
Suara denting jarum jam seperti menjadi irama pengiring bagi Alex yang tengah bergerak teratur di atas tubuh istrinya. Sesekali matanya terpejam, menikmati sensasi rasa yang baru kali ini ia rasakan.
Suara lenguhan manja yang terdengar dari bibir istrinya membuatnya semakin berpacu mengeluarkan tenaga. Namun meski begitu, ia tetap berhati-hati mengingat istrinya tengah mengandung.
Ia tatap wajah sayu sang istri yang tampak memejamkan mata, sesekali dada perempuan itu membusung merasakan kenikmatan yang tak tertahan.
Kedua tangan mereka menyatu, saling menautkan jari di antara jari jemari.
"Mas.." ucap Mega dengan suara lembutnya.
"Panggil namaku sayang," ucap Alex dengan suara seraknya.
"Mas Alex.." desah Mega.
Alex tersenyum, ia semakin mempercepat tempo gerakannya. Pria itu kembali menyatukan bibir mereka, lalu "Aaakkhhh.." suara lenguhan panjang terdengar dari bibirnya.
Begitu pun dengan Mega, perempuan itu melenguh panjang dan membusungkan dadanya.
Dengan nafas yang masih memburu, mereka saling mendekap. Meski tentu saja Alex sedikit memberi jarak di bagian perut istrinya. Akhirnya, pria itu benar-benar merasakan kenikmatan yang kata orang syurga dunia. Ternyata rasanya memang luar biasa, pantas saja rambut tuannya basah setiap pagi, kegiatan panas itu memang membuatnya nagih. Sepertinya, akan menjadi candu baru untuknya.
***
__ADS_1
BRAK
Suara pintu terbuka keras membuat Jingga terjingkat kaget. Jam menunjukan pukul empat pagi, perempuan itu nyaris tak tidur semalaman. Jingga bahkan baru tertidur sekitar pukul tiga dengan posisi duduk bersandar pada sandaran ranjang.
"Mas?" ucapnya, ia beranjak dari ranjang, menghampiri Langit yang berjalan sempoyongan. "Astaga, mas. Kamu kenapa?"
Bau alkohol menyeruak dari mulut pria itu, membuat Jingga mengernyit dan menahan mual. Langit mabuk, pria itu bahkan nyaris tak bisa menopang tubuhnya sendiri.
Jingga menoleh ke arah pintu, pak Lim tampak berdiri disana dengan raut wajah sendu.
"Apa yang terjadi pak Lim?" tanya Jingga, dengan sekuat tenaga ia menahan tubuh Langit.
"Tidak usah pak, biar saya saja yang mengurusnya. Terima kasih pak Lim, maaf mas Langit merepotkan mu.." ucap Jingga.
Pak Lim mengangguk lalu menunduk. Ia pamit pada Jingga dan pergi setelah menutup pintu kamar tuannya.
"Kenapa kamu sampai seperti ini, mas? Apa yang sebenarnya terjadi?" lirih Jingga.
Langit yang masih setengah sadar itu berusaha berdiri, ia mendorong tubuh Jingga sampai perempuan itu mundur beberapa langkah, "Menjauh dariku. Aku membencimu, aku benci semua orang! Aku benci hidupku! Kenapa takdir selalu mempermainkan ku, hah? Semua orang mempermainkan ku! Tidak ada yang benar-benar mencintaiku selain mama! Aku merindukannya, aku merindukan mama.."
Pria itu berjalan sempoyongan dan menjatuhkan dirinya sendiri ke atas ranjang. Samar-samar terdengar suara isak tangis yang terdengar begitu lirih dan menyakitkan. Tangisan pria itu begitu menyayat.
__ADS_1
Langit memang serapuh itu, hidupnya di terpa berbagai guncangan berat yang membuat mentalnya naik turun. Melanjutkan hidup dengan bimbingan orang lain yang masih setia pada keluarganya, tanpa kasih sayang keluarga atau orang tua. Tanpa ada yang menguatkan, tanpa ada yang memberikan senyuman menenangkan dan pelukan hangat memberi ketegaran.
Ia dipaksa kuat, di paksa menjadi dewasa sebelum waktunya. Sempat terbersit dalam pikirannya untuk mengakhiri hidup, menyusul kedua orang tua yang menyayanginya, tapi kemudian ia sadar, bahwa hidup tetap harus berlanjut meski jalan yang ia pijak kerikil tajam atau bahkan pecahan beling yang melukai bagian tubuh dan batinnya. Pria itu juga hidup berperang dengan trauma mendalam, membuatnya harus terkurung dalam tubuh asing dan penyamaran.
Sampai akhirnya, ia mengenal Jingga. Dari perempuan itu lah ia belajar cinta, menjadi kuat dan hidup normal.
Tapi lagi-lagi ia harus menerima kenyataan pahit dari fakta menyakitkan yang baru ia ketahui. Langit berpikir, tidak cukupkah penderitaan yang selama bertahun-tahun ia rasakan? Kapan awan mendung dalam hidupnya berubah jadi pelangi?
Tekanan demi tekanan membuatnya terguncang, untuk pertama kalinya ia pergi minum dan pulang dalam keadaan mabuk.
Dengan tatapan nanar Jingga terdiam seperti patung, mendengar setiap kata yang keluar dari mulut suaminya membuat hatinya sakit. Siapa yang pria itu benci? Apakah dirinya?
Dengan langkah pelan ia menghampiri Langi, duduk di sebelah tubuh langit yang kakinya masih menjuntai ke atas lantai. Tangannya bergetar mengusap kening Langit yang matanya sudah terpejam. Ujung mata pria itu basah, bahkan ketika memejamkan mata pun wajah sendu pria itu begitu nyata.
"Mas.." lirihnya menahan tangis.
***
YANG KASIAN SAMA MAS LANGIT CUUNG ☝️☝️
MAK OTHOR MAH LEBIH KASIAN SAMA ALEX, YANG KATANYA MENGHAMILI ANAK ORANG TAPI NYATANYA BARU TAHU RASANYA ANU-ANU 😜😜😆
__ADS_1