. Tapi ayah mohon, jangan terluka lagi. Anggaplah ini hanya sebuah kisah di masa lalu yang hanya akan menjadi kenangan, selamanya hanya akan menjadi kenangan. Jangan jadikan kisah ini sebagai pengganggu kehidupanmu sekarang dan di masa depan, apalagi menjadi penghalang untuk kebahagiaanmu..”


Langit mengangguk, “Jika aku bisa, aku akan lakukan itu.”


“Senja, mama mu dan Handoko mempunyai hubungan yang special. Jauh sebelum mama mu menikah dengan papa mu. Dan dengan berbesar hati Tuan Banyu menerima Nyonya Senja, Tuan Banyu sangat mencintai mama mu. Mereka hidup bahagia meski Handoko terus menjadi bayang-bayang hubungan mereka. Tapi Tuan Banyu begitu mengerti posisi Nyonya Senja, dia selalu mengizinkan jika Handoko ingin menemui mama mu dan..”


Langit mengerutkan dahinya, menatap Hardi dengan tatapan penuh tanya, “Dan apa ayah?”


“Dan kamu,” ucap Hardi dengan suara lirih.


“Karena, karena kamu adalah putranya nak..” jawab Hardi dengan bibir bergetar.


Langit meremas dadanya yang terasa sesak, kalimat pernyataan dari ayah mertuanya membuatnya sangat terkejut. Ia menyangkal, hatinya mencoba menyangkal, kepalanya menggeleng beberapa kali, “Tidak, itu tidak mungkin ayah. Ayah berbohong, aku putra Banyu Biru, bukan pria itu. Jangan bohongi aku ayah,” ucap Langit dengan bibir bergetar.


Mendengar kenyataan itu hatinya terasa di remas tangan raksasa yang memeras kuat dan membuat hatinya hancur tak berbentuk. Kenyataan apa ini? Kenapa terdengar begitu menyakitkan, “Tidak mungkin..” lirih Langit. Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja. Langit adalah seorang pria rapuh yang berpura-pura kuat.


“Ayah sudah katakan nak, bahwa yang akan ayah ceritakan ini akan menyakitimu. Maafkan ayah..”


Bukan hanya Langit yang terkejut, tapi juga Alex. Pria itu memberanikan diri mengusap bahu sang Tuan, melihat Langit amat terpukul membuatnya merasakan sakit yang sama.

__ADS_1


Pantas saja Handoko kerap menemui Senja di belakang Banyu, ternyata memang pertemuan itu atas seizin Banyu. Betapa besar hati Banyu Biru, merelakan wanita yang di cintainya bertemu dengan pria lain. Mungkin saat itu posisi Banyu juga serba salah, karena ada Langit di tengah-tengah Senja dan Handoko. Banyu tak bisa melarang seorang ayah menemui putranya meski pertemuan itu di lakukan sembunyi-sembunyi dari Langit.


Handoko hanya akan melihat Langit dari kejauhan, itu adalah salah satu permintaan dari Senja demi menjaga perasaan Banyu yang sangat menyayangi Langit. Senja tak ingin semakin menyakiti Banyu dengan mengenalkan Handoko sebagai ayah kandung Langit. Biarlah Langit hanya menerima dan mengetahui bahwa Banyu Biru lah papanya, bukan Handoko.


Entah sesakit apa perasaan Banyu saat itu, pria itu rela menerima Senja dengan semua kisah masa lalu perempuan itu. Banyu bahkan mengaku pada keluarga Senja bahwa dia lah ayah biologis Langit, Banyu bertanggung jawab dengan menikahi Senja.


Karena saat itu tidak mungkin Handoko menikahi Senja yang sudah mengandung anaknya, faktanya Handoko sudah mempunyai istri. Entah bagaimana awalnya, kenapa Senja dan Handoko terlibat dalam hubungan terlarang sampai akhirnya Senja mengandung.


Dan Banyu datang sebagai penolong, mencintai Senja dengan tulus dan menyayangi Langit seperti menyayangi putranya sendiri.


“Nak, kamu sudah berjanji untuk tidak terluka..” lirih Hardi,


Langit menunduk kemudian mengangguk. Ia berusaha menyembunyikan tetesan air bening yang lolos begitu saja dari ujung matanya. Kenyataan ini terlalu mengejutkannya, menghantam kepercayaan dirinya, menghancurkan mentalnya, meremukkan kebanggaannya sebagai putra dari Banyu Biru. Ternyata dia hanya lah anak yang hadir di luar pernikahan.


“Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu tentang papa mu,” ucap Hardi.


Langit mengusap air matanya, duduk tegak menatap ayah mertuanya, “Katakan semuanya ayah, tolong jangan ada lagi yang ayah tutupi. Agar aku hanya merasakan sakit ini sekali, secara sekaligus,” ucap Langit.


“Dulu, sebelum tuan Banyu menikah dengan nyonya Senja, dia mempunyai istri. Tapi sayang istrinya mengkhianatinya sampai akhirnya mereka berpisah. Nyonya Senja dan kamu hadir sebagai obat untuk tuan Banyu, obat kecelakaan hati yang di sebabkan oleh pengkhianatan mantan istrinya. Dari pernikahan tuan Banyu dan mantan istrinya, tuan Banyu mempunyai seorang putri yang di sembunyikan karena mantan istrinya berusaha untuk merebutnya kembali.” Jelas Hardi, ia terdiam sejenak, mengorek kisah masa lalu tuannya juga sama saja dengan mengorek kehidupannya.


“Lalu dimana putri papa, ayah?” tanya Langit. Setidaknya, ia mempunyai fakta baru yang akan sedikit menguatkannya, ia mempunyai seorang adik.


“Dia ada di dekatmu nak,” ucap Hardi.


Langit mengerutkan dahinya, “Di dekatku?”


Hardi mengangguk, “Jingga, istrimu. Dia adalah putri tuan Banyu dan Nyonya Violet.”

__ADS_1


FLASHBACK END


Dua fakta baru yang membuat Langit terguncang membuat pria itu enggan melakukan apapun. Enggan bicara atau bahkan tersenyum, karena itulah ia tak bersikap biasanya pada sang istri. Meski mereka tak ada hubungan darah, tapi entah mengapa rasanya aneh, Langit tak tahu harus melakukan apa.


__ADS_2